Ingatlah Hutang Kita

Pernahkah kita menghitung segala anugrah yang Allah curahkan kepada kita?. Seperti mengitung berapa kadar udara yang telah kita hirup? Berapa liter air yang telah kita minum? Berapa meter sudah kaki ini melangkah?. Jangankan untuk menjawabnya, memikirkannya saja jarang terlintas di pikiran kita. Terkadang akal ini lalai untuk merenung betapa sayangnya Allah kepada kita, mata ini begitu buram untuk melihat curahan kasih-Nya, hati ini begitu beku dalam merasakan berbagai nikmat yang telah dilimpahkan-Nya.

Betapapun canggih teknologi manusia tak akan mampu untuk menghitung nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Betapapun usaha kita untuk membalas kebaikan budi Tuhan niscaya tak akan mampu untuk menebusnya dengan kata lain posisi kita saat ini ialah BERHUTANG kepada Allah. Allah Maha Kaya, secuil pun Dia tidak merasa kurang dengan menganugerahkan nikmat-Nya kepada kita juga tidak sedikitpun membutuhkan pemberian dari manusia karena itu tak dapat menambah kebesaran-Nya yang begitu Agung.

Namun bagi kita yang berhutang tetap berkewajiban untuk melunasinya. Nah, dengan apa kita membayarnya? Adakah cara untuk melunasi hutang kita kepada Allah?

Menarik untuk dibahas Firman Allah yang berbunyi “Hari ini telah Kusempurnakan agamamu, telak Kucupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagimu” (QS Al-Maidah {5}:3). Banyak ahli tafsir yang berpendapat bahwa inilah ayat yang terakhit turun kepada Nabi pada saat beliau menjalani haji Wada’. Ayat ini memproklamirkan bahwa tugas Nabi Muhammad untuk menyampaikan risalah Islam sudah mencapai kesempurnaan.

itulah firman yang menjadi penutup kisah panjang turunnya Al-Quran selama kurun waktu 22 tahun lebih. Dalam Tafsir Al-Mishbah karya Prof. Dr. M. Quraisy Shihab dijelaskan bahwa ‘’Hari ini telah Kusempurnakan agamamu” itu berati pada hari itu telah sempurnanya syariat Islam dengan konsekuensi tidak ada lagi penambahan atau pengurangan terhadap syariat karena dia bersifat langgeng sampai kiamat, yang berubah dan menyesuaikan kondisi ialah apa yang disebut fiqih.

Jika agama telah disempurnakan maka nikmat-Nya Allah cukupkan. Itu menggambarkan nikmat-Nya yang begitu melimpah diberikan kepada kita belumlah sempurna jika tidak dibarengi dengan pengamalan agama yang memadai.

Kata din (agama) mempunyai akar kata yang sama dengan dain (hutang) sehingga dua kata ini mempunyai hubungan yang sangat erat.  Nikmat Allah yang begitu banyak itu menuntut “pembayaran hutang” namun karena manusia itu lemah maka kita dengan penuh ketundukan seakan berkata “ Yaa Allah aku begitu lemah sehingga tak mampu mengganti apa yang engkau beri, kini aku menyerahkan diri ini kepada-Mu sepenuhnya dengan membawa Islam (penyerahan diri)”.

Allah Yang Maha Pemurah mengtahui kadar manusia sehingga Dia tidak menuntut pembayaran yang melampaui kemampuan manusia. Akhirnya, Allah dengan segala kemurahan-Nya mengakhiri Firman-Nya dengan “…Aku ikhlas dan Aku rela sehingga Kuridhai penyerahan dirimu berupa Agama Islam sebagai alat pembayaran hutang mu.”

Itulah sedikit pencerahan bagi saya khusunya dan bagi pembaca umunya, bahwa kita wajib ‘membayar’ kebaikan Allah dengan mengamalkan Islam sebaik mungkin. Menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Pengamalan syariat Islam kita sekali lagi tidak memberikan manfaat apapun bagi Allah melainkan kebaikan di dunia dan kebahagaiaan yang abadi di akhirat bagi kita sendiri.

Wahai Allah yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami atas agama-Mu dan konsistensikalah kami dalam taat beribadah kepada-Mu…amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s