Sejarah Bangsa Arab (Bab 6-Muhammad Rasulullah)

Sekitar 571 Masehi, seorang bayi keturunan Quraisy lahir di Makkah. Muhammad (yang terpuji) adalah nama yang ia sandang. Ayah bayi itu, Abdullah, meninggal ketika ia masih di kandungan, ibunya, Aminah, meninggal ketika ia berusia enam tahun. Karena itu ia dasuh oleh kakeknya, Abdul Mutthalib dan setelah kakeknya meninggal ia diserahkan kepada pamannya, Abu Thalib.

Diriwayatkan, ketika Muhammad berusia dua belas tahun, ia menyertai Abu Thalib dalam sebuah kafilah dagang menuju Suriah, tempat ia berjumpa dengan seorang pendeta yang bernama Bahira.

Setelah menikah pada usia 25 tahun dengan Khadijah, seorang janda kaya yang berwawasan dan berusia 15 tahun lebih tua, perjalanan Muhammad mulai memasuki tahap sejarah yang jelas.

Saat itu ia sering mengasingkan diri dan merenung di gua kecil (ghar) di bukit Hira yang terletak di luar kota Makkah. Ketika Muhammad sedang diliputi kegelisahan, keraguan, dan harapan akan kebenaran, di dalam gua itu ia mendengar sebuah suara yang memerintahnya : “Bacalah!, Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan,” dan seterusnya.

Itulah wahyu pertama. Peristiwa itu menandai munculnya seorang Nabi penerima wahyu di tanah Arab. Malam terjadinya peristiwa itu dikenal dengan sebutan malam ‘Laylatul Qadr’ dan menurut riwayat terjadi sekitar akhir bulan Ramadhan (610). Setelah wahyu pertama turun, yang menandai awal kenabian, berlangsung masa kekosongan (fatrah). Ketika itu hati Muhammad diliputi kegelisahan yang sangat dan merasakan beban emosi yang menghimpit, ia pulang dengan perasaan waswas, dan meminta istrinya untuk menyelimutinya. Saat itulah turun wahyu kedua yang berbunyi: “Wahai kau yang berselimut! Bangkit dan berilah peringatan.”. itulah awal yang menandai kerasulan Muhammad.

Kini Nabi Muhammad harus menemui kaumnya dan menyampaikan risalah barunya namun mereka menertawakan dan memakinya. Pada tahap itulah ia berperan sebagai nadzir (Q.S. 67:26 ; 51:50-51), pemberi peringatan dan sekaligus nabi yang berusaha melaksanakan misinya dengan memberikan gambaran tentang surga, neraka, dan kiamat. Singkat, tegas, ekspresif, dan mengesankan merupakan karakteristik wahyunya yang paling awal, yaitu surat-surat Makiyah.

Sebagai seorang penganjur, Nabi Muhammad hanya memilki sedikit pengikut, Khadijah, Abu Bakar, Ali termasuk segelintir orang yang pertama kali memenuhi anjurannya. Tapi, Abu Sufyan, yang mewakili kelompok aristokrat dan berasal dari keluarga Umayah, satu keluarga yang berpengaruh pada suku Quraisy, menjadi penentang utamanya. Gerakan dan seruan Muhammad ini dianggap bidah dan dapat merugikan kepentingan ekonomi orang Quraisy yang merupakan penjaga Ka’bah, bangunan suci tempat “berkumpulnya” sejumlah dewa dan pusat ibadah orang-orang Arab.

Ketika pengikut-pengikut baru, kabanyakan dari kalangan budak dan kelas bawah mulai menambah barisan orang-orang beriman, masyarakat dan pemuka Quraisy menyadari bahwa olok-olok dan makian yang mereka lancarkan selama ini tidak berarti apa-apa. Karena itu mereka mulai menempuh jalan kekerasan. Tindakan itu memaksa sebelas keluarga Makkah bermigrasi ke Abisinia dan diikuti kemudian oleh sekitar 83 orang lainnya pada 615 M.

Tanpa gentar sedikit pun, Muhammad menjalani masa-masa kelam penyiksaan. Ia bersikukuh unutk melanjutkan risalahnya, dan secara persuasif berhasil mengubah para penyembah berhala menjadi penyembah Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak lama kemudian Umar bin Khattab masuk Islam. Sekitar tiga tahun sebelum Hijrah, Khadijah meninggal dunia dan tidak lama kemudian disusul pamannya, Abu Thalib wafat. Dalam masa pra-hijrah ini terjadi peristiwa dramatis, yaitu isra dan mi’raj.

Sekitar 620, beberapa orang Yastrib, kebanyakan berasal dari suku Khazraj, menemui Muhammad pada festival Ukaz dan merasa terkesan oleh perkataannya. Dua tahun kemudian, utusan yang berjumlah sekitar 75 orang mengundangnya untuk tinggal di Yastri (Madinah), dengan harapan dapat mendamaikan dua suku yang saling bermusuhan, Aus dan Khazraj. Setelah dakwahnya ditolak di Thaif dan di tempat kelahirannya, Nabi Muhammad mengizinkan 200 pengikutnya untuk meghindari kekejaman Quraisy dan pergi diam-diam ke Madinah, ia sendiri menyusul dan sampai di Madinah pada 24 Septembr 622.

Hijrah yang mengakhiri periode Makkah, khususnya warga Quraisy yang menghina dan menyepelekannya namun ia berhasil menjadi pemimpin yang dihormati di Madinah.

Dengan memanfaatkan masa-masa ‘gencatan senjata pada bulan suci’ dan keinginannya untuk menyejahterakan para Muhajirin, umat Islam di Madinah hendak menyergap sebuah kafilah musim panas yang sedang menempuh perjalanan pulang dari Suriah ke Makkah. Tentu saja penyergapan itu akan memukul aktivitas utama kehidupan kota metropolis-perdaganan itu. Pimpinan kafilah tersebut, Abu Sufyan mengetahui rencana tersebut dan mengirim berita ke Makkah untuk meminta bantuan. Dengan itu meletuslah perang Badr yang terjadi pada 624 dan Islam di bawah kepemimpinan Muhammad berhasil memenangkan pertempuran. Dengan kemenangan yang menandai ‘restu Tuhan’ atas agama baru itu Islam telah berkembang bukan lagi sebuah agama melainkan Islam merupakan sebuah negara di Madinah.

Pada 627, sebuah persekutuan (al-ahzab), yang terdiri atas orang-orang Makkah dan tentara bayaran dari suku Badui dan Abisinia, kembali memerangi orang-orang Madinah. Salman yang keturunan Persia mengusulkan untuk menggali parit dan pasukan penyerang akhirnya mundur dan kembali ke Makkah. Setelah pengepungan berakhir, Muhammad menyerang orag-orang Yahudi Banu Quraidzhah karena bersekongkol atas penyerangan Ahzab, setahun sebelumnya Muhammad telah mengusir Banu Nadhir, dan pada 628 orang-orang Yahudi Khaibar menyerah dan bersedia membayar upeti.

Pada periode Madinah ini, arabisasi atau nasionalisasi Islam mulai dilakukan. Nabi Muhammad memutuskan ketersambungan Islam dengan agama yahudi dan Kristen : Jumat menggantikan shalat Sabat, adzan menggantikan suara terompet dan gong, Ramadhan ditetapkan sebagai bulan puasa, kiblat dipindahkan dari Yarussalem ke Makkah, ibadah haji ke Kabah dibakukan dan mencium Hajar Aswad ditetapkan sebagai ritual Islam.

Pada 628, Muhammad memimpin delegasi umat Islam dalam Perjanjian Hudaibiyah, yang berjarak 15, 3 km dari Makkah yang memutuskan bahwa orang-orang Makkah dan Madinah harus mendapat perlakuan yang sama. Perjanjian ini praktis mengakhiri peperangan antara Muslim dengan Quraisy. Diatara anggota suku tersebut-Khalid bin Walid dan Amr bin Ash- masuk ke dalam Islam. Dua tahun kemudian, pada akhir Januari 630 M (8 H), umat Islam berhasil menaklukan kota Makkah, ketika memasuki Ka’bah, tempat suci utama Makkah, Muhammad menghancurkan semua berhala yang berjumlah 360 buah sambil berseru, “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah sirna”. Hampir tidak ada kemenangan militer dalam catatan sejarah kuno yang bisa menandingi peristiwa penaklukan kota Makkah.

Pada 9 H, Muhammad menempatkan pos militr di Tabuk, yang berbatasan dengan daerah Gassan, dan tanpa melalui pertempuran berhasil membuat perjanjian damai dengan kepala suku Kristen, Aylah, dan suu-suku Yahudi sekitar oasis. Kepepakatan itu menetapkan bahwa penduduk asli yang beragama Yahudi dan Kristen akan dilindungi umat Islam dan memberikan bayaran yang disebut ‘jizyah’. Kebijakan itu kemudian menjadi kebijakan politis yang dibuat di masa depan.

Tahun ke-9 Hijriyh ini (630-631) disebut ‘tahun perutusan’, sepanjang tahun itu berbagai utusan berdatangan untuk menawarkan persekutuan dengan Nabi Muhammad. Banyak yang suku yang bergabng dengan didasari oleh pertimbngan untung-rugi, bukan keyakinan dan Islam hanya menghendaki ikrar keimanan dan pembayaran zakat. Bangsa-bangsa Arab yang sebelumnya idak pernah tunduk dalam kepemimpinan satu orang, tampaknya kini cenderung menyerah pada dominasi Islam dan ditarik ke garis perjuangan. Kekafiran berubah menjadi keimanan yang lebih mulia dan tatanan moral yang lebih tinggi.

Setahun berikutnya, ke-10 Hijriyah, Nabi Muhammad masuk dengan damai pada awal musim haji ke kota sucinya yang baru, Makkah. Perjalanan hajinya ke Makkah pada saat itu merupakan perjalanannya yang terakhir hingga dikenal sebagai ‘haji perpisahan’. Tiga bulan setelah haji, tanpa disangka-sangka ia jatuh sakit dan meninggal akibat sakit kepala pada 8 Juni 632.

Kehidupan Nabi pada periode Madinah dicirikan dengan turunnya surat-surat Al-quran yang panjang dan luas cakupannya yang di samping hukum-hukum agama juga meliputi ketentuan sosial-politik tentang pernikahan, perceraian, tahanan perang dll.

Sekalipun berada pada puncak kesuksesan dan kejayaanya, Muhammad menjalani kehidupan yang sederhana seperti pada masa-masa sulit sebelumnya. Rumah yang beraskan tanah, menjahit pakaiannya sendiri dan dapat ditemui masyarakatnya kapan saja menandakan kesahajaannya tersebut. Perilaku kesehariaanya yang dilakukan dengan atau pun tanpa tujuan, telah membentuk satu tatanan norma yang ditaati oleh jutaan orang dewasa ini. Tidak seorang pun perilakunya yang ditiru sedemikan detil oleh sejumlah besar manusia selain Muhammad, seorang manusia sempurna.

Dari Madinah, teokrasi Islam meyebar ke seluruh penjuru semenanjung dan kemudian merambah ke sebagian besar daratan Asia Barat dan Afrika Utara. Komunias Madinah saat itu menjadi model bagi komunitas-komunitas muslim belakangan.

Dalam rentang waktu kehidupannya yang singkat, dan beranjak dari lingkungan yang tidak menjanjikan, Muhammad telah menginspirasikan terbentuknya suatu bangsa yang tidak pernah bersatu sebelumnya, di sebuah negri yang hingga saat itu hanyalah sebuah ungkapan geogafis, membangun sebuah agama yang luas wilayahnya mengalahkan Kristen dan Yahudi, serta diikuti oleh sejumlah besar umat manusia; meletakkan landasan bagi sebuah imperium yang dalam waktu singkat berhasik memperluas batas wilayahnya dan membangun kota yang kelak menjadi pusat-pusat peradaban dunia. Meskipun tidak pernah dididik secara formal, Muhammad adalah pembawa kitab yang diyakini oleh seperdelapan penduduk bumi sebagai sumber ilmu pengetahuan, kebijakan, dan teokrasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s