Sejarah Bangsa Arab (Bab 10-Kekhalifahan Sebagai Lembaga Politik)

Abu Bakar ditunjuk sebagai penerus Muhammad (8 Juni 632) melalui pemilihan yang melibatkan para pemimpin masyarakat Islam yang berkumpul di Madinah. Sejak itu, Abu Bakar digelari khalifah. Umar sebagai pengganti Abu Bakar ditunjuk oleh Abu Bakar sendiri sebagai penerusnya, Umar digelari sebagai amir al-mukminin (panglima orang-orang beriman). Menjelang wafatnya, Umar menetapkan dewan formatur yang beranggotakan enam orang, yaitu Ali, Utsman, Zubair, Thalhah, Saad, Abdurahman bin Auf. Pembentukan dewan ini disebut sebagai al-syura yang meliputi enam sahabat yang paling tekemuka.

Pada musyawarah ini, Utsman terpilih sebagai khalifah mengungguli Ali, dari ketiga khalifah ini tidak ada yang mendirikan sebuah dinasti. Setelah Utsman wafat, Ali menjadi penggantinya. Secara otomatis dunia Islam mengakui kekhalifahannya. Persoalan pertama Ali menyingkirkan dua saingan utmanya yaitu Thalhah dan Zubair yang mewakili kelompok Makkah dan Irak. Aisyah, istri Nabi yang masih muda bergabung dengan pasukan Zubair dan Thalhah dalam memberontak kepada Ali. Pada 9 Desember 656, Ali berperang dan mengalahkan pasukan gabungnan dalam sebuah pertempuran yang dikenal dengan perang Jamal (unta). Saat itu Aisyah tertangkap dan diperlakukan dengan sangat terhormat ia dikirim kembali ke Madinah. Zubair dan Thalhah gugur dalam peperangan tersebut. Dengan begitu berakhirlah peperangan pertama Ali.

Langkah pertama yang dilakukan Ali adalah memindahkan pusat ibu kota ke Kufah dan memecat para pejabat yang dulunya pernah diangkat Utsman. Namun Ali tidak memerhatikan Muawiyah, gubernur Suriah dan kerabat Utsman. Karena kemudian Muawiyah menuntut dan melawan Ali, ia menyudutkan Ali dalam dilema, menyerahkan pembunuh Utsman atau menerima status sebagai orang yang bertanggung jawab atas kematian Utsman dengan itu Ali harus turun dari jabatannya. Persoalan sudah bukan lagi masalah pribadi tetapi apakah Kufah atu Damaskus, Irak atau Suriah yang memegang posisi tertinggi dalam pemerintahan. Madinah telah tersingkir dari percaturan politik dan pusat pemerintahan telah bergerak ke arah utara

Di dataran terbuka Shiffin, sebelah selatan Raqqah, di tepi besar sungai Efrat, dua pasukan akhirnya saling berhadapan. Mereka menjalanai pertempuran dengan setengah hati, ketika Ali hampir memenangkan pertempuran, Amr bin Ash yng dikenal licin sebagai pasukan Muawiyah mengacungkan salinan al-Quran yang bertanda ingin menghentikan bentrokan senjata. Karena desakan pendukungnya, Ali menerima usulan Muawiyah untuk melakuka arbitrase dalam persoalan mereka demi menyelamatkan jiwa umat Islam.

Berdasarkan pertimbangan, Abu Musa al-Asyari yang dikenal shaleh mewakili pihak Ali dan Amr bin Ash yang terkenal sebagai politis ulung pada pihak Muawiyah. Apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa ini sulit dipastikan, berbagai versi sejarah muncul dengan beragam sumber yang berbeda. Riwayat yang ada mengatakan bahwa mereka sepakat untuk memecat kedua pemimpin mereka (Ali dan Muawiyah) sehingga membuka jalan bagi orang baru, tapi setelah Abu Musa menyatakan memecat Ali, Amr bin Ash malah mengukuhkan Muawiyah sebagai khalifah. Dalam riwayat ini terlihat bahwa adanya unsur pengkhianatan dari pihak Muawiyah.

Ada kerugian lain pada Ali karena menerima tawaran arbitrase, yaitu menurunnya sejumlah besar pendukunganya. Kelompok Khawarij (pembelot) demikian kelompok ini disebut, sebuah sekte Islam paling awal menjadi penentang yang mematikan. Di tepi kanal Nahrawan, Ali menyerang mereka dan hampir memusnahkan mereka, tetapi mereka tetap muncul dalam beragam nama dan tetap menjadi duri bagi kekhalifahan Islam sampai dinasti Abbasiyah.

Pada 24 Januari 661, ketika Ali sedang dalam perjalanan ke Masjid Kufah ia terkena hantaman pedang beracun di dahinya. Pedang tersebut mengenai otaknya, diayunkan oleh pengikut kelompok Khawarij, Abdul Rahman bin Muljam.

Dengan meninggalnya Ali (661), pemerintahan yang dapat kita sebut sebagai periode kekhalifahan republik telah berakhir. Empat khalifah pengganti Rasulullah yang dikenal sebagai Khulafa ur-Rasyidin. Pendiri kehalifahan kedua, Muawiyah menunjuk anaknya Yazid sebagai penggantinya sehingga ia menjadi seorang pendiri dinasti. Kekhalifahan Umayah merupakan dinasti pertama dalam sejarah Islam. Kekhalifahan Umayah (661-750) yang beribukota di Damaskus diganti oleh kekhalifahan Abbasiyah (750-1258) di Baghdad. Kekhalifahan Fatimiyah (909-1171) yang berpusat di Kairo, adalah kekhalifahan Syiah yang paling penting. Kekhalifahan Umayah lainnya di cordova Spanyol berlangsung dari 929-1031. Kekhalifahan terbesar bukan dari bangsa Arab, melainkan dari Turki, yaitu Turki Utsmani di Konstantinopel (1517-1924) pada November 1922, dewan tertinggi nasional di Ankara menjadikan turki sebagai negara Republik, melengserkan Sultan Khalifah Muhammad VI, dan mengangkat saudaranya sepupunya Abd Majid sebagai khalifah, namun tidak menduduki jabatan sultan. Pada maret 1924, kekhalifahan akhirnya dibubarkan.

2 thoughts on “Sejarah Bangsa Arab (Bab 10-Kekhalifahan Sebagai Lembaga Politik)

  1. Jaka, makasih atas tulisannya, tapi ada yang belum diceritakan:
    Ketika Yazid bin Muawiyah naik tahta, karena kebenciannya pada keluarga Nabi, ia membantai cucu Rasulullah, Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib, beserta keluarganya dalam penyerangan di Karbala, Iraq. Mereka dibunuh secara kejam. Hari itu diperingati sebagai hari Assyura.
    Sedih, marah, marah sekali, ketika mendengar cerita itu. Betapa ketika Rasulullah sudah tiada, keluarganya dimusuhi bahkan dibunuh.
    Tapi yang aku ngga ngerti, kenapa ngga banyak muslim yang tau tentang hal ini. Ngga ada yang bersedih. Di buku sejarah ngga pernah dikemukakan. Waktu kita SD sampai SMA, kisah Baginda Nabi yang diceritakan guru agama cuma sampai beliau wafat lalu kekhalifahan sahabat. Perjuangan keluarga nabi ngga pernah diceritakan.
    Gimana menurut Jaka?

    • maaf bila sebelumnya, knp saya ga mncantumkan pristiwa karbala karena dlm tulisan saya yg ini sbtulnya cuma hasil resume dari buku ‘Sejarah Arab’ karya Philip K. Hitty. krena karbala cuman sdikit bgt disinggung disini jadinya hasil resumenya jga sdikit bahkan lbh sdikit lagi malah.
      mnurut sya mngkin knp peristiwa karbala ga banyak dcritakan wktu sd smpai sma itu krena posisi Yazid dan Dinasti Umayah ada di posisi Sunni sdangkan huseyn dn pndukungnya cnderung ke Syiah, juga ditambah lagi posisi mreka berdua dan para pndukungnya itu sama2 muslim. mungkin kalo buat anak sd dan sma, ga diberikan sajian sesungguhnya mengenai sejarah agar pikiran mereka ga rumit akan bentrokan yang terjadi sesama muslim, buat mereka sepertinya mencritakan kebaikan2nya aja sudah cukup agar punya rasa optimisme dan memandang baik komunitas Islam. ya tpi walaupun bgitu, saya jga stuju dengan anda bahwa dlm kenyataannya ttp aja kebenaran sebetulnya lbh berpihak ke Huseyn dan Yazid bisa dibilang sebagai tertuduh atas pembunuhan huseyd dan beberapa keluarganya. makasih ya billa atas komennya. kalo masih mau diskusi ya silakan aja jangan sungkan sya sgt senang ko🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s