Sejarah Bangsa Arab (Bab 1 Bangsa Arab sebagai ras semit dan semenanjung arab sebagai tempat kelahirannya (Part 2))

Kondisi Geografis Semenanjung Arab

Semenanjung Arab merupakan semenanjung barat daya dan merupakan semenanjung terbesar di dunia. Wilayahnya yang luas 1.745.900 km persegi, dihuni sekitar 14 juta jiwa. Wilayah yang meliputi Saudi Arabia, Yaman, Kuwait, Qatar, Emirat Arab, Oman, dan Masqat, dan Aden ini menurut para ahli geologi pada awalnya adalah bagian yang tak terpisahkan dari dataran Sahara-kini dipisahkan oleh Lembah Nil dan Laut Merah- dan dataran berpasir yang menyambungkan Asia melalui Persia bagian tengah ke Gurun Gobi.

Terdapat tiga jenis gurun pada kawasan semenanjung Arab, yaitu : Nufud besar, al-Dahna, dan al-Harrah.

Nufud besar merupakan sebuah bentangan daratan berpasir putih atau kemerahan yang menyelimuti wilayah yang sangat luas di semenanjung Arab Utara. Berudara kering, namun ketika musim dingin akan disiram hujan sehingga menjadi kawasan surga bagi binatang ternak.

Al-Dahna (tanah merah), dataran berpasir merah yang membentang dari Nufud besar di utara hingga al-Rab al-Khali di selatan. Pada musim hujan diselimuti padang rumput hijau namun pada musim panas wilayah ini sepi dari denyut kehidupan. Tak ada orang Eropa yang pernah berupaya menyebrangi Rab al-Khalil, kawasan tak berpenghuni ini pernah disebrangi Bertram Thomas sebagai orang Eropa pertama yang menjelajahi kawasan menakutkan dan misterius tersebut. Sebelumnya, kondisi itu hanya digambarkan oleh rekaan para ahli geografi abad sepuluh.

Al-Harra, sebuah daratan yang terbentuk dari lava bergelombang dan retak-retak di atas permukaan pasir berbatu. Banyak dijumpai di Semenanjung bagian barat dan tengah. Dalam lingkaran gurun pasir  dan padang tandus ini terdapat Nejed, sebuah wilayah yang dihuni oleh kaum Wahabi. Di Hijaz, musim kering yang berlangsung slama tiga tahun atau lebih merupakan hal yang lumrah. Hujan badai yang singkat dan banjir bandang kadang menimpa Makkah dan Madinah. Hanya Yaman dan Asir yang mendapat curah hujan yang teratur sehingga membuat kawasan ini subur. Karena Semenanjung Arab tidak mempunyai sungai yang mengalir maka dibuatlah wadi-wadi (danau buatan) sebaai gantinya. Wadi tersebut juga memilki kegunaan lain yaitu sebagai rute perjalanan kafilah dan jamaah haji.

Kondisi Lahan, Budidaya Tanaman dan Fauna

Udara yang kering dan tanah yang bergaram mengurangi kemungkinan tumbuhnya tanaman hijau. Hijaz ditumbuhi kurma, Yaman ditumbuhi gandum, padi tumbuh di Oman dan Hasa. Di Mahrah gaharu banyak dijumpai, Asir terkenal dengan getah Arabnya. Kopi sebagai ciri khas Yaman di bawa ke Semenanjung Arab bagian selatan pada abad ke-14 dari Abbisinia. Spesies akasia seperti athl dan ghada yang menghasilkan minyak hitam unggulan banyak tumbuh di padang pasir. Tanaman yang di budidayakan, anggur-dibawa dar Suriah-dapat ditemukan di Thaif. Buah Zaitun yang merupakan produk Suriah tidak dikenal di Hijaz. Dari semua tanaman yang disebutkan, kurmalah yang menjadi primadona bagi wlayah ini.

Hewan yang paling populer adalah kuda dan unta, kuda merupakan yang paling terakhir diperkenalkan di wliayah ini. Kuda dianggap sebagai taklukan yang paling hebat namun tetap bagi orang nomad unta merupakan hewan yang paling berguna. Tanpa unta, gurun pasir merupakan tempat yang mustahil unutk dihuni. Unta sebagai hewan multi fungsi, sebagai penghidupan, kendaraan, dan alat tukar. Bahkan simbol kekayaan dihitung oleh bilangan unta. Unta bagi mereka merupakan ‘bahtera gurun’ dan mengutip dari Sprenger, mereka (orang arab) adalah ‘parasit unta’. Peternakan unta merupakan hasil pencarian utama kecuali setelah ditemukannya ladang minya yang terkanung di kawasan ini.

Kehidupan Badui di Semenanjung Arab

Berdasarkan karakteristik daratannya, penduduk Semenanjung terbagi dua kelompok, orang-orang badui (pedesaan) yang nomad dan orang kota yang tetap. Tidak selamanya ada garis tegas yang memisahkan dua karakteritik itu, selalu ada tahapan semi-nomaden dan semi-urban. Orang badui beukanlah bergerak tanpa arah dan tujuan, malah mereka mewakili bentuk terbaik dari adaptasi kehidupan gurun, di mana ada dataran hijau di sanalah mereka ada.

Aksi reaksi yang timbul antara orang perkotaan dan pedesaan dikarenakan desakan kuat untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan upaya melindungi diri. Orang nomad bagai perompak daratan yang bersikeras dnegan berbagai cara mendapatkan sumber-sumber tertentu yang tak mereka miliki, gurun pasir yang merupakan daerah operasi mereka memiliki karakteristik yang sejenis seperti laut bagi para pembajak.

Bagi orang nomad, keragaman, kemajuan, dan evolusi bukanlah hukum alam yang siap mereka ikuti. Mereka nyaman dengan hidup serba ketinggalan, mereka enggan mengikuti pengaruh dan cara hidup asing. Berburu, pembiakan kuda, menyergap merupakan pekerjaan terhormat bagi para lelaki dan pertanian, perdagangan, dan kerajinan merupakan hal yang menurunkan derajat mereka. Gurun bagi mereka bukan sekedar tempat tinggal, tetapi juga sebagai penjaga tradisi sakral, pemelihara bahasa dan darah mereka, dan benteng utama dari serangan musuh. Panas yang menyengat, air yang langka, jejak yang mudah terhapus, dan kurangnya persediaan makanan adalah sekutu bagi mereka yang padahal dalam kondisi normal itu adalah musuh. Faktor ini pulalah yang menyebabkan mengapa orang Arab sangat enggan tunduk kepada asing.

Kesabaran dan keteguhan pendirian merupakan nilai luhur yang mereka pegang, sehingga mereka sangguo bertahan di tempat yang orang lain tak akan sanggup bertahan. Individualisme merupakan karakteristik orang badui yang sangat kuat sehingga mereka tidak akan mementingkan kepentingan umum dibanding kepentingan pribadinya.

Fenomena penting lain dari wilayah gurun pasir adalah meraknya peristiwa pembegalan atau perompokan terhadap kafilah atau perkemahan suku lain. Serangan kilat merupakan salah satu dari pekerjaan para lelakinya jika musuh tak ditemui tak jarang saudara sendiri yang diperanginya.Walau dikenal kejam dan keras terhadap musuh, orang badui sangat setia dan pemurah bagi sahabatnya, pemberian suaka atau perlindungan merupakan tradisi yang sangat mereka hormati.

Dasar agama-agama Semit lahir dari dataran oasis bukan dari padang pasir dan berpusat di wilayah yang berbatu dan bermata air, seperti Hajar Aswad dan sumur Zam zam. Konsep agama dan keyakinan ini tumbuk dalam satu tatanan organisasi kekerabatan yang menjadi fondasi masyarakat badui. Hubungan darah baik itu nyata atau dibuat-buat-dengan cara makan bersama- merupakan unsur perekat dalam sistem kesukuan.

Kuatnya ikatan kesukuan memunculkan apa yang dinamai ‘ashabiyah (semangat kesukuan) yang secara umum bersifat fanatik dan chauvanistik. Partikularisme yang tumbuh kokoh dalam klan memunculkan sikap mengangungkan klan sendiri dan menganggap klan lain pantas untuk dihina. Watak antisosial dan individualisme ini masih tetap menjadi ciri khas bangsa Arab hingga mereka berkemang setelah datangnya Islam dan merupakan faktor penting yang menybebkan perpecahan dan kehancuran total kerajaan Islam.

Setiap orang sangat membanggakan garis keturunannya yang luar biasa, dan sering menyambungkan garis keturunannya hingga Adam. Selain orang Arab, tidak ada bangsa lain yang memandang geneologi sebagai satu tatanan ilmu pengetahuan.

Seorang wanita badui pada masa Islam atau pra-Islam menikmati kebebasan yang lebih luas daripada wanita perkotaan. Ia hidup dalam sebuah keluarga yang mempraktikan poligami dan pemujaan terhadap lelaki namun ia bebas dalam dalam memilih dan meninggalkan suaminya.

Kekuatan dalam berasimilasi dengan budaya lain juga cukup besar. Dengan stimulus yang memadai mereka dapat berkembang menjadi satu kekuatan yang dinamis. Hammurabi di Babilonia, Musa dui Sinai, Zanubia di Palmyra, Philip Arab di Romawi atau Harun al-Rasyid di baghdad adalah contohnya. Perkembangan pengetahuan yang mengagumkan dunia dan kemajuan Islam yang fenomenal dan tanpa tanding hingga batas yang sangat besar didorong oleh kekuatan tersebunyi orang-orang badui, yang dalam ungkapan Khalifah Umar, “menyempurnakan Islam dari bahan-bahan mentahnya”.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s