Bab 8- PERIODE PENAKLUKAN, PENYEBARAN, DAN KOLONISASI

Penaklukan Bangsa-bangsa Arab

Selama kehidupannya, Muhammad telah menjalankan perannya sebagai nabi, pemimipin agama, komandan pasukan, hakim, dan kepala pemerintahan, semuanya mengumpul dalam diri Muhammad. Namun, setelah Muammad wafat yang menjadi persoalan adalah siapa penggantinya?. Muhammad tidak menunjuk pengganti setelahnya juga tidak mempunyai anak laki-laki setalah wafatnya  sehingga masalah kekhalifahan menjadi masalah pertama yang harus dihadapi Islam, bahkan sampai sekarang.

Kelompok pertama yang mengakui sebagai pihak yang pantas untuk menggantikan posisi Nabi adalah kaum Muhajirin karena mereka yang memeluk Islam mula-mula, lalu Anshar juga mengklaim berhak untuk mengggantikan Muhammad karena merasa bahwa merekalah yang menjadi pelindung Muhammad ketika tercampakan di Mekkah, yang ketiga adalah orang-orang yang setuju jika Ali yang menjadi penerus misi Muhamad, lalu yang terakhir adalah kalanga Bani Umayah, golonga aristokrat Quraisy yang memilki kekuatan dan otoritas pada masa pra-Islam namun merekalah yang terakhir kali masuk Islam.

Pada akhirnya, terpilihlah Abu Bakar menjadi khalifah pertama, disusul oleh Umar, Utsman, dan Ali. Kesemuanya menjadikan Madinah sebagai ibu kota pemerintahan, kecuali Ali yang menjadikan Kufah sebagai pusat pemerintahannya.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar yang singkat (632-634) sarat dengan peperangan melawan kaum riddah (murtad). Semua kawasan Islam di luar Hijaz yang menyatakan keislamannya pada masa Nabi tiba-tiba menyatakan keluar dan memisahkan diri pasca wafatnya Muhammad. Kemudian mereka menegaskan diri dengan menjadi pengikut para nabi palsu.

Pada masa itu, suku-suku Yaman, Yamamah, Oman, tidak mau membayar zakat ke Madinah. Wafatnya Nabi menjadi alasan utama penolakan itu dan didorong oleh kecemburuan terhadap hegemoni Hijaz. Namun, Abu Bakar hanya memberikan dua pilihan, yaitu tunduk tanpa syarat atau diperangi hingga binasa. Khalid bin Walid menjadi pahlawan dalam peperangan tersebut. Puncaknya ketika Khalid berhasil memberantas pasukan Musailamah dan Sajah dalam pertempuran Yamamah. Peperangan lainnya juga dilancarkan oleh para panglima Islam yang lain dengan tingkat kesuksesn berbeda-beda,di bahrain, Oman, Hadramaut, dan Yaman, markas besar Aswad.

Dua peristiwa penting pada akhir abad klasik adala migrasi bangsa teutonik yag mengakibatkan kekacauan kajayaan Romawi, dan penaklukan Arab yang menghancurkan kerajaan Persia dan Byzantium. Pada saat itu akan dianggap orang gila jika pada tahun ketiga abad tujuh masehi orang meramalkan dalam satu dekade akan muncul satu kekutan tersembunyi dan tak terduga dari kawasan Arab. Namun, itulah kenyataannya, setelah Nabi wafat, semenanjung arab seakan terkena sihir, menjadi tempat kelahiran para pahlawan yang jumlah dan kualitasnya sulit ditemukan di tempat lain. Peperangan yang dilancarkan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash di Irak, Persia, Suriah, dan Mesir termasuk di antara perang yang brilian dalam sejarah, menyamai prestasi Napoleon, Hanibal, dan Alexander.

Faktor-faktor berjayanya Islam dalam penaklukan itu adalah, kelelahannya dua imperium besar itu dalam perang berkepanjangan, pajak besar yang diterapkan kepada rakyat membuat loyalitas rakyatnya memudar, lalu ketika Islam datang, pajak yang dibayarkan jauh lebih kecil dari pajak yang diterapkan sebelumnya lalu kedekatannya mereka dalam segi ras dengan bangsa Arab juga menjadi faktor lain dalam keberhasilan penaklukan. Ditambah lagi strategi militer ala Ala Barat dan Afrika Utara dengan menggunakan unta dan kuda yang pada saat itu tidak dikuasai oleh pasukan romawi.

Beragam pandangan terlontar atas motif pergerakan Islam ini, para ulama meyakini bahwa faktor agamalah yang menjadi landasan pergerakan tersebut tanpa ada dorongan faktor ekonomi. Sedangkan, pihak Kristen menafsirkan gerakan ini dengan pandangan miring, bahwa bangsa Arab memegan Quran di tangan kanannya tetapi memegang pedang di tangan kirinya. Namun kiranya, ada juga yang bermotif ekonomi khususnya kepada para sekumpulan badui yang ingin keluar dari wilayah gersang kepada wilayah sebelah utara yang indah. Motif masuk surga juga memberikan andil, tapi dalam beragam kasus, dorongan untuk memperoleh kenyamanan yang dimiliki negri-negri berperadaban di daerah Bulan Sabit Subur juga sama kuatnya.

Sejarah menunjukkan bahwa upaya penaklukan tidak didasari oleh perhitungan yang matang dan terencana, melainkan berupa serbuan kilat dan sporadis. Awalnya, hanyalah menginginkan rampasan perang bukan untuk menduduki wilayah. Gerakan itu memperoleh momentum terbaiknya ketika satu demi satu para penakluk Arab itu memperoleh kemenangan. Sejak saat itu serangan sistematis pun dimulai dan pembentukan imperium Arab tak bisa dihindarkan. Dengan demikian, pembentukan kekuasaan yang luas itu lebih menjadi tuntutan keadaan bukan suatu yang telah disusun sebelumnya.

Islam yang menaklukan daerah utara bukanlah Islam agama tetapi Islam negara. Maka itu, Arabisme yang menang terlebih dahulu bukan Islamisme. Itu terbukti bahwa konversi penduduk asli kepada Islam baru terjadi pada abad kedua dan ketiga. Setelah Islam agama dan negara mapan, barulah Islam budaya muncul dan berkembang mengiringi penaklukan militer dengan memasukkan khazanah peninggalan Suriah-Aramaik, Persia, dan Yunani. Berkat Islam kawasan Timur Jauh telah memperoleh kekuasaan politik yang dulu pernah mereka miliki juga mereka berhasil meraih kejayaan intelektual klasik mereka.

Penaklukan Suriah

Perang Mu’tah pada zaman Nabi menjadi letupan pertama antara Islam dan kerajaan Timur romawi yang dipimpin Heraklius dan baru berakhir ketika Byzantium jatuh ke tangan Islam pada tahun 1453.

Seusai perang Riddah, pada musim gugur 633. Tiga pasukan yang dipimpin oleh Amr bin Ash, Yazid bin Abi Sufyan, dan Syurahbil bin Hasanah bergerak ke utara dan mulai menyerang Suriah bagian selatan dan tenggara. Jumlah pasukan gabungan itu sebanyak 3000 prajurit dan menjadi 7500 orang ketika pasukan Abu Ubaydah bergabung dan Abu Ubaydah memimpin pasukan gabungan tersebut. Sementara itu Khalid bin Walid bersama 500 para veteran Riddah ditugaskan oleh Abu Bakar untuk membantu pasukan yang berada di Suriah. Menempuh waktu 18 hari dengan kondisi perjalanan yang serba sulit secara dramatis dan mengejutkan Khalid tiba di Damaskus dan lengsung berhadapan dengan pasukan Byzantium, dalam satu penyerbuan Khalid berhasil mengalahkan pasukan Kristen Gassan. Beberapa pertempuran yang dimenangkan membuat jalan Khalid-yang menjadi komendan tertinggi pasukan gabungan-semakin mulus. Jalan menuju kota metropolis Damaskus di Suriah berhasil dibersihkan dengan mengalahkan musuh di Marja Shufar. Pada akhirnya Damaskus menyerah pada september 635, setelah dikepung selama 6 bulan.

Sementara itu Heraklius telah menghimpun 50.000 prajurit di bawah kepemimpinan saudaranya, Theodorus. Namun semua upaya Byzantium kandas dan saat itulah nasib Suriah berakhir dan untuk selamanya jatuh kepada kekuasaan imperium Timur.

Suriah kini terbagi dalam empat wilayah militer megikuti pembagian propinsi Romawi dan Byzantium sebelum menaklukan. Keempatnya adaah, Damaskus, Himsh, Yordania, yang meliputi Galilea, hingga gurun Suriah dan Palestina. Dari Suriah, para pasuka Islam membanjiri Mesir untuk menaklukan daerah bagian Afrika utara. Penetapan Suriah sebagai markas utama memungkinkan terjadinya serbuan ke Armenia, dan Mesopotamia utara, Georgia dan Azerbaijan. Dengan bantuan pasukan Suriah, spanyol yang berada di pinggiran benua Eropa jatuh ke dalam kekuasaan Islam yang semakin meluas kurang dari seratus tahun setalah Nabi wafat.

Penaklukan Irak dan Persia

Setelah Yarmuk ditaklukan dan Suriah berhasil dikuasai, Umar mengirim Saad bin Abi Waqash ke Irak, dengan 10.000 pasukan, Saad berhadapan denga Rustam-administrator kejaan Persia- di Qadisiyah. Pada bulan juni, cuaca sangat panas dan gelap karena badai gurun. Pasukan Saad berhasil membuat Rustam terbunuh dan pasukan Sasaniyah kocar-kacir. Sa’ad disambut baik oleh para petani Aramia seperi dixambut baiknya pasukan Islam oleh para petani Suriyah. Alasannya sama, orang Kristen pribumi telah diperlakukan buruk oleh orang-orang zoroaster. Bulan Juni 637, Sa’ad melenggang memasuki ibu kota dengan penuh kemenangan karena kota itu telah ditinggal oleh raja dan pasukannya.

Penaklukan pertama yang menentukan atas Persia membutuhkan waktu sekitar satu dekade, pasukan Islam menghadapi pertarungan yang lebih sengit ketimbang di Suriah. Dalam pertempuran tersebut, sekitar 35.000 sampai 40.000 dari perempuan, anak-anak, dan budak ikut terlibat. Baasa Arab menjadi bahasa resmi, bahasa pergaulan, dan sampai batas tertentu menjadi bahasa sehari-hari.

Sementara pasukan Arab yang dikomandoi Sa’ad bergerak ke timur, pasukan lain di bawah komando Amr bin Ash beroperasi ke Barat. Yang terakhir ini berhasil mengislamkan orang-orang di sekitar lembah sungai Nil dan orang-orang berber di Afrika Utara. Ekspansi orang Arab kini meluas mulai membentuk sebuah kerajaan besar yang luasnya menyamai kkekuasaan Alexander, dengan pengawasan oleh khalifah dari Madinah.

Penaklukan Mesir, Tripoli, dan Barkah

Faktor penting yang menarik minat orang Arab untuk menguasai lembah Nil sejak awal ekspansinaya adalah karena posisi yang strategis-terletak di antara Suriah dan Hijaz, tanahnya yang subur-menjadi lumbung Konstantinopel-, dan negeri itu adalah pintu masuk ke Afrika Utara.

Penaklukan Mesir dilakukan dengan cara yang sistematis, tidak sporadis. Benteng pertama yang digempur pasukan Islam adalah al-Farama (Pelusium), kota kunci menuju Mesir timur. Pasukan Amr mendapat bala bantuan dari pasukan Zubayr bin Awwam sehingga pasukan Arab kini berjumlah 10.000 untuk melawan pasukan Byzantum yang sebanyak 20.000, belum termasuk pejaga benteng yang berjumlah 5000. Ketika sedang mengepung Babilonia, pada bulan Juli 640 di sana tentara Byzantium kalah total. Setalah menang dan memaksa Cycrus-salah satu bawahan Heraklius- untuk membayar upeti. Namun, Iskadariyah, sebagai kota terkuat setelah Konstantinopel masih belum terjamah.

Setelah Heraklius meninggal dunia, cucunya Constantine II menggantikan posisinya.cycrus kembali ke Islandariyah dan mengadakan perjanjian damai dengan Amr bin Ash.  Constantine mengesahkan perjanjian Iskandariyah yang berarti penyerahan satu provinsi terkaya ke tangan bangsa Arab.

Tidak lama sebelum wafat Umar mengangkat Abdullah bin Abi Sarh sebagai pengganti Amr bin Ash. Tidak puas dengan kebijakan baru, pada akir 645, orang-orang Iskandariyah meminta bantuan kepada raja Contantine, yang kemudian mengirimkan 300 armada laut di bawah komando Manuel, asal Armenia untuk merebut kota itu. Saat iti 1000 pasukan Arab dibantai dan Byzantium kembali merebut Iskandariyah. Lalu Amr bin Ash segera ditempatkan untuk berhadapan dengan pasukan musuh di Nikiu, yang menjadi kekalahan terbesar Byzanitium. Pada awal 646, Iskandariyah utnuk kedua kalinya berhasil dikuasai. Mesir kembali berada dalam kekuasaan Islam.

Jatuhnya Mesir membuat berbagai proinsi Byzantium rentan akan serangan musuh. Amr bergerak memimpin pasukan berkudanya ke Barat menuju Pentapolis dan menguasai Barkah tanpa perlawanan berarti. Penerusnya, Abdullah, melanjutkan ekspedisi dan menaklukan Tripoli dan menaklukan sebagian Afrika beserta ibu kotanya, Kartago. Pada 652, Abdullah melangsungkan berbagai perjanjian dengan orang-orang Nubia, yang terdiri dari orang Libya dan Negro, kerajaan Kristen ini tidak pernah mau tunduk kepada Islam dan menjadi penghalang perluasan Islam menuju wilayah Selatan yang lebih jauh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s