Ketika yang Terkasih Pergi

Inilah hari tersuram dalam kehidupan umat Muslim, wafatnya sang junjungan yang paling dicintai Allah SWT. Pada saat itu alam semesta berduka atas berpulangnya Nabi akhir zaman, pemimpin kebenaran, pembawa cahaya, dan penunjuk jalan yang lurus. Ketika itu pintu-pintu langit terbuka lebar dan ribuan malaikat mengiringi naiknya ruh termulia, penghuni tempat tertinggi di surga firdaus. Itulah hari menangisnya bumi terutama jazirah Arab, seolah bagaikan mimpi buruk bagi orang yang beriman terutama para sahabatnya. Jika bukan karena tingginya iman dan rasa takut kepada Allah niscaya tak seorang pun rela akan taqdir seperti ini.

Di hari ini kaum Mukmin ditinggal imamnya, panglima perang sejagat dan pemimpin yang paling mengasihi umat telah meninggalkan alam fana ini menuju kehadirat Tuhannya. Sekarang tak ada lagi sunnah yang terlahir karena beliau wafat serta tak ada lagi turunnya wahyu karena sang penerima risalah telah pergi selamanya.

Kini sang imam meninggalkan para jamaahnya. Tak terlihat lagi mahaGuru oleh muridnya. Tak terlihat lagi senyum simpul Nabi karena pemilik senyuman telah tiada dan tak terdengar lagi nasihat mulia itu, karena sumber nasihat telah mengucapkan salam perpisahan tuk selamanya.

Setelah Rasul menghembuskan nafas terakhirnya pada saat itu juga suasana berubah drastis, Aisyah menangis di sudut rumah, disambut dengan tangisan orang-orang yang berkerumun di sekitar rumah Rasulullah. Wafatnya Rasul tersebar ke penjuru kota, suasana duka menyelimuti Madinah, tangisan wanita, anak-anak, yang tua, yang muda, tangisan mereka berbaur menjadi satu..

Saat itu Umar tak kuasa mengendalikan diri. Dia berkata, “Siapa yang mengakui Muhammad telah wafat, akan kupenggal lehernya dengan pedang ini. Beliau tidak mati, melainkan diangkat ke langit seperti Musa, dan akan turun lagi ke bumi,” pernyataan Umar ini tak urung menimbulkan keraguan di hati kaum Muslimin.


Saat itu pula Abu Bakar baru datang untuk melihat jasad Nabinya yang juga gurunya, temannya yang juga mertuanya, sahabat karib yang tak dapat dipisahkan. Abu Bakar mendekatkan mukanya dan mencium pipi Rasulullah, air matanya mengalir tak terhankan. Lantas dengan kekuatan jiwa dan ketabahan hati, Abu Bakar keluar menuju masjid dan naik ke atas mimbar. Di hadapan orang banyak beliau menegur keras Umar yang semakin tak terkendali, “Tenanglah Umar!!”.


Mendengar teguran Abu Bakar, Umar pun duduk dan orang-orang pun menjadi tenang dari kegaduhan. Abu bakar lantas berkata, “Wahai manusia, siapa yang menyembah Muhammad, maka sungguh Muhammad telah mati. Siapa yang menyembah Allah, maka sungguh Allah Mahahidup dan tidak akan mati. (HR.Bukhari).


Kemudian Abu Bakar melanjutkan denga membaca firman Allah SWT, “Muhammad hanyalah seorang rasul, sebelumnya telah beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (‘Ali Imron :144)


Meninggalnya Rasulullah menimbulkan dampak psikologis yang cukup dahsyat kepada para sahabatnya, berikut pemaparannya.


‘Umar bin Khattab terkulai lemas, badannya gemetar kemudian pingsan. Setelah siuman, dia berkata, “Demi Allah, sepertinya aku belum pernah mendengar firman itu (‘Ali Imron :144), kecuali setelah Abu Bakar membacakannya”.


Utsman bin Affan mendadak linglung, seperti kebingungan. Saat berpapasan dengan orang beliau tak sadar sehingga suatu ketika Zubair dan Abu Thalhah berpapasan dengannya lalu mereka menyalami Utsman, dia tak menjawab salam mereka. Lalu Zubair melapor kepada Abu Bakar atas apa yang dialaminya. Abu Bakar bertanya kepada Utsman kenapa beliau tak menjawab salam Zubair dan Abu Thalhah, lalu Utsman menjawab, “ Aku tak sadar, karena semenjak kematian Rasulullah aku seperti orang yang kebingungan.”
Adapun Ali bin Abi Thalib, di pun jatuh sakit beberapa lama walapun pada akhirnya beliau sembuh dan seorang sahabat bernama Abdullah bin Unais sakit keras dan tiga kemudian wafat.


Muadz bin Jabbal yang sedang menjabat sebagai gubernur di Yaman, langsung jatuh pingsan mendengar kabar kematian Rasul. Segera beliau berangkat dari Yaman menuju Madinah namun diperjalanan setiap kali mendengar penduduk membicarakan wafatnya Rasul dia pun langsung menangis dan tersungkur ke tanah lalu pingsan kembali sampai dia tiba ke Madinah setelah berkali-kali pingsan.


Lain lagi dengan Bilal bin Rabbah, kita dapat membayangkan bagaimana perihnya kondisi Bilal ketika itu, kondisi dua orang yang saling menyayangi, guru dan murid, imam dan muadzin. Begitu gelap dunia di mata Bilal ketika Rasul wafat, tak pernah terpikirkan hal semacam ini karena sang imam pergi dengan tiba-tiba namun tetaplah sang muadzin harus menyempurnakan tugasnya walau tanpa imamnya.


Seiring dengan terbitnya fajar, Bilal berdiri untuk mengumandangkan adzan, tugas yang diembankan Rasul kepadanya. Dan mulailah Bilal mengumandangkan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Setelah selesai, kini saatnya ia melantunkan “Asyhadu anna Muhammad ar-Rasulullah”, Bilal mengarahkan pandangannya ke mihrab, namun di sana tak ada lagi sang imam. Ia pun mengalihkan matanya ke rumah Nabi, namun di sana tidak terlihat Rasulullah. Kini dia sendiri, tak ada lagi guru, syekh, imam atau Rasulullah. Sekarang bagaimana ia bisa menyelesaikan tugasnya?, langsung ekspresinya berubah, jiwanya pilu, dan batinnya perih seketika.


Sekuat tenaga Bilal berusaha menguasai dirinya agar adzannya sempurna namun ketika ia mengumandangkan. “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah…”, ia tak kuasa meneruskan, hatinya bagai menemukan kehancuran, kehancuran yang membuat tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dada bilal terasa amat sesak, sesak yang menyebabkan ia menangis sejadi-jadinya, sementara orang-orang yang berada di rumah mereka, anak-anak, para wanita, kakek-kakek, semuanya menangis.


Semenjak itu Bilal tidak mau bertindak sebagai muadzin lagi karena tak kuat menahan rasa perih di hatinya ditambah lagi kenangan-kenangan yang terjalin bersama Rasul yang membuat bibirnya tak kuasa berucap karena kerinduan yang begitu mendalam.
“suatu ketika di masa Khalifah Umar bin Khattab, ketika Umar memimpin penaklukan ke Syam demi meneruskan jihad sang Nabi, di sanalah terjadi peristiwa yang begitu mengharukan.


Setelah kemenangan berhasil di raih tibalah waktunya shalat dzuhur, namun seketika Umar teringat hari-hari sempit, hari-hari yang dilaluinya bersama rasulullah. Pikiran Umar bernostalgia akan kenangan yang dialaminya bersama Rasulullah. Umar berkata kepada Bilal, “Aku meminta kepadamu, Demi Allah wahai Bilal, kumandangkanlah adzan untuk kami.”


“Maafkan aku wahai Amirul Mukminin, aku tak sanggup,” ungkap Bilal
“Aku memintamu untuk mengingatkan hari-hari kita dulu bersama Rasulullah,” kata Umar mendesak.
Lalu para sahabat berkata, “Wahai Bilal, takutlah kepada Allah, Amirul Mukminin memintamu.”


Maka, akhirnya Bilal pun berdiri. Ia berusaha menguatkan tubuhnya yang mulai menua. Ia mengumandangkan suaranya beradzan. Akan tetapi, suara tangisan Umar telah terlebih dulu mendahului suaranya. Demikian juga para sahabat yang lain, mereka menangis. Maka, menangislah semua tentara umat Islam sihingga Masjidil Aqsha dipenuhi suara tangisan.


Bilal telah mengingatkan mereka akan sosok mulia, mengingatkan mereka akan sejarah, mengingatkan mereka kepada pengajar, pemimpin yang dicintai mereka dan mereka pun mencintainya.”


Sang Nabi telah wafat, lembaran sejarah kehidupan manusia terbesar telah berakhir. Kematian yang membawa pesan kepada dunia bahwa itulah makna kehidupan dan akhir dari sebuah perjalanan. Akhirnya sebanyak 40 ribu kaum Muslimin menshalati Rasulullah dan entah berapa banyak malaikat yang menshalatinya. Perjalan panjang sosok termulia dan manusia teragung yang akhirnya dikebumikan di tempat peraduannya, di kamar Aisyah.


Rasulullah memang telah wafat namun ajarannya tak pernah usang, mukjizatnya yang berupa Al-Quran mendapat jaminan terpelihara, dan syariat yang dibawanya akan tetap abadi sampai hari kiamat. Terimakasih ya Nabi, engkau cahaya di atas cahaya, engkaulah teladan kami, engkaulah pahlawan sejati kami, dan engkaulah kekasih hati kami.


Yaa Allah sampaikan shalawat serta salam kami kepada kekasih-Mu, Nabi Muhammad SAW, kumpulkanlah kami dengan beliau, biarkan mata kami dapat melihatnya, dan izinkanlah tangan ini berjabat tangan dengan beliau. Amiin


cuplikan sejarah banyak disadur dari buku, ‘Story of the Message’ dan ‘Sentuhan spiritual Aidh al Qarni’ keduanya karya Aidh al Qarni.

Cuplikan Sejarah Singkat Kehidupan Rasulullah (the end)

Dari Haji Wada Sampai pada Wafatnya Baginda Rasulullah SAW

Tahun 10 Hijriyah

Haji Wada (Dzulhijjah)

Inilah haji pertama dan terakhir yang dilakukan Rasul. Orang-orang yang mengetahui bahwa Rasulullah akan mengerjakan ibadah haji segera berkumpul di Madinah untuk ikut serta bersama Rasulullah. Sekitar seratus ribu umat Muslim melaksanakan haji bersama Rasulullah SAW.

Di sini juga Nabi mengajari tata cara Haji beserta sunnahnya yang disyariatkan agama. Pada kali ini juga mula-mula ibadah haji diwajibkan kepada umat Muslim. Pada hari Arafah, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah di hadapan para sahabat yang berkumpul di sekelilingnya. Dalam kesempatan itu beliau bersabda, “Hai manusia, dengarkanlah apa yang akan kusampaikan, karena bisa jadi aku tidak bertemu lagi dengan kalian di tempat ini setelah tahun ini, selamanya…”

Inilah poin-poin penting dari khutbah Nabi pada Haji Wada :

Haramnya darah dan harta seorang Muslim untuk diganggu dan dizalimi.

Segala perkara jahiliyah adalah hina seperti pertumpahan darah, zina, riba dll. Itu semua merupakan perbuatan dosa yang harus dijauhi.

Adanya penetapan waktu berdasarkan bulan-bulan, karena pada waktu jahiliyah ibadah haji bisa dilakukan pada bulan Dzulhijjah dan Muharram bahkan dapat juga dilakukan pada seluruh bulan

Setiap Muslim harus berbuat baik kepada wanita dan memperlakukan mereka dengan penuh ketakwaan kepada Allah.

Nabi menganjurkan umatnya untuk kembali pada dua sumber ketika menghadapi persoalan hidup yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulallah SAW.

Penjelasan dasar-dasar yang harus menghubungkan pemerintah dengan masyarakat dan warganya

Pada bagian penutup Rasulullah merasa telah melepaskan tanggung jawab dakwah dan menyebarkan agama Islam lalu beliau meminta umatnya untuk bersaksi atas apa yang amanah yang telah Nabi Muhammad tunaikan.

pada Haji Wada ini turunlah wahyu “Hari ini telah Kusempurnakan agamamu, telak Kucupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagimu” (QS Al-Maidah ayat 3)

walaupun dalam kondisi yang begitu membahagiakan, Abu Bakar melihat jelas makna tersirat dari ucapan dan tindakan Rasulullah, yaitu tujuan yang diidam-idamkan sudah tercapai dan tugas Nabi sudah mendekati akhirnya. Ia sangat mengerti bahwa tidak lama lagi manusia yang paling agung, Rasulullah akan berpulang kehadirat Allah. Dalam Haji Wada, terlihat jelas keberhasilan perjuangan Rasulullah selama dua puluh dua tahun lebih. Sekarang, hampir seluruh bagian semenanjung Arab telah dikuasai Islam, hampir semua penduduknya sudah memeluk Islam.

Tahun 11 Hijriyah

Pengutusan Usamah bin Zaid ke Balkan

ketika Rasul tiba di madinah setelah melaksanakan haji Nabi memerintahkan Usamah bin Zaid untuk menyerang dan mengamankan perbatasan dari serangan Romawi. Namun, karena Usamah bin Zaid masih sangat muda maka kalangan munafiq banyak yang menolaknya juga beberapa dari sahabat Nabi meragukan akan kemampuannya. Mendengar ketidaksetujuan itu, Rasulullah menegaskan bahwa Usamah memang layak memimpin pasukan perang seperti ketika ayahnya, Zaid bin Haritsah memimpin pasukan dalam perang Mu’tah.

Rasulullah Jatuh Sakit

Pada saat yang sama setelah beliau menugaskan Usamah memimpin pasukan, sakit Rasullah semakin parah. Sekembalinya beliau dari Baqi-setelah mendoakan para penduduk Baqi-Rasul mengadukan sakit kepalanya kepada Aisyah dan beliau dirawat di rumah Aisyah.

Panas yang dialami Rasulullah semakin meningkat, hingga beliau minta dituangkan air ke kepalanya. Setelah dituangkan air sebanyak tujuh qirbat dan merasakan sedikit nayaman, Rasulullah pergi menemui orang-orang di luar. Namun setelah pulang ke rumahnya rasa sakit Nabi semakin hebat sehingga beliau tidak mampu untuk mengimami shalat berjamaah. Lalu, Abu Bakar menggantikan Nabi sebagai imam shalat dan Nabi berada di sampinya, shalat sambil duduk.

Rasulullah wafat (12 Rabiul Awwal)

Keadaan Nabi sudah sangat lemah sehingga beliau tidak bisa lagi keluar rumah. Namun kasih sayang dan kerinduan Rasulullah membuatnya ingin melihat para sahabatnya yang begitu ia cintai. Ketika Shalat Shubuh tiba-tiba tirai dari jendela Aisyah terbuka dan di situ para sahabat melihat Nabi yang mengarahkan pandangannya ke arah mereka sampai-sampai mereka bubar dalam melaksanakan shalat karena senangnya namun ternyata itulah isyarat terakhir Rasulullah kepada para sahabatnya sebelum beliau wafat.

Rasulullah sakratul maut dengan bersandar di dada Aisyah sambil dibacakan ayat-ayat Quran oleh Aisyah agar hati Rasul menjadi lebih tenang. Melihat sang ayah seperti itu, Fatimah ra berkata, “Betapa sakitnya ayahku.” Nabi bersabda, “Ayahmu tidak akan merasakan sakit lagi setelah ini.”

Aisyah ra. Mengungkapkan, “Sesungguhnya Allah mengumpulkan antara keringat ku dengan keringat Rasulullah saat meninggal. Abdurrahman masuk dengan membawa siwak, sementara aku menyandarkan rasulullah, aku melihat beliau memandang kepadanya. Dari situ aku mengetahui beliau menyukai siwak. Aku berkata, “Nanti aku ambilkan untukmu”. Rasulullah memberi isyarat setuju. Aku menyerahkan siwak itu kepada beliau namun kelihatannya masih agak keras. Maka, kukatakan kepadanya, ‘Aku lunakkan untukmu’ Rasulullah memberikan isyarat setuju. Aku pun melunakkannya, lalu beliau menggunakannya. Di hadapan beliau terdapat bejana yang berisikan air, maka beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam air, lalu membasuh mukanya seraya bersabda, ‘Tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya kematian itu memiliki beberapa sekarat.’ Setelah itu beliau menancapkan tangannya dan bersabda, ‘Di tempat yang tertinggi’ akhirnya ruh beliau melayang, tanganya lunglai. Rasulullah SAW, Nabi agung, dan manusia paling mulia telah pulang ke rahmatullah.

 

Tulisan ini diringkas dari buka ‘Fiqih Shirah’ karya M. Said Ramadhan al-Buthy. Semoga bermanfaat

Cuplikan Sejarah Singkat Kehidupan Rasulullah (part 8)

Dari Perang Hunain sampai Penyebaran Utusan

Tahun 8 Hijriyah

Perang Hunain (Syawwal)

Rasa iri dan dengki dari kabilah Hawazin dan Tsaqif karena Fathu Makkah menjadikan mereka berniat untuk menyerang Nabi Muhammad. Mengetahui rencana musuh, Rasulullah berangkat bersama 12.000 pasukan Muslim, yang terdiri dari 10.000 penduduk Madinah dan 2000 penduduk Makkah

Sebelum peperangan dimulai, Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang membunuh seorang kafir dan memiliki bukti akan itu, maka harta (salb) si terbunuh akan menjadi miliknya” (Muttafaq alaihi).

Pada pertempuran kali ini pihak Muslim merasa angkuh dengan tentaranya yang begitu banyak namun ternyata pada pertempuran awal, pihal musuh berhasil mengejutkan pihak Muslim dengan serangan mendadaknya. Karena mendapat serangan tidak terduga, pasukan Muslim menjadi kocar-kacir, banyak di antara mereka lari dari peperangan demi menyelamatkan diri. Namun, dengan keberanian dan kepiawaiannya, Rasulullah berhasil menghimpun kembali kekuatan dan berkat rahmat Allah, umat Islam berhasil memenangkan pertempuran ini dan mendapatkan harta rampasan perang yang melimpah.

Rasulullah melakukan pengepungan selama lebih dari 20 hari, lalu pulang ke Madinah dan kabilah Tsaqif tak lama setelah perang itu menyatakan ke-Islamannya

Pada perang ini dijadikan hujjah bolehnya melibatkan Non-Muslim unutk membantu Muslim dalam berperang atau dalam persediaan senjata sebagaimana Rasulullah meminta Shafwah untuk menjual peralatan perangnya kepada Nabi

Di sini juga terlihat jelas keberanian Nabi Muhammad dalam berperang karena walaupun pasukan Muslim sudah dalam keadaan terdesak tetapi beliau tak sedikpun mundur dari medan perang malah menyemangati kaum Muslimin untuk bertempur kembali.

Ketika pembagian ghanimah kaum Anshar tidak diberikan karena menurut rasulullah ghanimah itu lebih baik untuk orang-orang yang baru masuk Islam sebagai penguat hatinya kepada Islam. kaum Anshar sempat kecewa dengan keputusan Nabi tetapi ketika telah dijelaskan bahwa Nabi begitu mencintai mereka maka mereka pun ridha sehingga kekecewaan mereka langsung sirna.

Tahun 9 Hijriyah

Peperangan Tabuk (Rajab)

Pasukan Romawi ingin membalas kekalahan mereka di Mu’tah membangun kekuatan yang terdiri dari puak Lakhm dan Jadzam sera seluruh sekutu mereka dari pihak Nasrani.

Saat itu keadaan sedang kemarau sehingga perjalanan perang kali ini terasa cukup berat dan Abdullah bin Ubay bin Salul beserta para pengikutnya tidak malu-malu untuk menghindar dari pertempuran dan untuk menetap di Madinah

Pada perang inilah Utsman bin Affan menyumbangkan begitu banyak hartanya. Sebanyak tiga ratus unta ekor unta dan seribu dinar uang tunai beliau sumbangkan, ketika itu Nabi bersabda “Setelah hari ini, apa yang dilakukan Utsman tidak akan membuatnya melarat”

Pada perang ini juga Abu Bakar menyumbangkan seluruh hartanya dan Umar bin Khattab menyumbangkan separuh hartanya, Umar berkata “Aku memang tidak dapat mengalahkan Abu Bakar untuk selamanya”

Nabi berperang dengan pasukan Muslim sebanyak tiga puluh ribu dan ada pula yang tidak ikut berperang seperti Kaab bin Malik, Mararah bin Abi Rabi, Hilal bin Umayah, dan Abu Khaitsamah dan hanya Abu Khaitsamah yang dapat menyusul Nabi Muhammad SAW ke Tabuk.

ketika Nabi sampai di Tabuk sayangnya mereka tidak mendapatkan apa-apa, ternyata pasukan musuh sudah lari dari peperangan dan tak lama,datanglah Yohana, penguasa dari Ailah yang menyatakan siap membayar jizyah juga datang penduduk Jarba dan Adzrah menyatakan akan membayar jizyah.

Soal mereka yang tidak ikut berperang, ketiga orang ini ternyata menyesali perbuatannya. Sebelum turun pernyataan penerimaan taubat dari Allah, kehidupan mereka bertiga begitu berat karena mereka bertiga dikucilkan sampai-sampai tidak ada yang boleh berbica dengan mereka. Akhirnya, Allah menerima taubatnya dengan menurunkan Firman-Nya surat at-Taubah ayat 117-119 yang menyatakan penerimaan taubat mereka bertiga. Mendengar kabar itu mereka begitu senang juga umat Muslim yang lain pun sangat bergembira karena sekarang mereka sudah dapat bergabung kembali dengan para Muslimin.

Abu Bakar Memimpin Haji

Nabi Muhammad SAW tidak ikut dalam haji ini karena pada saat itu orang musyrik tawaf dalam keadaan telanjang maka Nabi Muhammad mengutus Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib. saat itu Abu Bakar didampingi oleh tiga ratus penduduk Madinah ditugasi menyeru mereka agar menghentikan perbuatannya juga memerintahkan mereka untuk masuk Islam. Mereka diberi tenggat waktu 4 bulan jika tidak mereka akan diperangi.

Penghancuran Masjid Dhirar

Masjid Dhirar merupakan masjid yang dibangun oleh para munafik. Bangunan itu dibangun atas landasan kekufuran dan bertujuan untuk mengatur strategi lawan dan untuk memecah belah kekuatan pasukan Muslim.

Keislaman Suku Tsaqif dan Berdatangannya Utusan Bangsa Arab

Karena mereka sepakat bahwa orang Arab sudah tak mampu lagi mengalahkan Rasulullah dan pasukan Muslim maka merekapun berbaiat kepada Islam. Karena kedudukan Islam yang sudah begitu kuat, seluruh kabilah di semenanjung Arab berdatangan dari segala penjuru untuk memeluk Islam.

Di sini terdapat hujjah yang melandasi bolehnya menyambut kedatangan Non-Muslim di masjid jika adanya kemungkinan mereka akan memeluk Islam.

Pada fase ini juga, seorang tokoh di kaumnya yaitu Adi bin Hatim berbaiat untuk memeluk Islam.

Penyebaran Utusan

Karena semakin meluasnya daerah Islam maka Rasulullah SAW memerintahkan beberapa sahabatnya untuk mengajarkan syariat Islam pada penduduk jazirah Arab, khusunya bagian selatan Arab. Seperti Najran dan Yaman. Nabi mengutus Khalid bin Walid ke Najran agar menyeru penduduk Najran untuk masuk Islam. Nabi juga mengutus Muadz bin Jabbal dan Abu Musa al-Asyari ke Yaman untuk mengajarkan Islam pada penduduk setempat.

Di sini Rasulullah SAW menyampaikan kepada Muadz bahwa setelah ini dia tak akan berjumpa lagi dengan Nabi (HR. Ahmad) 

Cuplikan Sejarah Singkat Kehidupan Rasulullah (part 7)

Dari Umrah al-Qadha sampai dengan Fathu Makkah

Tahun 7 Hijriyah (Dzulqaidah)

Umrah al-Qadha (Umrah Pengganti)

Karena sesuai dalam perjanjian Hudaibiyah, bahwa Rasulullah beserta pengikutnya baru boleh memasuki wilayah Makkah pada tahun berikutnya. Maka dilakukanlah Umrah pengganti ini pada tahun 7 Hijriyah. Pada perjalanan kali ini yang ikut bersama Nabi berjumlah dua ribu orang. Mereka semua adalah yang menghadiri perjanjian Hudaibiyah dan Baiat ar-Ridwan, kecuali mereka yang telah wafat di perang Khaibar.

Karena diduga oleh Quraisy bahwa Nabi Muhammad dan umat Muslim sedang mengalami kesusahan maka Nabi Muhammad melakukan dan memerintahkan lari-lari kecil pada dua putaran thawaf agar tidak lagi dianggap sedang kesusahan dan akhirnya hal yang dilakukan Raulullah itu menjadi sunnah ketika melakukan thawaf.

Setelah melakukan umrah qadha, Rasulullah menikah dengan Maimunah binti Harits. Juga, umrah Qadha ini dijadikan Allah sebagai pendahuluannya umat Muslim dalam penaklukan Makkah (Fathu Makkah)

Tahun 8 Hijriyah

Perang Mu’tah (Jumadil Ula)

Perang dipicu oleh terbunuhnya Harits bin Umair al-Azdi, utusan yang dikirim Rasul kepada raja Bashra. Karena pembunuhan seorang utusan merupakan tindakan keji maka Rasulullah mengirimkan pasukannya untuk membalaskan kematian Harits bin Umair.

Dalam perang ini pasukan Muslim yang berjumlah tiga ribu pasukan harus menghadapi pasukan gabungan Romawi yang mencapai dua ratus ribu prajurit

Pasukan perang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah. Lalu ia tewas terbunuh. Setelah itu kendali kepemimpinan dipegang oleh Ja’far bin Abu Thalib. Dengan keberaniannya ia menggemupur habis-habisan pasukan musuh hingga pada akhirnya ia pun mati syahid. Setelah itu, bendera pasukan Muslim dipegang oleh Abdullah bin Rawahah. Lantas ia pun syahid.

Karena belum ada penunjukan sebelumnya tentang siapa yang akan menggantikan Abdullah bin Rawahah maka sisa pasukan Muslim sepakat untuk menunjuk Khalid bin Walid sebagai pengganti Abdullah bin Rawahah.

Ketika di detik-detik terakhir panji dipegang oleh Khalid bin Walid dan dengan kecerdasannnya menyusun strategi, dia berhasil membuat lari pasukan musuh walaupun musuh dalam jumlah yang sangat besar.

Di sini pengangkatan Khalid sebagai pemimpin perang adalah merupakan ijtihad para sahabat jadi ini merupakan dalil yang membolehkan ijtihad walaupun ketika itu Nabi masih hidup.

Peristiwa Fathu Makkah (Ramadhan)

Kejadian ini dipicu oleh sekelompok Bani Bakr yang bersekutu dengan para pembesar Quraisy untuk memerangi Bani Khuza’ah, di mana Bani Khuza’ah berada di bawah perlindungan Muslim, dengan ini maka Quraisy telah melanggar salah satu isi perjanjian Hudaibiyah. Setelah mengetahui hal busuk tersebut maka Rasulullah menyiapkan peperangan secara diam-diam.

Namun, karena kasih sayangnya terhadap keluarganya di Makkah, Hatib bin Abu Balta’ah melakukan pemberitaan rahasia untuk keluarganya bahwa Raululllah akan menaklukan Makkah, namun makar itu diketahui Nabi Muhammad lewat pemberitaan wahyu. Lalu Nabi memerintahkan Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam untuk mencari wanita yang membawa informasi rahasia tersebut. Singkat cerita wanita ini berhasil digagalkan rencananya.

Dalam ekspedisi ini Rasul menitipkan Madinah kepada Kultsum bin Husain. Dalam fathu Makkah pula, Pembesar Qurasiy, seperti Abu Sufyan, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Abbas bin Abdul Muthalib masuk Islam.

Pada saat Fathu Makkah Rasulullahi tidak melakukan penyerangan kecuali pihak Quraisy menyerang lebih dulu. Juga beliau mengumumkan bahwa siapa yang mengunci rapat pintu rumahnya, memasuki masjid, atau memasuki rumah Abu Sufyan, maka dijamin keselamatannya. Selain itu terdapat pengecualian pada enam laki-laki dan empat perempuan yang wajib dibunuh jika ditemukan walaupun pada saat itu mereka semua berada pada tabir lindungan Ka’bah. Kebijakan itu diambil karena kesepuluh orang tersebut merupakan orng-orang yang paling gencar dan keras dalam memusuhi Islam.

ketika Makkah ditaklukan maka para penuduknya berbondong-bondong untuk memeluk Islam. Walaupun motif mereka dalam memeluk Islam berbeda-beda. Ada yang karena tersadar akan kebenaran Islam, ada pula yang diakibatkan oleh perasaan pasrah dan takut dibunuh jika tidak masuk kepada agama Islam.

Mulai saat ini Makkah ditetapkan sebagai tanah yang diharamkan untuk berperang, dilarang untuk berburu, larangan memetik dan memotong tanaman, dan larangan bagi Non-Muslim untuk menetap di Makkah

Rasulullah telah memercayakan Utsman bin Thalhaal sebagai pemegang kunci Ka’bah dan akan dilanjutkan oleh para keturunannya sampai hari kiamat

Dalam peristiwa ini dapat dengan jelas dilihat bahwa Makkah ditaklukan dengan cara damai. Pada Fathu Makkah Nabi tidak mengambik ghanimah (harta rampasan perang) karena Makkah adalah “tanah wakaf” yang dianugrahkan Allah kepada alam semesta. Setelah peristiwa bersejarah ini, kedudukan agama Islam sudah mengambil alih agama-agama pagan, juga ini merupakan awalan untuk merobohkan dua imperium besar ketika itu, yaitu Romawi dan Persia.

Cuplikan Sejarah Singkat Kehidupan Rasulullah (part 6)

Dari Perang Khaibar sampai Ajakan Rasulullah Terhadap Raja-raja di Semenanjung Arab

Tahun 7 Hijriyah (Muharram)

Peperangan Khaibar

Berbeda dengan perang-perang sebelumnya yang bersifat defensive. Perang ini adalah yang pertama dilakukan Nabi tanpa adanya serangan pihak musuh terlebih dahulu. Tujuan perang ini adalah agar orang yahudi bersedia masuk ke dalam Islam dan juga untuk menyerang kaum yahudi yang sering kali membangkang, dengki kepada Islam, dan keras kepala dalam menerima kebenaran.

Satu-persatu dari benteng mereka jatuh ke tangan Muslimin, kecuali dua benteng yaitu al-Wathih dan al-Sulalim. Di bawah kepemimpinan Abu Bakar, umat Muslim belum berhasil mengalahkan keseluruhan Khaibar. Juga di bawah komando Umar umat Muslim belm dapat meraih panji kemenangan. Akhirnya Rasulullah mengutus Ali sebagai jendral pasukan dan akhirnya dengan keberanian dan kepiaawaiannya, Ali berhasil menaklukan Khaibar. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Muslim berhasil menang telak melawan pihak musuh.

Ketika Nabi menerima tawanan, terdapat salah satu perempuan dalam tawanan ini yaitu Shafiyah binti huyay-beliau masih keturuan Nabi Harun- yang kelak dipersunting sebagai istri Nabi.

Di sini juga awal kali dinyatakannya keharaman riba fadhli dan hukum musaqah (akad kerja sama dengan cara tanah si dan pohon pemilik digarapi oleh satu pihak.

Di sini pula Nabi disuguhi paha depan daging domba yang telah dilumuri racun oleh Zainab binti Harits, namun karena perlindungan Allah, Nabi lantas melepehkan daging tersebut sebelum sempat tertelan, seraya berkata. “Daging ini memberitahuku bahwa ia sudah dibubuhi racun”. Namun sahabatnya yang bernama Basyar ibn Barra tewas karena menelan daging racun tersebut.

Rasulullah memanggil Zainab dan bertanya mengapa ia melakukan itu. Lantas Zainab menjawab, “Aku mendengar dari kaumku segala hal tentang dirimu. Maka, kukatakan kepada mereka bahwa jika engkau memang seorang raja, engkau pasti mati. Akan tetapi, jika engkau benar seorang nabi, engkau pasti akan diberi tahu. Dalam hal ini ulama berbeda pendapat apakah Zainab dijatuhi hukum Qishas atau tidak, dalam shahih Muslim dinyatakan ia tidak diqishas.

Kehadiran Ja’far bin Abi Thalib

Sesaat setelah tiba di Madinah, keluarga Muslim, khusunya Nabi Muhammad mendapatkn satu hal yang menyenangkan lagi. Ternyata Ja’far bin Abi Thalib juga sampai ke Madinah dari Ethiopia dan begitu girangnya Nabi sampai-sampai memeluk dan menciumi Ja’far, sepupunya itu. Lalu Rasulllah berkata, “Sungguh, aku tidak tahu harus bergembira karena apa; apakah karena Khaibar berhasil ditaklukan ataukah karena kedatangan Ja’far.”

Ekspedisi Militer dan Surat Rasulullah Kepada raja-raja

inilah utusan-utusan Rasul yang dikirim :

Utusan pertama, Amr bin Umayah Adh-Dhamiri, ia diutus menemui raja Negus. Di sini raja Negus yang dimaksud bukanlah raja Negus yang ditemui dulu ketika hijrah pertama kali ke Ethiopia, karena raja Negus terdahulu telah masuk Islam semenjak mendengar penjelasan Ja’far bin Abi Thalib.

Utusan kedua, Dihyah bin Khalifah, ia diutus untuk menemui Raja Heraklius, seorang penguasa kerajaan Romawi.

Dalam thabaqat Ibnu Saad diceritakan, ketika Raja Romawi ini membaca pesan yang disampaikan Rasulullah, dia langsung mengerti bahwa Nabi yang mengirimkan pesan tersebut benar-benar utusan Allah karena Raja ini pun mengerti ajarannya layaknya para ahlul kitab. Namun ketika dia ingin menyampaikan kebenaran berita ini, serentak  para petinggi dan orang-orang yang berada di kerajaannya mengangkat salib sebagai tanda penolakan. Karena dilatarbelakangi oleh ketakutan akan keselamatan jiwanya dan tahtanya maka Heraklius urung untuk melanjutkan niat awalnya. disini terlihat jelas praktik paganisme dan fanatik sempit yang telah mengelilingi orang-orang Romawi

Utusan ketiga ialah Abdullah bin Hudzafah Al-Sahmi, beliau diberangkatkan untuk menuju Kisra, raja Persia.

Setelah menerima surat dari Abdullah, Kisra langsung menolaknya dengan menyobek-nyobek surat tersebut, Rasulullah SAW  yang mendengar berita perobekan surat-ajakan menerima Islam- itu bersabda, “Semoga Allah merobekkan kerajaannya”.

Lantas Kisra mengirimkan dua utusannya untuk menghadap kepada Nabi, tiba-tiba Nabi memberitahukan utusannya itu untuk menghadap beliau keesokan harinya. Setelah mereka menemui Rasul esoknya, Rasul dengan pemberitaan wahyu dari Allah bersabda, “Katakan kepada pemimpin kalian (Badzan) bahwa Tuhanku telah membunuh Kisra malam ini, setelah beberapa saat berlalu.”. kedua utusan itu lantas menemui Bazan dan memberitahukan hal yang diberitakan Rasulullah SAW, mengetahui berita tersebut diketahui Rasulullah seketika itu juga Badzan langsung masuk Islam bersama anak buahnya di Yaman.

Utusan keemapat adalah, Harits bin Umair al-Azdi yang diperintahkan untuk menghadap gubernur Bashra yang berada di bawak kekuatan Romawi yang dipimpim oleh Syurhabil bin Amr Al-Gasshani. Namun ironisnya alih-alih menerima ajaran Nabi malah utusan Rasulullah SAW itu dibunuh.

Pembunuhan utusan merupakan tindakan pelanggaran hukum mengenai utusan sehingga kelak Nabi Muhammad mengirimkan bala tentaranya untuk memerangi Basra, itulah yang dikenal dengan perang Mu’tah.

Pada fase-fase ini juga umat Islam kedatangan angin segar, yitu Islamnya dua ‘jantung’ quraisy, Khalid bin Walid dan Amr bin Ash.

 

Cuplikan Sejarah Singkat Kehidupan Rasulullah (part 5)

Dari Perang Khandaq sampai Baiat ar-Ridwan

Tahun 5 Hijriyah (Syawwal)

Perang Khandaq (parit)

Penyebab perang dikarenakan para pembesar yahudi Bani Nadhir datang ke Makkah dan menyeru kaum Quraisy untuk memerangi Nabi. Tidak hanya itu, para pemuka Yahudi Bani Nadhir juga mendatangi orang-orang Ghatafan dan menyeru mereka seperti apa yang diseru kepada pihak Quraisy. Pihak musuh banyak menggalang sekutu, maka dari itu perang ini juga dikenal dengan Perang Ahzab (sekutu)

Mendengar berita bahwa musuh telah menyiapkan pasukan besar, Nabi Muhammad SAW berunding dan meminta saran dari para sahabatnya tentang ihwal bagaimana menghadapi pasukan gabungan tersebut. Adalah Salman Al-Farisi yang mengusulkan untuk melakukan penggalian parit sebagai strategi pertempuran. Di dekat gunung Sil’, Rasulullah menghentikan pasukan dan memerintahkan untuk penggalingan parit. Pada saat itu, jumlah pasukan Muslimin mencapai tiga ribu orang prajurit dan pasukan Quraisy beserta sekutunya mencapai sepuluh ribu orang.

Nabi Muhammad bukanlah pemimpin yang hanya bisa memerintah dan memantau tetapi juga ikut merasakan apa yang harus dibebankan kepada pasukannya. Rasul ikut membantu penggalian parit tersebut sampai-sampai mengganjal perutnya dengan batu demi menahan rasa lapar.

Di sini Jabir mengundang Rasul untuk makan namun Nabi mengajak seluruh pasukan untuk makan bersama dan dengan mukjizatnya, makanan Jabir yang sedikit-hanya cukup untuk dua sampai tiga orang- mencukupi untuk orang yang banyak. Inilah salah satu mukjizat Rasulullah, makanan yang sedikit mencukupi untuk orang banyak.

Pada perang ini terjadi pelanggaran perjanjian Bani Quraizhah dan pihak Bani Quraizhah membantu lawan untuk memerangi Nabi Muhammad dan pasukan Muslimin.

Allah rupanya tidak memperkenankan pasukan Muslim untuk berperang. Pada perang Khandaq ini, pasukan Muslim menang tanpa adanya pertempuran. pertama tipu muslihat yang dilakukan Nu’aim bin mas’ud yang berhasil memecah belah kekuatan lawan dan membuat musuh curiga satu sama lain. Adapun jalan kedua adalah Allah mengirimkan bala bantuan berupa angin kencang yang menyeramkan untuk memporak-porandakan pasukan musuh. Keesokan harinya, semua pasukan musyrik telah mundur dari posisi mereka. Rasulullah SAW. Beserta para sahabat pun kembali ke Madinah.

Disinilah pertama kali dilakukannya shalat qadha karena begitu sibuknya pasukan Muslim dalam kondisi perang ketika itu sampai-sampai tak sempat melakukan shalat Ashar.

Perang Bani Quraizhah

Setelah pulang dari perang Khandaq, Rasulullah SAW mendapat tugas dari Allah melalui malaikat JIbril untuk memerangi suatu perkampungan, yaitu Bani Quraizhah. Setibanya di perkampungan tersebut, Rasulullah SAW langsung mengepung mereka yang bersembunyi dalam benteng. Pengepungan itu berlangsung selama dua puluh lima malam atau ada juga yang mengatakan lima belas malam. Singkat cerita, pasukan Bani Quraizhah tunduk dengan pasukan Muslim

Setelah menyerah, Nabi ingin agar keputusan kebijakan mengenai orang-orang yahudi Bani Quraizhah yang berkhianat ketika perang Khandaq diputuskan oleh Sa’d bin Muadz sebagai salah satu pemimpin kabilah Aus. Akhirnya mereka semua yang telah berkhianat dihukum mati, atas keputusan Sa’d bin Muadz.

Pada saat itu juga, Sa’d bin Muadz wafat karena luka yang dideritanya dari perang Khaibar pecah dan beliau mengeluarkan banyak darah sehingga tidak tertolong lagi.

di sini terdapat dalil tentang keabsahan berbeda pendapat dalam bagian furu’iyyah, di mana adanya perbedaan interpretasi para sahabat tentang sabda Nabi yang melarang melakukan shalat Ashar sebelum sampai ke perkampungan Bani Quraizhah. Sebagian ada yang shalat dan sebagian lagi baru shalat ketika sampai dan ketika diadukan permasalahan itu kepada Nabi, Nabi membenarkan tindakan keduanya.

Tahun 6 Hijriyah (Dzulqa’idah)

Perjanjian Hudaibiyah

Awal kejadian ini adalah ketika Nabi dan para sahabat ingin melaksanakan umrah. Pada saat itu Rasul membawa sekitar 1400 sahabatnya. Namun ternyata Quraisy Makkah tidak menyetujui apa yang hendak dilakukan Nabi sehingga mereka sepakat menghadang Nabi jika memang Nabi memaksa masuk kedalam Makkah.

Singkat cerita Nabi melakukan perundingan dengan pihak Quraisy yang diwakili oleh Suhail bin Amr, yang dikenal dengan perjanjian Hudainiyah.

inilah isi perjanjian tersebut:

Adanya gencatan senjata selama 10 tahun.

Umat Islam baru bisa melaksanakan umrah atau haji pada tahun berikutnya.

Setiap orang kafir Makkah yang Islam lalu menuju ke tempat Nabi maka harus dikembalikan ke Makkah.

Setiap Muslim yang ke Makkah atau dengan kata lain mendatangi kaum Quraisy maka Quraisy tidak perlu mengembalikan mereka kepada Rasulullah dan pihak Muslimin.

Perjanjian tersebut berlakuk sampai dengan jangka 10 tahun.

Dengan isi klausul perjanjian semacam itu para sahabat Nabi sangat menyayangkan karena dinilai begitu memberatkan Islam, namun inilah beberapa hikmahnya.

Hikmah perjanjian Hudaibiyah:

Dengan adanya perjanjian gencatan senjata itu maka umat Islam lebih bebas untuk menyebarkan agama Islam tanpa takut akan diserang

Dengan jaminan keamanan selama 10 tahun itu umat Islam khususnya yang berada di Makkah bisa lebih bebas untuk mengepresikan ke-Islaman mereka

Perjajanjian ini hanya berlaku untuk kalangan laki-laki saja, ini terbukti dengan tidak dipulangkannya kaum wanita Makkah yang sudah masuk Islam

Hikmah ini terlihat ketika banyak orang berbondong-bondong memeluk Islam, bahkan hanya dalam waktu dua tahun jumlah yang masuk Islam sudah dua kali lipat dari sebelumnya.

Setelah perjanjian dilakukan, turun wahyu Allah, yaitu surat Al-Fath ayat 27 yang dinilai sebagai janji Allah akan kemenangan Muslim atas orang-orang musyrik

Dalam perjanjian Hudaibiyah ini ada perilaku sahabat yang berkaitan dengan tawassul dan bertabarruq kapada Nabi Muhammad. “Ketika utusan Quraisy yang bernama Urwah bin Mas’ud kembali kepada sesamanya, orang-orang musyrik. Ia berkata kepada temannya, “Demi Tuhan, tidaklah pernah Rasulullah SAW. Meludah, kecuali ludah itu pasti jatuh ke telapak tangan salah seorang sahabatnya, kemudaian sahabat itu akan mengusapkan bekas ludah itu ke seluruh wajah dan permukaan kulitnya. Jika sang Rasul berwudhu, para sahabatnya rela untuk memperebutkan tetesan iar wudhunya…” maka kejadian ini dapat dijadikan dalil kebolehannya walaupun sekarang Nabi telah wafat karena perlakuan sahabat tadi itu dinilai berlaku secara umum dan universal.

Baiat ar-Ridwan

Pelaksanaan baiat ini diakan sebelum perjanjian Hudaibiyah dilakukan, di mana Nabi mengirim Utsman bin Affan ke Makkah guna merundingkan perkara keingingan Rasul untuk memasuki Makkah. Namun karena setelah sekian Utman tidak kembali maka tersiarlah kabar bahwa ia telah dibunuh oleh kafir Makkah. Mendengar kabar tersebut, Rasulullah langung mengikrarkan baiat bersama para sahabatnya untuk membalas kematian Utsman dan memerangi kafir Quraisy. Namun setelah melakukan baiat tersebut, Utsman bin Affan ternyata kembali dengan selama dan berita itu hanyalah kebohongan belaka. Karena baiat inilah maka sahabat yang hadir di sini langsung dinyatakan sebagai orang-orang yang adil dan dapat dipercaya.

 

 

Cuplikan Sejarah Singkat Kehidupan Rasulullah (part 4)

Dari Peristira Raji’ sampai Merebaknya Fitnah Terhadap Aisyah

Tahun 3 Hijriyah

Peristiwa Raji

Tahun 3 Hijriyah, datanglah utusan dari kabilah Uqal dan Qarah menghadap Rasulullah. Mereka megundang beberapa sahabat Nabi untuk mengajarkan mereka akan Islam. Rasulullah SAW pun mengirim enam sahabatnya, yaitu Martsad ibn Abi Martsad, Khalih bin Bakir, Ashim bin Tsabit, Khubaib bin Adi, Zaid bin Dastnah, dan Abdullah bin Thariq raiallahu anhum, dengan Ahim bin Tsabit sebagai ketua perjalanan.

Tanpa disangka, ketika mereka berada di kawasan Hudzail, mereka dibuntuti oleh seratus prajurit pemanah. Para prajurit kafir itu mengejar dan berhasil menyergap delegasi Rasulullah tersebut. Singktnya, pada peristira Raji’, 6 sahabat Nabi yang dikirim untuk mengajarkan Islam kepada kabilah Uqal dan Qarah terbunuh akibat pengkhianatan pertama mengenai utusan Rasulullah SAW.

Tahun 4 Hijriyah (4 bulan setelah perang Uhud)

Peristiwa Bir Ma’unah

Ini merupakan pengkhianatan kedua terhadap Rasulullah. Pada peristiwa Bir Maunah, Nabi memerintahkan tujuh puluh sahabatnya untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Najd dengan jaminan keselamatan dari Amir bin Malik. Walaupun pada awalnya Nabi sudah ragu-ragu karena penduduk Najd terkenal dengan kekejamannya.

Peristiwa ini begitu memilukan karena semua sahabat Rasul ternyata tewas dibantai oleh penduduk Najd, mereka tidak mempedulikan jaminan keselamatan Amir bin Malik yang merupakan salah satu warga Najd. Semua mereka dibunuh dengan keji, kecuali  Amr bin Umayah yang kebetulan terpisah oleh rombongannya sahabatnya.

karena teramat sedih atas kematian sahabatnya disinilah awal mulanya Nabi Muhammad membaca doa qunut agar malapetaka ditimpakan kepada kabilah-kabilah yang telah melakukan pembantaian kepada para sahabatnya.

Pengusiran Yahudi bani Nadhir dari Madinah (Rabiul Awwal)

Pengusiran ini dikarenakan pengkhianatan Bani Nadhir kepada Rasulullah, namun perihal tersebut diberitahu oleh Allah kepada Nabi Muhammad.

Disinilah hukum fa’I (harta rampasan perang yang didapat tanpa pertempuran) dimulai, di mana itu semua adalah hak pemimpin untuk siapa dibagikannya dengan menimbang kemaslahatan bagi umat.

Perang Dzat ar-Riqa (Djumadil Awwal)

Terjadi perbedaan antara ahli sirah mengenai peperangan ini. Dengan apa yang diriwayatkan imam Bukhari, menurut Bukhari perang ini berlangsung setelah perang Khaibar.

Perang ini adalah upaya menuntut balas terhadap penduduk Najd yang telah melakukan pembantaian atas 70 sahabat Nabi ketika di peristiwa Bir Ma’unah.

Walaupun jumlah Muslimin tidak begitu banyak, namun rasa takut telah menghantui para penduduk Najd sehingga mereka melarikan diri.

Cuaca yang terik membuat mereka mengalami banyak luka terutama di bagian kaki sehingga mereka membalut kakinya dengan kain, itulah mengapa perang ini disebut perang Dzat al-Riqa (yang banyak memiliki potongan kain).

Pada perang inilah pertama kali shalat khauf dilakukan.

Analisis kenapa perang ini terjadi sebelum perang Khaibar adalah percakapan Nabi yang bertanya kepada jabir apakah beliau sudah beristri atau belum, ini mengisyaratkan bahwa Nabi belum mengetahui status Jabir. Sedangkan kalau saja perang ini terjadi setelah perang Khaibar maka Nabi tak akan menanyakan hal itu kepada Jabir karena pada saat itu Nabi diundang Jabir ke rumahnya untuk menghadiri jamuan makan yang mana di situ terdapat istri Jabir.

Tahun 5 Hijriyah (Sya’ban)

Perang Bani Mustahliq

Sekali lagi ada perbedaan pendapat tentang tahun peristiwa perang ini, Ibnu Ishaq dan beberapa Ulama Sirah menyatakan bahwa ini terjadi pada tahun 6 hijriyah, namun yang lebih tepat adalah tahun 5 hijriyah karena pada perang ini Sa’d ibn Muadz masih hidup sedangkan ia wafat pada perang Bani Quraizhah yang mana itupun terjadi pada tahun 5 hijriyah. jadi akan sangat tidak logis bila ia hidup setelah setahun wafat.

Perang ini pecah karena Rasulullah mendengar akan adanya kesiapan Bani Musthaliq untuk memerangi Nabi di bawah pimpinan Harits bin Dhirar. Sesaat setelah berita itu sampai ke telinga Rasulullah SAW, beliau pun langsung mengerahkan pasukan Islam. Dalam perang ini, sejumlah orang munafik ikut bergabung, bukan untuk membela Islam tetapi karena tidak enak akibat mereka jarang mengikuti peperangan juga mereka berniat mendapatan hasil rampasan perang (ghanimah).

Pada perang ini awal mulanya ditetapkan kebolehan mengenai Azl (senggama terputus atau pengertian mudahnya, mengeluarkan sperma di luar rahim agar tidak terjadi kehamilan)

Saat perang ini pula kemunafikan Abdullah bin Ubay bin Salul terlihat jelas, namun Nabi enggan membunuhnya, malah memerintahkan berbuat sopan kepadanya karena dia masih Islam secara zahir, tindakan Rasul ini tak urung membuat kedudukan Abdullah bin Ubay jatuh di depan khalayak ramai

ketika dalam perjalanan pulang dari perang Bani Musthaliq tiba-tiba Aisyah kehilangan kalungnya dan setelah lama mencari dan berhasik menemukan, sayangnya Aisyah tertinggal rombongannya. Inilah awal permulaan dari terperangkapnya Aisyah dalam berita bohong mengenai dirinya.

Peritiwa Hadits al-ifqi (berita bohong tentang Aisyah)

ketika dalam perjalanan pulang dari perang Bani Musthaliq tiba-tiba Aisyah kehilangan kalungnya dan setelah lama mencari dan berhasik menemukan, sayangnya Aisyah tertinggal rombongannya. Lalu Aisyah bertemu dengan Shafwan bin Mu’atthal dan akhirnya pulang bersamanya dengan Aisyah naik di tas unta dan Shafwan yang mengiringi unta tersebut.

Setelah pulang, mulailah penduduk Madinah ramai membicarakan kejadian itu ditambah lagi oleh hasutan para munafik yang menuduh ia telah berbuat selingkuh dan berzina dengan Shafwan. Sayangnya, itu berlangsung tanpa sepengetahuan Aisyah, ia hanya melihat adanya perbedaan sikap Rasulullah yang begitu drastis terhadapnya. Barulah setelah sebulan berlalu Aisyah mengetahuinya dari Umm Misthah. Ia begitu terpukul sampai jatuh sakit dan dirawat dirumah orang tuanya.

Rasulullah yang mendengar berita fitnah itu, begitu resah sampai-sampai meminta saran dari para sahabatnya. Salah satunya adalah Sa’d Bin Muadz. Ia angkat bicara sampai-sampai suasana masjid menjadi riuh dan Rasulullah menenangkan mereka semua.

Keresahan Rasulullah menunjukan sisi kemanusiaan beliau yang tak terlepas akan kegundahan dan juga ini memberitakan bahwa Rasulpun tak mengetahui hal gaib kecuali yang diberitakan oleh Allah. Uniknya, ketika peristiwa ini terjadi wahyu tentang pemberitaan kebohongan berita ini tak turun sampai sebulan lamanya

Setelah Aisyah bersumpah tidak melakukan itu, barulah wahyu turun-lihat an-Nuur : 24) untuk memberitakan ihwal kebohongan berita tersebut dan menyatakan tentang kesucian Asyah.

Berkenaan dengan al-Ifki (tuduhan bohong) ini, akhirnya Rasul memerintahkan Misthah ibn Tsasah, Hasan bin Tsabit, dan Hammah binti Jahsy untuk di dera karena telah melakukan qadzaf (tuduhan palsu) terhadap Aisyah. Nabi tidak menghukum Abdullah bin Ubay karena dia sudah terlalu sering mengganggu ketentraman umat muslim dan itu dilakukannya dibelakang. Nabi hanya menghukum mereka yang menuduh secara terang-terangan yaitu ketiga sahabatnya tadi.