Kalilah wa Dimnah-Pencurian Kitab Kalilah wa Dimnah oleh Raja Persia

Kalilah wa Dimnah sampai di telinga Kisra Anusyirwan

Tidak berapa lama setelah kitab Kalilah wa Dimnah dibacakan kepada penduduk Hindustan, akhirnya kehadiran kitab itu didengar oleh Raja Persia, yaitu Kisra Anusyirwan yang memang sangat haus akan ilmu pengetahuan. Dengan kepribadian yang memang sangat menyukai kekayaan pengetahuan, ia segera meminta wazirnya yang bernama Buzurjamhir untuk menunjuk seseorang yang dapat dipercaya untuk mengambil atau menyalin kitab yang katanya merupakan kitab yang ditulis oleh Brahmana paling terkemuka diseluruh Hindustan.

Kisah penunjukan Barzawaih oleh Kisra

Singkat cerita akhirnya sang wazir menemukan orang yang cocok demi memburu kitab yang sekarang menjadi idaman Kisra untuk mendapatkannya. Ia adalah seorang tabib yang berwawasan luas, tersohor di Persia, dan juga menguasai bahasa Hindustan dengan baik. Dengan kemampuan sastranya yang dalam ia dianggap mampu untuk menyelesaikan tugas berat tersebut.

Setelah para astrolog mencari waktu terbaik untuk berangkat dan juga dibekali harta yang cukup banyak, yaitu 20 kantong  yang satu kantongnya berisi sepuluh ribu dinar maka ia memulai perjalanannya ke Hindustan.

Kisah Perburuan Barzawaih di Hindustan

Singkat cerita, Barzawaih berhasil mengakrabkan dirinya dengan para penduduk Hindustan, baik dengan rakyat jelata, cendikiawan, brahmana, dan orang-orang istana kerajaan. Ia memiliki teman baik yang ternyata adalah pemegang kunci ruangan Graha Kearifan di mana kitab Kalilah wa Dimnah disimpan. Setelah nampak sangat akrab akhirnya Barzawaih ingin mengungkapkan jatidiri sebenarnya, sebagai utusan kerajaan Persia yang ingin membawa kitab Kalilah wa Dimnah. Namun sebelum mengungkapkan secara jelas ternyata sahabatnya sudah mengetahui niat temannya yang ingin mengambil suatu barang yang berharga dari kerajaan industan, terutama kitab Kalilah wa Dimnah.

Sang sahabat ini pun berkata-kata kepada barzawaih, “akal budi yang dimiliki oleh seseorang itu mengejewantah dalam delapan hal, keramahan, kedalaman pengetahuan tentang hakikat jati diri dan berusaha untuk melindunginya, ketataan terhadap penguasa sambil berusaha untuk melakukan hal-hal yang direstuinya, keteguhan dalam menjaga rahasia dengan mengetahui siapa saja yang layak untuk tahu mengenai rahasia tersebut, kemampuan bertutur kata santun terhadap para penguasa, kesanggupan untuk menjaga rahasia orang lain, kemampuan untuk menjaga ucapan dengan tidak mengatakan sesuatu yang tidak pada tempatnya kepada seseorang yang tidak tepat, dan keterampilan untuk menahan diri untuk tidak mengucap sesuatu tanpa ditanya ketika orang itu berada di tengah-tengah majlis”

Setelah panjang lebar kedua sahabat itu saling mengeluarkan kata-kata hikmahnya akhirnya sahabat Barzawaih yang juga merupakan penjaga pintu ruangan itu mengizinkan agar Barzaawaih menyalin kitab-kitab yang berharga yang merupakan kekayaan intelektual Hindustan yang paling berharga dan salah satunya adalah kitab Kalilah wa Dimnah. Sepanjang hari siang malam dengan tekun Barzawaih menyalin semua kitab yang dipilihnya dan akhirnya dengan kegigihannya ia berhasil menyelesaikan tugasnya tersebut.

Barzwaih Pulang ke Persia

Singkat cerita, Barzawaih tiba di istana Kisra namun dengan keadaan yang menyedihkan. Raja Kisra yang tidak tega melihat kondisinya lansung memerintahkannya agar ia mengistirahatkan tubuhnya selama seminggu, nanti setelah seminggu barulah ia menyampaikan apa yang didapatnya dari ranah Hindustan.

Seminggu telah habis dan inilah waktu yang ditunggu-tunggu oleh Raja Persia agar Barzawaih menceritakan isi kitab yang dibawanya dari Hindustan, terutama kitab Kalilah wa Dimnah. Setelah kitab itu dibacakan, sang raja sangat terkagum-kagum dan sangat bangga dengan kerja keras dari Barzawaih, lantas utusan itu dipersilahkakn untuk mengambil segala apa yang diinginkannya, namun dnegan segala kerendahan hati ia hanya mengambil satu helai pakaian kebesaran istana. Ia juga memohon satu permintaan yang cukup memilki arti yaitu menyuruh agar wazir Buzurjamhir untuk menuliskan kisah petualangnnya demi mendapatkan kitab Kalilah wa Dimnah dan menempatkan kisah itu di bagian paling awal kitab tersebut.

Dengan senang hati sang Raja menyetujui usul tersebut lantas menyuruh wazirnya untuk segera menyelesaikan apa yang diminta Barzawaih. Juga tanpa perasaan iri sedikit pun sang wazir menerima tugas tersebut. Setelah makalah itu selesai, dibacakanlah kepada semua yang hadir di istana. Sang raja sangat senang dengan apa yang dikerjakan oleh wazirnya tersebut lalu memintanya untuk mengambil apapun yang diinginkan, dengan hormat ia mengikuti dengan hanya mengambil satu helai pakaian kebesaran. Setelah dibacakan kisah petualangan Barzawaih maka acara itu dilanjutkan dengan dibacakannya keseluruhan isi kitab Kalilah wa Dimnah oleh Barzawaih sendiri…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s