Konsekuensi Simbol dan Polemik Fatwa MUI

mui

mui.or.id

Setelah MUI mengeluarkan fatwa yang berisi adanya pelarangan pemakaian atribut Natal bagi seorang muslim, kasak-kusuk suara negatif menyerbu. Kebanyakan dari sesama Muslim yang agak ‘liberal’, tak ketinggalan cendikiawan Muslim maupun beberapa kyai mengkritik fatwa ini, atas nama toleransi katanya. Biasanya para pejuang toleransi ini berdalil, bahwa para kaum konservatif sangat terpaku pada simbol. Topi Santa dan pohon cemara hanyalah simbol tidak usah dipermasalahkan. Memakai pernak-pernik umat Kristiani tidak akan menjadikan Anda auto-murtad (meminjam istilah Gus Nadir). Substansi keislaman seorang Muslim tidak akan terancam hanya dengan mengenakan itu semua. Jadilah Islam substansial jangan Islam formal, begitu kata mereka. Fatwa MUI ujung-ujungnya hanya meresahkan masyarakat. MUI tersudutkan dan sedang mengalami penggerusan kredibilitas.

Saya merenungi dalih mereka di atas, ada benarnya tapi kalau anda merenungi lebih dalam harusnya anda menemukan keganjilan yang mendasar. Begini, pada dasarnya semua simbol itu kosong makna dan kitalah yang memberinya arti. Contohnya adalah angka 5 yang sebenarnya tidak berarti apapun sebelum manusia sepakat bahwa itu adalah sesuatu sebelum 6 dan sesudah 4. Barulah 5 berarti sebagai ‘sesuatu’ dan memiliki konsekuensi. Kini anda harus perlakukan 5 pada tempatnya, anda bisa dihujat guru matematika jika berkata sejuta tp menulisnya 5.000.000.

Beralih pada simbol dan atribut keagamaan, semuanya memiliki ragam konsekuensinya masing-masing. Peci, jilbab, baju koko adalah simbol Islam yang menghadirkan sebuah marwah keislaman yang khas. Pemakaianya secara otomatis memancarkan aura keislaman yang kita kenali tanpa harus bertanya lebih dalam. Simbol pada akhirnya berkelindan dengan identitas, melekat dengan harga diri, dan menentukan perasaan.

Identitas, harga diri, dan perasaan ini semuanya sebjektif. Setiap individu memiliki kadar penerimaan berbeda akan ketiga hal tersebut. Saya menginjak-injak fitrah anda jika saya memaksakan agar perasaan anda harus se-frekuensi dengan perasaan saya. Begitulah, pihak yang mengatakan bahwa, “Kaum konservatif hanya terpaku pada simbol dan karyawan Muslim seharusnya tidak mengeluh jika disuruh mengenakan atribut Kristiani” pada dasarnya telah memaksakan kehendak. Maaf jika saya kurang sopan, tapi menurut saya mereka berlagak toleran dengan cara yang intoleran.

Gampangnya begini, maukah anda yang pria saya suruh untuk keluar rumah mengenakan rok pendek dan legging. Kalau anda menolak, saya bisa katakan kalau rok dan legging itu hanyalah simbol, keduanya tidak akan mengubah secara otomatis produksi sperma anda menjadi ovum toh? Jadilah pria substansial jangan pria formal! Ketika beberapa cendikiawan muslim juga berdalih atas nama simbol, saya balik bertanya, maukah mereka berceramah jika panitia Istighasah menyaratkan anda memakai pakaian pastur dalam rangka toleransi tanggal 25? Jujur saya ragu mereka bersedia. Inilah konsekuensi simbol, menentukan secara telak perasaan, harga diri, dan integritas seseorang. Anda hanya membonsai perasaan kemusliman seseorang jika anda mencibir mereka yang enggan mengucapkan selamat Natal apalagi saat mereka menolak menggunakan atribut Kristiani.

Dalam kerangka inilah fatwa MUI terbentuk. Esensi fatwa MUI akan efektif untuk melindungi perasaan dan harga diri umat, terutama para karyawan yang biasanya disuruh untuk mengenakan pakaian ala Santa. Anda lagi-lagi boleh berdalih kalau sebenarnya MUI tidak usah berfatwa demikian, cukup para karyawan lapor polisi jika ada agenda pemaksaan. Ah alasan basi, di tengah perekonomian yang loyo dan sulitnya mencari pekerjaan baru, resiko pemecatan adalah titik lemah yang bisa saja dieksploitasi para pengusaha tiran. Jika saya jadi karyawan, dibanding dengan pemecatan, menjadi si bisu yang penurut lebih masuk akal. Pernahkah logika anda berpikir demikian hai para pemuja toleransi?

Inilah yang dirasakan genting oleh ulama MUI dan akhirnya fatwa MUI memberikan kekuatan legal-formal bagi mereka yang bisa saja perasaan dan karirnya terancam. Fatwa ini tidak mengikat kok, kalian yang muslim dan bersedia memakai atribut Natal tidak terkena dengan fatwa ini. Biar lebih fair, sebenarnya fatwa MUI dalam versi lengkap juga melarang para bos-bos muslim menyuruh karyawannya yang non-Muslim untuk menggunakan atribut Islam ketika periode Hari Raya Islam. Tenang, fatwa ini bekerja dua arah dan menurut saya masih dalam batas toleran. Saya kira saudara kita yang Kristiani mengerti betul psikologis ini, ironisnya yang sering gagal paham dan ahli sindir adalah muslim sendiri yang doyan memainkan politik identitas.

Masih tentang simbol, saat Rasulullah bermusyawarah tentang simbol pemanggilan shalat, Rasul menolak usul pemanggilan dengan lonceng karena identik dengan Kristen, pun begitu dengan terompet karena identik dengan Yahudi. Akhirnya disetujuilah adzan sebagai metode untuk memanggil orang shalat. Andai Rasul menerima salah satu dari simbol itu, saya yakin sejarah akan banyak berubah. Simbol itu penting bukan?

Oiya, saya bukan maniak simbol, tulisan ini sekedar perasaan resah saya bagi orang-orang yang mereduksi habis makna simbol. Saya bukan anti pernak-pernik Kristiani, bahkan Donal Bebek versi Natal selalu menjadi bagian yang paling saya suka, film Natal pun seru-seru. Saya turut bahagia juga dengan perayaan Natal. Jika ada teman Muslim saya mengenakan kostum Santa Claus saya tidak akan menyinyir, malah saya akan tertawa di depannya sambil memberikan kaos kaki saya, mungkin nanti diberi cincin emas untuk mahar eaaa.

Sudahlah teman, hargai perasaan saudara Muslim kita yang berbeda, pun hargai MUI yang telah bersusah payah menelurkan fatwa. Fatwa ini demi kebaikan umat walaupun MUI harus sedia menerima resiko dibully oleh mereka yang sudah dari awal sentimen dengannya. Marilah nyalakan lilin kesepahamahan di antara kita, jangan padamkan apinya dengan kebencian.

Ini hari yang berbahagia–terlepas dari ragam pandangan–hari kelahiran Nabi Isa berarti hari yang penting bagi tiga agama monoteis (Islam, Nasrani, dan Yahudi). Beliau Nabi pilihan, maka itu mari kita curahkan shalawat serta salam untuk beliau, Nabi Isa alahissalam.

Sekian. Selamat berbahagia.

Advertisements

Huru-hara di Medan Fesbuk

Awalnya dibuat, Fesbuk berfungsi sebagai alternatif perjumpaan. Mempertemukan sahabat yang berpisah, keluarga yang jauh, teman yang terpencar, dan bahkan orang baru adalah kekuatan positif Fesbuk. Memang mengumpulkan orang-orang di dunia maya jauh lebih mudah ketimbang di kenyataannya. Itulah yang saya rasakan dulu ketika tahun 2009, saat baru membuat akun di Fesbuk.

Lalu sekarang? lupakan fungsi Fesbuk yang dulu. Kini Fesbuk telah bermetastasis secara sempurna menjadi alat propaganda. Lihatlah beranda Anda dan jujurlah bahwa apa yang saya katakan lebih banyak benarnya. Alih-alih menyatukan, Fesbuk menjadi semacam medan pertempuran virtual yang menjijikan. Senjatanya bukan senapan dan bom tapi nyinyiran, sarkasme, pembunuhan karakter, dan pembohongan publik. Tapi sama dengan semua perang, perang virtual ini melibatkan isu agama dan politik yang sarat dengan emosi, kelicikan, dan insting membantai.

Apa penyebabnya? Banyak faktor dan saya mau menjelaskan salah satunya, yaitu benturan orang-orang yang saling tidak singkron.

Begini teman-teman, sebelum ada medsos pembauran antara pemikiran liberal dan konservatif jarang terjadi. kalaupun ada jelas tidaklah semasif sekarang. Masyarakat memilih sendiri-sendiri guru, kyai, atau ulama yang ingin dijadikan panutan. Jika mereka suka dengan pemikiran tradisional-konservatif maka kyai-kyai kampung dengan pengajian ala ta’lim, yang identik dengan pembacaan kitab klasik adalah pilihan terbaik. Lalu yang suka pemikiran progresif-liberal akan cenderung beralih pada seminar-seminar atau kajian yang digeluti oleh cendikiawan muslim semacam Cak Nur, Gusdur, Harun Nasution dll. Tidak ada benturan pemikiran karena masing-masing berada di ranah yang beda ditambah belum ada wadah yang siap menampung dua aliran yang tampaknya saling berhadap-hadapan. Wilayah irisan antara keduanya mungkin hanya terdapat pada mahasiswa-mahasiswa UIN yang secara psikologis memang disiapkan untuk mengkompromikan dua kutub ekstrim ini, inilah wilayah moderat.

Lalu medsos datang dan menghancurkan sekat-sekat tersebut. Tiada lagi pembatas, semua pemikiran saling bercampur aduk seperti adonan. Mark Zuckenberg telah menyediakan panggung bagi siapapun untuk menyuarakan pemikirannya. Fesbuk kini menjadi terminal lintas mazhab dan pemikiran. Semacam al-Azharnya dunia maya, tapi ketika al-Azhar berisi para pelajar dengan kecenderungan diskusi, Fesbuk berisi para petarung dengan gairah mencela.

Ironisnya, suara dari toa-toa virtual jelas lebih menggema dan penyebarannya jauh lebih cepat ketimbang kuman. Masyarakat konservatif mulai bersinggungan dengan pemikiran liberal yang memuakkan dan masyarakat liberal mulai bersentuhan dengan pemikiran tradisional yang menggelikan. Inilah sumber masalahnya, keduanya merasa aneh dan tak cocok dengan satu sama lain. Keduanya merasa terancam, alhasil, arus pemikiran ini beradu secara radikal, keras, dan saling ingin meniadakan.

Kondisi ini diperburuk karena produk samping dari gejala ini adalah pembunuhan karakter seorang tokoh, yang bahkan bisa jadi sebetulnya dia tidak terlibat sama sekali. Ini terjadi karena orang-orang cenderung menjadikan tokoh-tokoh idolanya sebagai tameng sekaligus peluru untuk memenangkan wacana. Alasannya mudah, seorang tokoh bisa menambah bobot ilmiah sebuah argumentasi. Biasanya yang liberal tidak sungkan-sungkan melekatkan kesetiannya dengan tokoh seperti Gus Mus, Gus Nadir, Said Aqil, bahkan Gus Dur demi menamengi dirinya, sekaligus memakai argumennya untuk menggilas ulama semacam Habib Riziq, Aa Gym, Bachtiar Nasir bahkan MUI. Sebaliknya, pengagum Habib Riziq, Aa Gym, Felix Siauw juga begitu. Berlindung di bawah argumennya sekaligus mendedas habis Gus Mus, Said Aqil, bahkan Quraish Shihab.

Inilah yang kita sesalkan, benturan tak terkendali yang akhirnya mengorbankan nama baik dari para ulama. Jelas kita butuh ulama semacam Gus Mus sepenting kita butuh seorang Habib Riziq. Begitupun sosok Aa Gym kita perlukan sebagaimana Said Aqil. Semua punya karakter yang memadai bagi fungsinya masing-masing. Jelas membenturkan mereka adalah kebodohan ganda orang-orang minim akhlak. Tapi sungguh miris, beberapa cendikiawan akhirnya tertular virus nyinyir ini, dan pada titik ini cendikiawan yang liberal lebih lantang untuk bersuara pedas.

Jadi sudah mengerti kan kenapa prahara di Fesbuk bisa begitu kompleks dan menguras energi? Intinya adalah benturan orang-orang yang tidak saling singkron. Orang-orang yang tidak saling siap menerima perbedaan yang tajam. Secara alamiah setiap pihak mengidentifikasi pihak yang bersebrangan sebagai lawan. Pada akhirnya siapapun berusaha bersuara paling keras untuk menenggelamkan suara yang lain. ‘Siapapun’ itu artinya bukan hanya orang berilmu, tapi pembuat onar, politisi busuk, aparat licik, dan konspirator ulung secara sah bisa bersuara untuk kepentingannya masing-masing. Inilah kekeruhan konflik yang membuat kita semua stress.

Sungguh penalaran kritis, akhlak karimah, dan pengendalian diri amat kita butuhkan. Di saat tidak ada metode validasi yang shahih untuk setiap berita yang muncul, kita butuh rasa saling pengertian untuk mengurai benang kusut ini. Daripada saling mencaci dan menjelekkan kenapa tidak menyalakan obor kesepahaman di antara kita?

Semoga bermanfaat.

212, Kapan Engkau Terulang Lagi?

212

republika.co.id

Saya yakin 212 akan menjadi semacam kode yang terus diingat. Memorinya sulit dilupakan dan pada waktunya akan terkomposkan untuk terus diceritakan dalam narasi panjang sejarah Islam Indonesia. Walaupun perjuangan untuk mendapatkan legalitasnya cukup terjal. Bagaimana tidak? Dugaan makar, selebaran peringatan dari helikopter, blokade jalur bus, larangan membawa massa dari luar Jakarta. Belum lagi fatwa PBNU tentang tidak sahnya shalat jumat di jalan, ditambah hiruk-pikuk antara yang pro dan kontra di medsos. Tapi apakah itu membuat tekad massa sirna? Tidak. Justru itu membuat tekad massa mengganda berkali-kali. Singkatnya, setiap larangan yang dilayangkan hanya akan menambah bobot moral dalam setiap argumen pembenaran aksi 212.

Lalu diplomasi ulung para ulamalah yang membuat jalan buntu itu pecah. Pada akhirnya dua pihak yang saling mengunci (ulama-aparat) menemukan solusi ‘menang-menang’. Bahkan, keuntungan terbesar ada di pihak pro karena dekrit perjanjian membuat para aparat juga turut membantu menyiapkan segala hal terkait detail 212. Akhir yang manis ketika Kapolri dan para ulama bergandengan tangan, tersenyum bersama, dan bekerja terpadu untuk kesuksesan 212
.
Tapi cerita tidak berakhir di situ.

Mana lagi yang lebih dramatis daripada para santri Ciamis yang memutuskan jalan kaki setelah bus-bus menolak mengangkut mereka? Ciamis ke Jakarta bukanlah jarak nyaman jika ditempuh jalan kaki oleh manusia modern, 210 km lebih! Pinggirkan mereka yang mengecilkan usaha ini dengan kalimatnya yang nyinyir. Sisihkan mereka yang membenci tekad ini dengan prasangkanya yang buruk. Tapi lihat berapa banyak muslim yang terinspirasi oleh santri Ciamis ini. Lihatlah antusiasme para warga yang memberikan secara suka rela apapun yang mereka butuhkan. Makanan, minuman, baju, celana, sandal, sepatu, bahkan obat-obatan memenuhi pinggir jalan sepanjang garis lintasan mereka. Pada akhirnya gerakan ini menginspirasi orang kaya di Padang untuk menyewa pesawat, dan menjadi role model bagi banyak Muslim Jakarta untuk sama-sama jalan kaki dari tempatnya berada.

Lalu hadirlah jutaan ummat Islam yang memutihi monas dan sekitarnya.

Dilihat dari konfigurasinya, ini adalah campuran unik antara ketaatan kepada hukum, kebanggaan sebagai ummat, dan kecintaan terhadap Islam. Jika dalam aksi 411 latar belakang menuntut keadilan bagi Ahok memegang proporsi yang paling besar, saya rasa aksi 212 memiliki modus yang agak berbeda. Ini bukan aksi menyombongkan diri karena banyaknya massa seperti perkiraan banyak orang. Bukan. Ini bukan aksi orang-orang kolot yang tidak sabaran dengan proses hukum Ahok. Bukan. Lalu apa? Saya rasa ini mengenai sesuatu yang bersifat purba, fitrah, dan transenden. Ini adalah kerinduan mendalam untuk bergabung dalam lingkaran sesama Muslim. Sebuah panggilan hati untuk bersatu dengan ummat, bersama-sama menjalin ikatan batin yang padu, kohesif, dan berkelindan. Inilah yang menyebabkan gaungnya beresonansi kuat, menyentuh jiwa setiap Muslim di penjuru Indonesia untuk mengambil bagian dalam 212.

Saking kuat resonansinya, saya menjadi prihatin dengan Anda-anda yang memiliki sikap antipati atau bahkan benci dengan aksi ini. Kenapa getaran yang begitu kuat ini tidak tertangkap dalam kalbu Anda? Hijab semacam apa yang mampu menutupi jiwa Anda. Baiklah itu tidak penting lagi. Tapi izinkan saya untuk tidak memonopoli kenikmatan itu sendiri, izinkan saya membagi pengalaman luar biasa ini, agar Anda dapat mencicipi citarasanya sedikit.

Demi Allah ini adalah pengalaman yang begitu epik, indah, sekaligus mengharukan. Ketika jutaan Muslim lintas mazhab dan lintas pemikiran berkumpul untuk berzikir bersama. Kami berbaur tanpa melihat firkah, ormas, lembaga, tarekat, atau apapun. Kami tidak berkata, Anda Muhammadiyah? Anda pecinta Habaib? Anda Wahabi? Anda Nu? Anda HTI? Anda Syiah? Anda bertarekat? Tidak bukan itu. Tapi yang sama-sama kami katakan adalah, “Anda Muslim? mari bergabung dengan kami”

Bayangkan, sebelum hari H setiap masjid mengumumkan bahwa logistik telah siap dan titik keberangkatan di jalan ini dan itu. Dapur umum dibuka di banyak tempat. Masjid-masjid besar menyediakan penginapan. Begitupun beberapa lembaga, instansi, dan ormas yang peduli. Lalu di luar daerah, kegiatan Aksi diselenggarakan sebagai bentuk solidaritas. Ya, semua bersinergi demi 212.

Saat 212 berlangsung ketertiban terjaga dan kebersihan dipedulikan. Setiap orang menjadi ‘tukang sampah’ minimal bagi dirinya masing-masing. “Jangan injak tanaman” masih menjadi kidung yang terdengar konstan di telinga. Bagaimana dengan makanan? Wah, setiap anda berjalan 20 meter selalu ada oknum konsumsi yang ‘memaksa’ anda mengambil makanannya. Anda harus terpaksa melewati mereka tanpa ketahuan jika tidak ingin pulang dengan makanan tertimbun di tangan.

212 menghambat perekonomian? Sebaliknya! 212 menggerakkan roda ekonomi lebih kencang. Tanyakan pada maskapai penerbangan, kereta api, dan bus berapa kali lipat keuntungan mereka daripada hari biasa? Betapa untungnya perusahaan air minum? Belum lagi bisnis makanan dan catering. Pada ujungnya, berapa banyak pedagang yang disejahterakan oleh 212? Bukankah ini yang namanya keberkahan?

Terakhir dan ini yang paling penting. Umat Islam sudah lama dihantui oleh bayang-bayang kesuksesan Islam abad pertengahan. Puncak intelektual Abbasiyah, legenda Andalusia, kemegahan Safawi, ketenaran Moghul, dan kebesaran Usmani, semuanya menjadi kenangan manis yang sepertinya sulit diulang. Tapi konsolidasi massif Islam Indonesia yang plural—yang sepertinya mushtahil—membuat secercah harapan itu ada. Gerakan 212 membuat api optimisme—akan sebuah kejayaan—yang hampir mati itu kembali menyala. Bisa jadi Islam Indonesialah yang nantinya memimpin kebangkitan Islam di dunia. Mudah-mudahan.

Ah sudah terlalu panjang saya bercakap, jika nanti ada yang semacam 212 lagi saya tidak akan segan-segan mengulurkan tangan saya kepada Anda sambil berkata, “Bergabunglah bersama kami”.

GURU ITU…

Menjadi guru itu sulit, tanggung jawabnya berat. Satu suntikan salah, dokter hanya membunuh satu orang, satu ilmu salah, guru bisa membunuh satu generasi.

Menjadi guru itu sulit, waktunya terkuras habis. Paginya mengajar, siangnya mengajar, sorenya mengajar, malamnya? Menyiapkan materi, membuat soal, dan mengoreksi tugas. Kapan guru bisa membaca dan menulis? Hanya Tuhan yang tahu.

Menjadi guru itu sulit, tuntutannya banyak. Profesionalismenya dituntut, kecerdasannya dituntut, akhlaknya pun juga dituntut. Keberhasilannya sering dipandang sebelah mata sedang kesalahannya dipandang seribu mata.

Menjadi guru itu sulit, mentalnya harus serba siap. Siap untuk lelah, siap untuk tidak banyak uang, siap untuk disalahkan, dan yang paling memilukan adalah harus siap untuk dilupakan.

Tapi di tengah kepungan kesulitan itu…

Menjadi guru itu berkah, karena mengajar adalah membagi apa yang dipunya tanpa harus kehilangan sedikit pun. Ilmu guru ibarat lilin abadi yang siap menerangi pelita lain tanpa takut kehabisan apinya.

Menjadi guru itu ‘kaya’, bukan harta yang saya maksud tapi lebih bernilai dari itu, sesuatu tak terlihat bernama pahala. Bukankah, ilmu bermanfaat adalah investasi yang jauh lebih berharga ketimbang emas?

Menjadi guru itu awet muda, setiap hari bersilaturrahim dengan murid. Kebahagiaan para murid merupakan obat alami terampuh dan tertawa bareng mereka adalah terapi awet muda paling mujarab.

Dan akhirnya, menjadi guru sejati itu mulia. Karena seorang guru selalu memperhatikan dua dimensi, kaki kanannya di dunia, kirinya di akhirat. Benarlah yang mengatakan bahwa kemuliaan tugas guru hanya bisa dikalahkan oleh kemuliaan tugas nabi.

Terakhir, semoga keberkahan dan keutamaan selalu tercurah kepada guru-guru di kehidupan saya: Orang tua, guru MI Al-hikmah, MTsN 1, SMA 26, Mabit, dosen Ars, dosen PAI, juga untuk para ustadz, kyai, teman, sahabat, bahkan murid saya.

SELAMAT HARI GURU 🙂

Serba-Serbi Demo Damai 411

411

gatra.com

Saya kaget bukan main ketika sesampainya di rumah melihat berita adanya bentrok masa demo dengan aparat. Tembakan gas air mata yang menyulut kepanikan berbuah bentrok dan akhirnya nuansa damai yang susah payah dibangun mesti tercoreng di detik-detik terakhir.

Kenapa saya kaget? Jelas karena saya ikut dan sampai saya pulang situasi masih sangat tertib. Demo berjalan kalem dan adem, adem betulan, karena langit menghilangkan hawa panasnya dan menahan hujannya. Okelah saya memang mau menuliskan sesuatu tentang demo damai ini, bacalah baik-baik dengan hati jernih.

Saya ikut demo damai karena banyak faktor, salah satunya ialah karena ingin larut secara emosional dengan para pendemo yang lain. Saya suka mengamati pola dan gejala keagamaan sehingga saya ingin terlibat langsung, bukan sebagai pengamat ikan di luar aquarium.

Saya berangkat bersama-sama dengan jamaah masjid Al-Anwar. Banyaknya konvoi kami membuat orang-orang di pinggir jalan selalu merekam kami dari hp-nya. Saya tergelitik dengan ini, walaupun sering dianggap barbar, norak, garis keras, atau apapun tetapi kami terpaksa membuat non-partisipan takjub. Jangan-jangan mereka yang kontra juga terpukau dengan kami? Bisa jadi tapi dengan cara malu-malu kucing.

Saya tiba di Tugu Tani, kebetulan berpapasan dengan konvoi mobil Habib Rizieq yang juga berisikan Ust. Nachtiar Bashir, Fahri Hamzah, dan Fadli Zon. Mobil tersebut adalah ujung kepala dari rentetan panjang tanpa habis pendemo aksi damai. Sejuta orang? Ah pasti lebih, saya aja sampai menyerah karena kehabisan oksigen dan pinggul yang nyeri. Akhirnya saya sering kali ke pinggir hanya untuk istirahat, sambil memperhatikan petugas FPI yang raijn sekali menegur orang yang kakinya berada di atas rumput.

Setelah shalat Ashar dan ketiduran, Akhirnya saya pulang sambil mengantongi beberapa poin yang bisa saya petik. Silakan baca tapi dilarang baper!

1. Ahok, Ternyata Anda Sangat Dibenci

Kalimat paling sering yang dipekikan pendemo mungkin ialah ‘Ganyang Ahok’, ‘Penjarakan Ahok’, dan ‘Ahok durjana’. Saya sampai harus berpikir kenapa dalam suara mereka tersurat sekali nada kebencian di dalamnya. Jika hanya fokus pada isi perkataannya, mudah sekali bagi anda yang kontra dengan demo ini untuk berkata bahwa mereka ini dungu, barbar, berbau politik, kolot, atau apapun terserah anda. Tapi jika anda mau sisihkan kebencian itu sejenak dan menengok ke belakang bagaimana Ahok memimpin Jakarta, anda pasti menemukan kewajaran kenapa orang bisa begitu kesumat terhadap Ahok.

Arogansi, perkataan yang kasar, dugaan korupsi, reklamasi teluk, penggusuran secara tangan besi, pencitraan secara picik, kekuatan taipan di belakangnya dll adalah faktor pembangun kebencian publik terhadapnya. Namun, masalahnya mayoritas mereka adalah orang-orang menengah ke bawah yang sulit sekali mendapat momentum untuk menggugat protes. Ahok dengan segala ‘Naga’ di belakangnya terlalu kuat, butuh sesuatu yang epic—yang mampu menarik ribuan masa—agar gugatan langsung bisa dilayangkan. Di situlah blunder Ahok tentang al-Maidah menjadi kepingan puzzle terakhir. Momentum akhirnya muncul. Binggo!! Mereka akhirnya bisa melakukan katarsis sehat melalui aksi demo damai tersebut.

Teriakan para pendemo—seperti yang saya tulis sebelumnya—bukan hanya mengenai al-Maidah, tetapi penggumpalan bola salju dari segala ketidakadilan dan kedzaliman yang dirasakan umat muslim (kalangan menengah ke bawah). Di titik ini pulalah saya menjadi tahu bahwa wejangan Kyai Maimoen Zubair ataupun Buya Syafii Maarif menjadi kurang relevan, karena mereka tidak terlibat langsung secara mental layaknya penduduk Jakarta.
Lah kan yang menolak demo juga banyak muslim? Muslim Jakartanya juga banyak lho. Ya benar, tetapi mereka hidup secara berkecukupan, mereka tidak merasakan secara emosional apa yang sudah Ahok akibatkan kepada para miskin yang digusur, teluk yang dicor, atau ibu yang mau dipenjarakan karena masalah kjp. Intinya mereka hidup makmur, dan siapa yang mampu berdebat dengan kemakmuran?

2. Dua Jempol untuk Aparat Keamanan

Entah penilaian saya berubah drastis atau tidak setelah adanya kericuhan di penghujung. Tetapi selama saya berada di sana, aparat keamanan menunjukkan sebuah akhlak yang benar-benar karimah. Mereka dengan senyum manisnya, menawarkan kami sebotol minum, tidak peduli kami mencuekinya atau tidak mereka akan selalu terlihat ramah. Apalagi para polisi wanitanya seluruhnya memakai jilbab! Jelas ini pendekatan kultural yang amat kreatif dan jujur mereka jauh kelihatan lebih manis! *salah fokus. Satu lagi, mereka secara kompak menyenandungkan shalawat dan asmaul husna. Ah, ini langka kawan-kawan.

Namun, sayang sekali rentetan cepat peristiwa malah membuat polisi menembakkan gas air mata, entah ini ulah oknum atau bukan yang jelas citra polwan-polwan unyu-shalihah menjadi tertutupi gara-gara kalian. Huft sebal.

3. Kekuatan Bernama Ulama

Ini adalah pola yang sudah lama bertahan, mungkin yang paling lama. Ulama dengan segala karismanya mampu menggenggam kepercayaan masyarakat. Jika pemerintah memiliki kekuatan aparat, ulama memiliki kesetiaan masa. Kemampuan menarik, mengumpulkan, menggabungkan, dan akhirnya menggerakkan orang banyak, ditambah otoritas ilmiahnya yang mampu membentuk opini publik secara inheren mengalir dalam setiap diri mereka.

Daya pikat kehumasan inilah yang membuat masa demo damai ini membengkak hebat, linear dengan jumlah tokoh ulama, kyai, dan habaib yang hadir. Polanya bisa jadi begini, satu kyai menghimbau jamaahnya, lalu para jamaah akan menghimbau ke anak-cucu mereka lalu himbauan terus mengalir kepada teman, kerabat, kenalan, dll. Akhirnya jaring laba-laba ini terus meluas dan lihatlah masa yang menyemut memutihi bundaran HI. Wuihh.

Akhirnya, saya terpaksa harus kagum dengan kekompakan ulama yang turun untuk menenangi masa yang limbung dan geram. Andai ulama pada saat itu memberikan komando untuk melawan balik, saya yakin seluruh jamaah akan sami’na wa atho’na. Keteguhan hati merekalah yang membuat kericuhan hanya berlangsung sementara. Salut.

4. Warning Kepada Nu dan Muhammadiyah

Jika anda membaca buku-buku pemikiran Islam Indonesia, anda pasti menemukan narasi bahwa Nu dan Muhammadiyah adalah penjaga gawang moderasi. Keduanya adalah bantalan terhadap pemikiran-pemikiran subversif yang berpotensi mengancam kedaulatan Islam di Indonesia, baik itu liberal garis keras atau konservatif garis keras. Namun, demo damai ini mungkin akan menjadi babak baru dalam spektrum pemikiran Islam di Indonesia. Jika diperhatikan, masa dalam demo ini adalah kombinasi unik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kyai dan Habaib berafiliasi dengan salafi dan tarbiyah. Gerakan pelestarian bersatu dengan gerakan pemurnian. Ini adalah sesuatu yang amat dramatis!Buktinya, di sela-sela shalawatan saya bisa mendengar pekik malu-malu yang berteriak ‘khilafah!’.

Jika benar-benar terjadi peleburan, maka sekat-sekat yang dulu dirajut untuk ‘melindungi’ teritori masing-masing akan hilang. Resistensi internal akan lenyap dan akhirnya warna pemikiran akan didominasi oleh pemikiran yang paling kental. Jelas di satu sisi menguntungkan jika arus pemikiran sesuai dengan moderatisme tapi jika sebaliknya? Saya belum siap mental untuk mendengungkan khilafah di Indonesia. Jelas Nu dan Muhammadiyah harus peka dengan gejala ini, khususnya NU, ketimbang bermanuver ke arah liberal dan selalu berkompromi dengan penguasa lebih baik perhatikan jamaah arus bawah yang harus diedukasi agar jangan sampai terpengaruh paham-paham subversif (liberal radikal atau konservatif radikal).

5. Jokowi Kabur?

Ah itu saya no comment deh, beliau cukup pintar untuk mengetahui bahwa tindakannya mencoreng namanya sendiri.

6. Demo Damai Berakhir Tidak Damai?

Jangan mudah memrovokasi atau terprovokasi, lihat saja siapa yang paling banyak menanggung derita. masa atau aparat? Ok.

Sekian ya…duh panjang ya?..maafkan. Semoga bermanfaat.

Menimbang Demo 4 November dari Perspektif Lain

Terkait demo besar tempo lalu dan demo yang jauh lebih besar lagi pada tanggal 4 November, saya mencoba merenungi kenapa demo berskala nasional itu bisa terjadi. Apakah murni konsekuensi dari perkataan Ahok tentang al-Maidah ayat 51? Saya rasa tidak. Karena banyak di luar sana yang jelas-jelas lebih melecehkan Islam atau atribut Islam dengan kesengajaan yang pasti. Lalu apakah karena Ahok yang menjadi pemicu? Bisa jadi, tapi ini pun sepertinya bukanlah jawaban yang sebenarnya. Apa karena pilkada? Ini pun bisa ditolak karena masa yang menyerukan gugatan itu tidak hanya dari Jakarta.

Lantas apa penyebab besarnya?

Saya rasa begini, konsolidasi besar-besaran sebagian umat Islam—saya menyebut sebagian karena tidak semua kalangan setuju dengan aksi ini—pada tanggal 4 November nanti adalah respon puncak dari perasaan tertekan yang terpendam secara akumulatif semenjak dulu. Liberalisme, sekularisme, diskriminasi kelompok, penyudutan kepada fraksi Islam tertentu, penanganan terorisme yang ganjil, wacana toleransi yang intoleran, ditambah dengan isu-isu nasional seperti korupsi pejabat, angka kemisinan, kebijakan yang pro-asing, tiranisme Ahok…dan daftarnya terus berlanjut. Inilah yang menjadi bahan peledak sebenarnya. Tabungan amarah sudah mencapai klimaks hanya menunggu pemantik yang siap membakar sumbunya. Di titik kritis itulah perkataan Ahok menjadi api yang menyalakan sumbu. Dan Booom. Inilah yang terjadi.

Lalu menjadi negatifkah demo yang akan berlangsung? JELAS TIDAK!! Malah demo damai yang diserukan adalah bukti bahwa umat Islam Indonesia masih memiliki kebaikan berlebih. Jika anda ada di posisi yang amat tersakiti, fisik anda sangat mampu untuk melayangkan pukulan lalu anda hanya melangsungkan protes maka itu adalah sebuah perwujudan mental yang luar biasa bukan? Ini juga harusnya disadari oleh mereka yang peka. Bukan malah memojokkan dengan ujaran kebencian, itu hanya menambah mesiu pada bahan peledak.

Intinya, gerakan besar tanggal 4 bukan hanya menuntut Ahok diadili, tetapi itu adalah perlawanan terhadap semua daftar di atas, dan kasus Ahoklah sebagai gerbangnya. Saat ini umat Islam sedang menunggu jawaban dari negara, jawaban yang positif tentunya. Kebijaksanaan Jokowi amat menentukan, amarah umat perlu diredakan. Jika tidak, bukan tidak mungkin bentrok fisik menjadi jalan terakhir. Tapi mudah-mudahan tidak terjadi.

Mudah-mudahan demo berlangsung damai, aman, dan sentosa. Aihh…

Blunder Berkelanjutan, Kegagapan Nusron Wahid dan Hamka Haq dalam Membela Ahok

nusron

sumber: Kabarhoki.com

Saya bergairah sekali menonton ILC kemarin, saya mau tahu kira-kira apa argumen logis yang akan disampaikan pembela Ahok terkait dengan perkara Ahok tempo lalu. Kalau saya di sisi pembela Ahok mungkin akan sangat susah menyusun kalimat pembelaan karena amat sulit membela sebuah kesalahan. Saya penasaran apa kira-kira yang akan disampaikan mereka.

Beberapa pembelanya lebih diplomatis, mengakui blunder Ahok tetapi tetap menunjukkan bahwa sikap Ahok yang meminta maaf itu berjiwa ksatria dan umat Islam yang tersinggung seharusnya memafkan. Secara dialektika ini bagus, inilah langkah teraman tapi bagi yang mengharapkan diskusi panas maka ini belum bagus.

Setelah giliran Hamka Haq bicara, situasi baru mulai menegang. Dia membela Ahok habis-habisan walaupun bagi saya caranya agak memalukan, terlebih dia itu Profesor. Dia berkata kalau yang harus minta maaf adalah si Buni Yani, karena berkat wasilah Buni Yani itulah umat geger. Potongan video 31 detik hasil unggahannya menjadi biang kerok masalah. Dia memberikan bukti, bahwa video yang diunggah secara full—1 jam 48 menit (kalau gak salah)—tidak pernah memicu konflik. Hmm 1 jam 48 menit, kenapa ga memicu konflik? Ya jelas karena durasi selama itu tidak akan memicu orang untuk nge-youtube yang isinya ceramah. Ngapain juga, ngabisin kuota, waktu, dan bosenin. Mending donlot film. Itu kalau logika saya.

Pembelaan Hamka Haq tentang kepemimpinan Quraisy dan periode hijrah ke Etiophia yang rajanya penganut Nasrani juga sangat rawan celah. Jelaslah Rasul membiarkan Makkah dipimpin kafir Quraisy pada dakwah beliau karena posisi Islam belum kuat. Ketika kuat ya diambil alihlah Makkah, mau bukti? Ya itu Fathu Makkah. Nah, bagaimana tentang hijrahnya sebagian muslim ke Etiophia (Abbisinia)? Saat itu adalah posisi genting di mana perlakuan kafir Quraisy semakin semena-mena, maka yang tidak tahan lagi dengan penderitaan dipersilakan untuk hijrah. Loh, kan pemimpinnya kafir? Begini, jika di antara lima (agama, nyawa, keturunana, akal, dan harta) sedang terancam, maka syariah mengizinkan cara dan penanganan darurat untuk menyelamatkan lima unsur vital kemanusian.

Lagipula lucu juga jika ini dijadikan hujjah karena saat itu jika mau hijrah ke wilayah manapun ya umat Islam akan berada di bawah lindungan pemimin non-muslim, wong Rasulullahnya ada di Makkah.  Tapi menarik untuk disimak bahwa Rasulullah memilih Raja Negus sebagai tempat berlindung bukan hanya karena kemurahan hatinya, tetapi ke-Nasranian Raja Negus ini cenderung pada Nasrani dalam bentuk aslinya. Dia menyetujui pemaparan Ja’far bin Abdul Muthalib tentang kedudukan Isa sebagai utusan Allah bukan Tuhan. Bahkan dalam beberapa riwayat dikatakan Raja Negus wafat dalam keadaan muslim.

Lalu kita beralih ke Nusron Wahid.

Nusron Wahid lebih dahsyat lagi, saya shock sendiri melihat betapa sangarnya dia. ini sangar beneran! Dengan wajah yang galak plus matanya yang melotot. Saya mau beri respon tentang pembelaannya, Nusron dengan gagahnya bilang bahwa di zaman Khalifah al-Mu’tadid billah, sang khalifah pernah menunjuk seorang Kristen sebagai gubernur. Ada dua hal yang mau saya komentari, Nusron Wahid menyebut nama khalifah al-Mu’tadid billah sambil diulang-ulang untuk memberi penegasan tentang gelar yang berakhiran ‘billah’ adalah sesuatu yang suci. Oh Men, padahal hampir semua khalifah diberikan gelar semacam itu, contohnya Al-Mu’tashim billah, Al-Mustanshir billah, Al-Muqtadi billah dan masih banyak lagi. Pemberian gelar berakhiran ‘billah’ sangat lazim untuk khalifah di masa Abbasiyah, jadi pengulangan untuk memberi kesan sakral malah terkesan kurang cerdas.

Yang kedua, bayangkan pemerintahan Abbasiyah yang berusia kurang lebih 508 tahun tetapi hanya segelintir kejadian di mana non-muslim di angkat sebagai pemimpin sebuah wilayah. Ini jelas sebuah kejadian di luar kebiasaan bukan? Nusron bilang “Apakah saat pengangkatan tersebut tidak ada surat al-Maidah?” maka saya jawab, “Ada, sebagaimana adanya surat al-Maidah ketika pemimpin-pemimpin muslim lain terpilih”. Itu baru dari masa kekhalifahan Abbasiyah loh ya, jika seluruh fase dinasti Islam digabung dan diperbandingkan antara jumlah pemimpin muslim dan non-muslim, maka statistik mengenaskan tentang rendahnya presentase pemimpin non-muslim akan tersaji. Mau disajikan? Jangan ntar malu.

Nusron Wahid juga berkata, “Yang paling mengetahui tafsirnya hanya Allah dan Rasul-Nya”. Yaiyalah, nenek-nenek sembelit juga tahu. Lalu dia penghujung pembelaannya dia berkata, “Perkataan Ahok hanya Ahok sendiri yang tahu”, seolah-olah masyarakat tidak boleh mengambil kesimpulan dari perkataan Ahok karena masyarakat tidak tahu maksudnya. Inilah titik paling menggelikan di antara semua perkataan Nusron. Entah mungkin karena pikirannya sudah limbung ditambah emosinya sudah klimaks. Tidak disangka Nusron ingin menyelamatkan Ahok dengan logika dangkal macam itu yasudah saya terpaksa tertawa mendengarnya,

Ternyata memang tidak mudah membela sebuah kesalahan, kecuali jika ingin melahirkan kesalahan baru. Ketika Ahok blunder, pembelanya pun blunder. Tapi karena Ahok sudah meminta maap maka selayaknya kita umat muslim membukakan pintu maap tapi proses hukum tetap harus berjalan dengan adil.

Terakhir, saya juga menyayangkan ketika KH Tengku Dzulkarnain malah memaparkan konsekuensi yang harus diterima Ahok berdasarkan hukum Islam. Bukan hanya karena hukumnya itu pun masih diperdebatkan, tapi penyebutan secara gamblang tentang eksekusi fisik khas Islam (potong tangan, pemotongan silang dll) masih menjadi alergi tersendiri di kalangan muslim Indonesia. Pada akhirnya ini bisa menjadi bahan bully pihak-pihak yang anti MUI untuk mendeskreditkan MUI dan ujungnya sudah bisa terbaca, ulama secara keseluruhanlah yang terkena imbasnya. Riweh ya?

Terakhir (lagi), anda semua dibebaskan untuk menafsirkan al-Maidah. Yang tidak boleh adalah anda memonopoli tafsir versi anda sendiri. Bebaskan semua orang memilih, mana tafsir yang lebih sesuai untuk keadaan mereka. Dilarang panik ya oke…oke!

Yasudah itu aja. Semoga bermanfaat.