Sejarah Bangsa Arab (Bab 5-Hijaz menjelang kelahiran Islam (part 1))

Secara umum sejarah Arab terbagi menjadi tiga periode utama :

  1. Periode Saba-Himyar, yang berakhir pada awal abad keenam Masehi
  2. Periode jahiliyah yang dalam satu segi dimulai dari “penciptan Adam” hingga kedatangan Nabi Muhammad, tetapi lebih khusus lagi-sepeti yang digunakan dalam buku ini-meliputi kurun satu abad menjelang kelahiran Islam
  3. Periode Islam, sejak kelahiran Islam hingga masa sekarang

Istilah Jahiliyah, yang biasanya diartikan sebagai “masa kebodohan” atau “masa barbar” sebenarnya berarti bawa ketika itu orang-orang Arab tidak memiliki otoritas hukum, nabi, dan kitab suci. Pengertian ini yang dipilih karena kita tidak bisa mengatakan bahwa masyarakat yang berbudaya dan mampu baca tulis seperti masyarakat Arab Selatan disebut sebagai masyarak bodoh atau barbar.

Berbeda dengan masyarakat Arab Selatan , sebagian masyarakat Arab Utara termasuk Hijaz dan Najed adalah masyarakat nomad dan tidak memiliki peradaban yang maju. Oleh karena itu kajian tentang periode jahiliyah dibatasi pada analisis tentang berbagai pertempuran yang terjadi antara suku-suku badui utara sekitar satu abad sebelum Hijrah dan pada catatan tentang pengaruh budaya-budaya luar terhadap kehidupan penduduk Hijaz menjelang kedatangan Islam.

Catatan yang ada hanya memberikan kita sedikit informasi karena pada saat itu memang orang-orang Arab Utara belum mempunyai budaya baca tulis, hanyalah legenda, riwayat, pribahasa, dan terutama syair yang sayangnya tidak tertuang dalam bentuk tulisan dan baru mengembangkan budaya tersebut menjelang masa Muhammad.

Istilah oang-orang Arab dalam arti luas meliputi orang-orang yang berada dalam kawasan Semenanjung Arab dan dalam arti sempit ialah orang-orang yang berada di wilayah Arab Utara yang tidak menonjol dalam percaturan internasional hingga datangnya Islam. Ketika menyebut bahasa Arab berarti yang dimaksudkan ialah bahasa Arab Utara dan bahasa Arab Al-Quran

Salah satu fenomena sosial yang terjadi kala itu ialah apa yang disebut ayyam al-‘arab (hari-hari orang Arab) merujuk pada permusuhan antar suku yang muncul akibat peesengketan seputar hewan ternak, padang rumput, dan mata air. Ayyam al-‘arab ini pula yang berhasil mengendalikan populasi orang-orang badui yang biasanya hidup dengan semi-kelaparan, dan yang telah menjadikan peperangan sebagai jatidiri dan watak sosial.

Rangkaian peristiwa ‘hari’ ini pada mulanya berawal dari sengketa antara segelintir orang antara suku-suku dan menjadi persoalan seluruh suku. Perdamaian berakhir setelah adanya campur tangan pihak netral. Pihak yang mederita korban lebih sedikit akan membayar tebusan kepada yang menderita lebih banyak. Kenangan akan pahlawan akan tetap hidup selama berabad-abad.

Seperti itulah yang terjadi para perang Buats antara suku Aus dan Khazraj juga perang al-Fijar (pelanggaran), disebut demikian karena terjadi pada bulan-bulan suci, antara Quraisy dengan suku Kinanah. Dikatakan behwa Muhammad muda terlibat beberapa kali dalam peperangan ini.

Perkembangan dan Pengaruh Bahasa Arab Utara

Tidak ada satupun bangsa di dunia ini yang menunjukan apresiasi yang demikian besar terhadap ungkapan bernuansa puitis dan sangat tersentuh kata-kata, baik lisan maupun tulisan, selain bangsa Arab. Ritme, bait, syair, dan irama bahasa itu memberikan dampak psikologis kepada mereka layaknya hembusan “sihir yang halal”

Seperti uang telah menjadi ciri khas rumpun Semit, watak seni mereka dituangkan dalam bentuk satu media : ungkapan. Jika orang Yunani mengungkapkannya dalam bentuk patung dan arsitektur maka orang-orang Arab menuangkannya dalam bentuk syair (qashidah) dan orang-orang Ibrani dalam bentuk lagu-lagu keagamaan (palm).  ‘keelokan orang Arab’ menurut mereka terletak pada ‘kefasihan lidahnya’. Kebijakan, menurut pribahasa yang muncul belakangan, “muncul dalam tiga hal: otak orang Prancis, tangan orang Cina, dan lidah orang Arab”. Kefasihan, kemampuan memanah, dan berkuda merupakan tiga ciri utama insan kamil (manusia sempurna). Berdasarkan struktur bahasa yang unik, bahasa Arab memiliki ungkapan kalimat yang padat, efektif, dan singkat. Islam memanfaatan secara maksimal karakteristik itu dan watak psikologis penuturnya. Dari sanalah muncul kemukjizatan (I’jaz) gaya dan susunan kalimat Al-Quran, yang dijadikan argumen utama umat Islam untuk membuktikan kemurnian agama ini. Kemenangan Islam hingga batas tertentu merupakah kemenangan bahasa, lebih khusus kemenangan sebuah kitab.

Satu-satunya keunggulan artistik masyarakat Arab pra-Islam adalah dalam bidang puisi. Pada bidang itulah mereka menuangkan ekspresi estetis dan bakat terbaiknya. Kecintaan orang-orang badui terhadap puisi merupakan salah satu aset kultural mereka.

Pada masa literatur kepahlawanan ini, puisi merupakan satu-satunya sarana ekspresi sastra. Qashidah (puisi liris) mewakili satu-satunya jenis penyusunan puisi. Jika disandingkan dengan karya Homer, qashidah lebih unggul ketimbang Illiad dan Odyssey dari sudut kerumitan dan detail sajaknya.

Diantara puisi-puisi liris yang dihasilkan pada masa klasik, puisi-puisi yang disebut”Tujuh Mu’allaqat” menduduki posisi pertama. Menurut legenda setiap bagian merupakan puisi yang mendapatkan penghargaan di festival sastra di pasar Ukaz.

Seiring dengan perkembangan karismanya, seorang penyair memainkan berbagai peran sosial. Dalam pertempuran, lidahnya sama efektifnya dengan keberanian masyarakat. Pada masa damai, kecamannya yang pedas merupakan ancaman bagi ketertiban pubik.

Di samping mejadi dukun, penuntun, orator, dan juru bicara kaumnya, seorang penyair juga merupakan sejarawan dan ilmuwan. Orang-orang badui mengukur kecerdasan seorang berdasarkan puisinya. Keunggulan sebuah suku tercermin dalam tiga fator, kekuatan militer, kecerdasan, dan jumlah anggota di situlah terletak keunggulan sebuah suku.

Ciri Khas Orang Badui Sebagaimana Tercermin dalam Puisi

Nilai-nilai yang tertinggi orang Arab seperti dalam puisi-puisi kaum pagan diungkapkan dengan muruah, kewibawaan, dan irdh (kehormatan). Unsur-unsur yang terdapat dalam muruah adalah keberanian, loyalitas, dan kedermawanan. Keberanian diukur berdasarkan jumlah peperangan yang pernah diikuti. Kedermawanan tampak dari kepeduliannya mengorbankan untanya untuk menyambut tamu atas kepentingan orang miskin atau membutuhkan bantuan.

Hatim bin Ta’I (w: 605), ialah orang badui yang terkenal dengan kedermawanannya dan keramahannya tetap dikenang hingga sekarang. Antarah ibn Syaddad (w: 525-615 M) seorang pemeluk Kristen, namanya tetap abadi sepanjang sejarah sebagai contoh terbaik sikap kepahlawanan dan kebangsawanan orang badui.

Dilihat dari puisinya, orang Badui pada masa Jahiliyah hanya memiliki sedikit agama. Mereka kurang antusias, atau bahkan bersikap kurang peduli terhadap nilai-nilai religius-spiritual. Penerimaan praktik-[raktik keagamaan mengikuti kebekuan suku mereka dan didasarkan penghormatan atas tradisi.

Agama orang badui, seperti halnya berbagai bentuk keyakinan primitif, pada dasarnya adalah kepercayaan animisme. Perbedaan yang tegas antara oasis dan gurun memberi mereka konsep penting paling awal tentang dewa yang memilki peran penentu. Roh pemilik tanah yang subur dipandang sebagai dewa pemberi karunia dan sebaliknya yang gersang dianggap sebagai dewa jahat yang harus ditakuti.

Bahkan setelah setelah konsep dewa terbentuk, benda-benda alam seperti pohon, sumur, gua, batu tetap dipandang sebagai objek yang sakral, karena sebagai media pemujaan kepada dewa.Selain mempercayai dewa, mereka juga percaya terhadap jin dan roh-roh halus. Jin merupakan personifikasi dari gagasan imajiner kita tentang teror dan ketakutan yang terdapat di padang pasir dan kehidupan satwa liarnya. Sementara Tuhan-tuhan Badui memilki wilayah yang sering dikunjungi dan jin menepati wilayah yang belum terjamah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s