Cuplikan Sejarah Singkat Kehidupan Rasulullah (part 4)

Dari Peristira Raji’ sampai Merebaknya Fitnah Terhadap Aisyah

Tahun 3 Hijriyah

Peristiwa Raji

Tahun 3 Hijriyah, datanglah utusan dari kabilah Uqal dan Qarah menghadap Rasulullah. Mereka megundang beberapa sahabat Nabi untuk mengajarkan mereka akan Islam. Rasulullah SAW pun mengirim enam sahabatnya, yaitu Martsad ibn Abi Martsad, Khalih bin Bakir, Ashim bin Tsabit, Khubaib bin Adi, Zaid bin Dastnah, dan Abdullah bin Thariq raiallahu anhum, dengan Ahim bin Tsabit sebagai ketua perjalanan.

Tanpa disangka, ketika mereka berada di kawasan Hudzail, mereka dibuntuti oleh seratus prajurit pemanah. Para prajurit kafir itu mengejar dan berhasil menyergap delegasi Rasulullah tersebut. Singktnya, pada peristira Raji’, 6 sahabat Nabi yang dikirim untuk mengajarkan Islam kepada kabilah Uqal dan Qarah terbunuh akibat pengkhianatan pertama mengenai utusan Rasulullah SAW.

Tahun 4 Hijriyah (4 bulan setelah perang Uhud)

Peristiwa Bir Ma’unah

Ini merupakan pengkhianatan kedua terhadap Rasulullah. Pada peristiwa Bir Maunah, Nabi memerintahkan tujuh puluh sahabatnya untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Najd dengan jaminan keselamatan dari Amir bin Malik. Walaupun pada awalnya Nabi sudah ragu-ragu karena penduduk Najd terkenal dengan kekejamannya.

Peristiwa ini begitu memilukan karena semua sahabat Rasul ternyata tewas dibantai oleh penduduk Najd, mereka tidak mempedulikan jaminan keselamatan Amir bin Malik yang merupakan salah satu warga Najd. Semua mereka dibunuh dengan keji, kecuali  Amr bin Umayah yang kebetulan terpisah oleh rombongannya sahabatnya.

karena teramat sedih atas kematian sahabatnya disinilah awal mulanya Nabi Muhammad membaca doa qunut agar malapetaka ditimpakan kepada kabilah-kabilah yang telah melakukan pembantaian kepada para sahabatnya.

Pengusiran Yahudi bani Nadhir dari Madinah (Rabiul Awwal)

Pengusiran ini dikarenakan pengkhianatan Bani Nadhir kepada Rasulullah, namun perihal tersebut diberitahu oleh Allah kepada Nabi Muhammad.

Disinilah hukum fa’I (harta rampasan perang yang didapat tanpa pertempuran) dimulai, di mana itu semua adalah hak pemimpin untuk siapa dibagikannya dengan menimbang kemaslahatan bagi umat.

Perang Dzat ar-Riqa (Djumadil Awwal)

Terjadi perbedaan antara ahli sirah mengenai peperangan ini. Dengan apa yang diriwayatkan imam Bukhari, menurut Bukhari perang ini berlangsung setelah perang Khaibar.

Perang ini adalah upaya menuntut balas terhadap penduduk Najd yang telah melakukan pembantaian atas 70 sahabat Nabi ketika di peristiwa Bir Ma’unah.

Walaupun jumlah Muslimin tidak begitu banyak, namun rasa takut telah menghantui para penduduk Najd sehingga mereka melarikan diri.

Cuaca yang terik membuat mereka mengalami banyak luka terutama di bagian kaki sehingga mereka membalut kakinya dengan kain, itulah mengapa perang ini disebut perang Dzat al-Riqa (yang banyak memiliki potongan kain).

Pada perang inilah pertama kali shalat khauf dilakukan.

Analisis kenapa perang ini terjadi sebelum perang Khaibar adalah percakapan Nabi yang bertanya kepada jabir apakah beliau sudah beristri atau belum, ini mengisyaratkan bahwa Nabi belum mengetahui status Jabir. Sedangkan kalau saja perang ini terjadi setelah perang Khaibar maka Nabi tak akan menanyakan hal itu kepada Jabir karena pada saat itu Nabi diundang Jabir ke rumahnya untuk menghadiri jamuan makan yang mana di situ terdapat istri Jabir.

Tahun 5 Hijriyah (Sya’ban)

Perang Bani Mustahliq

Sekali lagi ada perbedaan pendapat tentang tahun peristiwa perang ini, Ibnu Ishaq dan beberapa Ulama Sirah menyatakan bahwa ini terjadi pada tahun 6 hijriyah, namun yang lebih tepat adalah tahun 5 hijriyah karena pada perang ini Sa’d ibn Muadz masih hidup sedangkan ia wafat pada perang Bani Quraizhah yang mana itupun terjadi pada tahun 5 hijriyah. jadi akan sangat tidak logis bila ia hidup setelah setahun wafat.

Perang ini pecah karena Rasulullah mendengar akan adanya kesiapan Bani Musthaliq untuk memerangi Nabi di bawah pimpinan Harits bin Dhirar. Sesaat setelah berita itu sampai ke telinga Rasulullah SAW, beliau pun langsung mengerahkan pasukan Islam. Dalam perang ini, sejumlah orang munafik ikut bergabung, bukan untuk membela Islam tetapi karena tidak enak akibat mereka jarang mengikuti peperangan juga mereka berniat mendapatan hasil rampasan perang (ghanimah).

Pada perang ini awal mulanya ditetapkan kebolehan mengenai Azl (senggama terputus atau pengertian mudahnya, mengeluarkan sperma di luar rahim agar tidak terjadi kehamilan)

Saat perang ini pula kemunafikan Abdullah bin Ubay bin Salul terlihat jelas, namun Nabi enggan membunuhnya, malah memerintahkan berbuat sopan kepadanya karena dia masih Islam secara zahir, tindakan Rasul ini tak urung membuat kedudukan Abdullah bin Ubay jatuh di depan khalayak ramai

ketika dalam perjalanan pulang dari perang Bani Musthaliq tiba-tiba Aisyah kehilangan kalungnya dan setelah lama mencari dan berhasik menemukan, sayangnya Aisyah tertinggal rombongannya. Inilah awal permulaan dari terperangkapnya Aisyah dalam berita bohong mengenai dirinya.

Peritiwa Hadits al-ifqi (berita bohong tentang Aisyah)

ketika dalam perjalanan pulang dari perang Bani Musthaliq tiba-tiba Aisyah kehilangan kalungnya dan setelah lama mencari dan berhasik menemukan, sayangnya Aisyah tertinggal rombongannya. Lalu Aisyah bertemu dengan Shafwan bin Mu’atthal dan akhirnya pulang bersamanya dengan Aisyah naik di tas unta dan Shafwan yang mengiringi unta tersebut.

Setelah pulang, mulailah penduduk Madinah ramai membicarakan kejadian itu ditambah lagi oleh hasutan para munafik yang menuduh ia telah berbuat selingkuh dan berzina dengan Shafwan. Sayangnya, itu berlangsung tanpa sepengetahuan Aisyah, ia hanya melihat adanya perbedaan sikap Rasulullah yang begitu drastis terhadapnya. Barulah setelah sebulan berlalu Aisyah mengetahuinya dari Umm Misthah. Ia begitu terpukul sampai jatuh sakit dan dirawat dirumah orang tuanya.

Rasulullah yang mendengar berita fitnah itu, begitu resah sampai-sampai meminta saran dari para sahabatnya. Salah satunya adalah Sa’d Bin Muadz. Ia angkat bicara sampai-sampai suasana masjid menjadi riuh dan Rasulullah menenangkan mereka semua.

Keresahan Rasulullah menunjukan sisi kemanusiaan beliau yang tak terlepas akan kegundahan dan juga ini memberitakan bahwa Rasulpun tak mengetahui hal gaib kecuali yang diberitakan oleh Allah. Uniknya, ketika peristiwa ini terjadi wahyu tentang pemberitaan kebohongan berita ini tak turun sampai sebulan lamanya

Setelah Aisyah bersumpah tidak melakukan itu, barulah wahyu turun-lihat an-Nuur : 24) untuk memberitakan ihwal kebohongan berita tersebut dan menyatakan tentang kesucian Asyah.

Berkenaan dengan al-Ifki (tuduhan bohong) ini, akhirnya Rasul memerintahkan Misthah ibn Tsasah, Hasan bin Tsabit, dan Hammah binti Jahsy untuk di dera karena telah melakukan qadzaf (tuduhan palsu) terhadap Aisyah. Nabi tidak menghukum Abdullah bin Ubay karena dia sudah terlalu sering mengganggu ketentraman umat muslim dan itu dilakukannya dibelakang. Nabi hanya menghukum mereka yang menuduh secara terang-terangan yaitu ketiga sahabatnya tadi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s