Sejarah Bangsa Arab (Bab 12- Puncak Kekuasaan Bani Umayah)

Penciptaan Stabilitas dalam Negri

Di bawah kepemimpinan Abdul Malik dan keempat anaknya yang kemudian meneruskan kekuasaannya, Dinasti Umayyah mencapai puncak kekuasaan dan kejayaannya. Selama pemerintahan al-Walid dan Hisyam, imperium Islam berhasil memperluas wilayah sampai batas-batas yang terjauh, membentang dari pantai Lautan Atlantik dan Pyrenees hingga ke Indus dan pembatasan Cina. Pada masa kejayaan tersebut terjadi penaklukan Transoxiana, dan pengendalian keamaan di Afrika Utara dan penaklukan Spanyol.

Masa-masa itu juga menadai proses nasionalisasi atau arabisasi dalam bidang administrasi, pembuatan keping Arab yang pertama, layanan pos, dan pembangunan berbagai monumen, termasuk kubah batu di Yerusalem.

Proyek besar dan hasil gemilang yang dicapai oleh kedua khalifah tidak terlepas dari upaya dan kesetiaan yang diberikan anak buahnya, khususnya oleh panglima perang mereka di wilayah Timur-Hajaj bin Yusuf ats-tsaqafi dan di Barat-Musa bin Nushair.

Al-Hajjaj, diangkat menjadi gubernur pada usia 31 tahun. Ia merupakan orang yang menghunus pedang bagi siapa saja yang menentangnya. Abdullah bin Zubayr adalah pesaing khalifah yang merasakan kekejamannya. Dalam dua tahun ia berhasil mengendalikan keamanan di Hijaz, lalu Yaman dan bahkan Yamamah di Timur. Ketika mendatangi Kufah-basis orang-orang yang mendukung Ali bin Abi Thalib- ia berkhutbah, “..Aku benar-benar melihat kepala yang sudah siap dipenggal, dan sungguh! Aku adalah orang yang melakukannya. Aku juga bisa melihat darah mengalir di antara sorban dan janggut….”. ungkapan itu bukanlah sekedar omong kosong, bagi al-Hajjaj tidak ada yang tidak bisa ia bunuh. Bahkan sahabat besar Nabi, Anas bin Malik pernah diikat lehernya dengan kalung yang bertuliskan al-Hajjaj karena dianggap berpihak pada oposisi.

Mau dianggap benar atau tidak, kebijakan keras al-Hajjaj berhasil meredakan pemberontakan di Bashrah dan Kufah, serta diseluruh wilayah kekuasaannya yang luas meliputi Irak dan Persia juga penaklukan kelompok Azraqi-sekte Khawarij yang sangat membahayakan Islam. di bawah pimpinan Hajjaj, tentara Suriah berhasil menaklukan wilayah itu. kepercayaan yang kuat terhadap pasukan Suriah, seperti loyalitasnya kepada Muawiyah sama sekali tidak terbatas.

Ekspansi ke Asia Tengah, India, dan Semenanjung Iberia

Setelah wilayahnya berhasil dikendalikan dan dijaga ketat, kini saatnya untuk ekspansi lebih jauh. Abdul Rahman ibn Muhammad ibn Asy’ats dikirim untuk menghadapi Zunbil-raja Turkidi Kabul (Afganistan) karena mereka enggan membayar pajak. Serangan berhasil dengan gemilang. Lalu Qutaybah bin Muslim dan Muhammad bin al-Qasih al-Tsaqafi berhasil menaklukan Transoxiana, di Asia Tengah. Lalu ia berhasil menguasai Takaristan (705), Bukhara (706-709), sebagian wilayah Samarkand dan Khwarizm. Dengan demikian, Transoxiana akhirnya masuk ke dalam kekuasaan Islam dan Islam mulai melakukan kontak penting dengan unsur ras dan kebudayaan Mongolia.

Lalu panglima lain, Muhammad bin Qasim menaklukan Mukran, Sindh (711-712). Penaklukan diteruskan hingga ke Multan di sebelah selatan Punjab, pusat suci kuil Budha. Daerah Cina tidak pernah dikuasai Muslim, batas Timur terjauh Dinasti Umayah mencakup Sindh di selatan, Kasygar dan Tashken di utara.

Berbagai penaklukan di medan pertempuran Barat di bawah pimpinan Musa bin Nushair juga tidak kalah gemilang dengan Hajjaj di Timur. Setelah menaklukan Mesir, ia menyerbu Ifriqiyah yang penaklukannya baru dilakukan setelah pembangunan al-Qayruwan di bawah pimpinan Uqbah bin Nafi. Musa merupakan penganut kristen yang ditawan Khalid bin Walid ketika sedang membaca injil di gereja Ayn al-Tamer. Manuver itu membuat Islam lebih sering berinteraksi dengan kelompok ras lain, yaitu suku Berber-cabang suku Hamit, salah satu keturunan Semit. Keajaiban Islam tampak dengan menjadikan bahasa Arab dan agama Islam sebagai bahasa dan agama orang-orang Berber menjadikan mereka sebagai ujung tombak panaklukan-penaklukan selanjutnya.

Setelah penaklukan pantai Afrika Uatara hingga Atlantik oleh Musa, terbuka lebar jalan untuk menaklukan daerah-daerah barat daya Eropa. Thariq, seorang keturunan Berber dan komandan pasukan Musa, melakukan langkah bersejarah dengan menyebrangi laut menuju Spanyol, dan berhasil menaklukan Iberia (Andalus). Langkah ekspansi terhenti ketika Charles Martel memenangkan pertempuran di daerah antara Tours dan Poitiers. Daerah itu menjadi batas taklukan Arab di sebelah barat laut.

Kerajaan Islam, Seratus Tahun Pasca Wafatnya Muhammad

Tahun 732 menandai seratus tahun wafatnya Nabi Muhammad, pada titik sejarah dan geografi ini kita berhenti sejenak untuk melihat keadaan secara umum. Seratus tahun pasca sang pendiri Islam wafat, para pengikutya memilki kerajaan yang luasnya lebih besar dibanding dengan kerajaan Romawi pada masa kejayaannya. Kerajaan yang membentang dari Pantai Biscai hingga Indus dan perbatasan Cina, serta dari Laut Aral hingga sungai Nil di bagian bawah. Nama Nabi putera Arab ini , diiringi dengan nama Allah Yang Mahabesar, berkumandang lima kali sehari  dari ribuan menara yang tersebar di seluruh Eropa barat daya, Afrika Utara, serta Asia Barat dan Tengah. Kemegahan banyak bangunan terlebih masjid Umayah dengan beragam prosedur kegiatan dan tata cara didalamnya menggambarkan puncak kejayaan Muawiyah.

Arabisasi dan Reformasi Administrasi Negara

Arabisasi meliputi perubahan dari bahasa Yunani dan persia ke dalam bahasa Arab dalam catatan administrasi publik serta menerbitkan uang logam Arab. Perubahan bahasa mengakibatkan perubahan struktur, para penakluk yang tidak mengerti tata buku dan keuangan harus bersedia menyerahkan jabatannya kepada pegawai yang mampu menulis dalam bahasa Yunani juga Persia. Sistem layanan pos juga dibuat dengan menggunakan kuda antara Damaskus dan ibu kota provinsi lainnya.

Dalam kaitanya dengan perubahan mata uang, kita perlu memerhatikan pembaruan sistem keuangan dan administrasi yang terjadi pada masa itu. pada dasarnya, tidak seorang muslim pun yang dikenakan biaya pajak selain zakat, fenomena ini membuat banyak orang di Irak dan Khurasan berbondong-bondong masuk Islam, meninggalkan mata pencahariannya sebagai petani dan beralih menjadi tentara. Keuntungan lainnya juga ketika menjadi seorang Muslim mereka tidak dikenakan pajak/jizyah. Ini membuat pemerintahan Islam merugi dua kali sehingga Hajjaj membuat kebijakan baru dengan mengembalikan mereka ke pekerjaannya semula dan kembali mewajibkan pajak yang mereka bayar seperti sebelum masuk Islam.

Khalifah Umar II (Umar bin Abdul aziz) berusaha meredakan ketidakpuasan yang merebak di kalangan Muslim dengan mencabut kebijakan Hajjaj dengan menata ulang prinsip lama para pendahulunya, bahwa setiap Muslim dan mawla tidak perlu membayar pajak apapun. Kebijakan ini membuar pemasukan negara menurun, banyak orang Berber dan Persia masuk Islam untuk menikmati keistimewaan finansial. Praktik selanjutnya kembali mengikuti aturan Hajjaj dengan sedikit inovasi. Sejak itu dikenalkanlah jizyah dan kharaj sehingga dalam jangka panjang negara tidak mengalami kerugian.

Reformasi budaya dan pertanian juga dilakukan Hajjaj, lalu pengembangan tanda baca diakritik untuk membedakan huruf Arab yang sama seperti ba, ta, dan tsa serta peminjaman tanda vokal suriah, dhammah, fathah, dan kashroh reformasi ortografi ini dilakukan Hajjaj untuk menghindari kesalahan dalam membaca al-Quran.

Monumen-monumen Arsitektural

Di antara prestasi menonjol pada masa ini adalah banyaknya monumen arsitektural, yang beberapa diantaranya bertahan hingga sekarang.

Kota al-Ramlah yang masih ada sampai Perang Dunia II, menara masjid Putih yang dibangun kembali oleh raja Mamluk pada awal dekade abad 14 masih berdiri hingga kini. Masjid al-Aqsha sebagai tempat suci setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Perluasan Masjidil Haram dan renovasi Masjid Nabawi, pembangunan institusi untuk melayani penderita lepra, orang lumpuh, dan buta di Suriah. Perubahan fungsi katedral St. Yahya pembaptis di Damaskus menjadi masjid agung-Masjid Umayah.

Diantara khalifah-khalifah lain pada masa kejayaan Dinasti Umayah, hanya Umar II  (717-720) dan Hisyam yang menjadi fokus perhatian kita. Umar terkenal dengan kesalehan dan kezuhudannya, berbeda jauh dengan corak pemerintahan Umayah yang terkenal sekuler. Karena itulah ia dikenal sebagai sufi-nya Umayah. Ia diyakini sebagai pembaharu Islam pada abad ke-2 H. Ia mengenakan pakaian tambalan dan berbaur dengan rakyatya sedemikian rupa. Umar juga menghentikan kebiasaan para pendahulunya yaitu pengutukan terhadap Ali dan keluarganya. Kesalehan Umar yang meninggal pada usia 52 tahun telah menyelamatkan makamnya dari pengrusakan yang dilakukan oleh orang-orang Abbasiyah terhadap makam para khalifah Umayah.

Masa keemasan Dinasti Umayah berakhir pada masa pemerintahan Hisyam (724-743) anak keempat Abdul Malik. Pada masa inilah banyak terjadi penyimpangan administrasi dan korupsi yang meruntuhkan pemerintahan Umayah dan membuat wilayahya menjadi mangsa empuk Bani Abbasiyah. 

2 thoughts on “Sejarah Bangsa Arab (Bab 12- Puncak Kekuasaan Bani Umayah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s