Sejarah Bangsa Arab (Bab 11-Kekhalifahan Umayah)

Kelahiran Dinasti Umayyah

Mu’awiyah dinobatkan sebagai khalifah pada tahun 40 H/660 M dengan provinsi Damaskus sebagai ibukota kerajaan Islam. Walaupun begitu, Mu’awiyah memiliki kekuasaan terbatas karena tidak semua  wilayah Islam mengakui kekhalifahannya. Para penduduk Irak mengangkat Hasan pura Ali bin Abi Thalib sebagai penerus yang sah. Hasan-yang dalam waktu lama tidak mau mengakui jabatan Mu’wiyah-lebih memilih Makkah dan Madinah sebagai tempat peristirahatannya yang aman bersama para haremnya dan menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada Mu’awiyah.

Adiknya, Huseyn juga lebih memilih Madinah untuk hidup tenang, Huseyn selama masa pemerintahan Mua’wiyah maupun anaknya, Yazid tidak mau mengakui kekuasaan Umayah. Lalu di Irak, Huseyn diangkat sebagai khalifah pengganti Hasan. Ia pergi ke Kufah untuk memenuhi seruan para pendukungnya namun ia dihadang oleh Umar putra Saad bin Abi Waqash yang merupakan anak buah dari Muawiyah, dengan membawa 4000 pasukan. Huseyn yang hanya didampingi sekitar 200 orang di bantai pasukan Umar di Karbala (10 Oktober 680), kepalanya dipenggal dan di bawa ke Damaskus.

Darah al-Huseyn yang tertumpah menjadi cikal bakal pertumbuhan ‘Mazhab’ Syiah. Sehingga hari kematiannya, 10 Muharram menjadi tanggal lahirnya mazhab ini. Sejak saat itu, kedudukan imam yang diwariskan turun temurun kepada keturunan Ali menjadi salah satu dogma dalam ajaran Syiah yang setara dengan kenabian Muhammad dalam Islam. Peristiwa karbala, telah menjadikan syiah akan menuntut balas dan menjadikan salah satu faktor jatuhnya Dinasti Umayyah.

Walaupun Dinasti Umayyah berhasil meminggirkan kelompok Ali, tetapi ada satu lagi pihak yang juga mengklaim kekhalifahan yang dipimpin oleh Abdullah bin Zubayr, keponakan Aisyah yang juga merupakan putra Zubayr bin Awwam. Saat itu ia hidup tenang di Madinah. Ketika penduduk Hijaz memproklamirkan Abdullah sebagai pemimpinnya, Yazid mengirim pasukan untuk menumpas gerakan Abdullah. Kisah perang tiga hari yang meluluhlantahkan kota Nabi menjadikan Ka’bah terbakar, Hajar Aswad terbelah menjadi tiga, dan rumah Tuhan menjadi seperti ‘gaun robek seorang wanita yang sedang meratap’.

Setelah kematian Yazid dan penarikan mundur pasukan dari tanah Arab, Abdullah bin Zubayr kini diproklamirkan sebagai khalifah tidak hanya di Hijaz tetapi juga di Irak, Mesir, Arab Selatan, dan sebagian wilayah Suriah. Marwan bin Hakam sekarang menduduki kusri khalifah, ia mengirim jendral bertangan besi, Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqafi untuk mengahancurkan Abdullah bin Zubayr. Makkah dikepung selama enam bulan dan diserang dengan pelontar yang efektif. Abdullah bin Zubayr berperang dengan gigih dan akhirnya terbunuh. Setelah kekalahan itu, banyak dari para pemberontak yang pergi meninggalkan Makkah dan Madinah untuk bergabung dengan pasukan yang beroperasi di Afrika Utara. Sejak saat itu, sejarah Arab lebih menggambarkan pengaruh dunia luar terhadap Semenanjung Arab, bukan sebaliknya.

Kekuasaan Mu’awiyah Model Pemerintahan Arab

Setelah berhasil mengalahkan oposisinya, Mu’awiyah (661-680) dengan leluasa mengerahkan energinya untuk menghadapi musuh Islam di sebelah barat laut, Byzantium. Mu’awiyah berhasil menguasai galangan kapal Byzantium yang mungkin merupakan yang kedua setelah galangan kapal Mesir. Ia membangun armada angkatan laut Islam yang berisi orang Yunani-Suriah yang sudah terbiasa melaut.

Pemerintahan Muawiyah tidak hanya ditandai dengan terciptanya konsolidasi internal, tetapi juga perluasan wilayah Islam. Pada masa pemerintahannya, dilakukan ekspansi ke Afrika Utara yang dipimpin oleh Uqbah bin Nafi. Lalu penaklukan wilayah Khurasan dan Bukhara di Timur. Jadi, Muawiyah bukan saja menjadi bapak sebuah dinasti tetapi juga pendiri kekhalifahan kedua setelah Umar bin Khattab.

Untuk mengamankan tahtanya dan memperluas wilayah Islam, Muawiyah sangat mengandalkan orang Suriah, yang terdiri dari bangsa Yaman. Ia mencetak bahan mentah pasukan Suriah menjadi satu kekuatan militer Islam yang terorganisir dan berdisiplin tinggi. Meski dari permukaan tampak kacau tetapi sebenarnya ia berhasil membangun sebuah negara yang stabil dan terorganisir.

Pada 679, Muawiyah menunjuk anaknya Yazid sebagai penggantinya serta memerinahkan utusan dari berbagai provinsi untuk datang dan berbaiat. Sejak itulah Muawiyah memperkenalkan sistem pemerintahan turun temurun yang setelah itu diikuti oleh dinasti-dinasti besar Islam.

Dalam diri muawiyah, seni berpolitk berkembang hingga tingkatan yang mungkin lebih tinggi ketimbang khalifah-khalifah lainnya. Menurut para penulis biografinya, nilai utama yang ia miliki adalah kemampuan luar biasa untuk menggunakan kekuatan yang hanya ketika dipandang perlu dan sebagai gantinya banyak menggunakan jalan damai. Seperti dalam perkataannya, “Aku tidak akan menggunakan pedang ketika cukup menggunakan cambuk, dan tidak memakai cambuk ketika cukup dengan lisan.”

Permusuhan dengan Byzantium

Sebelum posisinya mantap, Muawiyah melakukan gencatan senjata dengan Raja Constantine II (641-668 )namun setelah kuat ia mulai menyerang Byzantium dari darat dan laut bahkan lebih gigih dari para khalifah sebelumnya. Dengan motif mendapatkan rampasan perang pasukan Umayah tiga kali menyerang Konstantinopel, hanya satu kali berhasil mencapai dinding tinggi kota yang berlapis tiga. Serangan pertama di bawah komando putranya, Yazid (49 H/669 M) dengan gigih ia melawan raja Byzantium baru yang bersemangat, Constantine IV (668-685). Menurut legenda, Yazid memperlihatkan keberanian dan kegigihannya sehingga dijuluki sebagai fatah al-arab (pahlawan muda arab). Tapi, pahlawan paling legendaris dalam pengepungan itu adalah Abu Ayyub al-Anshari yang sudah tua, pembawa panji Nabi, yang kehadirannya dimasudkan sebagai pembawa berkah. Beliau meninggal akibat disentri dan dikuburkan di dekat dinding Konstantinopel. Makamnya menjadi tempat suci bahkan oleh orang Yunani-Kristen. Sehingga Abu Ayub dikenal sebagai orang suci tiga bangsa.

Serangan kedua ke Konstantinopel dikenal sebagai perang tujuh-tahun (54-60 H/674-680 M), ketika Muawiyah meninggal (680) armada angkatan laut Arab mundur dari perairan Bosporus dan Aegea, namun penyerangan ke daerah Romawi sama sekali tidak berhenti. Pengepungan Konstantinopel yang kedua dan terakhir (716-717) pada masa pemerintahannya di bawah pimpinan saudara khalifah, Maslamah yang keras kepala. Maslamah kalah oleh Raja Leo dari Isauria dan kota terselamatkan dari serang pasukan Islam. Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah ia memerintahkan agar Maslamah kembali ke Suriah. Sejak itu bangsa Arab tak lagi ada yang berusaha mendatangi Konstantinopel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s