Sejarah Bangsa Arab (Bab 1-Bangsa Arab Sebagai Ras Semit dan Semenanjung Arab sebagai Tempat Kelahirannya)

Beberapa fenomena dunia arab

Semenanjung arab sebagai tempat kelahiran rumpun semit dan tempat menetap orang-orang yang bermigrasi ke wilayah bulan sabit subur (wilayah timur tengah yang membentang dari Israel hingga teluk persia, termasuk di dalamnya Sungai Tigris dan Efrat di Irak sekarang) juga kelak dikenal sebagai bangsa Babilonia, Assyria, Phonesia, dan Ibrani. Wilayah gurun pasir Arab merupakan tempat lahirnya tradisi Yahudi dan kemudian Nasrani.

Islam yang merupakan agama ketiga yang lahir dari tanah Arab, secara historis merupakan penerus dari dua agama sebelumnya. Ketiga agama ini merupakan hasil dari satu kehidupan spiritual yang sama yaitu spiritualitasl semit.
Pada abad pertengahan, selama ratusan tahun bahasa arab merupakan bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan pemikiran progresif di seluruh wilayah dunia yang beradab.

Eksplorasi modern
Eropa klasik telah mengenal kawasan Arab sebelah selatan, orang Yunani dan Romawi tertarik daerah ini karena produksi gaharu dan rempah-rempahnya juga sebagai jalur penghubung ke pasar-pasar India dan Somalia. Pada akhir abad pertengahan kembali luput dari perhatian baru akhir-akhir abad 19 kembali dilirik kembali. Hijaz (Makkah dan Madinah) menjadi wilayah yang paling akhir dikunjungi dan dipelajari. Tidak lebih dari selusin para pelancong yang memasuki tanah haram tersebut.

Hubungan Etnis Bangsa-bangsa Semit
Di antara keturunan bangsa semit yang masih bertahan hingga kini, Arab dan Yahudi maka Arablah yang melestarikan ciri khas fisik dan sikap mental rumpun semit. Bahasanya pun meski yang termuda tetapi lebih banyak memuat keunikan bahasa asli semit dibanding bahasa pendahulunya, Ibrani. Maka itu bahasa Arab menjadi kunci penting untuk mempelajari bahasa-bahasa Semit lainnya.
Alasan kenapa bangsa Arab adalah sebagai representasi terbaik Semit baik dari sisi biologis, psikologis, sosial maupun bahasa, bisa juga ditelusiri dari kondisi geografis dan dari kehidupan padang pasir yang monoton. Jazirah Arab (pulau Arab) begitu mereka menamainya karena kawasan ini layaknya sebuah pulau yang dikelilingi tiga laut di sisinya dan satu padang pasir di sisi satunya. Hubungan antara kawasan ini dengan peduduknya begitu erat jadi tidak ada migrasi penduduk lain ke wilayah ini karena memang tidak ada yang sanggup memasuki daerah ini karena rintangan padang pasirnya. Wilayah yang mengisolasi penduduk setempat yang menyebabkan bangsa Arab tidak akan berubah sepanjang sejarah.
Jika kita merujuk pada perkembangan bahasa di Asia Barat maka akan ditemukan bahwa Suriah, Palestina, Arab Saudi, dan Irak saat ini didiami oleh orang-orang yang berbahasa Arab. Dalam sejarah kuno pun demikian, orang-orang Babilonia-sebelumnya dikenal sebagai Akadia- , Assyria, dan Kaldea memasuki lembah Tigris-Efrat setelah 2500 SM, orang-orang Aramia dan Kana-termasuk orang Phonesia- menempati wilayah Suriah, pada 1500 SM orang Armania tinggal di Suriah sedang orang-orang Ibrani tinggal di Palestina.
Pada abad pertengan setelah dilakukan kajian komparatif mengenai bahasa-bahasa di atas ditemukan kesamaan menakjubkan dan karenanya semua bangsa di atas dianggap berasal dari rumpun yang sama. Kemiripan akar kata, konsonan, penunjuk waktu, dan perubahak kata kerjanya mengikuti pola yang sama. Unsur kosakata, kata ganti orang, kata benda juga menunjukan kimiripan bahkan institusi sosial, kepercayaan agama dan orang ang berbicara pun memperlihatkan kemiripan yang mengesankan. Kesaaman bahasa merupakan manifesti dari kesamaan karakter kebangsaan mereka, hal itu dapat dilihat dari kedalaman naluri keagamaan, kegamblangan imajinasi, ketegasan individualitas, dan kekerasan sikap mereka. Kesimpulannya sangat jelas bahwa leluhur beragam bangsa ini-Babilonia, Assyiria, Kaldea, America, Phonesia, Ibrani, Arab, dan Abbisinia-sebelum berkembang menjadi beragam bangsa pernah hidup pada masa tertentu dan tempat tertentu sebagai suatu bangsa.
Tempat asal bangsa ini menurut para sarjana adalah awasan semenanjung Arab itu sendiri. Daratan padang pasir yang menyisakan sedikit daerah yang bisa ditinggali memaksa para penduduknya mencari tanah baru jika populasi sudah meledak. Namun mereka tidak akan ke tengah karena bentangan gurun pasir dan ke pinggir karena terhalang oleh laut. Ledakan itu menemukan jalur terbuk di pantai sebelah barat Semenanjung mengarahkan mereka ke sebelah utara yang cabangnya berbeda arah, satu ke semenanjung Sinai dan satu lagi ke lembah subur sungai Nil.
Percampuran bangsa Semit dengan penduduk Hamit-terdapat di wilayah Afrika Timur- yang tinggal lebih dahulu di Mesir melahirkan bangsa Mesir. Pada saat yang sama, migrasi serupa mengarah ke utara dan membentuk hunian Tigris-Efrat di mana sdah terlebih dahulu di huni oleh masyarakat berperadaban tinggi, yaitu Sumeria. Campuran kedua ras itulah yang melahirkan bangsa Babilonia dan bersama Mesir telah meletakan peradaban paling fundamental dalam kehidupan manusia.
Sekitar pertengahan milenium ketiga, migrasi bangsa Semit melahirkan bangsa Ameria, ras yang melahirkannya adalah Kana dan Phonesia. Antara 1500-1200 SM bangsa Ibrani menemukan jalan ke Suriah selatan, Palestina, dan bangsa Aramia ke sebelah utara. Di antara bangsa lain, bangsa Ibrani merupakan bangsa pertama yang memperkenalkan gagasan yang jelas tentang satu Tuhan, dan monoteismenya merupakan cikal bakal keyakinan Kristen dan Islam.
Sekitar 200 SM bangsa Nabasia membangun peradaban di sebelah utara Semenanjung Sinai dengan puncak peradaban mereka, yaitu Petra.
Pada abad ketujuh Masehi terjadi migrasi baru dan terakhir di bawah panji Islam. Pergerakan ini membentuk suatu kawasan yang sangat luas, tidak hanya meliputi kawasan Bulan Sabit Subur namun juga meliputi Mesir, Afrika utara, Spanyol, Persia, dan Asia Tengah.
Dilihat dari beragam pengaruh migrasi dan asimilasi yang terjadi dengan penduduk-penduduk kawasan yang didatangi maka dapat disimpulkan bahasa Semit asli telah punah, meskipun karekteristiknya masih dapat ditemukan dari berbagai aspek yang terdapat dari bahasa turunan-turunannya yang masih bertahan.
Kelahhiran peradaban bangsa Semit-Hamit di Afrika dan bangsa Semit di semenanjung Arab membuat kawasan Bulan Sabit Subur menjadi penggung utama peradaban bangsa Semit….bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s