Hikmah Pernikahan Rasulullah (Part 2-dengan Zainab dan yang lainnya)

Hikmah pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsyi

Kali ini akan sedikit saya paparkan hikmah dibalik pernikahan yang sempat menjadi kontroversi khususnya di kalangan orientalis. Mereka menuduh bahwa Nabi telah tergiur dengan kecantikan Zainab sehingga tega merebut Zainab dari suaminya, Zaid bin Haristah yang tidak lain adalah anak angkat Nabi sendiri. Oke, kita tinggalkan pendapat menggelikan itu, lebih baik renungilah secercah hikmah pernikahannya.

Zainab binti Jahsy merupakan sepupu rasulullah, ia juga turut dibesarkan oleh Rasulullah, malah kedudukannya sudah seperti anaknya sendiri. Ketika sudah dalam usia menikah, Rasul melamarkan Zainab kepada anak angkatnya, Zaid bin Haristah. Perlu diingat bahwa Zaid merupakan bekas budak, sungguh menjadi aib apabila perempuan terhormat keturunan Quraisy menikah dengan mantan budak. Tetapi Rasulullah ingin menghilangkan kesenjangan itu, tidak ada perbedaan di mata Allah baik itu si bangsawan maupun orang rendahan karena yang membedakannya hanyalah ketakwaan di sisi-Nya.

Saat itu Nabi tidak perlu mendesak wanita lain, cukuplah saudaranya yang menjadi contoh tidak adanya halangan untuk dua orang yang berbeda kedudukan untuk bersatu. Pada mulanya, keluarga dari Zainab menolak tetapi karena turun firman “….Dan barangsiapa tidak mematuhi Allah dan Rasul-Nya mereka telah melakukan kesesatan yang nyata sekali” (al-Ahzab:36). Tidak ada jalan lain selain menerima keputusan Rasul setelah turun ayat ini. Dan pernikahan pun dilaksanakan.

Apakah Zaid merasa bahagia menikah dengan Zainab? Jawabannya tidak…ketidaksetaraan di antara mereka menjadi penyebab rataknya hubungan mereka. Zainab sebagai istri sering angkuh kepadanya. Jurang kasta yang tidak dapat dijembatani walaupun dengan perintah Rasul. Zaid sering mengeluh kepada Nabi, tetapi apa kata Nabi..”Jaga baik-baik istrimu, jangan diceraikan. Hendaklah engkau takut kepada Allah”

Walaupun sudah diberikan nasihat serta motivasi, lama-kelamaan sikap Zainab membuat Zaid tidak tahan. Tekadnya sudah bulat untuk menceraikan Zainab. Yah ‘tangan’ Allah sudah bekerja, sesaat lagi kita akan tahu hikmah dari kisah ini.

Pada saat itu, ada adat jahiliyah yang masih berlaku, yaitu kedudukan yang setara antara anak angkat dengan anak kandung. Anak angkat akan mendapatkan harta waris ketika orang tua angkatnya wafat, juga dalam soal pernikahan berarti ayah angkat haram hukumnya menikahi bekas istri anak angkatnya. Di manapun kita berada, budaya yang sudah mengakar akan sangat sulit untuk dihilangkan meskipun adat tersebut menyimpang. Rasulullah saja yang merupakan suri tauladan tidak mempunyai keberanian untuk menghilangkan adat tersebut, seperti dalam firman, “Dan engkau menyembunyikan sesuatu dalam hatimu yang oleh Tuhan sudah diterangkan. Engkau takut kepada manusia padahal hanya Allah yang lebih patut kau takuti. (al-Ahzab:37). Allah tidak akan pernah takut, Allah ingin menghilangkan adat lapuk jahiliyah ini. Pertanyaannya, siapakah yang menjadi objek skenario Tuhan ini? Jawabannya, pastilah Rasulullah! Kedudukan beliau sebagai sumber hukum merupakan satu-satunya manusia yang mampu mengenyahkan adat jahiliyah ini.

Mungkin anda sudah menebak apa cerita selanjutnya, ya dengan firmannya “Maka setelah Zaid meluluskan kehendak wanitu itu, Kami kawinkan dia dengan engkau, supaya kelak tidak menjadi halangan bagi orang-orang beriman kawin dengan (bekas) istri-istri anak-anak angkat mereka, bilamana kehendak (wanita-wanita) itu sudah diluluskan. Perintah Allah meski dilaksanakan.” (al-Ahzab:37). Allahlah yang menikahi Rasulullah dengan Zainab langsung!. Dengan pernikahan Nabi-Zainab, mulai dari sekarang adat jahiliyah yang menyamakan anak angkat dengan anak kandung sudah sirna. Hukum jahiliyah telah digantikan oleh hukum Allah, “Dan tiada pula Ia menjadikan anak-anak angkat kamu menjadi anak-anak (kandung) kamu. Itu hanya kata-kata kamu dengan mulut kamu saja. Tuhan mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar.” (al-Ahzab: 4)

Pernikahan yang lainnya

Dua pernikahan di atas lebih banyak penjelasannya karena pernikahan mereka yang terkadang dipandang licik oleh musuh-musuh Islam. Kisah mereka diselewengkan dan menjadi senjata andalan untuk memukul balik Islam dengan menghinakan Nabinya, Muhammad saw. Hikmah dua pernikahan telah sedikit diketahui. Sekarang marilah kita lihat hikmah berikutnya dari pernikahan Nabi dengan perempuan-perempuan yang lainnya.

Pernikahan dengan Sauda binti Zam’a, Zainab binti Khuzaimah, dan Ummu Salama lebih sekedar untuk mengangkat martabat mereka. Ditinggal mati oleh suaminya dalam pertempuran, mempunyai banyak anak menjadikan Nabi merasakan iba yang mendalam. Untuk menghilangkan semua beban itu Nabi menikahi mereka, meninggikan kedudukan mereka sebagai Ummul Mukminin (Ibu orang-orang beriman). Lihat betapa pengasihnya seorang Muhammad. Kedudakannya sebagai Nabi tidak membuat dia merasa canggung untuk menikahi seorang janda yang tidak kaya, tidak muda, juga tidak cantik.

Pernikahan Nabi juga berarti untuk menguatkan persahabatan atau untuk melunakkan hati musuhnya yang kuat. Pernikahan Nabi dengan Hafshah, anak dari Umar bin Khattab lebih dipandang untuk menjaga kekariban mereka. Hubungan baru antara Rasul dan Umar yaitu sebagai menantu dan mertua akan membuat persahabatan mereka lebih erat. Dengan adanya Hafshah yang sering bersokongkol dengan Aisyah untuk mencuri perhatian Nabi, menjadikan nilai lebih kepribadian Rasul, yaitu bagaimana seharusnya suami itu bersabar dalam menghadapi istrinya. Walaupun sering mencari masalah tetapi Nabi selalu bersabar dan tenang dalam menghadapi tingkah laku Aisyah dan hafshah. Begitu juga pernikahan dengan Maymunah binti Harits yang masih mempunyai tali persaudaraan dengan Nabi, menjadikan ikatan persaudaraan antara Bani Hasyim menjadi kuat.

Pernikahan Nabi dengan Ramlah, selain untuk mengibur Ramlah karena suaminya yang murtad juga sebagai tali penyambung antara dirinya dengan Abu Sufyan, pembesar Makkah sekaligus ayah dari Ramlah. Abu Sufyan termasuk orang yang paling dipandang di Makkah, pengaruhnya yang kuat akan menguntungakan Islam jika ia masuk Islam. Pada akhirnya Abu Sufyan masuk Islam ketika Fathu Makkah.

Karena dakwah Nabi bersifat menyeluruh maka salah satu cara untuk menyatukan beragam kabilah yang ada di semenanjung Arab adalah ikatan perkawinan. Memang ikatan pernikahan sangat mujarab untuk menyatukan berbagai kelompok, lebih mujarab dari perjanjian tertulis apapun. Strategi inilah yang ditempuh Nabi, pernikahan beliau dengan Juariyah, shafiyah, dan Mariah al-Qibtiyah termotivasi agar menguatkan koneksi dakwah Nabi.

Juariyah merupakan tawanan perang Bani Musthaliq, ia menghadap sendiri kepada Rasulullah demi menebus dirinya. Saat itu ia menjadi salah satu tawanan sahabat Nabi, karena ayahnya seorang pemuka Bani Musthaliq maka bayaran sebesar apapun tidak akan menjadi masalah bagi dirinya, ia menghadap Rasul agar dimudahi proses penebusan tersebut. Rasulullah malah menawarkan usulan lain, yaitu untuk menikahinya. Hikmahnya ialah, setelah para sahabat mendengar berita pernikahannya dengan Juawairiyah, sebanyak 700 tawanan Bani Mustahliq dibebaskan demi menghormati Nabi dan Juwairiyah.

Berikutnya adalah Shafia, wanita yang memiliki nasab langsung dari Nabi Harun ini merupakan pemuka dari Bani Quraizha dan Bani Nadzir. Setelah dibebaskan dia dipersunting oleh Rasulullah, ya guna untuk mengurangi tekanan yang dialami Shafia pasca perang, untuk memelihara kedudukannya yang terhormat, juga menciptakan hubungan baik dengan kabilahnya.

Lalu Maria, ia merupakan hadiah dari Muqauqis kepada Nabi Muhammad setelah Nabi mengirim utusan untuk menawarkan Islam kepada Raja Mesir itu. Dari Marialah Nabi memperolah anak laki-laki yang bernama Ibrahim. Sayangnya, umur Ibrahim tidak lama dan ia wafat ketika masih kecil. Kedudukan Maria sebagai istri Nabi menciptakan hubungan khusus tersendiri antara Hijaz dengan Mesir…bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s