Bab 5-Hijaz menjelang kelahiran Islam (part 2)

Kayakinan Masyarakat Hijaz dan Kedudukan Ka’bah

Di tengah masyarakat perkotaan Hijaz yang jumlahya hanya sekitar 17 persen dari masyarakat Hijaz, tahap pemujaan terhadap benda-benda langit muncul sejak lama. Al-Uzza, al-Lat, dan Manat memilki tempat pemujaan tersendiri yang disakralkan di daerah yang kemudian menjadi tempat kelahiran Islam.

Nama-nama sesembahan yang identik dengan feminim adalah karena garis keturunan berdasarkan dari ibu bukan dari ayah dan organisasi keluarga pada mulanya menganut sistem matrialkal. Munculnya nama dewa-dewa perempuan Arab ini lebih dulu di disembah ketimbang Tuhan.
Dewa lainnya yaitu Hubal yang tampaknya merupakan dewa tertinggi di Ka’bah, direpresentasikan dalam bentuk manusia. Disampingnya disediakan busur dilengkapi dengan anak panah yang digunakan untuk mengundi nasib. Pada saat penaklukan Makkah semua berhala itu dihancurkan oleh Nabi Muhammad

Ka’bah pra-Islam, yang kemudian menjadi tempat suci umat Islam adalah bangunan berbentuk kubus sederhana, yang awalnya tidak beratap, yang menjadi tempat penyimpanan batu meteor hitam (hajar aswad) yang diagungkan sebagai benda sakral. Kawasan yang dipandang sakral (haraam) terdapat di sekitarnya. Para jamaah haji beribadah ke sana setahun sekali dan mempersembahkan berbagai korban.

Tradisi Islam menyebutkan, pada awalnya Ka’bah awalnya dibangun oleh Nabi Adam meniru bentuk aslinya di surga dan setelah banjir besar, Ka’bah kembali dibangun oleh Ibrahim dan Ismail. Setelah itu pemeliharaan Ka’bah tetap berlanjut kepada keturunan Ismail hingga akhirnya Bani Jurhum Bani Khuzaah memperkenalkan praktik penyembahan berhala. Lalu datang suku Quraisy melanjutkan jalur keturunan Ismail.
Salah satu konsep penting yang dikenal di kawasan Hijaz adalah konsep tentang Tuhan. Bagi mereka, Allah adalah Tuhan yang paling utama walaupun bukan satu-satunya.

Meskipun terletak di gurun yang tandus dengan cuaca yang tidak bersahabat juga tidak menyehatkan, keberadaan bangunan suci di Makkah menjadikan Hijaz sebagai pusat keagamaan yang paling penting di Arab Utara.

Karena orang-orang Badui sering datang ke kota Hijaz untuk melakukan barter, terutama selama masa gencatan senjata “empat bulan yang disucikan” akhirnya mereka terbiasa dengan kepercayaa orang-orang perkotaan yang lebih maju kemudian mereka mulai melakukan ritual di sekitar Kabah dan melakukan penyembelihan. Karena posisi sentralnya, keterbukaan dan lokasinya di jalur utama kafilah dari utara ke selatan, Hijaz menawarkan sebuah kesempatan yang baik untuk aktivitas perdaganan dan keagamaan. Oleh karena itu muncul festival di Ukaz dan Ka’bah.

Kota-kota Utama HIjaz, Taif, Makkah, dan Madinah

Hijaz, sebuah daratan yang tandus yang berfungsi sebagai penghambat (Hijaz) antara dataran tinggi Najed dan daerah pesisir yang rendah yaitu Tihamah (dataran rendah), haya memeiliki tiga kota yaitu, Taif, Makkah, dan Madinah.

Kota Taif, terletak di sekitar wilayah yang ditumbuhi pepohonan lebat dengan ketinggian sekitar 6000 kaki di atas permukaan laut. Buminya yang subur menghasilkan sejumlah komoditas seperti, semangka, pisang, ara, anggur, kenari, persik, delima, dan juga madu. Dari semua tempat di semenanjung Arab, Taif tampaknya merupakan tempat yang paling mendekati gambaran surga, seperti yang terdapat dalam Q.S. 47:15

Kota berikutnya adalah Makkah, nama Makah, disebut Maccoroba oleh Ptolemius, diambi dari bahasa Saba, Makuraba yang berarti tempat suci. Kata ini menunjukan bahwa sebelum kelahiran Nabi, Makkah telah menjadi pusat keagamaan. keadaan Makkah jauh berbeda dengan Taif karena tanahnya yang tak bisa ditanami dan suhunya yang tak tertahankan.

Jauh sebelum kota itu dilintasi “jalur rempah-rempah” dari selatan ke utara, Makkah sejak lama sudah menjadi tempat persinggahan dalam perjalanan antara Ma’rib dan Gaza. Orang-orang Makkah yang progresif dan memiliki naluri dagang berhasil menjadikan wilayah ini menjadi makmur. Kemakmuran kota itu dapat tergambarkan dari sebuah kafilah dagang yang terlibat dalam perang Badar. Saat mereka kembali dari Gaza, mereka membawa barang dagangan senilai 50.000 dinar. Di bawah kepemimpinan suku Quraisy, pemelihara tempat suci, yang bertanggung jawab untuk menjadikan itu sebagai tempat suci bangsa Arab dan menjadikan festival Ukaz sebegai tempat pertemuan dagang dan intelektual, posisi penting Makkah berhasil dipertahankan.

Kota ketiga yang kelak memainkan peran signifikan pada masa Islam adalah Madinah. Kota yang dikenal dengan sebutan Yastrib ini secara geografis jauh lebih baik keadaanya dari Makkah. Tanah Madinah sangat cocok untuk ditanami kurma. Di tangan penduduk Yahudi, tepatnya Banu Nadhir dan Banu Quraidzhah kota itu menjadi pusat pertanian yang terkemuka. Dua suku utama non-Yahudi di kota itu adalah Aus dan Khazraj yang berasal dari Yaman.

Pengaruh Kebudayaan Saba, Abisinia, Persia, dan Gassan


Meskipun tidak berada dalam arus utama percaturan dunia, Hijaz pra-Islam tidak bisa dikatakan sebagai tempat yang tidak penting. Keistimewaan dan kedudukannya yang penting dalam percaturan global mulai mencuat sejak tahun kedelapan Hijriyah ketika Islam merebut kota itu dan ketika ayat ke-28 surat ke-29 diturunkan.

Kebudayaan lain yang berpengaruh pada Hijaz adalah kebudayaan Abisinia,. Orang-orang Abisinia membentuk suatu bagian penting dalam aktivitas perdagangan. Bilal yang menjadi muadzin Nabi Muhammad berasal dari Abisinia. Ketika masyarakat Islam yang baru lahir mendapatkan tekanan dari Quraisy, Abisinia menjadi tempat perlindungan mereka.

Kebudayaan Persia juga turut mewarnai keadaan penduduk Hijaz dan perkembangan pada masa-masa selanjutnya. Persia yang manganut zoroaster bersaing dengan Abisinia untuk mendapatkan supremasi di Yaman. Sahabat Nabi yang berasal dari Persia adalah Salman al-Farisi yang menyarankan agar Nabi menggali parit ketika pertempuran Ahzab/Khandaq.

Ringkasnya kita bisa menyatakan bahwa Hijaz pada abad kelahiran Nabi Muhammad dikelilingi oleh berbagai pengaruh yang berbeda, baik dari sisi intelektual, keagamaan, maupun material. Di satu sisi, meskipun agama Kristen berhasil memantapkan kedudukannya di Najran, dan agama Yahudi di Yaman dan HIijaz, keduanya tidak begitu memenuhi hati orang-orang Arab Utara. Di sisi lain, agama pagan kuno yang berkembang di Semenanjung Arab tapaknya telah mencapai antiklimaks ketika ia tidak bisa lagi memenuhi tuntutan spiritual masyarakat dan terkalahkan oleh kelompok yang menegmbangkan ajaran monoteis yang masih samar-kelompok yang menyebut dirinya sebagai kelompok Hanif, Umayah bin Abi Salt dan Waraqah bin Naufal termasuk golongan ini-. Dari sisi politik, kehidupan nasional terorganisir yang berkembang di Arab Selatan benar-benar terganggu. Akibatnya muncul anarki dalam bidang politik dan keagamaan. Sebuah panggung telah dibuat dan saat-saat yang kondusif secara psikologis telah siap untuk menyambut datangnya seorang pemimpin besar bagi agama dan bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s