Manusia dan Kebahagiannya

Teman-teman yang budiman, mungkin saat-saat yang selalu kita inginkan hadir di dalam hidup kita adalah ketika kita merasakan kebahagiaan. Hanya di saat bahagialah kita mampu merasakan ketenangan dan ketentraman. Ketika bahagia tiba, maka tidak ada tempat untuk resah, gelisah, galau, ataupun sedih di hati kita. Maka itu, bukanlah kebahagiaan haruslah menjadi prioritas dalam hidup kita? Ya memang begitu seharusnya, setidaknya kita harus punya kebahagiaan untuk diri kita sendiri sebelum bisa membaginya kepada yang lain.

Tetapi, memang hidup tidak pernah berjalan mulus dan ideal. Kadang tanpa kita sadari, apa yang kita anggap bahagia sebetulnya bukanlah kebahagiaan sejati. Kadang, itu hanya kebahagiaan yang berada di alam impian dan wilayah ‘andai-andai’. Seperti kehidupan saya contohnya…

Entah berapa tahun yang lalu, pokoknya ketika saya masih kelas 3 Mts (mts itu setara smp), melihat teman-teman telah memiliki handphone dan begitu asyiknya mereka main game, smsan, atau teleponan timbulah rasa ingin untuk punya handphone, ya setidaknya biar ga keliatan norak-norak amat kan. Saya bergumam, ‘sepertinya saya akan bahagia kalau punya hp’. Oke, ternyata sampai kelas 1 SMA saya juga tidak punya hp! Barulah ketika ingin naik kelas 2 saya baru bisa beli Hp, ya itupun setelah nabung super lama dan harus jajan semengenaskan mungkin.

Saya mungkin bahagia, tetapi sepertinya saya tidak terlalu bahagia. Perjuangan untuk beli Hp saja sudah membuat saya irit sana irit sini, melelahkan dan menyebalkan. Terlebih, selang setahun kemudian ternyata teman-teman saya punya Hp yang lebih canggih. Sip, sekarang sudah tidak punya harapan untuk membeli Hp yang lebih bagus. Biarkan saja, yang terpenting bisa sms, telepon, dan main game!

Sekarang, pikiran saya malah ke benda yang jauh lebih mahal. Ya, motor! Capek juga harus ngebis, apalagi harus jalan terlebih dahulu untuk naik busnya dan jalan lagi setelah turun dari bus untuk sampai ke SMA yang saya tuju. Pulang-pergi jadi total perhari jalan 4 kali minimal ditambah bawaan tas yang memang berat, kasihan pundak dan betis rasanya. Dalam hati saya mulai berkata, ‘mungkin dengan motor, hidup saya menjadi lebih ringan dan tentu saya akan bahagia!’. Yah, walaupun sepertinya itu hanya harapan kosong melihat harga motor memang mahal.

Ketika pertengahan 3 SMA, pikiran saya dari motor agak terdistraksi, sedikit lagi ujian PTN! Biasa dan maklum, kita harus belajar giat untuk meraih perguruan tinggi yang dicita-citakan. Untuk ini pun saya bergumam, ‘Sepertinya dengan kuliah di Arsitektur UI akan membuat saya bahagia’. Berbekal kegagalan di SIMAK UI dan UMB, akhirnya saya lulus juga lewat SNMPTN. Ya, saya sangat bahagia untuk pertama kali melihat pengumuman. Namun, beberapa bulan di sana, beban dan keinginan saya mulai bertambah. Saya jauh dari kebahagiaan, keinginan awal saya untuk mempunyai motor semakin besar. Naik kereta ekonomi yang sistem ‘kekeluargaannya; cukup erat karena anda berdesak-desakan dan bertukar keringat dengan samping kanan-kiri anda kerap terjadi. Itu membuat saya sering kesal apalagi jika ditambah bawaan tas yang berat dan pikiran yang penat. Satu lagi yang membuat saya suram adalah, ternyata arsitek bukan passion saya! Kebahagiaan 2 hari karena membaca pengumuman lulus harus dibayar kemurungan 1,5 tahun di perkuliahan. ‘rasanya kalau saya keluar dari Arsitek saya akan bahagia!’ sekarang itu keinginan saya.

Sedikit-sedikit keinginan saya terkabul. Akhirnya saya punya motor, walaupun harus kredit. Itu berarti selama masa kredit, sekali lagi saya harus menekan pengeluaran saya dan mencari sesuatu yang dapat menghasilkan uang. Sekali lagi itu menyebalkan, nyatanya mempunyai motor tidak sebahagia yang saya kira. Satu lagi, akhirnya saya keluar juga dari arsitek. Rasanya seperti burung yang lepas dari sangkar besi yang tajam-tajam dan dialiri setrum. Mungkin berlebihan, tapi itu yang saya rasa. Singkat cerita, masuklah saya ke jurusan saya yang sekarang (PAI UIN). Tapi, sekali lagi saya merasa tidak begitu bahagia. Kadang merenung, berarti saya mempunyai hutang 2 tahun dan konsekuensinya banyak hal-hal penting dalam hidup juga akan bergeser 2 tahun. Contohnya, mungkin saya akan menikah telat 2 tahun dari rencana semula! Yah mengesalkan memang.

Pada di titik ini kadang saya bertanya pada diri sendiri. Apakah sebetulnya saya pernah merasakan kebahagiaan sejati?? Hati saya mulai curiga. Apalagi, semakin dewasa, kebutuhan dan keinginan makin beragam dan tentunya nilai mereka semakin mahal dan kadang sulit dijangkau.

Sebut saja, mungkin yang ada dipikiran kita sekarang adalah, ‘saya akan bahagia kalau lulus menjadi sarjana’ lalu, ‘saya akan bahagia apabila mendapat kerjaan yang gajinya besar’. Ketika sudah bekerja, si pria bergumam, ‘saya akan bahagia bila memiliki istri yang shalehah, cantik, cerdas, dan pengertian’ dan si wanita pun berkata, ‘saya bahagia apabila nanti suami saya sholeh, ganteng, cerdas, baik, kaya, dan romantis’. Lalu setelah menikah terpikirkanlah, ‘bahagianya jika punya mobil’ dan ‘sungguh bahagia jika sudah beli rumah’. Andai saja mobil dan rumahnya itupun harus kredit, lihat betapa susahnya itu semua. juga kalau saya dengar dari yang sudah menikah, mereka akan disibukkan oleh tangisan bayi mereka. ibu mengurangi waktu tidurnya dan ayah tergerus waktu istirahatnya. Belum lagi untuk pendidikan anak-anak kita kelak. Mungkin pada kondisi ini, kita sebagai orang tua berkhayal, ‘mungkin ketika mereka dewasa, kelak kita akan bahagia’. Setelah anak dewasa, mungkin kita sudah menjadi tua, sendi-sendi rasanya sudah jemu dengan kerja, lantas terus kita bergumam, ‘sepertinya pensiun akan membuat kita bahagia’. Pensiun pun tiba, malah saya lihat mereka yang pensiunan akan menjalani waktu yang membosankan di rumahnya dan mungkin ketika tua kita akan menjadi lebih Islami, ya karena badan sudah beraroma kayu nisan dan mempersiapkan untuk mati mungkin aktivitas paling bernilai untuk kita. Yah, di saat itupun pada akhirnya kita masih saja berandai-andai, “Mungkin hanya dengan mati kita akan bahagia”.

Ya itulah manusia, sepertinya sudah menjadi kodratnya kalau kita adalah makhluk yang tak pernah puas. Mau ini mau itu, butuh ini butuh itu. Kebahagiaan yang kita andai-andaikan sepertinya tidak pernah mewujud menjadi kebahagiaan yang sejati. Di waktu bersamaan ketika rasa bahagia itu timbul karena tercapainya keinginan selalu terpikirkan keinginan-keinginan lain lagi yang lebih besar. itu yang membuat kita tak bahagia, setidaknya itulah yang membuat saya tak bahagia. Kalau kita renungi sekali lagi, ternyata kebahagian di dalam kata ‘andai’ itulah yang membuat kita tidak pernah merasakan kebahagiaan bahkan sampai mati sekalipun.

Jadi dimanakah kebahagiaan sejati itu? Rasanya, kebahagiaan sejati itu hadir ketika kita betul-betul mensyukuri apa yang kita punya saat ini. Handphone yang kita punya, pendidikan saat ini, kecerdasan, keluarga, sahabat, uang yang pas-pasan diiringi wajah yang pas-pasan pula itulah yang wajib kita syukuri. Karena itulah yang nyata. Mobil mewah, rumah bagus, pasangan sempurna itu masih dalam benak dan khayalan. Masa depan itu tak pasti maka tak dapat dijadikan patokan dan hanya pada saat inilah dengan apa yang kita punya kita bisa menemukan kebahagiaan sesungguhnya dalam hidup. Ya sepertinya itulah yang saya baca di buku-buku tentang kehidupan. Saya juga masih tahap belajar, tidak berarti saya sudah menjadi bijak saat saya menulis ini. Tetapi karena mengingatkan adalah tugas sesama manusia, itulah yang saya tuju terlebih untuk mengingatkan diri saya sendiri akan pentingnya kita mensyukuri apa yang ada demi mendapatkan kebahagian sejati. Semoga bermanfaat kawan.

Terinspirasi dari buku semacam, Risalah an-Nuur,  Cacing dan Kotoran Kesayangannya, lentera Hati dll

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s