Berapa Gaji Papa?

Kisah ini merupakan salah satu kisah favorit saya yang pernah saya temukan. Maka itu, ada baiknya saya kembali ceritakan agar kisah menarik ini bisa menggerakan hati lebih banyak pembacanya.

“Seorang perempuan cilik tengah menunggu ayahnya pulang dari kantor. Ketika ayahnya sampai, ia langsung menyambutnya dengan pertanyaan, “Pa, boleh aku tau berapa gaji papa?”. “Buat apa kamu tahu soal itu?” kata ayahnya dengan wajah masam. “Tapi aku mau tahu berapa gaji ayah perjamnya..” dengan wajah penuh melas bocah itu bertanya. Ayahnya yang kelelahan setelah bekerja sama sekali tidak suka dengan pertanyaan itu, ia kesal dan membentak, “Ayah sedang capek, tidak penting berapa gaji ayah! Sudah sana masuk ke kamar!!” dengan raut muka yang sedih akhirnya perempuan mungil itu masuk ke kamarnya

Si ayah juga lantas masuk ke kamarnya. Setelah beberapa saat beristirahat, si ayah tersadar bahwa tidak seharusnya ia memarahi anaknya hanya dengan pertanyaan sepele. Lalu ia menuju ke kamar anaknya untuk meminta maaf. “Nak, maafkan papa ya. Tidak seharusnya papa mengomeli kamu. Mau kan kamu memaafkan papa?.” Anaknya mengangguk, dan sekali lagi bertanya, “Pa, sekarang berapa gaji papa?” “Gaji papa sejamnya sebesar 20 dolar nak” jawabnya. Sambil tersenyum manis, anaknya berkata, “Pa, boleh aku pinjam uang papa 10 dolar?.” Ayahnya kaget, hampir saja ia lepas kontrol. Tapi dia ingat dia tidak boleh marah karena permintaan sepele anaknya. “Ini nak, memang buat apa?” sambil memberikan uang 10 dolar kepada anaknya.

Setelah menerima dari ayahnya, bocah mungil tersebut merogoh-rogoh bawah bantalnya. Ia mengambil uang recehnya yang ia kumpulkan di bawah bantal yang berjumlah 10 dolar. Jadi sekarang ia mempunyai uang 20 dolar. Dengan polosnya ia menyerahkan uang itu ke papanya sambil berkata, “Sekarang, apakah aku boleh meminta sejam waktu papa?”

Kisah termuat dalam buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya…semoga bermanfaat

3 thoughts on “Berapa Gaji Papa?

  1. Bener banget jak.
    Hal yang terlupakan oleh banyak orang tua, mereka mengejar harta yang berdalih untuk membahagiakan anaknya.
    Sedangkan mereka lupa, bahwa waktu dan moment bareng anak itu ngga bisa dibeli🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s