Ketika yang Terkasih Pergi

Inilah hari tersuram dalam kehidupan umat Muslim, wafatnya sang junjungan yang paling dicintai Allah SWT. Pada saat itu alam semesta berduka atas berpulangnya Nabi akhir zaman, pemimpin kebenaran, pembawa cahaya, dan penunjuk jalan yang lurus. Ketika itu pintu-pintu langit terbuka lebar dan ribuan malaikat mengiringi naiknya ruh termulia, penghuni tempat tertinggi di surga firdaus. Itulah hari menangisnya bumi terutama jazirah Arab, seolah bagaikan mimpi buruk bagi orang yang beriman terutama para sahabatnya. Jika bukan karena tingginya iman dan rasa takut kepada Allah niscaya tak seorang pun rela akan taqdir seperti ini.

Di hari ini kaum Mukmin ditinggal imamnya, panglima perang sejagat dan pemimpin yang paling mengasihi umat telah meninggalkan alam fana ini menuju kehadirat Tuhannya. Sekarang tak ada lagi sunnah yang terlahir karena beliau wafat serta tak ada lagi turunnya wahyu karena sang penerima risalah telah pergi selamanya.

Kini sang imam meninggalkan para jamaahnya. Tak terlihat lagi mahaGuru oleh muridnya. Tak terlihat lagi senyum simpul Nabi karena pemilik senyuman telah tiada dan tak terdengar lagi nasihat mulia itu, karena sumber nasihat telah mengucapkan salam perpisahan tuk selamanya.

Setelah Rasul menghembuskan nafas terakhirnya pada saat itu juga suasana berubah drastis, Aisyah menangis di sudut rumah, disambut dengan tangisan orang-orang yang berkerumun di sekitar rumah Rasulullah. Wafatnya Rasul tersebar ke penjuru kota, suasana duka menyelimuti Madinah, tangisan wanita, anak-anak, yang tua, yang muda, tangisan mereka berbaur menjadi satu..

Saat itu Umar tak kuasa mengendalikan diri. Dia berkata, “Siapa yang mengakui Muhammad telah wafat, akan kupenggal lehernya dengan pedang ini. Beliau tidak mati, melainkan diangkat ke langit seperti Musa, dan akan turun lagi ke bumi,” pernyataan Umar ini tak urung menimbulkan keraguan di hati kaum Muslimin.


Saat itu pula Abu Bakar baru datang untuk melihat jasad Nabinya yang juga gurunya, temannya yang juga mertuanya, sahabat karib yang tak dapat dipisahkan. Abu Bakar mendekatkan mukanya dan mencium pipi Rasulullah, air matanya mengalir tak terhankan. Lantas dengan kekuatan jiwa dan ketabahan hati, Abu Bakar keluar menuju masjid dan naik ke atas mimbar. Di hadapan orang banyak beliau menegur keras Umar yang semakin tak terkendali, “Tenanglah Umar!!”.


Mendengar teguran Abu Bakar, Umar pun duduk dan orang-orang pun menjadi tenang dari kegaduhan. Abu bakar lantas berkata, “Wahai manusia, siapa yang menyembah Muhammad, maka sungguh Muhammad telah mati. Siapa yang menyembah Allah, maka sungguh Allah Mahahidup dan tidak akan mati. (HR.Bukhari).


Kemudian Abu Bakar melanjutkan denga membaca firman Allah SWT, “Muhammad hanyalah seorang rasul, sebelumnya telah beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (‘Ali Imron :144)


Meninggalnya Rasulullah menimbulkan dampak psikologis yang cukup dahsyat kepada para sahabatnya, berikut pemaparannya.


‘Umar bin Khattab terkulai lemas, badannya gemetar kemudian pingsan. Setelah siuman, dia berkata, “Demi Allah, sepertinya aku belum pernah mendengar firman itu (‘Ali Imron :144), kecuali setelah Abu Bakar membacakannya”.


Utsman bin Affan mendadak linglung, seperti kebingungan. Saat berpapasan dengan orang beliau tak sadar sehingga suatu ketika Zubair dan Abu Thalhah berpapasan dengannya lalu mereka menyalami Utsman, dia tak menjawab salam mereka. Lalu Zubair melapor kepada Abu Bakar atas apa yang dialaminya. Abu Bakar bertanya kepada Utsman kenapa beliau tak menjawab salam Zubair dan Abu Thalhah, lalu Utsman menjawab, “ Aku tak sadar, karena semenjak kematian Rasulullah aku seperti orang yang kebingungan.”
Adapun Ali bin Abi Thalib, di pun jatuh sakit beberapa lama walapun pada akhirnya beliau sembuh dan seorang sahabat bernama Abdullah bin Unais sakit keras dan tiga kemudian wafat.


Muadz bin Jabbal yang sedang menjabat sebagai gubernur di Yaman, langsung jatuh pingsan mendengar kabar kematian Rasul. Segera beliau berangkat dari Yaman menuju Madinah namun diperjalanan setiap kali mendengar penduduk membicarakan wafatnya Rasul dia pun langsung menangis dan tersungkur ke tanah lalu pingsan kembali sampai dia tiba ke Madinah setelah berkali-kali pingsan.


Lain lagi dengan Bilal bin Rabbah, kita dapat membayangkan bagaimana perihnya kondisi Bilal ketika itu, kondisi dua orang yang saling menyayangi, guru dan murid, imam dan muadzin. Begitu gelap dunia di mata Bilal ketika Rasul wafat, tak pernah terpikirkan hal semacam ini karena sang imam pergi dengan tiba-tiba namun tetaplah sang muadzin harus menyempurnakan tugasnya walau tanpa imamnya.


Seiring dengan terbitnya fajar, Bilal berdiri untuk mengumandangkan adzan, tugas yang diembankan Rasul kepadanya. Dan mulailah Bilal mengumandangkan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Setelah selesai, kini saatnya ia melantunkan “Asyhadu anna Muhammad ar-Rasulullah”, Bilal mengarahkan pandangannya ke mihrab, namun di sana tak ada lagi sang imam. Ia pun mengalihkan matanya ke rumah Nabi, namun di sana tidak terlihat Rasulullah. Kini dia sendiri, tak ada lagi guru, syekh, imam atau Rasulullah. Sekarang bagaimana ia bisa menyelesaikan tugasnya?, langsung ekspresinya berubah, jiwanya pilu, dan batinnya perih seketika.


Sekuat tenaga Bilal berusaha menguasai dirinya agar adzannya sempurna namun ketika ia mengumandangkan. “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah…”, ia tak kuasa meneruskan, hatinya bagai menemukan kehancuran, kehancuran yang membuat tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dada bilal terasa amat sesak, sesak yang menyebabkan ia menangis sejadi-jadinya, sementara orang-orang yang berada di rumah mereka, anak-anak, para wanita, kakek-kakek, semuanya menangis.


Semenjak itu Bilal tidak mau bertindak sebagai muadzin lagi karena tak kuat menahan rasa perih di hatinya ditambah lagi kenangan-kenangan yang terjalin bersama Rasul yang membuat bibirnya tak kuasa berucap karena kerinduan yang begitu mendalam.
“suatu ketika di masa Khalifah Umar bin Khattab, ketika Umar memimpin penaklukan ke Syam demi meneruskan jihad sang Nabi, di sanalah terjadi peristiwa yang begitu mengharukan.


Setelah kemenangan berhasil di raih tibalah waktunya shalat dzuhur, namun seketika Umar teringat hari-hari sempit, hari-hari yang dilaluinya bersama rasulullah. Pikiran Umar bernostalgia akan kenangan yang dialaminya bersama Rasulullah. Umar berkata kepada Bilal, “Aku meminta kepadamu, Demi Allah wahai Bilal, kumandangkanlah adzan untuk kami.”


“Maafkan aku wahai Amirul Mukminin, aku tak sanggup,” ungkap Bilal
“Aku memintamu untuk mengingatkan hari-hari kita dulu bersama Rasulullah,” kata Umar mendesak.
Lalu para sahabat berkata, “Wahai Bilal, takutlah kepada Allah, Amirul Mukminin memintamu.”


Maka, akhirnya Bilal pun berdiri. Ia berusaha menguatkan tubuhnya yang mulai menua. Ia mengumandangkan suaranya beradzan. Akan tetapi, suara tangisan Umar telah terlebih dulu mendahului suaranya. Demikian juga para sahabat yang lain, mereka menangis. Maka, menangislah semua tentara umat Islam sihingga Masjidil Aqsha dipenuhi suara tangisan.


Bilal telah mengingatkan mereka akan sosok mulia, mengingatkan mereka akan sejarah, mengingatkan mereka kepada pengajar, pemimpin yang dicintai mereka dan mereka pun mencintainya.”


Sang Nabi telah wafat, lembaran sejarah kehidupan manusia terbesar telah berakhir. Kematian yang membawa pesan kepada dunia bahwa itulah makna kehidupan dan akhir dari sebuah perjalanan. Akhirnya sebanyak 40 ribu kaum Muslimin menshalati Rasulullah dan entah berapa banyak malaikat yang menshalatinya. Perjalan panjang sosok termulia dan manusia teragung yang akhirnya dikebumikan di tempat peraduannya, di kamar Aisyah.


Rasulullah memang telah wafat namun ajarannya tak pernah usang, mukjizatnya yang berupa Al-Quran mendapat jaminan terpelihara, dan syariat yang dibawanya akan tetap abadi sampai hari kiamat. Terimakasih ya Nabi, engkau cahaya di atas cahaya, engkaulah teladan kami, engkaulah pahlawan sejati kami, dan engkaulah kekasih hati kami.


Yaa Allah sampaikan shalawat serta salam kami kepada kekasih-Mu, Nabi Muhammad SAW, kumpulkanlah kami dengan beliau, biarkan mata kami dapat melihatnya, dan izinkanlah tangan ini berjabat tangan dengan beliau. Amiin


cuplikan sejarah banyak disadur dari buku, ‘Story of the Message’ dan ‘Sentuhan spiritual Aidh al Qarni’ keduanya karya Aidh al Qarni.

One thought on “Ketika yang Terkasih Pergi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s