Sekilas tentang Nabi Zaman Kita-Muhammad SAW

Inilah penghulu para Nabi yang ditugasi untuk menegakkan kalimat “ tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah”. Inilah penutup para Nabi yang diutus untuk menyempurnakan akhlak dan diutus bagi seluruh semesta alam. Inilah Nabi termulia yang ajarannya tak lekang oleh waktu dan tak usang ditelan zaman. Inilah semulia-mulianya hamba yang apabila manusia ingin memperolah kebahagian maka diperintahkan untuk mengikutinya.

Demi tegaknya kalimat tauhid beliau rela mengorbankan segala yang ia punya. Harta terlihat hina dihadapannya sehingga dia tidak sudi ditawarkan kerajaan untuk menghentikan dakwahnya. Sakitnya tubuh seakan tak berarti demi tersiarnya Islam, karena itulah beliau bersabar ketika dirinya dilempari batu di kota Tha’if sehingga bukan kalimat kutukan keluar dari mulutnya tetapi doa dan harapan “Yaa Allah sungguh mereka tidak mengetahui apa yang kubawa”. Baginya, terbunuh di dalam menyiarkan prinsip “laa ilaha illalah” ialah kemuliaan sehingga tak ada sedikit pun rasa gentar dalam jiwanya dalam menghadapi keganasan dan kebengisan kaum musyrikin.

Dirinya, keluarganya, sahabatnya dan pengikutnya pernah diasingkan selama tiga tahun di Makkah, dikucilkan, disabotase segala keperluannya namun dengan ketabahan beliau menjalani semua itu. Beliau sering dilempari kotoran ketika pergi untuk shalat tetapi tak sekalipun beliau marah dan membalas perbuatan tersebut malah menjenguk orang yang sering melempari itu ketika dia sakit. Kasih sayangnya bertebaran keseluruh penjuru, kewibawaannya menggelora keseluruh lembah, dan kelembutannya selalu terbawa kemanapun dia berada.

Inilah Nabi yang terusir dari kota yang sangat ia cintai, kota dimana ia lahir dan dibesarkan, kota yang penuh kenangan manisnya bersama Khadijah dan anak-anak kesayangannya. Itulah Mekkah kota yang dahulu penduduknya hidup dengan keharmonisan bersama beliau, mereka meminum air yang sama, menghirup udara yang sama, dan bergelut dalam dunia perdagangan bersama sehingga mereka begitu mempercayakan Muhammad dan beliau diberi gelar al-amin namun sekarang penduduk Mekkah memusuhinya, mengunci pintu untuknya, dan mencacinya. Kaum Quraisy begitu menggebu untuk membunuhnya dan menyiksa para pengikutnya. Air matanya terurai seiring langkah kakinya meninggalkan Mekkah sambil berkata “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Engkau adalah negri Allah yang paling dicintai hatiku. Seandainya tidak karena pendudukmu mengusirku darimu, tentu aku tidak akan keluar”

Beliau keluar Mekkah ditemani sahabat paling dicintainya, Abu Bakar. Saat itu kondisi begitu mengancam, mereka seakan berada di mulut singa karena nyawa mereka menjadi taruhannya. Kaum kafir Quraisy, penyembah berhala yang keji mengepung rumahnya, melakukan pengintaian dengan pedang terhunus, mengejarnya sampai ke mulut gua pesembunyiannya. Ketika itu Abu Bakar begitu takut kaum musyrik menemukan mereka namun dengan senyum penuh keyakinan Nabi mulia itu menenangkan Abu Bakar sambil berkata “jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”.

Itulah hijrah pertama Da’i Allah, hijrah demi menyelamatkan akidah, hijrah demi eksisnya ajaran dan orang-orang yang mengagungkan Allah. Begitu tampak kebesaran jiwamu menghadapi perih, begitu besar keberanianmu menantang maut, dan begitu kemilau cahaya risalahmu menerangi tanah sanubari, sekali lagi demi menegakkan kalimat “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah”.

Inilah Nabi yang terkumpul dalam dirinya keistimewaan Nabi-Nabi sebelumnya. Ketabahan Nabi Ayub mengahadapi musibah, ketabahan Nabi Yusuf menolak maksiat, ketabahan Nabi Ismail dalam beribadah, rasa syukur Nabi sulaiman,kasih sayangnya Nabi Nuh dan Nabi Ya’kub, ke-khusyu-an doa Nani Yunus, kerja kerasnya Nabi Daud, keberanian Nabi Musa, kelembutan Nabi Harun, kezuhudan beribadah Nabi Isa, dan kejeniusan Nabi ibrahim,  semua mengalir deras dalam diri dan jiwanya sehingga beliau pantas mendapat posisi sebagai pemimpin para Nabi dan namanya disandingkan oleh Allah dalam pengucapan syahadat.

Inilah sosok manusia teragung yang di dalam dirinya terhimpun sifat-sifat yang luhur. Nabi begitu gagah berani dalam peperangan namun dirinya tak kuasa menahan tangis jika melihat anak kecil yang menderita. Hatinya begitu lembut melebihi sutra, beliau begitu pemalu bagai gadis zaman dahulu, langkah beliau begitu halus sehingga jika berjalan di atas pasir niscaya tidak menampakkan bekas namun diketahui kehadirannya lewat aromanya yang begitu harum bagai kasturi. Batang kurma menangis untuknya, arakan awan selalu menaunginya, dan air memancar keluar dari celah jarinya.

Inilah Nabi yang perintah bershalawat kepadanya diabadikan dalam Al-Quran. Inilah Nabi yang apabila bershalawat kepadanya satu kali maka Allah akan bershalawat pada orang tersebut sepuluh kali, padahal satu shalawat Allah pada seseorang sudah cukup menjadi tanda kemuliaan . inilah Nabi yang apabila seseorang melihatnya maka lunturlah kegundahan hati orang tersebut, yang apabila berbicara maka fasih kata-katanya dan lancar ucapannya, yang apabila menoleh maka menoleh dengan seluruh badannya, apabila menunjuk maka menunjuk dengan seluruh jarinya, jika beliau bersalaman maka beliau tak akan melepaskan tangannya sebelum dilepaskan terlebih dahulu, dan beliau tak pernah marah bila harga dirinya dilecehkan namun begitu murka jika agamanya dihinakan.

Sekarang kita hidup ketika Islam sudah kokoh padahal beliau 14 abad silam susah payah merangkak menyebarkan tauhid demi kukuhnya Islam di bumi Allah. Sekarang kita beragama dalam suasana yang penuh damai padahal beliau dengan segala pahit dan perih berjuang memberantas kebatilan yang menghalangi pancaran sinar kebenaran. Beruntunglah sekarang kita dapat mengerjakan shalat, membaca Al-Quran, dan melakukan ibadah yang lainnya dengan penuh rasa aman dan nyaman sedangkan tak jarang beliau melakukan itu semua  dalam keadaan terintimidasi, pemboikotan, dan perang. Itulah jasa-jasa Nabi Muhammad ditemani keluarga, sahabat, dan pengikutnya ketika itu. Jasa tiada tara bagi eksistensi Islam sampai sekarang karena itulah puncak perjuangan melawan kekufuran dan puncak pengorbanan harta dan jiwa demi membasmi penentang agama Allah.

Wahai diriku dan saudaraku yang mengaku mencintai Nabi Muhammad, percayalah kasih sayang Nabi begitu besar terhadap kita,kita selalu dalam doanya jika beliau bermunajat kepada Allah, tak terhitung betapa besarnya jasa beliau kepada kita,  tak terkira berapa banyak air mata yang beliau tumpahkan untuk kita umatnya dan ternyata kitalah yang disebut-sebut ketika beliau sakaratul maut. Dengan ini, masihkah hati kita tak tergerak untuk mencintainya?, masihkah kita begitu mudah untuk melupakan jasanya?, masihkah kita enggan untuk memujinya?, masihkah lidah ini selalu kering untuk bershalawat kepadanya? Tidakkah tergerakah tangan kita untuk menggoreskan pena demi menulis sesuatu untuknya?. Jawablah dan realisasikanlah!!

Dialah yang syafaatnya selalu ditunggu-tunggu oleh ummatnya tapi apakah pantas kita mendapatkannya? Kita tidak pernah melihatnya di dunia dan kita sangat mengharapkan pertemuan dengan beliau di akhirat tapi apakah diri yang hina ini dapat bersanding dengan beliau yang suci?. Begitu ingin tangan ini berjabatan dengan tangannya yang begitu mulia tapi apakah beliau sudi berjabatan dengan kita yang jauh dari sunnahnya?

Yaa Allah pertemukanlah kami dengan kekasihmu Nabi Muhammad, jadikanlah mata ini dapat memandangnya, telinga ini mampu mendengar suara merdunya, dan dudukanlah kami di dalam majlisnya yang terdiri dari para Nabi, para wali, orang yang jujur, mereka yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s