Blunder Berkelanjutan, Kegagapan Nusron Wahid dan Hamka Haq dalam Membela Ahok

nusron

sumber: Kabarhoki.com

Saya bergairah sekali menonton ILC kemarin, saya mau tahu kira-kira apa argumen logis yang akan disampaikan pembela Ahok terkait dengan perkara Ahok tempo lalu. Kalau saya di sisi pembela Ahok mungkin akan sangat susah menyusun kalimat pembelaan karena amat sulit membela sebuah kesalahan. Saya penasaran apa kira-kira yang akan disampaikan mereka.

Beberapa pembelanya lebih diplomatis, mengakui blunder Ahok tetapi tetap menunjukkan bahwa sikap Ahok yang meminta maaf itu berjiwa ksatria dan umat Islam yang tersinggung seharusnya memafkan. Secara dialektika ini bagus, inilah langkah teraman tapi bagi yang mengharapkan diskusi panas maka ini belum bagus.

Setelah giliran Hamka Haq bicara, situasi baru mulai menegang. Dia membela Ahok habis-habisan walaupun bagi saya caranya agak memalukan, terlebih dia itu Profesor. Dia berkata kalau yang harus minta maaf adalah si Buni Yani, karena berkat wasilah Buni Yani itulah umat geger. Potongan video 31 detik hasil unggahannya menjadi biang kerok masalah. Dia memberikan bukti, bahwa video yang diunggah secara full—1 jam 48 menit (kalau gak salah)—tidak pernah memicu konflik. Hmm 1 jam 48 menit, kenapa ga memicu konflik? Ya jelas karena durasi selama itu tidak akan memicu orang untuk nge-youtube yang isinya ceramah. Ngapain juga, ngabisin kuota, waktu, dan bosenin. Mending donlot film. Itu kalau logika saya.

Pembelaan Hamka Haq tentang kepemimpinan Quraisy dan periode hijrah ke Etiophia yang rajanya penganut Nasrani juga sangat rawan celah. Jelaslah Rasul membiarkan Makkah dipimpin kafir Quraisy pada dakwah beliau karena posisi Islam belum kuat. Ketika kuat ya diambil alihlah Makkah, mau bukti? Ya itu Fathu Makkah. Nah, bagaimana tentang hijrahnya sebagian muslim ke Etiophia (Abbisinia)? Saat itu adalah posisi genting di mana perlakuan kafir Quraisy semakin semena-mena, maka yang tidak tahan lagi dengan penderitaan dipersilakan untuk hijrah. Loh, kan pemimpinnya kafir? Begini, jika di antara lima (agama, nyawa, keturunana, akal, dan harta) sedang terancam, maka syariah mengizinkan cara dan penanganan darurat untuk menyelamatkan lima unsur vital kemanusian.

Lagipula lucu juga jika ini dijadikan hujjah karena saat itu jika mau hijrah ke wilayah manapun ya umat Islam akan berada di bawah lindungan pemimin non-muslim, wong Rasulullahnya ada di Makkah.  Tapi menarik untuk disimak bahwa Rasulullah memilih Raja Negus sebagai tempat berlindung bukan hanya karena kemurahan hatinya, tetapi ke-Nasranian Raja Negus ini cenderung pada Nasrani dalam bentuk aslinya. Dia menyetujui pemaparan Ja’far bin Abdul Muthalib tentang kedudukan Isa sebagai utusan Allah bukan Tuhan. Bahkan dalam beberapa riwayat dikatakan Raja Negus wafat dalam keadaan muslim.

Lalu kita beralih ke Nusron Wahid.

Nusron Wahid lebih dahsyat lagi, saya shock sendiri melihat betapa sangarnya dia. ini sangar beneran! Dengan wajah yang galak plus matanya yang melotot. Saya mau beri respon tentang pembelaannya, Nusron dengan gagahnya bilang bahwa di zaman Khalifah al-Mu’tadid billah, sang khalifah pernah menunjuk seorang Kristen sebagai gubernur. Ada dua hal yang mau saya komentari, Nusron Wahid menyebut nama khalifah al-Mu’tadid billah sambil diulang-ulang untuk memberi penegasan tentang gelar yang berakhiran ‘billah’ adalah sesuatu yang suci. Oh Men, padahal hampir semua khalifah diberikan gelar semacam itu, contohnya Al-Mu’tashim billah, Al-Mustanshir billah, Al-Muqtadi billah dan masih banyak lagi. Pemberian gelar berakhiran ‘billah’ sangat lazim untuk khalifah di masa Abbasiyah, jadi pengulangan untuk memberi kesan sakral malah terkesan kurang cerdas.

Yang kedua, bayangkan pemerintahan Abbasiyah yang berusia kurang lebih 508 tahun tetapi hanya segelintir kejadian di mana non-muslim di angkat sebagai pemimpin sebuah wilayah. Ini jelas sebuah kejadian di luar kebiasaan bukan? Nusron bilang “Apakah saat pengangkatan tersebut tidak ada surat al-Maidah?” maka saya jawab, “Ada, sebagaimana adanya surat al-Maidah ketika pemimpin-pemimpin muslim lain terpilih”. Itu baru dari masa kekhalifahan Abbasiyah loh ya, jika seluruh fase dinasti Islam digabung dan diperbandingkan antara jumlah pemimpin muslim dan non-muslim, maka statistik mengenaskan tentang rendahnya presentase pemimpin non-muslim akan tersaji. Mau disajikan? Jangan ntar malu.

Nusron Wahid juga berkata, “Yang paling mengetahui tafsirnya hanya Allah dan Rasul-Nya”. Yaiyalah, nenek-nenek sembelit juga tahu. Lalu dia penghujung pembelaannya dia berkata, “Perkataan Ahok hanya Ahok sendiri yang tahu”, seolah-olah masyarakat tidak boleh mengambil kesimpulan dari perkataan Ahok karena masyarakat tidak tahu maksudnya. Inilah titik paling menggelikan di antara semua perkataan Nusron. Entah mungkin karena pikirannya sudah limbung ditambah emosinya sudah klimaks. Tidak disangka Nusron ingin menyelamatkan Ahok dengan logika dangkal macam itu yasudah saya terpaksa tertawa mendengarnya,

Ternyata memang tidak mudah membela sebuah kesalahan, kecuali jika ingin melahirkan kesalahan baru. Ketika Ahok blunder, pembelanya pun blunder. Tapi karena Ahok sudah meminta maap maka selayaknya kita umat muslim membukakan pintu maap tapi proses hukum tetap harus berjalan dengan adil.

Terakhir, saya juga menyayangkan ketika KH Tengku Dzulkarnain malah memaparkan konsekuensi yang harus diterima Ahok berdasarkan hukum Islam. Bukan hanya karena hukumnya itu pun masih diperdebatkan, tapi penyebutan secara gamblang tentang eksekusi fisik khas Islam (potong tangan, pemotongan silang dll) masih menjadi alergi tersendiri di kalangan muslim Indonesia. Pada akhirnya ini bisa menjadi bahan bully pihak-pihak yang anti MUI untuk mendeskreditkan MUI dan ujungnya sudah bisa terbaca, ulama secara keseluruhanlah yang terkena imbasnya. Riweh ya?

Terakhir (lagi), anda semua dibebaskan untuk menafsirkan al-Maidah. Yang tidak boleh adalah anda memonopoli tafsir versi anda sendiri. Bebaskan semua orang memilih, mana tafsir yang lebih sesuai untuk keadaan mereka. Dilarang panik ya oke…oke!

Yasudah itu aja. Semoga bermanfaat.

Mencacah-cacah Tipe Ulama, Ketika Saya Sok Tahu

Sudah lama saya mencoba mengamati tipe-tipe ulama yang ada di Indonesia, baik itu dari lanskap pemikiran maupun sikapnya. Mengapa saya begitu tertarik? Karena menurut saya perbedaan karakter di antara ulama mempunyai andil besar terhadap dinamika sosio-regio-kultural yang terjadi di masyarakat yang semuanya cenderung bermuara pada penajaman perbedaan pendapat di jagad medsos.

Ini sebetulnya fenomena yang amat menarik dan perlu pengkajian serius, bukannya tulisan asal-asalan macam begini. Tapi tak apalah, anggap saja tulisan ini buat seru-seruan. Oke!

Karena ulama itu juga manusia, maka perbedaan di antara setiap ulama adalah fitrah, sebuah keniscayaan. Latar belakang budaya, pendidikan, sikap, lingkungan, dan pengalaman selalu memberikan identitas unik di antara mereka. Pemahaman dan sikap keagamaan mereka amatlah varian, membentang secara gradual dari A sampai Z. Di sini saya coba ringkas mereka menjadi empat tipe:

Pertama, ulama tipe sufi-filsuf. Ulama jenis pertama ialah ulama yang memiliki sikap dan akhlak yang kesufian dan pemikiran kritis ala filsuf. Mungkin, Gus Mus dan Cak Nun ada di posisi ini. Mereka ini identik dengan kesahajaan gaya hidup, secara pemikiran mereka tipe yang lebih mengutamakan substansi daripada formalitas. Islam mereka bolehlah saya sebut cenderung kepada Islam hakikat ketimbang Islam syariat. Diakibatkan kelenturan pemikiran ala substansialis, mereka cenderung bersebrangan dengan segala pemikiran yang kolot, harfiah, dan serba syariat.

Kedua, ulama tipe kekiri-kirian. Ulama tipe kedua adalah ulama yang amat kontekstual. Cenderung sering meminggirkan teks keagamaan jika itu tidak sesuai konteks atau wacana yang sedang berkembang di masyarakat. Pemikirannya amat lentur tapi di satu sisi sikapnya sering menunjukkan gejala radikal, terlebih dengan pihak-pihak yang berbeda pemahamannya. Ulil Abshar dan Kang Hasan (tau dari Fesbuk) mungkin menjadi contoh terbaiknya.

Ketiga, ulama tipe konservatif. Ulama jenis ketiga adalah tipe ulama yang menjaga tradisi dan budaya keislaman urban. Karena ulama-ulama inilah nilai-nilai keislaman di Indonesia tetap lestari. Budaya Maulid, tahlilan, nisfu sya’ban adalah contoh budaya Islam Indonesia yang bertahan karena eksistensi mereka. Pemikiran keislaman mereka walaupun lebih singkretis tetapi cenderung resisten dengan setiap perubahan. Habib Rizik, para habib dan kyai-kyai pada umumnya mungkin contoh paling akurat dari tipe ini.

Keempat, ulama tipe salafi. Ulama jenis keempat adalah ulama yang berniat membawa perubahan di Indonesia. Menghapus segala bid’ah dan tradisi-tradisi yang tidak ada presedennya di masa Nabi. Purifikasi atau pemurnian Islam menjadi target utamanya. Itulah mengapa jargon “kembali kepada generasi salaf” sering manjadi tagline dalam dakwahnya. Biasanya, ulama tipe ini sangat skripturalistik dan menekankan pembacaan harfiah akan dalil-dalil keagamaan.

Sekarang di mana masalahnya?

Sebetulnya perbedaan di antara mereka adalah rahmat, ya ga? Ya betul, jika kita memaknai perbedaan di antara mereka sebagai sebuah lokus yang mengkotak-kotaki arus masa dalam jumlah yang sehat. Tapi bisa juga saya katakan bahwa perbedaan tipe inilah yang menjadikan massa akar rumput sering gaduh di ranah medsos.

Saya percaya bahwa keempat tipe ulama tersebut memiliki pendukungnya masing-masing. Pendukungnya inilah yang berandil besar menjadikan ulama-ulama panutannya berada saling berhadap-hadapan satu sama lain. Terutama pendukung yang taqlid buta dan pendukung yang berbasis karena kepentingan. Merekalah yang dengan senang hati men-share, baik itu fatwa, opini, tafsir dari ulama panutannya ke media sosial. Tidak sedikit dari mereka yang meyakini apa yang disebarkannya adalah sebuah kebenaran absolut. Nah, di saat umpan yang disebar itu dimakan oleh pendukung ulama yang kebetulan pemikirannya bersebrangan, terpiculah sebuah ledakan debat berantai di Fesbuk.

Uniknya, ada dinamika silih berganti yang terjadi di antara ulama-ulama ini. Ada kondisi di mana kadang mereka akur, kadang mereka berselisih. Contohnya adalah, jika membicarakan masalah maulid, tahililan, atau kegiatan ritual lain yang berbaukan nusantara, maka ulama tipe Salafi akan berbenturan dengan ketiga tipe ulama di atas. Tapi perlawanan paling kuat akan datang dari ulama Konservatif yang merasa budaya keislamannya sedang terancam. Sedangkan, di saat pilkada Jakarta, justru ulama tipe Konservatif mendapat dukungan penuh dari ulama Salafi, keduanya menjalin persekutuan solid, bertarung argument dengan tipe kekiri-kirian yang kadang kala disokong oleh pendapat Ulama sufi-filsuf.

Memang, kalau dilihat dari spektrum pemikiran, ulama tipe sufi-filsuf akan sering beririsan dengan ulama tipe Kekiri-kirian. Maka itu jangan heran kalau Cak Nun dan Gus Mus sering kali dicap liberal, terlebih para muslim kiri yang sering kali mendompleng nama besar mereka sebagai pembenaran argumen. Sedangkan, yang saya lihat tipe Salafi akan selalu bentrok dengan tipe Kekiri-kirian. Entah kenapa, ada semacam prasangka yang mengembang di antara dua kelompok ini. Keduanya saling menaruh curiga yang sering kali berbuntut adu sangar gagasan. Mereka saling menciptakan antitesisnya masing-masing, dua kutub radikal yang berlawanan.

Nah, masalah lain yang harus diperhatikan adalah mayoritas pendukung para ulama itu biasanya fanatik buta. Mereka mengamini segala hal yang keluar dari patron mereka dan sering kali memicu perselisihan dengan kubu lain. Fanatisme buta adalah titik rawan, karena para biang kerok dan provokator selalu memiliki ide untuk mengompor-ngompori perbedaan demi memantik keributan. Perbedaan pandangan yang amat tajam jika tidak disikapi secara arif ibarat gas yang hanya butuh sedikit api untuk meledakannya.

Mirisnya lagi, ketika akar rumputnya saling berebut wacana, maka pendukung kalangan terdidiknya akan ikut-ikutan dan terus begitu sampai sang ulama harus turun tangan juga, adu kuat untuk mempertahanan argument. Yasudah, keributan tak berujung selalu terselenggara .lantas bagaimana dengan saya? Yasudah saya coba sok tahu aja tentang mereka sambil makan kacang.

 

Syarat-syarat Menjadi ‘Seksis’ di Era Kekinian

Kalau Pembaca yang budiman masih aktif bermain di Fesbuk pasti kalian begitu familiar dengan link-link provokatif, posting-posting satir, dan debat ilmiah yang pake urat. Saling bela, saling cela, saling injak, saling beradu dalil adalah perihal maklum, sangat biasa, sebiasa saya menyeruput teh di pagi hari.

Lantas siapa oknum-oknum yang meramaikan semesta Fesbuk? Merekalah pihak-pihak yang sedang memperebutkan hagemoni wacana, baik itu masalah politik, ideologi, ataupun keagamaan. Kalau ada postingan Pokemon Go atau Sidang Jessica jilid 2000 di Fesbuk, itusih hanya iklan yang tak begitu menarik perhatian. Senangnya kita bergumul dengan politik, ideologi, dan keagamaan karena itu semua membuat kita terlihat lebih intelektual, seksis, dan kekinian. Ya gak sih? Akuin ajah!

Tapi ada fenomena yang saya pikir sedikit berat sebelah di sini. Sebuah ketimpangan cara berpikir dalam memberikan label kepada salah satu pihak. Ternyata, tidak semua postingan, komentar, argument di Fesbuk terlihat ‘seksi’ lho. Salah-salah memposting dan berargumen kita bisa dicap kolot, konservatif, dan ekstrem. Bahkan argument seilmiah apapun harus bertekuk lutut dengan opini publik tentang jenis-jenis ‘seksi’ dan lawannya alias ekstrim, kolot, tak berpendidikan dan sebagainya.

Nah saya akan kasih tahu rahasianya jika anda ingin dicap sebagai intelek, seksi, dan kekinian. Dan sebaliknya, anda bisa apes disebut bebal, kolot, ekstrim jika kebetulan memiliki pandangan yang bersebrangan.

Dalam ranah ideologi, jika mau dicap ‘seksi’ maka junjung tinggilah komunisme. Beradalah di samping kelompok yang sangat anti dengan rezim orde baru dan mengharuskan TNI untuk meminta maaf dengan para korban kekerasan HAM pasca 65. Berdalihlah dengan semangat kekiri-kirian, jadilah pakar teorinya Karl Marx, Engels, atau sekalian Lenin dan Mao Zedong, dalam sekejap anda akan terlihat seksi dan amat progresif!! Lalu dengan semangat membara menyalahkan militer atas pembantaian oknum-oknum PKI namun di saat yang sama seakan pura-pura tidak tahu kalau PKI memang kejam. Mau bukti? Tanya kakek saya yang alhamdulillah masih hidup, beliau cerita memang PKI mau nangkepin para kyai dan guru ngaji kok. Kalau pihak-pihak progresif sumbernya buku-buku, cukuplah saya sumbernya kakek saya. Dalam teori periwayatan, sami’tu (mendengar) ada di posisi paling atas loh, apalagi ini kisahnya mutawattir (periwayatan banyak saksi yang tidak memungkinkan adanya sebuah kebohongan).

Eaaa maap kalau ada yang tersinggung, tapi saya gak ngebuka kolom debat kusir dulu ya.

Dalam ranah politik, akhir-akhir ini pasti perhatian kita tersedot oleh pilkadi DKI yang tinggal menanti detik. Ga deng lebay. Pokoknya tinggal sedikit lagi lah ya. Ini banyak beriirisan dengan kegamaan jadi saya jadikan satu saja. Mau terlihat seksi? Dukunglah Ahok dengan segenap daya dan upaya anda, blow up lah segala kebagusan Ahok walaupun di saat yang sama anda harus menutupi segala boroknya. Kalau masih kurang ‘seksi’ silakan bantah orang-orang yang menggunakan dalil pelarangan non-muslim sebagai pemimpin. Bantahlah menggunakan kekuatan dalil yang sama kuat dan tafsir yang sama kredibel. Jika anda tidak memiliki ilmunya cukuplah dengan men-share postingan cendikiawan-cendikiawan kontemporer yang satu pemikiran dengan anda. Aihhh…selamat anda sudah menjadi ‘seksi’!!

Lalu di mana ketimpangan itu terjadi? Ketika sebuah wacana sedang diperebutkan oleh dua pihak, percayalah bahwa masing-masingnya adalah antitesis dari yang lain. Lucunya, mereka yang seakan seksis dan kekinian ini sering melabeli lawannya sebagai yang ekstrim, mereka lupa bahwa sebetulnya mereka juga berada di titik ekstrim yang lain. Yang berbeda hanya kutubnya saja!! Sepertinya sah saya katakan jika mereka yang ‘seksis’ ini ada di kubu yang timbangannya lebih berat ke arah liberal, dan lawan diskursusnya lebih berat ke arah konservatif. Tapi sedihnya, mereka itu sama, mereka itu sejenis, mereka radikal dari jenisnya masing-masing!!

Saya tidak mau menilai mana yang benar dan salah. Titik tekan tulisan saya adalah sebuah asumsi yang terlanjur terbentuk untuk label mana yang ‘seksi’ dan mana yang bukan. Mungkin takdir lebih berpihak kepada radikal tipe liberal, karena keradikalannya dilabeli ‘intelek, seksi, dan kekinian’ sedangkan bagi radikal yang satunya harus apes distempel, ‘ekstrim, bebal, dan kolot’. Intinya radikal di pendulum yang lain menjadi rawan bully, oh poor you.  Tapi melalui tulisan ini saya juga mau berpendapat bahwa tidak usahlah kita takut dibilang ektrim dan sejenisnya. Junjunglah apa yang menurut kita benar jika itu bersandar dari ilmu yang benar pula. Perbedaan pendapat, betapapun tajamnya adalah hal lumrah, selumrah kita eek di pagi hari.

Duh maapken jika ada yang tersinggung, saya hanya membagi keresahan saya selama ini. Tidak usahlah terlalu radikal, apapun prinsip yang kita pegang. Karen Amstrong dalam bukunya yang berjudul Compassion mengatakan bahwa tidak ada gunanya melawan sebuah radikalisme dengan sikap yang radikal pula. Bukannya lenyap, radikalisme malah akan tumbuh subur jika terus dipupuki kebencian dan disirami permusuhan.

Sudah ya manteman. Yuk kembangkan sikap empati terhadap sesama walaupun itu musuh kita. Empati mungkin menjadi sikap yang layaknya selalu kita tampilkan, sebuah sikap untuk menyelami perasaan dan keadaan orang lain dan mengidentifikasi diri kita sebagai orang lain tersebut.

Andai kita semua saling empati, mungkin Fesbuk bisa bangkrut,tapi rasa-rasanya tidak mungkin. Yasudah, berempatilah dengan kadar kita masing-masing! kelar perkara.

Sudah yap pusing pala Abang…semoaga bermanfaat…bye bye

 

Menulislah Walau Tidak Ada Yang Baca

menulis, gigazine.net

sumber: gigazine.net

Tulisan ini berakar dari obral-obrol tentang kepenulisan dengan seorang teman. Intinya kita sama-sama super-duper awwam tentang ini tapi bedanya jumlah tulisan saya di blog sudah mendekati angka seratus sedangkan teman saya ini pecah telornya pun belum. Walaupun tekadnya untuk menulis sudah sebesar Gunung Uhud namun urung dikerjakan karena suatu alasan, takut tidak ada yang baca!!

Dalam hati saya berkata, apalah artinya tekad segunung jika akhirnya badai gengsi menggerus habis tekad menulis kita. Awalnya segunung tapi erosi akibat gengsi membuat tekad tinggal setipis daun layu yang hanya bisa pasrah diterbangkan angin. Saya juga baru sadar ternyata ada juga manusia yang enggan menggoreskan penanya hanya karena khawatir tulisannya tidak laku.

Walaupun saya masih merasa belum pantas untuk menyampaikan nasihat terkait dunia tulis-menulis tapi rasa gemas yang membuncah membuat lisan saya mengoceh juga. Saya berikan alasan saya menulis kepadanya, yasudah ketimbang ocehan saya menguap begitu saja mending saya tulis di sini dengan bahasa tulisan baku-formal tentunya. Barangkali di antara pembaca ada yang terjangkit virus ‘nyali’ yang sama dengan teman saya ini.

Pertama, bagi saya menulis adalah usaha untuk menghargai buah pikir. Pikiran kita kadang bekerja secara spontan dan refleks. Otak saya yang sudah terbebani berkilo-kilo mecin ini sering kali mencetuskan ide, gagasan, opini, quotes, bahkan kalimat galau dalam waktu yang tidak diduga. Sayang sekali jika saya tidak buru-buru mengikatnya dengan tulisan karena hal-hal berharga seperti itu biasanya lenyap dengan cepat. Jadi demi mengapresiasi pikiran ‘eureka’ yang timbul, maka menulislah saya.

Kedua, masih seputar otak. Pernah dengar kalimat use it or lose it? Nah, otak kita juga demikian. Daripada saya menghabiskan semua waktu saya demi menangkap pokemon, lebih baik saya sisakan sedikit untuk hal yang lebih berguna bagi otak saya. Membaca atau menulis. Membaca relatif lebih ringan karena otak kita hanya dituntut fokus pada sederet tulisan yang tercetak tapi jika mau lebih berat maka menulislah. Menulis kadang menjadi senam otak yang paling melelahkan karena saya bukan hanya dipaksa untuk fokus tetapi juga dipaksa untuk mencari kata, mengatur kalimat, membangun ide, dan melakukan finishing touch demi mengakhiri tulisan dengan indah. Memang membuat otak saya pegal, tapi setelah tulisan rampung ada kepuasan intelektual tersendiri yang dirasakan.

Ketiga, motivasi untuk menyampaikan pesan kepada orang lain mulai timbul. Bukan untuk mengkuliahi orang loh ya, bahkan tulisan saya lebih banyak tentang curhatan-curhatan yang memang murni ingin saya sampaikan. Bahkan tulisan tentang keislaman pun sebenarnya lahir dari keresahan dan kegalauan yang sering saya rasa. Begini juga teman-teman, karena saya sadar saya ini insan yang berlumpur dosa, maka saya niatkan tulisan saya—yang adaikata bermanfaat bagi orang lain—akan menjadi tabungan kebaikan saya di akhirat kelak.

Keempat, barulah kiranya saya ingin tulisan saya dibaca orang lain. Namanya juga manusia yang butuh pengakuan akan eksistensinya. Saya yakin tiap orang punya caranya masing-masing untuk menunjukkan bahwa dia hadir, dia mentas, dan dia ingin terhubung dengan yang lain. Foto di puncak gunung di IG, foto kuliner di Path, video-video di Youtube, kata-kata hikmah di Tumblr, debat di Fesbuk atau apapun itu, sejatinya adalah media pembuktian eksistensi. Begitupun blog saya, inilah tulisan saya, kombinasi antara otak yang panas dan hati yang mood. Jadi perasaan senang jika tulisan saya dibaca orang adalah natural, fitrah by default.

Pertanyaannya, apakah jika tidak satupun yang membaca maka saya akan berhenti menulis? Tidak sama sekali!! Masih ada dua alasan utama yang mewajibkan saya menulis. Demi menajamkan otak, maka saya akan selalu mengetikkan jari saya di laptop walaupun hanya untuk merangkai kata, “Give me your hands and I’ll keep you with all of my soul and body” eaaa galau tak berujung. Ya intinya saya bakalan tetap menulis, begitu.

Nah, siapapun yang masih ragu untuk menulis karena takut tidak ada yang baca atau ngeri tulisannya dibilang jelek, tetaplah menulis! Menulislah untuk merayakan ide yang lahir dari pikiran, menulislah untuk mencapai kepuasan intelektual, dan menulislah untuk kebahagiaan diri sendiri. Menulislah tanpa pikir panjang, karena tulisan yang jelek tetaplah lebih baik ketimbang tidak ada tulisan.

Jadi masih takut untuk menulis? Atau jangan-jangan bukan takut tapi memang malas menulis? Tapi jujur, menulis memang rada melelakan, makanya itu saya sudahi saja tulisan saya. Capek juga ueey otak hehe…semoga bermanfaat.

Tidak ada resep yang paling hebat untuk menulis selain menulis, menulis, dan menulis.—si fulan.

 

Sebuah Perspektif Baru

IMG_20160815_043205

Jika kalian sudah membaca tulisan saya yang berjudul gen anti rantau dan menemukan alasan kenapa hidup di tanah orang begitu berat untuk pertama kalinya. Di sini saya mau menulis sebab musabab saya sebetulnya ogah-ogahan untuk pergi ke Pare. Namun ternyata perspektif saya berubah 180 derajat setelah apa yang saya dapat di sini.

Sejujurnya, butuh pemikiran panjang bagi saya untuk datang ke Pare. Alasan saya sangat pragmatis, motif ekonomi!!. Nasib umur yang membuat saya sudah tak berpangku tangan dengan orang tua membuat saya rada ‘perhitungan’ untuk masalah duit. Sederhananya, andai saya ke Pare satu bulan itu berarti saya harus merelakan mengajar privat saya satu bulan. Pengeluaran di satu sisi tanpa pemasukan di sisi lain. Ini berarti double ‘kerugian’ dalam kalkulasi matematika saya. Ditambah saldo tabungan yang menyusut cepat pasca lebaran bak susutnya air pantai sebelum tsunami membuat saya makin ragu untuk pergi.

Tapi ada hantaman keras dalam batin saya, semacam bisikan malaikat yang membuat saya yakin bahwa uang itu bisa dicari dan menuntut ilmu wajib hukumnya. Lebih baik miskin berilmu daripada kaya berotak keledai. Toh, perut bisa terisi hanya dengan nasi dan garam. Ini sedikit drama sih tapi ya intinya seperti itu. Akhirnya berangkat jugalah saya.

Eng…ing….eng…tibalah saya di penghujung hari kepulangan saya. Lalu terbersit pertanyaan, apakah benar saya sebetulnya ‘rugi’ di sini seperti apa yang saya khawatirkan dulu? Apakah waktu, uang, dan tenaga yang saya hibahkan itu setimpal dengan apa yang saya dapat? Jawabannya adalah apa yang saya dapat justru lebih berharga dari itu semua!

Pertama kali yang terbayang dipikiran saya adalah setiap waktu, uang, dan tenaga yang saya kerahkan harus terbayar dengan ilmu yang saya dapat. Just it tok. Saya sama sekali tidak terpikirkan yang lain, bahkan untuk mencari dedek-dedek emesh pun tidak. Tapi alangkah perspektif saya bergeser jauh, yang awalnya saya melihat dengan perspektif mata cacing kini saya melihat dengan mata elang. Saya tidak hanya melihat upgrading my English sebagai satu-satunya alasan saya di sini. Baiklah, ilmu sebagai raison d’etre nya, tapi jangan salah produk sampingan yang saya dapat begitu berharga bahkan dalam sudut pandang tertentu itu mengalahkan raison d’etre nya sendiri.

Yuk kita hitung-hitung produk sekunder dari sebulan di kampung orang. Pertama, ilmu tentang ke-Pare-an. Yang belum pernah ke sini saya kasih tahu, bahwa makanan di sini super murah. Rata-rata, dengan 12 ribu saya sudah bisa mendapat makanan enak plus es jeruk. Sampai kiamat menjelang rasa-rasanya tidak mungkin ini terjadi di Jakarta.

Masih sekitar Pare, biasanya asumsi spontan tentang Kampung Inggris adalah setiap percakapan selalu dengan bahasa Inggris, bahkan warung-warung kecil pun melayani Anda dengan bahasa Inggris. Ternyata itu hanyalah mitos, dari puluhan tempat makan yang saya jejaki, semuanya berbahasa Indonesia. Andai pun berbahasa Inggris itu hanya ketika si kasir sedang menghitung berapa biaya yang harus saya bayar. Mungkin ada warung yang menerapkan full English tapi saya belum pernah menemukannya.

Oiya, berbekal dari tukar wawasan, malahan warga Pare sendiri tidak begitu peduli dengan bahasa Inggris, hanya sebagian kecil dari mereka yang antusias padahal kursus gratis diberikan kepada warga Pare jika mereka ingin belajar. Ini menurut cerita warga loh ya.

Di Pare, terdapat seratus lebih English Course loh, dari lembaga yang super mapan, memiliki kelas banyak dan camp sendiri sampai lembaga skala kecil yang kadang letaknya nyempil di antara perumahan. Tapi bukan berarti yang kecil selalu kalah kualitas dari yang besar, semuanya tergantung selera pelajarnya masing-masing. Karena itulah setiap lembaga kursus di sini (yang besar atau yang kecil) tetap memiliki banyak murid.

Bagaimana dengan kultur keislamannya? Selama saya di Pare sejujurnya saya seperti sedang di kota santri, sebagian besar perempuannya berjilbab. Hampir semua kidung-kidung sholawatnya mirip dengan yang saya dengar di Jakarta, dugaan saya Jakartalah yang mengimpor itu semua dari Jawa Timur. Yang unik adalah, khusus adzan shalat Dzuhur dan Ashar waktunya terbagi dua, yang satu mengikuti jam sebenarnya dan yang kedua mengikuti jam pulang para petani, mungkin untuk mengakomodir para petani di Pare untuk shalat di masjid. Jadi jarak antara adzan pertama dan kedua bisa sampai 30 menit.

Keuntungan kedua, di Pare hampir setiap weekand saya bisa jalan-jalan. Karena georafisnya yang strategis maka sayang sekali jika hanya mendekam di Pare tanpa menyanggahi tempat-tempat seperti Batu di Malang, Gunung Bromo, Gunung Kelud di Kediri, atau sekalian ke Kawah Ijen di Banyuwangi. Jelas tempat-tempat dengan lanskap pemandangan alam yang menawan sulit ditemukan di Jakarta yang setiap jengkalnya hanya dipenuhi gedung-gedung monoton. Pulang dari Pare saya punya ratusan poto baru di Hp saya.

Ketiga, dan ini yang paling penting, yaitu teman. Secara personal, saya tidak pernah mengharapkan ada sebuah keakraban khusus yang bisa saya jalin di Pare. Tapi, fakta berkata lain, alhamdulillah saya mendapatkan begitu banyak kawan baru yang benar-benar match dengan kepribadian saya. Merekalah pengganti keberadaan keluarga dan teman-teman saya di Jakarta. Merekalah yang mengisi tabung gairah saya selama berada di sini. Hampir semua teman baru saya bukan orang Jakarta, entah kenapa ada kehangatan tertentu dalam diri mereka yang membuat mereka lebih tulus ketimbang orang Jakarta. Ini jujur.

Kebanyakan dari mereka sudah saya sebutkan di tulisan saya sebelumnya tapi demi apresiasi saya bagi mereka, tidak ada salahnya saya sebutkan lagi di sini.

Di kelas Talk More ada Danik, Anan, Exel, Purba, Sinarlin, Hafiz, Milda, Putri, trio Makasar, Abadi, kawan-kawan yang lain dan Miss Cha-cha tentunya. Merekalah yang membuat suasana kelas selalu seru bahkan cenderung gaduh sehingga tidak bosan-bosannya saya berada di kelas Talk More. Juga di kelas inilah saya mendapat teman untuk bermain futsal.

IMG_20160825_191531

Geng rusuh kalau di kelas

Untuk Danik, walaupun saya belum kenal lama, tapi kepribadiannya yang supel dan friendly membuatnya asik diajak ngobrol. Setidaknya jika suatu saat saya ke Surabaya, si Danik inilah yang akan saya buat repot. Dan untuk Miss Cha-cha, ada sebuah urusan yang belum selesai di antara kita…aihhh.

IMG_20160823_161443

Emesh-emesh gini tapi dia guru saya loh

Di kelas Grammar for speaking saya mendapat teman asik seperti Rio, Agib, Ikbal, Ayu, dan si Mbak-mbak Jawa yang super poll medoknya. Khusus Rio, dari dialah persepsi saya tentang orang Ambon berubah, ternyata Ambon yang satu ini begitu asik, kocak, dan suka galau. Walaupun dia bilang ke saya kalau orang Timur anti galau dan kalau ada orang Timur yang galau kasih cat putih aja.

Di kelas Crazy Pronounciation ada Nadia, Rere, Astri, Saiful, dan Mr. Miftah walaupun sekelas hanya berisi enam orang tapi cukup penuh canda tawa. Khususnya kepada Mr. Miftah yang rasanya membuat saya cukup paham tentang pronounciation, liaison, intonation, dan american accent. Terima kasih atas ilmunya.

IMG_20160825_200218

Lalu di kelas TOEFL, ada Azhari yang telah mengenalkan kepada saya bahwa Aceh itu tidak hanya tentang GAM, ganja, Perda Syariah dan Tsunami tapi di sana begitu kaya dengan wisata alamnya dan wisata kulinernya pun bervariasi. Juga ada Laila, ini bukan Laila yang ehem loh ya. Begitu kaget saya ternyata dia juga jurusan PAI semester 5 dan kuliah di IIQ, depan UIN persis!. Dia ini alim benar orangnya, tipe-tipe perempuan yang punya resistensi internal yang kuat terhadap pria. Mungkin suatu saat nanti kita bisa bertemu di sekitar UIN.

IMG_20160825_191246

Azhari di kanan saya dari foto dan Laila yang pake jilbab abu-abu

Selain teman kelas ada juga persahabatan yang terjalin secara random dan anehnya punya jalinan lebih kuat lagi. Mereka adalah Geng Kopet yang berisi dedek-dedek emesh angkatan 2014. Kenapa sih harus 2014, bikin keingetan aja…eaaaa. Awalnya saya kira mereka sudah berteman lama tapi ternyata antara satu sama lain juga baru saling kenal. Mereka ini tipe-tipe orang yang ke Pare tujuan utamanya selain belajar yaitu jalan-jalan, Saya pun baru kenal mereka dalam perjalanan ke Batu dan ternyata mereka semua tinggal di Bogor dan Cibubur. Mungkin karena cara celetukan dan becandaan yang hampir sama dengan orang Jakarta, kami cepat akrab. Pertemanan kami berlanjut sepulang dari Batu sampai sekarang.

Karena Geng Kopet ini termasuk daftar teman yang paling akrab dengan saya, maka saya sebutkan mereka satu persatu. Meidy, supel sekali orangnya dan lumayan berat sampai sepeda saya bergemeratak saat bonceng dia. Cuman sekali kok. Mila, namanya mirip adik saya dan dia ini yang paling alim di antara mereka berempat. Buktinya dia hanya mau salaman secara berjauhan, dengan angin sepoi-sepoi sebagai hijabnya.

IMG_20160825_193206

Yang paling depan si Meidy, nah yang lagi meliuk namanya Risma

Risma, ini anggota Geng Kopet paling sibuk bahkan di antara banyak perjumpaan dengan Geng Kopet, saya baru dua kali bertemu dia, satu saat kita ke Malang dan terahir saat menjelang dia pulang. Soraya, ini Geng Kopet paling kopet, selalu ikut saat jalan-jalan. Mungkin kenangannya lebih banyak tentang jalan-jalan ketimbang belajarnya.

IMG_20160825_191430

Paling pojok namanya Aya dan sebelahnya itu si Mila

Untuk eksistensi Geng Kopet, berharap suatu saat bisa bertemu lagi dengan mereka demi melanjutkan pertemanan yang kadung akrab. Katanya sih meet up selanjutnya mau ke Pulau Seribu. Oke saya tunggu!

Terakhir adalah dua orang yang amat spesial bagi saya. Namanya Bayu dan Rengga, mereka adalah penghuni kosan sebelah. Kami bertiga rasanya punya hobi dan jalinan takdir yang sama. Kami sama-sama hobi tidur siang, bahkan si Bayu selalu absen kelas karena bablas tidur siangnya. Di malam hari kami bertiga sering keluar untuk mencari indomie atau sekedar hunting pokemon.

IMG_20160825_190627

Rengga yang paling depan dan Bayu yang paling belakang

Anehnya, kami dipersatukan dalam lingkaran orang-orang putus cinta sehingga seputar obrolan kami tidak jauh dari ciwi-ciwi. Khususnya si Bayu yang sedang haus-hausnya, fyi dia ini anak S2 UPI dan bertekad untuk mendapatkan kosan campur yang murah, berisi gadis-gadis cantik Bandung, dan kamar mandi di luar. Dia saat ini juga sedang mengincar Depay, si anak Unpad 2014, kenalan kami di Pare. Terlalu haus akan kasih sayang sepertinya. Istighfar luh Bay!

IMG_20160825_200054

Hunting Pokemon dan ‘ciwi’ di Masjid Pare

Karena kesolidan kami itulah setelah Rengga dan Bayu pulang ke tempatnya masing-masing saya benar-benar kehilangan sosok. Tidak ada lagi teman untuk tidur siang, mencari pokemon, ke warkop, dan berdiskusi mengenai dedek-dedek emesh.

Maapkan jika terlalu panjang, tolong dimaklumi biasanya siklus baper-melankolis muncul di detik-detik menjelang kita meninggalkan suatu tempat di mana banyak kenangan lahir. Dan di titik inilah saya berada. Di titik inilah saya mendapatkan pencerahan, sebuah perspektif baru bahwa banyak hal positif yang kita dapat dengan meninggalkan kampung sendiri. Juga sebuah pencerahan bahwa tenaga, waktu, dan uang yang kita keluarkan untuk belajar di tempat yang jauh tidaklah sia-sia karena banyaknya ilmu, pengalaman, dan kawan yang kita dapat. Walaupun sekarang saldo saya sudah megap-megap, tapi saya benar-benar tidak peduli dengan itu semua. Toh, lagi-lagi uang bisa dicari dan untuk mengenyangkan perut, sekedar nasi dengan bebek bakar pun sudah cukup. Lah.

“Sampai jumpa Pare, andai sesuatu itu berjalan dengan lancar mungkin kita akan bertemu lagi di lain waktu…”

 

 

Antara Ide dan Harga Diri

debat

Marilah sejenak beralih dari Jaka yang galau menjadi Jaka yang lebih serius. Sekarang saya akan berbicara tentang ‘ide’ dan implikasinya terhadap harga diri seseorang. Begitu mafhumnya masalah ini menimpa diri seseorang (termasuk saya), maka fardhu ain bagi saya untuk menggunakan kata ‘kita’ dalam tulisan ini.

Teman-teman, tahukah kalian apa kesalahan terbesar kita di saat kita mencetuskan sebuah ide? atau di saat kita berpegang pada sebuah gagasan? Jika kalian belum ngeh jawabannya maka akan saya beri tahu. Kesalahan terbesar yang biasa terjadi adalah kita TERLALU MEMEGANG ERAT IDE tersebut. Saking kuatnya, sering kali kita mengidentifikasi ide tersebut dengan diri kita sendiri. Lalu ketika ide itu dicounter atau dikritisi pihak lain kita merasa diri kitalah yang sedang diinjak. Ketika ada pihak lain yang memiliki gagasan yang berbeda secara diametral dengan kita, langsung saja kita khawatir dan merasa harga diri kita sedang terancam.

Itulah sebabnya perdebatan yang sehat jarang terjadi, itulah sebabnya dua kutub yang bersebrangan selalu berada dalam atmosfer saling bunuh gagasan, dan itulah sebabnya kita cenderung membenci pihak yang pemikirannya bertumbukan dengan kita. Intinya, ketika ide kita dilawan, kita merasa keseluruhan jagad kitalah yang dilawan lalu dengan sangar insting purba kita akan memerintahkan untuk menyerang balik.

Apakah ini salah? JELAS!!  Faktanya yang biasa terjadi adalah kita akan membela mati-matian gagasan yang kita pegang. Kita berusaha melawan balik argumen si penentang dengan cara apapun, lalu tertawa jahat ketika si penentang terkapar oleh pedang argumen kita. Lah ini kalau gagasan kita yang benar. Nah, andaikata di saat kita sudah membela gagasan secara total, berusaha dengan gagah menyalahkan pihak lain tapi teori membuktikan bahwa gagasan kitalah yang salah… MAU DITARUH MANA MUKA KITA?!! Sudah salah malah menyalahkan yang benar, sungguh kekonyolan yang tidak terampuni.

Melampaui itu semua, ada dua implikasi yang melumpuhkan di saat kita terlalu memegang erat ide kita. Pertama, karena kita cenderung melabeli pihak yang bersebrangan sebagai ‘LAWAN’ maka apapun yang keluar darinya kita anggap sebagai kesalahan. Bias perspektif, kebenaran yang bersumber dari lawan terlihat sebagai kekeliruan sehingga sampai mati kita mau mencari celah untuk mengkritisinya. Kedua, karena cenderung mencap pihak yang searus dengan kita sebagai ‘TEMAN’, kita menjadi buta jika si TEMAN melakukan kesalahan, malah kita mencari dalil untuk menopangnya. Sungguh keduanya merupakan bencana intelektual!

Bukankah ini fenomena yang amat umum belakangan ini? iyakan saja biar cepat.

Teman-teman, saya menulis ini agar kita semua belajar untuk meletakkan ‘gagasan’ pada fitrahnya. Marilah kita membiasakan untuk memberi sekat antara ide dan harga diri. Tidak usah terlalu pusing jika ada pihak lain yang menyerang gagasan kita. Jangan merasa diri kita yang ditenjangi jika ada pihak yang mengkritisi ide kita. Buatlah kotak pemisah mana yang perlu dibela mati-matian dan mana yang perlu ditelusuri sampai kebenaran ditemukan.

Patut diketahui, sebuah pemikiran tidaklah datang dari ruang hampa. Gagasan atau ide selalu terbentuk dari banyak faktor. Ibarat bangunan, sebuah gagasan terbangun dari banyak elemen, seperti pengalaman, informasi, perenungan, buku dan seterusnya. Bangunan bisa direnovasi, begitupun gagasan bisa direvisi. Bangunan bahkan bisa hancur dalam sekejap begitupun gagasan kita bisa runtuh dalam seketika. Ingatkah ketika gagasan mapan kaum Gereja masa Dark Age tentang ‘Geosentris’ harus hancur oleh kebenaran ‘Heliosentris’ masa Renaisans? Lihatlah respon gereja terhadap gagasan yang menentangnya dan bagaimana kebenaran harus diperjuangkan walaupun dengan konsekuensi banjir darah. Itulah bentuk ekstrim ketika gagasan terlalu erat dipegang!

Teman-teman patutlah kita belajar dari para Ulama Salaf maupun Khalaf. Mereka senantiasa tidak memberhalakan gagasan mereka, bahkan semua Ulama Mazhab menyikapi segala perbedaan dengan prinsip, “Menurutku, pendapatku benar tetapi ada kemungkinan salah dan pendapatmu salah tetapi ada kemungkinan benar” dan “Jika ada pendapatku yang bertentangan dengan hadits shahih, maka tinggalkanlah pendapatku”. Sungguh sikap yang sangat bijak dan patut diteladani.

Teman-teman, sebuah ide atau gagasan pada hakikatnya memiliki kelenturan yang luar biasa. Mungkin hari ini kita berpendapat A, lalu besok menjadi B, dan lusa bahkan berkebalikan dari sebelumnya. Peganglah gagasan kita tapi bersiaplah untuk melepaskannya di saat ada gagasan yang lebih benar. Untuk itu, tidaklah perlu memperjuangankan sebuah gagasan layaknya memperjuangkan mantan! Maap typo, galaunya masih tersisa. Cara terbaik untuk move on dari gagasan adalah dengan mengembangkan sikap skeptis, sikap ragu yang sehat untuk selalu mencari kebenaran darimanapun, bahkan dari mulut LAWAN sekalipun.

Saya menulis ini bukan berarti saya sudah mampu mempraktikan total apa yang saya tulis. Saya pun masih dalam tahap belajar mengendalikan ego dan berusah untuk tidak menggenggam erat gagasan yang saya punya. Coba bayangkan, alangkah tentramnya hidup ini jika kita bisa saling kalem dan selow dlam berpendapat.

Sudahlah ya, penat kalau berpikir yang terlalu serius. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Saatnya menggalau kembali…yeaahhh.

sumber gambar: http://www.shutterstock.com

 

Dilarang Mencinta Terlalu Dalam Kalau…

Tulisan ini hanyalah pandangan subjektif saya sendiri tentang cinta. Jika tulisan ini diibaratkan dinding, maka pengalamanlah yang menjadi bata-bata penyusunnya. Di umur saya yang sudah menua ini, saya kira tumpukan bata terakhir sudah lengkap dan dinding sudah kokoh. Inilah pandangan saya tentang cinta yang mungkin terus saya bawa sampai mati (mudah-mudahan).

Jelaslah, tulisan ini tidak sempurna, parsial, bahkan ada cacat tetapi hasrat mengeluarkan opini tidak terbendung dan menulis adalah perwujudan ekspresinya. Jikalau berbicara cinta izinkan saya mengutip kalimat seorang bijak yang berbunyi, “Definisi tentang cinta bukanlah cinta”. Dalam skala yang lebih luas kita bisa artikan bahwa teori cinta tidak mengenal rumusan tunggal. Segalanya serba subjektif dan pandangannya kaya sudut. Setiap individu sah berteori dan sah pula menolak teori orang lain, dengan begitu pembaca jelas boleh setuju atau tidak dengan tulisan saya. Nikmati sajalah ya.

Setelah ditempa dua kali sakitnya putus cinta saya menyadari satu hal, bahwa manusia hendaknya jangan mencinta terlalu dalam jika hubungannya belum sampai ke taraf pernikahan. Mengapa? Dikarenakan cinta yang teramat dalam hanya pantas dinisbahkan kepada hubungan yang teramat suci, yaitu pernikahan. Jika masih taraf pacaran, tahanlah cinta Anda pada taraf logika. Dengan kata lain, jika cinta sudah berakhir maka anda pun bisa pulih cepat dengan logika pula.Ini bukan berarti Anda tidak diwajibkan setia. Kesetiaan adalah elemen wajib jika cinta ingin bertahan seterusnya.

Cinta bagi saya adalah madu yang terlapis oleh racun. Kebahagiaan yang dibalut penderitaan. Jika dua cinta bertemu, manusia akan masuk dalam keadaan trans di mana yang Anda rasakan hanyalah kebahagiaan. Tapi, jangan salah setiap kebahagian yang ditimbulkan oleh cinta selalu menyisakan residu penderitaan. Makin bahagia Anda dikarenakan cinta, makin besar potensi Anda menderita di saat cinta sudah tiada. Itulah sebabnya dikatakan, sakit yang kita rasakan berbanding lurus dengan kebahagiaan yang telah hilang.

Maka dari itu cintailah pacar Anda dengan komposisi nalar dan hati yang seimbang. Jika cinta anda terlalu dalam maka sama saja anda sedang menabung duka yang banyak pula. Pada saatnya cinta kandas, penderitaan akan menyeruak keluar dengan ganas. Semburan penderitaan yang selama ini terpendam itulah yang saya rasakan amat menyayat batin saya.

Kebahagian yang terlahir karena cinta selalu terekam dalam memori jangka panjang. Jika masih ada cinta, setiap kenangannya akan menjadi sumber kebahagiaan. Tapi setelah cinta kandas, rekaman yang dulu terasa indah berubah menjadi sakit yang tak terperikan. Sedihnya, otak kita cenderung mengulang-ulang rekaman tersebut, alhasil penderitaan yang kita rasakanpun menjadi bertubi-tubi.

Itulah yang saya rasakan ketika saya mencintai begitu dalam. Membiarkan hati saya tenggelam oleh cinta yang tiba-tiba berubah menjadi racun. Sakit sekali bukan? Entah bagaimana, perih yang saya rasakan akibat cinta memiliki efek langgeng yang luar biasa. Penderitaan seperti merembes ke dalam setiap tubuh saya dan membuat luka di setiap sel-sel darah saya. Sulit rasanya untuk terobati, bahkan tidur pun belum tentu bebas dari kesedihan, terkadang mimpi saya malah menambah pedihnya luka.

Inilah yang menjadikan saya berprinsip bahwa cinta yang dalam hanya boleh diberikan kepada istri. Hubungan pernikahan adalah hubungan penuh berkah, maka itulah saatnya menceburkan diri ke dalam lautan cinta yang juga dipenuhi keberkahan. Cintailah pasangan halal kita sedalam-dalamnya, karena apa yang tumbuh dari cinta suami-istri jelas-jelas diridhai Allah.

Balik lagi ke topik, bahwa jika masih berpacaran janganlah bermain-main dengan cinta. Racun cinta bisa melumpuhkan bahkan membunuh batin seseorang. Perlakukanlah pacar anda dengan hati yang bersih dan nalar yang sehat. Jangan biarkan cinta merasuk terlalu jauh ke dalam relung jiwa. Ingat prinsipnya, anda sedang menabung penderitaan maka itu minimalkanlah agar sakit yang dirasakan mudah disembuhkan.

Terakhir, setelah merasakan indahnya menjalin cinta dan pedihnya putus cinta. Saya berkesimpulan, jikalau mampu, berpacaranlah ketika anda sudah benar-benar siap untuk menjalin pernikahan. Pacaran yang semata untuk saling mengenal satu sama lain, bukan mencicipi satu sama lain. Secepatnya, ikatlah hubungan kalian dengan pertalian suci, yaitu pernikahan. Saya yakin, hubungan akan penuh keridhaan dan keberkahan.

Saya pun belum menikah, tapi saya yakin hal di atas karena pernikahan adalah seruan agama. Begitupun buku-buku bernuansa Islami pasti akan menyerukan hal yang serupa. Begitu besarnya urgensi pernikahan, dalam hadits disebutkan bahwa pernikahan meyumbang separuh dari kesempurnaan seorang muslim.

Setelah membaca panjang lebar apa kalian setuju dengan teori cinta yang saya paparkan? Yasudah, jawab saja kepada hati kalian sendiri ya.

Terakhir, saya doakan yang pembaca yang belum menikah tapi sudah menjalin hubugan agar cepat dimudahkan dalam jodohnya. Bagi yang jomblo saya doakan mendapat pasangan terbaiknya masing-masing di saat paling tepat. Oiya, ingat pula untuk mendoakan saya, terserah apapun doanya asalkan yang baik untuk dunia dan akhirat saya.

Sudah ya saya cukupi saja tulisan ini. Selamat membaca postingan melankolis yang akan datang.

Salam jomblo!