Hikmah Pernikahan Rasulullah (Part 1-dengan Aisyah)

Pertama-tama, marilah kita ucapkan shalawat serta salam kepada beliau. Manusia termulia pembawa misi teragung, Nabi Muhammad Saw. Semoga nanti kita dapat dipertemukan kepadanya, berjabat tangan dengannya, dan duduk bersamanya di surga kelak. Aminn

Sebuah pertanyaan umum yang sering muncul dari pribadi Rasulullah adalah, mengapa Rasulullah menikah dengan banyak wanita, padahal dalam al-Quran seseorang hanya boleh menikahi 4 istri? Untuk menjawab pertanyaan ini pertama-tama yang harus diketahui adalah, Allah mengkhususkan Rasulullah dari manusia secara umum karena risalah yang diembannya juga sangatlah khusus. Hukum spesial yang Rasul dapati itu sebagian besar untuk menyempurnakan dakwahnya atau menjaga martabat kenabiannya. Seperti misalnya, Rasul haram menerima zakat, Rasul wajib untuk mengerjakan shalat tahajud. Begitu pula masalah ini, Rasul dihalalkan untuk menikahi lebih dari 4 wanita itu demi kesuksesan dakwah Islamiyah bukan karena pandangan picik sebagian orang bahwa Nabinya Islam itu hypersex atau penggila wanita. Naudzubillah! Di sini saya hanya akan sedikit memamparkan beberapa hikmah pernikahan Rasulullah. Diantaranya :

Pernikahan Nabi dengan Aisyah

Jangan sampai anda terhasut oleh anggapan kotor musuh-musuh Islam yang mengatakan Nabi Muhammad seorang pedofil. Ini adalah perkataan orang-orang yang tidak mengetahui setting sejarah dan budaya pada masa lalu. Jangan menyamakan kehidupan pada zaman Rasulullah dengan kacamata barat zaman sekarang. Saat itu, pertumbuhan orang-orang Arab sangatlah cepat, pernikahan usia muda merupakan hal lazim yang terjadi. Bahkan, wanita yang berumur 18 tahun yang masih gadis bisa dianggap perawan tua pada saat itu. Ingat, Nabi baru satu atap dengan Aisyah ketika umur Aisyah sudah 9 tahun, ketika Aisyah sudah haidh dan kedewasaannya sudah terlihat.

Hikmah tersembunyi yang dapat kita petik begini, dalam hukum Islam sunnah Nabi menduduki peringkat kedua setelah al-Quran. Tidak seperti perkataan shakespears atau Khalil Gibran yang mungkin hanya di dengar dan di catat ketika mereka mengeluarkan kata-kata pujangganya, kata-kata atau perbuatan Nabi sekecil dan seremeh apapun akan diingat, dicatat dan direkam oleh para sahabatnya karena kemungkinan besar segala perbuatan Nabi itu mempunyai efek hukum atau minimal menjadi teladan bagi umatnya.

Karena kehidupan Nabi itu berkisar kepada ranah publik dan privasi (rumah tangga) maka para perekam hadits-hadits beliau juga mereka yang terlibat dalam 2 urusan tersebut. Para sahabat akan senantiasa untuk menjaga, mengamalkan dan mengajarkan apa-apa informasi yang datang dari Nabi, tetapi mereka hanya bisa mendapatkan informasi itu ketika berada dalam arena publik, di masjid, di jalan, ketika perang, dll. Sekarang pertanyaannya, siapakah yang mencatat segala tindak-tanduk Nabi ketika beliau berada di dalam rumah? siapakah yang mengompilasi informasi dari arena privasi Nabi?, siapakah yang mempunyai pengalaman ‘pribadi’ dengan Nabi? Nah disitulah hikmah keberadaan Aisyah, wanita cerdas dengan bakat melimpah yang akan menjadi sumber informasi seputar pertanyaan-pertanyaan urusan rumah tangga.

Siapa yang menyangkal bahwa Aisyah, putri Abu Bakar ini bukanlah seorang jenius? Sebanyak lebih dari 2000 hadits Nabi beliau yang meriwayatkan dan kebanyakan isinya adalah sekitar urusan rumah tangga. Dari Aisyahlah para suami-istri banyak mendapatkan pelajaran, ketika ada yang bertanya, “Bolehkah suami dan istri mandi dalam satu bejana?” si penanya tidak akan menemukan jawaban jika bertanya dengan Abu Bakar, Umar, atau para sahabat yang lain, tetapi jawaban tersebut dapat terjawab dari Aisyah, beliau berkata “Boleh, aku pun pernah mandi bersama Rasulullah dalam satu bejana…” (HR. Muslim). Ketika seorang wanita yang bertanya kepada Rasulullah bagaimana cara membersihkan darah istihadhah (darah penyakit yang keluar dari otot rahim), Rasulullah segera menjawabnya, namun secara malu-malu. Wanita itu terus bertanya karena tidak begitu paham akan jawaban Nabi. Aisyah mengerti bahwa Rasulullah seperti tidak enak untuk mengatakan secara tuntas, maka dengan cepat Aisyah menarik tangan wanita itu, menjauh dari Rasulullah dan menjawab pertanyaan tersebut dengan tuntas (HR.Ahmad).

Jika tidak ada Aisyah, bagaimana mungkin informasi-informasi yang bersifat kewanitaan, rumah tangga, hubungan badan, masalah suami-istri dll dapat terhapal, tersimpan, dan sampai tersebar kepada umat? Seperti 2 contoh permasalahan di atas. Itulah sedikit hikmah dari banyak hikmah, mengapa Allah pasangkan Rasulullah dengan Aisyah..Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s