Kalilah wa Dimnah-Kisah Pangeran dan Tiga Orang Sahabatnya

Pada suatu ketika, tersebutlah empat orang pemuda yang melakukan perjalanan kelana menyusuri negeri-negeri yang jauh. Pemuda pertama adalah seorang pangeran, yang kedua adalah seorang anak pedagang, yang ketiga adalah anak pejabat yang tampan, dan yang keempat adalah seorang anak petani.

Entah bagaimana mulanya, ketika keempat sekawan itu tiba di sebuah nergri antah-berantah yang amat jauh dari kampung halaman mereka, tiba-tiba garis takdir memerosokkan mereka ke dalam kesulitan yang parah. Bahkan jangankan untuk makan sehari-hari, pakaian yang mereka miliki pun hanyalah pakaian yang masih melekat di tubuh mereka.

Dan karena setiap orang pasti menunjukkan tabiat aslinya di tengah kesulitan yang mencekik itu seperti itu, maka si pangeran yang menurunkan keahlian memimpin dari ayahandanya berkata kepada tiga sahabatnya yang lain,. “Wahai teman-temanku, di tengah kesusahan ini aku teringat bahwasanya segala sesuatu yang terjadi di dunia pastilah berdasarkan ketetapan takdir. Sehingga apa pun yang digariskan atas diri seorang manusia, niscaya semua itu akan terjadi walau sekeras apa pun manusia itu berusaha menghindarinya. Oleh sebab itu, kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi takdir pasti akan selalu menjadi hal yang paling penting dibandingkan segalanya.”

“Ah, bagaimana mungkin kau dapat berkata seperti itu”? sergah si anak pedagang. “Menurut pendapatku, kecerdasanlah yang paling penting dibandingkan semua hal”.

“Tidak!”, Si anak pejabat menyela, “Munurut hematku, ketampananlah yang lebih penting dari semua yang kau katakan tadi.”

“Aku tidak sependapat dengan kalian bertiga!” tukas si anak petani tak mau ketinggalan, “Menurutku, kerja keraslah yang paling penting dari segalanya.”

Setelah beberapa saat mereka berdebat, tibalah mereka di kota yang bernama Matrun. Sambil melepas lelah, keempat pemuda itu malanjutkan debatnya.

“Hai anak petani!” ujar si anak pejabat, “Lekaslah sekarang kau pergi ke kota untuk mencari makanan bagi kita berempat. Jika memang benar apa yang kau katakan bahwa kerja keras adalah hal yang paling penting di muka bumi ini, maka inilah saatnya bagimu untuk membuktikan pendapatmu itu.”

Tanpa diminta dua kali, si anak petani itu menyetujui permintaan temannya dan langsung pergi ke tengah kota tersebut. Hal yang paling pertama dilakukannya adalah menanyakan barang apa yang paling dibutuhkan di kota ini. Setelah mendapat jawaban, bahwa kayu bakarlah benda yang paling dicari penduduk kota ia langsung pergi ke hutan di pinggiran kota tersebut. Dan setelah berhasil mengumpulkan seikat kayu kering, pemuda itu pun segera kembali ke kota untuk menjual kayu-kayu itu.

Lumayan, dengan menjual seikat kayu bakar, anak petani itu berhasil mendapatkan uang satu dirham yang kemudian langsung ia gunakan membeli makanan untuk ketiga temannya itu.

Dengan riang gembira, anak petani itu berjalan menuju tempat peristirahatan sahabatnya, dan ketika ia melewati gerbang kota, pemuda itu menorehkan sebuah tulisan di dinding yang berbunyi : KERJA KERAS SEHARIAN AKAN MENGHASILKAN UANG SATU DIRHAM.

Setelah menulis kalimat tersebut ia segera menemui ketiga temannya yang lain untuk menyantap makanan yang telah ia beli.

Keesokan harinya ia berkata kepada si anak pejabat, “Hai sobat, kemarin aku telah membuktikan kepadamu bahwa kerja keras hampir seharian dan aku berhasil membeli makanan unutk kita berempat. Nah, kini kau coba cari makanan  untuk kita dengan ketampananmu. Sebab, bukanlah kau yang mengatakan bahwa ketampanan adalah hal yang paling penting dibandingkan segalanya.

Tanpa berkata apa-apa, si anak pejabat itu meninggalkan temannya. Sepanjang perjalanannya ia terus mengumpat di dalam hatinya, “Sialan! Bagaimana mungkin aku dapat mencari makanan untuk mereka, sementara aku sama sekali tak punya keterampilan apa-apa”

Bukan main bingungnya pemuda itu ketika memikirkan apa yang harus ia lakukan. Untuk kembali kepada temannya ia tak bisa karena akan menanggung malu. Dan akhirnya, karena tak tahu apa yang harus ia laukan, ia pun merebahkan tubuhnya di bawah sebatang pohon rindang yang terdapat di pinggir jalan hingga ia pun tertidur.

Tak berapa lama setelah ia terlelap, lewatlah seorang pejabat yang tak sengaja melihat wajah tampan pemuda tersebut dan segera menghampirinya. Pejabat itu sangat terkejut dan kagum ketika melihat wajahnya, ia tidak menyangka bahwa ada gelandangan di kota Matrun yang memilki wajah yang begitu tampan. Dan karena begitu terpesnanya dengan ketampanan pemuda tersebut ia segera meletakkan sekantong uang disamping pemuda itu.

Tak lama berselang, anak pejabat itu bangun dari tidurnya, seketika itu ia melihat sekantong uang disampingnya sehingga membuat dia senang bukan kepalang. Dan pada saat itu juga, ia langsung membeli berbagai macam makanan dan minuman untuk ia bawa ke peristirahatan ketiga temannya itu.

Dan seperti yang dilakukan si anak petani, ketika ia melewati gerbang kota, ia pun menorehkan kata-katanya. Kalimat itu berbunyi: KETAMPANAN SATU HARi, SETARA DENGAN UANG LIMA RATUS DIRHAM.

Setelah membuat tulisan itu ia segera menemui ketiga temannya untuk menyantap makanan yang ia beli. Bukan hanya itu, ia pun membagi-bagikan sebagian uang yang dimilkinya kepada teman-temannya itu.

keesokan harinya tibalah giliran si anak pedagang yang diminta oleh ketiga temannya yang lain untuk mencari makanan ke kota, sekaligus membuktikan bahwa kecerdasan adalah hal terpenting yang harus dimiliki setiap orang.

Singkat cerita, setelah berjalan ke sana kemari untuk mencari peluang pekerjaan, anak pedagang itu akhirnya melihat sebuah kapal niaga yang sangat besar sedang merapat ke kota Matrun. Dan, sebagaimana yang lazim terjadi pada saat itu, anak pedagang itu melihat puluhan orang saudagar kota Matrun berdatangan untuk membeli barang dagangan itu.

Akan tetapi, sebelum memmbeli barang dagangan tersebut, mereka bermusyawarah yang intinya agar menunda pembelian sampai barang dagangan tersebut dijual dengan harga murah. Musyawarah mereka secara tak sengaja terdengar oleh anak pedagang dan seketika itu juga memberikan ia ide yang cemerlang.

Anak pedagang itu langsung menemui para pedagang dan membeli semua barang mereka dengan harga seratus dinar yang pembayarannya baru akan dilunasi setelah semua barang terjual. Kepada para pemilik barang itu, si anak pedagang juga mengatakan bahwa ia akan segera membawa barang-barang itu ke kota lain.

Tak lama kemudian, berita tentang habisnya barang dagangan segera diketahui oleh para saudagar, sehingga mereka pun langsung berbondong-bondong mendatangai si anak pedagang untuk membeli barang dagangan yang ia beli karena mereka takut akan kehabisan dan terlanjur di bawa ke kota lain.

Bukan main gembiranya anak pedagang itu, ternyata barang dagangannya habis terjual dan pemuda cerdik itu berhasil mendapatkan uang sebesar seratus ribu dirham. Setelah ia melunasi hutangnya dengan orang pemilik dagangan sebelumnya, ia langsung pergi menemui ketiga temannya dengan membawa makanan dan minuman sebagaimana yang diminta oleh ketiga temannya.

Dan seperti yang dilakukan kedua temannya, ia pun menorehkan beberapa kalimat di gerbang kota Matrun. Kalimat itu berbunyi: HARGA SEBUAH KECERDASAN PERHARINYA ADALAH SERATUS RIBU DIRHAM.

Pada keesokan harinya, tibalah giliran pangeran yang diminta ketiga temannya untuk membuktikan kebenaran pendapatnya dengan mencari penghasilan dengan menggunakan kepercayaan terhadap takdir dan keyakinan kepada Tuhan.

Segera pangeran itu beranjak dari tempatnya dan mulai berjalan menuju kota. Dan karena sang pangeran benar-benar ingin membuktikan kebenaran pendapatnya, maka setibanya ia di ambang gerbang kota, ia pun langsung berhenti dan duduk saja disitu tanpa melakukan apa pun juga.

Secara kebetulan, pada hari itu raja yang tinggal di kota Matrun meninggal dunia tanpa ada seorang pun yang dapat mewarisi tahtanya. Dan ketika iring-iringan jenazah sang raja melintasi gerbang kota, sang pangerang hanya menoleh sedikit tanpa menunjukkan raut muka sedih sedikit pun.

Ketika melihat kelakuan pemuda itu, salah satu pejabat militer yang ikut dalam iring-iringan jenazah raja pun segera menghampiri pemuda itu dan langsung saja ia menghardik sang pangeran., “Heh anak sundal!, Mengapa kau sama sekali tak berduka atas kematian raja?..sambil mengacung-acungkan tangannya militer itu terus memaki sang pangeran sehingga membuat sang pangeran menyingkir dari tempatnya semula. namun setelah perwira galak itu telah berlalu, sang pangeran duduk kembali di posisinya semula.

Malang bagi sang pangeran, ketika perwira itu kembali dari pemakaman sang raja, ia bertemu lagi dengan pemuda itu yang sedang duduk bersandar di tempatnya yang pertama. “Ternyata kau memang seekor keledai bebal!” teriak militer itu kepada pangeran, dan setelah puas memaki ia akhirnya memutuskan untuk memenjarakan pemuda yang dianggapnya telah berbuat kurang ajar kepada rajanya.

Keesokan harinya, musayawarah demi mendapatkan pemimpin baru diselenggarakan. Seperti yang telah diperkirakan, tidak ada satu pun seorang yang tepat untuk menggantikan mendiang raja. Hingga akhirnya, ditengah suasana yang tidak menentu itu, sang petinggi meiliter yang telah memenjarakan pemuda itu angkat suara. Ia berkata pada intinya, sebaiknya forum ini bertanya pada pemuda asing yang ia temukan kemarin, sebagai pihak luar niscaya ia akan memberikan keputusan yang netral yang diharapkan dapat menjadi solusi atas permasalahan mereka.

Singkat cerita, semua yang hadir menyetujui pendapat tersebut. Setelah sang pangeran dihadapkan kepada forum ia diharuskan terlebih dahulu untuk menjelaskan asal-usulnya dan untuk alasan apa ia datang ke kota Matrun.

Dengan nada yang sopan, akhirnya pemuda itu mengenalkan dirinya yang ternyata ia adalah anak dari raja Fawiran yaitu raja dari negri tetangga,dimana ia meninggalkan negrinya karena saudaranya yang menggantikan kedudukan ayahnya yang meninggal berniat untuk membunuhnya. Bersama tiga orang sahabatnya, ia pergi berkelana menyusuri banyak negri dan akhirnya tibalah mereka di kota Matrun.

Setelah mendengar penjelasan pemuda itu, tidak disangka-sangka beberapa pejabat senior langsung memberi salam hormat kepada pemuda itu, sambil menyenandungkan puja-puji, ‘pembaiatan tahta’.  Akhirnya seluruh pejabat tinggi yang ada di tempat itu langsung bersepakat untuk mengangkat pangeran sebagai raja baru kota Matrun.

Seperti sedang bermimipi, sang pangeran pun menerima permintaan pejabat itu dan kemudian langsung menjalani upacara penobatan. Dan sebagaimana penobatan upacara di kota Matrun, sang raja baru akan diarak mengelilingi kota dengan mengendarai gajah putih yang amat besar dan gagah.

Sambil menahan senyum ketika melihat tulisan yang dibuat oleh ketiga temannya, sang pangerang langsung memerintahkan bawahannya untuk menambahakan beberapa kalimat di samping ketiga kalimat dari teman-temannya itu. kalimat itu berbunyi” SESUNGGUHNYA KERJA KERAS, KETAMPANAN, KECERDASAN, DAN SEMUA HAL YANG MENGHAMPIRI SESEORANG DALAM HIDUPNYA ADALAH TAKDIR YANG TELAH DITETAPKAN TUHAN. AKU RAJA MATRUN, TELAH MEMBUKTUKAN KEYAKINANKU ITU SETELAH TUHAN MENGANUGRAHKAN TAHTA KEPADAKU DENGAN CARA YANG TIDAK TERDUGA-DUGA OLEHKU.!!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s