Sejarah Bangsa Arab (Bab 3-SABA DAN NEGRI-NEGRI LAINNYA DI ARAB SELATAN)

Orang-orang Arab Selatan sebagai Pedagang

Orang-orang Saba adalah bangsa Arab yang melangkah ke pintu peradaban paling awal. Kesuburan tanah yang mendapatkan curahan hujan yang cukup, kedekatannya dengan laut, dan posisinya yang strategis di jalur perjalanan menuju India menjadi faktor penentu perkmbangan negri itu. Ditanahnya tumbuh pohon rempah-rempah, gaharu, dan tumbuhan beraroma untuk penyedap makanan di gereja”dengan cendana yang merupakan barang paling penting dalam perdagangan kuno.

Dalam kebahasaan, dengan menurunnya kebudayaan Yaman, bahasa Arab Selatan juga hilang dan digantikan dengan bahasa Arab Utara. Pekan raya sastra di Utara, seperti di Pasar Ukaz, ibadah tahunan seperti haji, dan hubungan dagang dengan Makkah mempercepat proses pergantian itu.

Kerajaan Saba

Kerajaan-kerajaan pertama yang berhasil diketahui, yang berdiri di wilayah Arab Selatan pada zaman kuno adalah kerajaan Saba. Menurut seorang ahli Arab dengan menggunakan kronologi singkat, orang-orang Saba hidup dari 750 hingga 150 SM dengan satu kali perubahan gelar raja pada 610 SM.

Kerajaan Minea, Qataban, dan Hadramaut

Kerajaan Minea berkembang di Jawf, Yaman dan pada masa kejayaannya, wilayah kerajaannya meliputi sebagian besar kawasan Arab Selatan. Selain kerajaan Minea dan Saba, dua kerajaan penting lainnya adalah Qataban dan Hadramaut. Negri Qataban berada di sebelah timur ‘Adan yang kini berada di sekitar Hadramaut, berdiri sekitar 400 hingga 50 SM. Kerajaan monarki Hadramaut (pada masa lalu disebut Satoba), berdiri dari abad kelima Sebelum Masehi hingga akhir abad pertama Masehi. Kerajaan-kerajaan itu selama beberapa waktu berada di bawah kekuasaan kerajaan Saba dan Minea.

Orang Romawi Menggeser Orang Arab dalam Perdagangan Laut

Pada periode pertama Himyar ini, puncak kejayaan orang-orang Arab Selatan telah berlalu. Ketika orang-orang Yaman memonopoli rute perdangan di Laut Tengah, mereka berkembang menjadi bangsa yang makmur, tapi kini kendali tersebut terlepas dari tangan mereka.

Ketika Mesir yang beada di bawah kekuasaan Ptolemius kembali menjadi kekuatan dunia, mereka melakukan upaya pertama untuk merebut supremasi laut dari tangan-tangan orang Arab Selatan. Ptolemius II (285-246 SM) membuka kembali terusan Nil-Laut Merah yang telah digali oleh Sesotris sekitar tujuh abad sebelumnya. Jalur masuk armada dagang Ptolemius menandai berakhirnya aktivitas perdagangan orang-orang Himyar. Romawi yang merebut Mesir dari Ptolemius meneruskan kebijakan tersebut dan juga mencoba untuk menghilangkan ketergantungan Mesir dengan perdagangan Yaman di mana sejak masa Pliny, warga Romawi sudah mengeluhkan tingginya harga barang dagangan dan juga harus dibayar tunai. Orang-orang Abisinia yang tidak puas dengan pembagian keuntungan oleh tetangga mereka di timur kini mulai membangun persekutuan dengan Romawi.

Pada masa Romawi awal, orang Yunani atau Romawi mulai merintis rute pelayaran baru, menghadapi ancaman dan semua risiko bahaya lalu kembali dengan selamat sampai ke Iskadariyah sambil membawa kargo yang berisi barang yang sangat dibutuhkan dan bernilai tinggi. Ketika rute tersebut banyak yang mengikuti maka pecahlah monopoli orang-orang Arab. Jalan masuk kapal-kapal Romawi ke Lautan India merupakan isyarat berakhirnya kemakmuran orang-orang Arab Selatan. Kemunduran Ekonomi seperti biasanya mengakibatkan kemunduran politik. Satu demi satu, Petra, Palmyra, dan Mesopotamia di sebelah barat jatuh ke dalam cengkraman Romawi.

Kerajaan Himyar Kedua

Agama di Arab Selatan pada dasarnya adalah sebuah sistem perbintangan yang memuja dan menyembah dewa bulan. Agama Kristen Monofisit yang terdesak terutama di Suriah pada masa-masa paling awal membuat para misionarisnya melarikan diri hingga ke Arab Selatan. Duta Kristen yang pertama diutus oleh Raja Constantius pada 356 M bermotif untuk menanamkan pengaruh romawi atas Arab Selatan atas persaingannya dengan Persia. Agama Yahudi juga tersebar di Yaman pada masa pemerintahan Himyar. Dari sanalah kemungkinannya penyebaran ke Arab Utara. Pada paruh pertama, agama orang Ibrani ini memilki pengaruh besar, hingga Dzu Nuwas-penguasa pada saat itu-juga memeluk agama Yahudi.

Persaingan antara para penganut agama monoteis baru di Arab Selatan ternyata memicu timbulnya kekerasan. Dzu Nuwas yang mengasosiasikan orang Kristen pribumi dengan penguasa Kristen Abisinia sebagai musuh mereka melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap orang Kristen Najran. Raja Bizantium, Justin I yang dipandang sebagai pelindung umat kristiani meminta Raja Negus (Najasyi) untuk memerangi Dzu Nuwas. Setelah kalah dalam pertempuran melawan 70.000 pasukan Negus di bawah komando Abrahah maka berakhirlah kerajaan monarki Himyar yang terkhir, sekaligus menandai awal lepasnya kemerdekaan Yaman.

Periode Kekusaan Abisinia

Meski orang-orang Abisinia awalnya datang sebagai penolong tapi pada akhirnya mereka tetap berposisi sebagai penakluk. Terbukti dengan menjadikan wilayah tersebut sebagai koloni mereka. Orang-orang Abisinia jelas berhasrat untuk mengkristenkan negri itu dan menyaingi masyarakat pagan di Makkah yang pada saat itu menjadi pusat ibadah haji di utara. Sumber pendapatan yang besar dikarenakan ibadah haji menjadikan Makkah sebagai incaran orang-orang Abisinia. Abrahah yang disertai pasukan gajah bergerak menuju Makkah untuk menguasai wilayah tersebut ternayata dihancurkan oleh pasukan burung yang di dalam Al-Quran disebutkan membawa sijjil (kerikil kecil). Tahun ini pun disebut dengan ‘am fil (tahun gajah)

Pada masa ini juga terjadi peristiwa penting yaitu jebolnya bendungan Ma’arib. Banjir besar yang terjadi mengakibatkan kemunduran aktivitas perdagangan dan pertanian.

Gerakan nasional untuk membebaskan Yaman dari cengkraman orang-orang Abisinia menemukan pahlawannya, Syaf ibn dzu-Yazan. Ia meminta bantuan dari Persia yang merupakan saingan terbesar Kristen. Orang-orang Arab kristen lebih mendukung Bzantium dan meminta bantuan serta perlindungan kepada penguasa Konstantinopel, sedangkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Arab pagan lebih mendukung Persia.

Dari riwayat ini, kita bisa mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang persaingan antara dua kekuatan di kedua sisi Semenanjung Arab-Persia yang Zoroaster dan Abbisinia yang Kristen (didukung oleh Bizantium) untuk menguasai tetangga mereka kerajaan Arab Selatan kuno. Dengan adanya gurun Suriah-Arab di utara yang menghalangi penetrasi kedua kekuatan dunia itu. Arab Selatan menjadi gerbang utama bagi dua kekuatan dunia itu untuk masuk ke wilayah semenanjung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s