Sejarah Bangsa Arab (Bab 4 -KERAJAAN NABASIA DAN KERAJAAN KECIL LAINNYA DI ARAB UTARA DAN ARAB TENGAH)

Bangsa Nabasia

Di samping kerajaan-kerajaan di Arab Selatan, pada masa pra-Islam terdapat juga kerajaan-kerajaan kecil di Arab Utara. Kerajaan-kerajaan tersebut secara umum mendapatkan kekuatannya berkat perdagangan bukan dari kekuatan militer. Kerajaan paling awal di antara mereka adalah kerajaan Nabasia.

Pada paruh pertama abad keenam sebelum masehi, orang-orang Nabasia adalah suku nomad dari daerah yang sekarang kita kenal sebagai Transyordan, dari sini pula selanjutnya mereka merebut Petra atau yang dikenal dengan nama modernya Wadi Musa (lembah Musa).

Pada masa dakwah Nabi Isa, wilayah kerajaan Nabasia membentang ke utara hingga Damaskus yang bersamaan dengan daerah Cole-Suriah direbut oleh Haritsats II (sekitar 87 SM) dari tangan orang-orang Seleukia.

Pada abad ketiga Masehi, tulisan kursif orang-orang Nabasia yang berasal dari bahasa aramaik berkembang menjadi tulisan Arab Utara, yaitu tulisan bahasa Arab Al-Quran dan bahasa Arab yang dikenal hari ini.

Kota Petra mencapai puncak kejayaanya dan kemakmurannya pada abad pertama Masehi ketika menjadi negara protektorat Romawi, yang memperlakukannya sebagai tameng untuk menghadapi Persia. Sepanjang dua abad pertama Masehi, ketika jalur laut ke India semakin dikenal oleh para pelaut Romawi, ketika rute kafilah dari timur ke barat bergesr secara bertahap semakin ke utara dan berpusat di Palmyra, serta ketika perdagangan dari utara ke selatan bergerak lebih ke timur mengikuti rute perjalan ibadah haji dan jalur kereta api, Petra kehilangan posisi pentingnya dan pamor kerajaan Nabasia mulai menurun. Setelh munurun secara drastis dan serangan mendadak orang-orang Trayan, Petra Arabia dimasukkan (106 M) ke dalam kekuasaan Romawi dengan nama Provinsi Arabia dan sejak saat itu Petra telah berhenti selama berabad-abad.

Bangsa Palmyira

Berbgai kondisi baru yang tecipta di Asia Barat setelah penaklukan bangsa Persia atas Mesopotamia, dan penemuan rute pelayaran baru yang mulai digunakan dalam skala besar sejak abad pertama masehi memberikan keuntungan pada sebuah kota yang terletak di oasai, tepatnya di tengah-tengah gurun psir Suriah dna yang ketnarannya saat itu terkenal di seluruh dunia. Kota itu adalah Palmyra (bahasa Arab: Tadmur)

Palmyra mencapai punca kejayaannya antara 130 sampai 270 M. pada masa itulah banyak dibangun monumen yang antara bertahan hingga kini. Aktivita perdaganganny sampai ke Cina dan sebagai sebuah kota yang dibangun dari perdagangan, Palmyra menjadi pewaris sejati Petra

Diantara tokoh penting dalam sejarah Palmyra adalah Odainath dan Zanubia. Ditangan Odainath kekuasaan Palmyra mecapai Suriah, Arab Utara, dan mungkin Armenia. Dengan demiian Palmyra merupakan penguasa Asia barat. Namun Odainath dibunuh karena diragukan keloyalitasannya. Pengganti Odainath adalah Zanubia yng tidak lain adalah istrinya, semangan maskulin yang ia tampilkan berhasil memperluas batas kerajaannya sampai Mesir dan sebagian besar wilayah Asia Kecil.

Kekuatan Aurelius, pengusa Mesir sebelumnya bangkit kembali setelah lama tenggelam. Ia berhasil mengalahkan pasukan Palmyra dan memaksa Zanubia untuk melarikan diri ke gurun pasir. Setelah ditangkap lalu Zanubia diikat dengan ranti emas dan diarak menuju pintu gerbang Romawi. Itulah awal keruntuhan dn berakhirnya kejayaan Palmyra.

Dengan jatuhnya Palmyra yang berusia singkat, lalu lintas darat mencari dan akhirnya menemukan rute baru. Bushra (Bostra) di Hauran dan kota-kota Gassan lainnya menjadi pewaris Palmyira layaknya Palmyira menjadi pewaris Petra.

Bangsa Gassan

Orang-orang Gassan mengklaim sebagai keturunan suku Arab Selatan kuno. Sedikit-demi sedikit, seiring dengan berjalannya waktu, Banu Gassan menganut Kristen dan menjadi bangsa Suriah. Kerajaan ini seperti musuh dan sekaligus tetangganya kerajaan Lakhmi mencapai puncak kejayaanya pada abad keenam Masehi

Tingkat budaya orang-orang Gassan jelas lebih tinggi ketimbang ettangganya kerajaan Lakhmi, di bawah pemerintahan mereka dan selama kekuasaan romawi terdahulu muncul sebuah peradaban baru di sepanjang perbatasan timur Suriah yang merupakan perpaduan antara unsur Arab, Yunani, dan Suriah.

Sejumlah penyair Arab pra-Islam mendapatkan dukungan penuh dari raja kecil Gassan. Labid, penyair termuda dari tujuh pemyair Mu’allaqat ayng terkenal, berperang bersama Gassan dalam pertempuran Halimah-pertempuran dengan pasukan Lakhmi di Kinasarin-, Hasan bin Tsabit, penyair Madinah yang dipuji Rasulullah juga engau sebagai warga Gassan pada masa mudanya.

Kerajaan Lakhmi

Sejak zaman dahulu, gelombang pengembara Arab telah terbiasa menyusuri pesisir timur Semenanjung Arab menuju lembah Tigris-Efrat dan menetap di sana. Itulah mereka yang menyebut dirinya sebagai suku Tanukh dan berketurunan Yaman. Pada awalnya suku Tanukh tinggal di tenda-tenda lalu berkembang menjadi pemukiman Hirah (dalam bahasa Suriah :perkemahan) yang berada sekitar tiga mil sebelah selatn Kufah, tidak jauh dari Babilonia kuno. Kota Hirah ini kemudian berkembang menjadi ibu kota Arab Persia.

Hirah yang merupakan sekutu Persia ini bertahan sampai pada masa khalifah Abu Bakar dan akhirnya ditaklukan oleh pasukan Islam yang dipimpin Khalid bin Walid.

Bangsa Kindah

Sementara kerajaan Gassn menjadi sekutu Bizantium dan kerajaan Lakhmi menjadi sekutu Persia, raja-raja Kindah di Arab Tengah menjalin hubungn dengan Raja tubba terakhir di Yaman. Di kawasan semenanjung, mreka satu-satunya penguasa yang menerima gelar malik (raja) yang biasa ditujukan oleh bangsa Arab kepada para penguasa asing.

Runtuhnya kekuasaan kerajaan ini dikarenakan sengketa yang terjadi di antara anak-anak Harits yang masing-masing ini menjadi pemimpin suku, mengakibatkan pecahnya konfederas dan jatuhnya kerajaan itu. Sisa-sisa kekuatan kerajaan Kindah terpaksa mundur ke pemukiman mereka semula di Hadramaut. Peristiwa itu menandai berakhirny salah satu kerajaan pesaing Hirah dalam pesaing lainnya yaitu kejaan Gassan.

Kemunculan Kindah dianggap menarik tidak hanya karena sejarahnya sendiri, tetapi juga menggambarkan upaya pertama orang-orang Arab untuk menyatukan sejumlah suku ke dalam senuah kepemimpinan tunggal yang terpusat. Dengan demikian itu menjadi contoh bagi Hijaz dan Muhammad.

One thought on “Sejarah Bangsa Arab (Bab 4 -KERAJAAN NABASIA DAN KERAJAAN KECIL LAINNYA DI ARAB UTARA DAN ARAB TENGAH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s