Kalilah wa Dimnah-Dari Pertemuan Sampai dengan Kelahiran Kitab Kalilah wa Dimnah

Pertemuan Baidaba dengan Raja Dabsyalim

Singkat cerita, Baidaba sudah dihadapan raja dan mulai mengelurkan kata-kata bijaknya. “setidaknya ada empat hal yang telah membuat manusia menjadi lebih istimewa dibandingkan binatang, keempat hal itu adalah kebijaksaan, pengendalian diri, kecerdasan dan keadilan. Kebijaksanaan terdiri dari berbagai unsur, yaitu ilmu pengetahuan, budi pekerti, dan sikap saling menghargai. Pengendalian diri juga terdiri dari beberapa macam, rasa malu, melindungi diri sendiri, menjaga martabat, dan sikap selalu menjauhi perkara yang nista. Penyokong kecerdasan adalah, kesabaran, ketabahan, dan keberanian untuk meninggikan harkat martabat manusia. Sedangkan keadilan terdiri dari kejujuran, perbuatan baik, kesadaran diri yang berkesinambungan dan budi pekerti yang luhur. Keempat itulah yang sering disebut sebagai ‘kebaikan’.

Kata-kata bijak dari raja-raja; Raja Cina, menjaga mulut untuk tidak mengatakan sesuatu hal jauh lebih baik daripada harus menjilat kembali air liur yang telah diludahkan karena terlanjur melontarkan komentar akan sesuatu dan ternyata kata-kata itu terbukti salah.

Raja Hindustan, adapun aku benar-benar terkejut jika menemukan seseorang yang melontarkan sesuatu, meskipun hanya satu kalimat, padahal apa yang dikatakannya itu sama sekali tidak bermanfaat baginya.

Raja Persia, aku lebih meilih menjaga lidahnya karena menurut pendapatku, semua ucapan yang terlontar dari mulutku akan menjadi penguasa atas diriku, sementara semua kata-kata yang masih kusimpan di dalam hatiku, akulah yang menjadi penguasanya.

Raja Romawi, aku tak pernah sekalipun menyesali sesuatu yang tak pernah kuucapkan. Karena aku selalu menyesali sesuatu yang berulang kali kukatakan kepada orang lain. Menurut pendapatku, sikap menahan diri untuk mengumbar omongan yang dilakukan oleh para raja jauh lebih baik bagi mereka daripada sikap gemar meracau yang sebenarnya sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka.

Singkat cerita setelah habis menceramahi dan raja tersebut marah karena diperlalakukan seperti itu oleh Brahmana maka ia memutuskan agar Brahmana itu dipenjara.

Karena suatu dan lain hal, nasihat Baidaba kembali terngiang di telinga raja. Sehingga kini raja sadar akan kelalilamannya dalam memerintah. Setelah raja menyadari kesalahannya, akhirnya memutuskan agar Baidaba dibebaskan bahkan diangkatnya menjadi wazirnya.

Baidaba Menjadi Wazir

Singkat cerita, Baidaba mengumpulkan muridnya dan menyampaikan pelajaran hikmahnya. Ia berkata,” seseorang tidak akan mencapai derajat yang tiggi jika ia belum menempuh tiga hal: Jalan yang pertama adalah dengan melewati aral yang melitang, kedua denagn kehilangan harta benda, dan ketiga dengan meragukan keyakinannya”.

Ia juga berkata pada muridnya bahwa ia sekarang bebas mengarang kitab apapun yang berguna dan juga menyuruh para muridnya untuk menuliskan ilmunya agar sang filosof mengetahui sejauh mana kedalaman ilmu yang dimilki para muridnya.

Kelahiran Kitab Kalilah wa Dimnah

Setelah dipercaya sebagai wazir kepercayaan raja akhirnya sang raja memerintahkannya untuk membuat sebuah kitab yang menggambarkan hubungan baik yang terjalin antara dirinya sebagai raja dengan para rakyatnya secara jujur dan lengkap, kalau perlu, setelah membaca kitabya maka para rakyatnya mengetahui segala hal tentang kepemeritahan Raja Dabsyalim.
Kitab itu juga harus mengandung beberapa hal sekaligus, yaitu hakikat arti kesungguhan dan kerja keras, hikmah, filsafat, seta sekaligus juga dapat menghibur siapa yang membacanya.

Setelah dibebani tugas yang berat itu, baidaba menyanggupinya dengan syarat meminta jangka waktu setahun untuk menciptakan karyanya itu dan rajapun menyetujuinya malah mempersilahkan Baidaba untuk membaca semua buku yang ada di kerajaan untuk memperlancar pekerjaan beratnya itu.

Hari demi hari, bulan berganti bulan akhirnya sampailah setahun yang artinya tenggat waktu untuk menyelesaikan kitab tersebut. Ketika raja menanyai apakah kitab yang dimintanya sudah selesai maka Baidaba dengan yakin mengatakan bahwa kitab gubahannya telah selesai.

Kitab itu dinamakan dengan nama yang unik, yaitu ‘Kalilah wa Dimnah’. Kitab itu dibacakan di depan kerajaan yang didengarkan oleh khalayak ramai. Setelah mendengar penuturan Baidaba sang raja sangat puas karena itulah isi kitab yang diidam-idamkannya. Maka sang raja pun meminta filosof itu untuk meminta sesuatu agar raja dapat mengabulkannnya. Ternyata yang diminta Baidaba adalah agar sang raja dapat menjaga kitab itu dengan baik, jangan sampai kitab itu sampai ke tangan orang yang salah. Dengan senang hati sang raja memenuhi permintaan Baidaba dan memutuskan agar kitab fenomenal itu disimpan di tempat paling aman dalam Graha Kearifan yang merupakan semacam ruangan untuk menyimpan karya-karya intelektual kerajaan Hindustan juga tidak dibolehkan kitab itu dibawa keluar sedikt pun dari ruang tersebut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s