Cuplikan Sejarah Singkat Kehidupan Rasulullah (part 5)

Dari Perang Khandaq sampai Baiat ar-Ridwan

Tahun 5 Hijriyah (Syawwal)

Perang Khandaq (parit)

Penyebab perang dikarenakan para pembesar yahudi Bani Nadhir datang ke Makkah dan menyeru kaum Quraisy untuk memerangi Nabi. Tidak hanya itu, para pemuka Yahudi Bani Nadhir juga mendatangi orang-orang Ghatafan dan menyeru mereka seperti apa yang diseru kepada pihak Quraisy. Pihak musuh banyak menggalang sekutu, maka dari itu perang ini juga dikenal dengan Perang Ahzab (sekutu)

Mendengar berita bahwa musuh telah menyiapkan pasukan besar, Nabi Muhammad SAW berunding dan meminta saran dari para sahabatnya tentang ihwal bagaimana menghadapi pasukan gabungan tersebut. Adalah Salman Al-Farisi yang mengusulkan untuk melakukan penggalian parit sebagai strategi pertempuran. Di dekat gunung Sil’, Rasulullah menghentikan pasukan dan memerintahkan untuk penggalingan parit. Pada saat itu, jumlah pasukan Muslimin mencapai tiga ribu orang prajurit dan pasukan Quraisy beserta sekutunya mencapai sepuluh ribu orang.

Nabi Muhammad bukanlah pemimpin yang hanya bisa memerintah dan memantau tetapi juga ikut merasakan apa yang harus dibebankan kepada pasukannya. Rasul ikut membantu penggalian parit tersebut sampai-sampai mengganjal perutnya dengan batu demi menahan rasa lapar.

Di sini Jabir mengundang Rasul untuk makan namun Nabi mengajak seluruh pasukan untuk makan bersama dan dengan mukjizatnya, makanan Jabir yang sedikit-hanya cukup untuk dua sampai tiga orang- mencukupi untuk orang yang banyak. Inilah salah satu mukjizat Rasulullah, makanan yang sedikit mencukupi untuk orang banyak.

Pada perang ini terjadi pelanggaran perjanjian Bani Quraizhah dan pihak Bani Quraizhah membantu lawan untuk memerangi Nabi Muhammad dan pasukan Muslimin.

Allah rupanya tidak memperkenankan pasukan Muslim untuk berperang. Pada perang Khandaq ini, pasukan Muslim menang tanpa adanya pertempuran. pertama tipu muslihat yang dilakukan Nu’aim bin mas’ud yang berhasil memecah belah kekuatan lawan dan membuat musuh curiga satu sama lain. Adapun jalan kedua adalah Allah mengirimkan bala bantuan berupa angin kencang yang menyeramkan untuk memporak-porandakan pasukan musuh. Keesokan harinya, semua pasukan musyrik telah mundur dari posisi mereka. Rasulullah SAW. Beserta para sahabat pun kembali ke Madinah.

Disinilah pertama kali dilakukannya shalat qadha karena begitu sibuknya pasukan Muslim dalam kondisi perang ketika itu sampai-sampai tak sempat melakukan shalat Ashar.

Perang Bani Quraizhah

Setelah pulang dari perang Khandaq, Rasulullah SAW mendapat tugas dari Allah melalui malaikat JIbril untuk memerangi suatu perkampungan, yaitu Bani Quraizhah. Setibanya di perkampungan tersebut, Rasulullah SAW langsung mengepung mereka yang bersembunyi dalam benteng. Pengepungan itu berlangsung selama dua puluh lima malam atau ada juga yang mengatakan lima belas malam. Singkat cerita, pasukan Bani Quraizhah tunduk dengan pasukan Muslim

Setelah menyerah, Nabi ingin agar keputusan kebijakan mengenai orang-orang yahudi Bani Quraizhah yang berkhianat ketika perang Khandaq diputuskan oleh Sa’d bin Muadz sebagai salah satu pemimpin kabilah Aus. Akhirnya mereka semua yang telah berkhianat dihukum mati, atas keputusan Sa’d bin Muadz.

Pada saat itu juga, Sa’d bin Muadz wafat karena luka yang dideritanya dari perang Khaibar pecah dan beliau mengeluarkan banyak darah sehingga tidak tertolong lagi.

di sini terdapat dalil tentang keabsahan berbeda pendapat dalam bagian furu’iyyah, di mana adanya perbedaan interpretasi para sahabat tentang sabda Nabi yang melarang melakukan shalat Ashar sebelum sampai ke perkampungan Bani Quraizhah. Sebagian ada yang shalat dan sebagian lagi baru shalat ketika sampai dan ketika diadukan permasalahan itu kepada Nabi, Nabi membenarkan tindakan keduanya.

Tahun 6 Hijriyah (Dzulqa’idah)

Perjanjian Hudaibiyah

Awal kejadian ini adalah ketika Nabi dan para sahabat ingin melaksanakan umrah. Pada saat itu Rasul membawa sekitar 1400 sahabatnya. Namun ternyata Quraisy Makkah tidak menyetujui apa yang hendak dilakukan Nabi sehingga mereka sepakat menghadang Nabi jika memang Nabi memaksa masuk kedalam Makkah.

Singkat cerita Nabi melakukan perundingan dengan pihak Quraisy yang diwakili oleh Suhail bin Amr, yang dikenal dengan perjanjian Hudainiyah.

inilah isi perjanjian tersebut:

Adanya gencatan senjata selama 10 tahun.

Umat Islam baru bisa melaksanakan umrah atau haji pada tahun berikutnya.

Setiap orang kafir Makkah yang Islam lalu menuju ke tempat Nabi maka harus dikembalikan ke Makkah.

Setiap Muslim yang ke Makkah atau dengan kata lain mendatangi kaum Quraisy maka Quraisy tidak perlu mengembalikan mereka kepada Rasulullah dan pihak Muslimin.

Perjanjian tersebut berlakuk sampai dengan jangka 10 tahun.

Dengan isi klausul perjanjian semacam itu para sahabat Nabi sangat menyayangkan karena dinilai begitu memberatkan Islam, namun inilah beberapa hikmahnya.

Hikmah perjanjian Hudaibiyah:

Dengan adanya perjanjian gencatan senjata itu maka umat Islam lebih bebas untuk menyebarkan agama Islam tanpa takut akan diserang

Dengan jaminan keamanan selama 10 tahun itu umat Islam khususnya yang berada di Makkah bisa lebih bebas untuk mengepresikan ke-Islaman mereka

Perjajanjian ini hanya berlaku untuk kalangan laki-laki saja, ini terbukti dengan tidak dipulangkannya kaum wanita Makkah yang sudah masuk Islam

Hikmah ini terlihat ketika banyak orang berbondong-bondong memeluk Islam, bahkan hanya dalam waktu dua tahun jumlah yang masuk Islam sudah dua kali lipat dari sebelumnya.

Setelah perjanjian dilakukan, turun wahyu Allah, yaitu surat Al-Fath ayat 27 yang dinilai sebagai janji Allah akan kemenangan Muslim atas orang-orang musyrik

Dalam perjanjian Hudaibiyah ini ada perilaku sahabat yang berkaitan dengan tawassul dan bertabarruq kapada Nabi Muhammad. “Ketika utusan Quraisy yang bernama Urwah bin Mas’ud kembali kepada sesamanya, orang-orang musyrik. Ia berkata kepada temannya, “Demi Tuhan, tidaklah pernah Rasulullah SAW. Meludah, kecuali ludah itu pasti jatuh ke telapak tangan salah seorang sahabatnya, kemudaian sahabat itu akan mengusapkan bekas ludah itu ke seluruh wajah dan permukaan kulitnya. Jika sang Rasul berwudhu, para sahabatnya rela untuk memperebutkan tetesan iar wudhunya…” maka kejadian ini dapat dijadikan dalil kebolehannya walaupun sekarang Nabi telah wafat karena perlakuan sahabat tadi itu dinilai berlaku secara umum dan universal.

Baiat ar-Ridwan

Pelaksanaan baiat ini diakan sebelum perjanjian Hudaibiyah dilakukan, di mana Nabi mengirim Utsman bin Affan ke Makkah guna merundingkan perkara keingingan Rasul untuk memasuki Makkah. Namun karena setelah sekian Utman tidak kembali maka tersiarlah kabar bahwa ia telah dibunuh oleh kafir Makkah. Mendengar kabar tersebut, Rasulullah langung mengikrarkan baiat bersama para sahabatnya untuk membalas kematian Utsman dan memerangi kafir Quraisy. Namun setelah melakukan baiat tersebut, Utsman bin Affan ternyata kembali dengan selama dan berita itu hanyalah kebohongan belaka. Karena baiat inilah maka sahabat yang hadir di sini langsung dinyatakan sebagai orang-orang yang adil dan dapat dipercaya.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s