Kalilah wa Dimnah-Prakata Penerjemah

Pengantar Kata dari Ibnu Muqaffa

Singkat kata, hanya orang bodohlah yang bersedia menyimpan sesuatu yang sama sekali ia mengerti akan kegunaannya. Disamping harus memahinya apa yang dibaca. Setiap orang juga harus berkewajiban mengamalkan apa yang ia ketahui itu agar ilmunya menjadi bermanfaat. Jika ada seseorang yang mengetahui bahwa di sebuah jalan terdapat mara bahaya, namun orang itu tetap melewatinya juga maka orang itu tetap dianggap sebagai orang bodoh karena ia tak mau mengamalkan pengetahuannya tentang keadaan jalan tersebut.

Ketahuilah orang yang paling tidak dapat dimaafkan atas kesalahannya yang ia perbuat adalah seorang yang mengetahui tentang suatu bahaya namun tidak mau menghindari bahaya itu, baik demi keselamatan dirinya maupun demi kemaslahatan orang lain. Seyogyanya orang alim yang memiliki pengetahuan tentang sesuatu hak untuk memulai pangamalan ilmunya itu dari dirinya sendiri dan bukan dengan mendorong-dorong orang lain untuk mengamalkan sementara dirinya sendiri alpa untuk mengamalkan ilmunya. Permisalan orang yang enggan untuk mengamalkan ilmunya dan hanya menasehati orang lain adalah seperti mata air yang dapat menyediakan bergantang-gantang air untuk orang banyak sedangkan dirinya sendiri tidak pernah sekalipun meminum air tersebut. Juga seperti seeokor ulat sutra yang terus sibuk membuat kepompong untuk dimanfaatkan manusia, sementara dirinya tidak pernah sekalipun mengenakan pakaian berbahan surta yang sebenranya berasal dari dirinya sendiri.

Pernah ada ungkapan yang berbunyi: “Tuhan selalu memberi batas atas segala sesuatu. “Oleh sebab itu barang siapa yang berani melewati batas tersebut berarti ia telah merusak dirinya sendiri.

Dan ada pula sebuah ungkapan lain yang berbunyi, “Barangsiapa hidupnya dicurahkan untuk mengejar dunia dan akhirat sekaligus, maka seluruh hidunya akan menjadi miliknya. “Namun yang perlu diingat bagi siapapun yang ingin berbuat seperti itu, adalah selalu untuk mengingat tiga hal yang harus ia raih, yaitu: pertama, kecukupan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, memliki hubungan baik dengan siapa pun, dan yang ketiga, nama baik yang akan terus lestari setelah orang itu meninggal dunia.

Disamping ketiga hal baik itu, ada pula tiga hal buruk yang harus dijauhi oleh siapapun yang menginginkan kebahagiaan. ketiga hal itu adalah : Kamalasan, kebiasaan menyianyiakan kesempatan, dan sikap untuk selalu memercayai apa pun yang didengar dari orang lain.

Seseorang yang berakal sehat juga harus dapat mengendalikan nafsunya , tidak mudah cepat percaya, tidak melanjutkan suatu perbuatan yang sudah jelas kesalahannya, dan tidak melakukan sesuatu hal sampai jelas baginya sesuatu itu memang benar dan berguna.

Seseorang yang berakal sehat juga harus mengimani semua ketetapan yang telah digariskan oleh Tuhan untuk dirinya, teliti, mencitai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri, dan tidak mengutamakan kemaslahatan pribadinya di atas kesengsaraan orang lain. Karena barang siapa melakukan hal yang terakhir disebutkan itu, maka orang itu pasti akan tertimpa petaka seperti yang menimpa si pedagang yang berlaku lalim terhadap temannya. Berikut kisahnya

Kisah Pedagang Jahat dan Temannya

Dahulu kala ada dua orang sahabat yang bekerja sama untuk menjalankan usaha pertokoannya. Singkat cerita temannya yang jahat berniat untuk mencuri barang dagangan temannya sendiri. Namun karena malam hari gelap ia tidak dapat membedakan mana yang punya dirinya dan temannya itu. Ia lalu menandakan barang temannya itu dengan meletakan bajunya di atas dagangan temannya dengan begitu ia dapat membedakan mana yang punyanya dan punya temannya sehingga tidak terjadi kekelirun dalam mencurinya pada malam nanti. Ketika sore ia pun pulang dengan niat pada malam hari ia akan kembali lagi. Tanpa disengaja, ternyata temannya datang ke toko, ia ingin membereskan barang dagangannya untuk besok pagi dan setelah melihat ada baju temannya di atas tumpukan karung dagangannya maka ia segera meletakan baju tersebut di atas tumpukan dagang milik temannya itu. Lalu ia pun pulang ke rumahnya.

Malam tiba, saatnya temannya yang licik beraksi untuk mencuri, ia pun segera mengambil barang dagangan yang diatasnya terdapat baju miliknya. Dengan hati yang berbunga-bunga ia kembali ke rumahnya dan setelah sampai ia langsung mengeluarkan isi karung yang ia curi tersebut, namun ia sangat kaget karena isi karung yang ia curi tidak lain adalah barang dagangannya sendiri.

Sementara di dalam toko, teman si pedagang jahat telah sampai untuk mengecek barang. Betapa terkejutnya ia ketika melihat tumpukan barang temannya telah raib. Ia pun sangat sedih dan menyalakan dirinya karena ialah yang terakhir ke toko terebut.

Ketika temannya yang licik itu datang, ia melihat temannya dengan muka murung sedang termenung di depan toko. Ia pun bertanya kenapa temannya murung dan temannya pun menjelaskan bahwa barang-barang milik temannya telah hilang karena kelalaiannya itu. Temannya yang licik itu tidak tega dan akhirnya mengakui perbuatannya tersebut. Mendengar pengakuan temannya itu, si pedagang yang baik menceritakan pada temannya itu tentang si pedagang dengan seorang pencuri.

Kisah Seorang Pencuri dan Seorang Pedagang

Syahdan, pada zaman dahulu hiduplah seorang pedagang kaya yang memiliki dua buah khabiya (sejenis karung) yang salah satu isunya berisi gandum dan satunya lagi berisi keping dinar emas dan tanpa sepengetahuannya ada seorang pencuri yang sudah mengincar keping dinar miliknya itu.

Ketika ia sedang bepergian ke luar rumah demi kegiatan dagangnya si pencuri pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat ia masuk rumah pedagang dan langsung menggasak salah satu khabiya milik orang kaya itu. Dengan hati yang sumringah ia pun membuka khabiya itu. Ia membayangkan betapa akan kayanya ia setelah berhasil mendapatkan banyak keping emas namun dirinya terperanjat kaget ternyata yang ia curi ternyata hanyalah karung berisi gandum.

Setelah mendengarkan cerita temannya itu, si pedagang jahat pun  menyadari kekonyolan dan ketololan dirinya terhadap temannya itu.

Itulah yang harus dilakukan oleh pembaca kitab Kalilah wa Dimnah, tujuannya tidak hanya agar pembaca kitab ini tidak berheenti hanya pada kenikmatan membaca susunan kata yang indah saja, namun juga dapat menggali nilai yang terkandung di baliknya.

Jika tidak, maka seorang pembaca kitab ini hanya akan mencapai kedudukan yang serupa dengan dua orang yang tertua dari tiga bersaudara dan tidak akan dapat menyamai si bungsu di antara mereka. Berikut ini adalah kisah ketiganya…

Kisah Tiga Bersaudara

Syahdan, hiduplah ketiga bersaudara yang baru saja menerima warisan yang besar dari ayahnya yang baru saja meninggal dunia. Harta itu mereka bagi rata, masing-masing menerima sepertiganya.

Sayangyna, alih-alih menggunakan harta warisan itu dengan baik , kedua anak tertua dari tiga bersaudara itu justru menghambur-hamburkan bagian harta yang mereka peroleh dengan tujuan yang tidak jelas, hanya dalam beberapa pekan saja harta mereka sudah tidak tersisa.

Akan tetapi , tidak seperti kedua kakanya, si bungsu menggunakan harta itu dengan sangat baik. Si bungsu lebih cakap untuk membelanjakan harta miliknya dengan berusaha menabunganya dan memakai harta itu jika bebar-benar perlu.

Melihat kelakuan buruk kedua kakanya, si bungu berkata pada dirinya, “Duh, seandainya kudua kakakku itu mau menyadari bahwasanya harta dicari dan dikumpulkan dengan susah payah oleh pemiliknya adalah dengan tujuan untuk menjaga kelangsungan hidup, menjamin kesejahteraan di dunia, dan menjaga martabat di hadapan orang lain, atau agar orang yang bersangkutan tidak sampai merepotkan orang lain hanya gara-gara ia menjadi orang yang melarat. Dan untuk menggunakan harta itu pun seharusnya seseorang memperhatikan maksud dan tujuannya.

Singkat cerita setelah banyak bergumam ia segera memnaggil kedua kakanya dan membagikan sisa harta yang dimilikinya kepada kedua kakaknya itu.

Selain dari itu, seorang pembaca kitab Killah wa Dikmnah haruslah tekun dalam mengupas makna yang terkandung di dalam kitab ini agar dapat menemukan ratna mutumanikam yang ada di balik setiap kisah yang termaktub di dalam kitab ini.

Semestinya. Seseorang pembaca kitab ini menghindari sikap seroboh yang pernah dilakukan oleh seorang nelayan sebagaimana yang termaktub di dalam kisah berikut.

Kisah Nelayan dan Seekor Tiram

Syahdan, di sebuah teluk hiduplah seorang lelaki yang memiliki mata pencaharian sebagai seorang nelayan pencari ikan dengan cara menjerat jala di atas sampan miliknya.

Pada suatu hari ketika nelayan sedang menebarkan jaringnya ia melihat suatu yang berkilauan di dalam jaringnya tersebut lantas ia langsung menyelam ke dalam air karena ia mengira itu adalah seekor tiram yang di dalamnya terdapat mutiara. Namun setelah menyebur ke laut ternyata itu hanyalah seekor ikan kecil yang bersisik berkilauan yang harganya juga tidak berharga.Bukan main kesalnya nelayan itu karena merasa tertipu dengan pandangannya sendiri.

Keesokan harinya hal yang sama pun terjadi namun kali ini ia langsung membuangnya bersama kotoran dan sampah lainnya yang menempel di sesuatu yang berkilauan itu karena tidak mau tertipu mentah-mentah sepeti sebelumnya.

Rupanya tanpa dasadari oleh nelayan yang ceroboh itu, tiram itu ditemukan oleh nelayan lain yang kemudian membuka cangkangnya, ternyata di dalam tiram itu ditemukan sebongkah mutiara yang amat besar lagi indah bentuk dan warnanya.

Seperti itulah penyesalan orang-arang bodoh yang melalaikan begitu saja mutira-mutiara yang terjandung di dalam kitab Kalilah wa Dimnah ini, hanya karena mereka enggan menggali lebih dalam kandungan makna yang tesimpan di dalam setiap kisah dan terus pada apa yang kasat mata saja.

Akir kata, bagi setiap orang yang membaca kitab ini, sebaiknya dapat memahami bahwa semua ksiah yang terdapat dalam Kalilah wa Dimnah pasti mengandung adalah satu dari keempat tujuan di bawah ini.

Tujuan pertama untuk menghibur pemuda dan orang-orang awam yang menyukai hiburan itu tercermin dari teknik penulisan dengan memakai binatang dalam penuturannya.

Tujuan kedua, adalah menjadi bahan pelajaran bagi para penguasa tanpa menyinggung sedikt pun perasaa dan harga diri mereka. Hal ini dikarenakan oleh penggunanan hewan sebagai pelaku utama kisah yang terdapat di alam kitab ini.

Tujuan ketiga adalah untuk menarik semua kalangan, baik yang terpelajar maupun rakyat biasa sehingga dengan demikian Kalilah wa Dimnah akan disalin oleh begitu banyak orang di setiap tempat dan zaman yang berbeda.

Tujuan keempat adalah agar filosof dapat menggali kandungan terdalam yang terdapat dalam kitab ini. Hal inilah yang sebenarnya menjadi tujuan yang paling utama yang ingin dicapai oleh penulis Kalilah wa Dimnah dengan ditulisnya karya besar ini.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s