Sejarah Bangsa Arab (Bab 2-HUBUNGAN INTERNASIONAL PALING AWAL)

Arab Selatan dan Arab Utara

Orang-orang Arab Utara kebanyakan merupakan orang-orang nomad yang tinggal di ‘rumah-rumah bulu’  di Hijaz dan Nejed. Orang Arab Selatan kebanyakan adalah orang-orang perkotaan yang tinggal di Yaman, Hadramaut, dan sepanjang pesisirnya. Orang-orang Arab Utara berbicara dengan bahasa Al-Quran, bahasa Arab paling unggul, sementara orang-orang Arab Selatan menggunakan bahasa Semit kuno, Sabaea atau Himyat yang dekat dengan bahasa Etiopia di Afrika.

Para ahli geneologi membagi orang-orang Arab menjadi dua golongan, yaitu ‘aribah (Arab asli) dan musta’ribah (bangsa Arab yang telah ter-arabkan). Aribah menurut mereka adalah orang-orang Yaman keturunan Qathan (dalam PL disebut Jotkan). Musta’ribah adalah orang-orang HIjaz, Najed, Nabasia, Palmyra, yang kesemuanya mengikuti keturunan Adnan-anak cucu Ismail- dan telah mengalami naturalisasi.

Orang Arab Selatan adalah yang pertama mencapai kemajuan dan mengembangkan peradaban mereka sendiri, sedangkan Arab Utara sebelum datangnya Islam tidak pernah mengemuka dalam percaturan internasional.

Arab Selatan mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan Mesir ketika yang terakhir membangun hubungan dagang dengan Punt (Somalia) dan Nubia. Daya tarik Arab Selatan bagi orang mesir adalah gaharu untuk acara ritual dan pembungkusan mumi. Saingan utama orang Mesir kuno dalam perdaganan rempa-rempah dan barang tambang  pada saat itu ialah Babilonia.

Selain dengan Mesir, bangsa Arab juga menjalin hubungan dengan bangsa Babilonia, Sumeria, dan Assyiria. Hal itu dimungkinkan karena Semenanjung Arab berbatasan dengan Mesopotamia. Penduduk pertama wilayah tersebut, yaitu orang-orang Sumeria dan Akkadia, pada milenium ketiga sebelum masehi telah mengenal tetangga mereka di sebelah Barat (Ammuru) dan menjalin kontak dengan mereka melalui jalan darat dan laut.

Kontak dengan Bangsa Ibrani

Orang Yahudi dari sisi geografis merupakan tetanga dekat orang-orang Arab dan dari sisi ras merupakan saudara terdekat mereka. Gambaran bahwa orang-orang Ibrani berasal dari gurun dipaparkan dalam Perjanjian Lama. Bahasa Ibrani dan Arab seperti yang kita sudah ketahui berasal dari rumpun yang sama, rumpun Semit.

Orang-orang Ibrani masuk ke Palestina sebagai orang-orang nomad, gaya hidup kesukuan yang diwarisi leluhur mereka yang tinggal di gurun-gurun tetap bertahan bahkan sampai mereka menetap dan membangun peradaban bersama yaitu bangsa Kanaan.

Hubungan bangsa Arab dengan Ibrani tidak hanya digambarkan melalui kisah-kisah terdahulu tetapi juga melalui Alkitab, khusunya Perjanjian Lama.

Arab dan Literatur Klasik

Semenajung Arab dan orang-orang Arab seudah dikenal baik oleh orang Yunani dan Romawi karena negri tersebut berada di jalur perdagangan mereka menuju India dan Cina. Negri ini dikenal sebagai penghasil berbagai komoditas barang-barang berharga bagi barat.

Para penulis klasik membagi kawasan Arab menjadi tiga bagian, yaitu Arab Felix, Arab Petra, dan Arab Gurun, didasrkan atas pembagian wilayah itu ke dalam tiga kekuatan politik pada abad pertama masehi. Yaitu, kawasan yang bebas, kawasan yang tunduk pada penguasa Romawi, dan kawasan yang secara nominal berada dalam kendali Persia. Arab Gurun meliputi gurun pasir Suriah-Mesopotamia, Arab Petra (gunung batu) berpusat di dataran Sinai dan kerajaan Nabasia, dengan ibukota Petra, wilayah Arab Felix mencakup bagian lainnya di Semenanjung Arab yang kondidinya tidak banyak diketahui.

Bagi para penulis klasik, mulai Eratosthenes dari Yunani ( W:sekitar 196 SM) hingga Pliny dari Romawi (W :sekitar 79 M). semenanjung Arab adalah sebuah negri yang sangat makmur dan mewah. Penghasil wangi-wangian dan rempah-rempah. Penduduknya mencintai dan menikmati kebebasan. Yang terakhir adalah watak bangsa Arab yang paling memikat. Watak orang Arab yang independen telah menjadi bahan pujian dan kekaguman para penulis Eropa sejak masa lalu hingga kini.

Bahkan dalam karyanya yang berjudul Geography, Strabo (W:24 M) menyatakan bahwa orang-orang Arab adalah satu-satunya bangsa ang tidak mengirimkan sdutanya kepada Aleksander yang berencana untuk menjadikan Arab sebgai pusat kerajaannya.

Ekspedisi Romawi

Sebagai penguasa dunia, orang-orang Romawi tidak berhasil menguasai orang-orang Arab. Pengiriman 10.000 pasukan dari Mesir di bawah pimpinan Aeliuss Gallus pada 24 SM, yaitu pada masa Caesar Agustus, disertai dukungan sekutu, bangsa Nabasia tenryata menemui kegagalan. Menurut Strabo yang juga teman dekat Gallus, kegagallan itu dikarenakan pengkhianatan penunjuk jalan pasukan, “Sylaccus, seorang menteri bangsa Nabasia”. Dengan demikian, maka baerakhirlah serangan pertama dan terakhir yang gagal total yang pernah dilakukan bagsa Eropa ke wilayah Semenanjung Arab.

Ketertarikan bangsa Romawi ke kawasan ini karena Arab dekenal sebagai penghasil wangi-wangian dan rempah-rempah. Selain itu, hasil tambang kawasan Arab, terutama emas juga sangat terkenal. Diodorus menegaskan bahwa, Semenanjung Arab memiliki kandungan emas yang sangat murni hingga tidak perlu lagi didihkan.

One thought on “Sejarah Bangsa Arab (Bab 2-HUBUNGAN INTERNASIONAL PALING AWAL)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s