“Kiblat” masing-masing orang

Allah menciptakan makhluknya dengan penuh kesempurnaan baik dari segi bentuk maupun potensi yang terkandung di dalamnya. Lihatlah lebah, bagaimana Allah ciptakan dia dengan beragam potensi, lebah sanggup terbang beribu-ribu mil, dia hanya hinggap di bunga yang harum, juga mampu menghasilka madu. Lihatlah anjing bagaimana Allah ciptakan penciumannya sanggup membedakan mana kawan dan mana lawan juga dapat mencium sesuatu dari jarak yang amat jauh.

Itulah sekilas perbedaan pada binatang dimana tak satupun diatara binatang yang memiliki ciri khas dan kemampuan yang sama. Terlebih manusia, antara satu sama lain pastilah terdapat perbedaan baik perbedaan fisik, psikis, kecenderungan, dll, maka dari itu perkenalan terhadap diri sendiri merupakan hal mutlak yang diperlukan.

Allah SWT berfirman, “Tiap-tiap umat memiliki kiblat tersendiri yang ia menghadap kepadanya.”(QS. al-Baqarah :148).

Secara umum ayat ini menjelaskan bahwa bakat, kesiapan, dan keahlian manusia berbeda-beda. Setiap orang memiliki “kiblat” tersendiri. Di situlah seseorang mencipta, menjadi ahli, memancarkan sinar, dan menghasilkan karya mengagumkan dalam hidupnya.

Saya menghimbau pada diri saya dan saudara-saudara, kenalilah diri kita dan temukanlah di mana potensi kita harusnya berada karena dengan begitu seseorang tidak akan jatuh di lubang kesalahan. Percayalah saudaraku, menggeluti persoalan yang kita tidak senangi hanyalah menyiksa diri sendiri, mematikan potensi yang sebenarnya, dan menambah kerumitan hidup. Pemaksaan terhadap sesuatu yang bukan bidangnya hanyalah proses membunuh secara perlahan, diri anda seakan digerogoti penyakit yang tak kunjung sembuh dan hati anda serasa berada di dalam cengkraman yang amat sesak dan sempit.

Yakinlah teman, dengan menemukan potensi diri seseorang akan merasakan hidup yang sebenarnya, dia tak akan risau dengan keberhasilan orang lain karena dia yakin bahwa dirinya mempunyai jalannya sendiri, dia akan terhindar dari iri hati maupun dengki karena dia optimis dengan kehidupannya, dan dia akan jauh dari sikap merendah karena jiwanya hidup dengan penuh semangat. Seseorang yang berjalan sesuai koridornya akan rela menghabiskan segenap kemampuannya, meneteskan air mata kebahagiaannya, dan berjuang tanpa letih demi tercapainya cita-cita.

Percayalah bahwa kita semua mempunyai mata air masing-masing di mana air yang kita reguk sesuai dengan selera kita. Kita mempunyai “kiblat” sendiri di mana mata kita fokus menatapnya dan hati kita bersungguh-sungguh terhadapnya.

Lihatlah orang-orang yang berhasil di pentas dunia meraka adalah orang-orang yang memahami dirinya dan mencurahkan segala upaya dalam bidangnya. Tengoklah Bilal, dialah seseorang yang tinggi derajatnya dan sangat dicintai Nabi karena dia mahir dan spesialis dalam bidang adzan. Muadz bin jabal dialah pemimpin para ulama karena beliau paling ahli dalam hal halal dan haram. Ali bin Abi Thalib dialah yang ahli dalam mengambil keputusan sehingga apabila bermusyawarah dialah yang ditunjuk sebagai utusan. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya seperti Ubay bin Ka’ab pakar bidang qiraat pada zamannya dan ibn Abbas biang para mufassir di eranya, merekalah yang ahli di bidangnya sehingga harum namanya baik di dunia maupun di akhirat.

Janganlah berharap banyak dari mereka yang menjalani karir dengan setengah-setengah, mereka yang selalu berada dalam kejemuan dan melakoni pekerjaan tanpa motivasi. Aktivitas mereka dijalani dengan hati yang perih dan muka yang kusut sehingga apa yang dihasilkan tidaklah lebih dari ala kadarnya, tidak ada kelebihan dan keistimewaan yang muncul dari jerih payahnya. Percayalah saudaraku, bukanlah pada tempatnya petani itu meracik obat, dokter menjahit pakaian, dan teknisi menafsirkan Al-Quran. Itu semua hanyalah menghasilkan produk gagal yang diremehkan orang-orang.

Mulai sekarang temukanlah kecenderungan hati kita, hanya kita yang tahu di mana itu berada. Gelutilah apa yang kita kuasai, bersungguh-sungguhlah dengan apa yang kita cintai, perdalamlah kemampuan, dan pertajamlah kemahiran dalam bidang masing-masing karena kecakapan dan kecemerlangan orang yang cerdas dan pintar tidak akan terlihat sampai ia mempelajari dirinya, mengetahui bakatnya, dan mengembangkan keahliannya. Sebab, dengan begitu ia akan bekerja dengan nyaman dan berkarya dengan sempurna.

Menjadi pakar yang istimewa dan berpengaruh hanya bisa dilakukan pada bidang yang kita cintai,,sukai, gemari, dan candui karena dengan begitu kita rela memberikan waktu tidur, air mata, dan darah kepadanya. Pada kondisi seperti inilah akan lahir karya, kemahiran, kecemerlangan, kepakaran, dan keistimewaan.

Kebesaran Imam Syafi’i dalam bidang fiqih, kecemerlangan Imam Bukhari dalam bidang hadits, kecakapan Imam Gazali di bidang filsafat, dan ibn Jauzi dalam bidang nasihat. Dan di negeri kita tercinta, ir. Soekarno dalam bidang orasi, Quraish Shihab dalam bidang tafsir, BJ Habibie di bidang teknik. Merekalah orang-orang yang sanggup berkibar di puncak karir dan menjadi panutan bagi orang selanjutnya.

Yaa Allah tunjukilah jalan yang terbaik untuk kami, jadikanlah kami ahli dalam bidang kami, dan jadikan kami orang besar di dunia dan bahagia di akhirat. Amiin

Semoga tulisan ini bermanfaat. (terinspirasi dari buku “silahkan terpesona” karya DR. A’id Abdullah Al-Qarni)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s