Menolak Makanan Surga

Benar sekali pendapat yang mengatakan bahwa manusia itu merupakan produk kebiasaan. Apapun yang telah menjadi adat, baik itu pola hidup, pergaulan, tradisi budaya, pakaian, sampai makanan apabila telah menjadi identitas bagi diri kita maka sulit sekali untuk dilepas. Semua yang nenek moyang kita lakukan dulu ditransmisikan ke kita, dari kecil sampai dewasa kita dibentuk dengan budaya-budaya lampau. lama kelamaan, semua itu mengeras dan mengkristal, mewujud menjadi suatu karakter yang menunjukkan, inilah kami atau inilah masayarakat kami.

Secara alami, semakin banyak orang yang terlibat dalam satu persamaan maka semakin kuat pula juga rasa kesatuannya serta makin susah pula dihilangkan apa yang menjadi ciri khas mereka. Melarang seseorang yang gila pedas agar tidak memakan sesuatu dengan sambal saja sudah bukan main susahnya. Coba bayangkan, jika menghilangkan kebiasaan yang sudah mendarah daging dalam komunitas masyarakat, mungkin butuh puluhan ahli psikologi dan pakar sosiolog untuk mengubah paradigma masyarakat, itupun pastinya memerlukan jangka waktu yang cukup lama pula.

Saya jadi teringat oleh kisah Nabi Musa, dalam sejarah Musa merupakan Nabinya Bani Israil yang berhasil mengeluarkan Bani Israil dari cengkraman Fira’un di Mesir. Eksodus yang dilakukannya bukan merupakan pelarian biasa yang ceritanya datar, tetapi pelarian mereka untuk mencapai tanah yang dijanjikan-Yerussalem-penuh cerita dramatis dan sangat kental dengan nuansa mukjizat.

Pasti pembaca sudah familiar sekali dengan cerita ini, ketika kelompok Nabi Musa dikejar oleh Raja tiranik Fir’aun dan tepat Musa berada di bibir pantai maka seakan harapan untuk kabur pupus. Di depan telah menghadang lautan yang tidak mungkin diselami dan dibelakang Firaun dan antek-anteknya telah nyaris mencapai mereka. Seketika, isyarat cepat dari Tuhan datang, Musa diperintahkan memukul tongkatnya dan secara fantastis terbelahlah lautan. Kita berhenti di sini untuk merenung, andai saja kita mengalami peristiwa semacam ini, melihat laut telah terbelah, lalu memberikan semacam jalan yang dengannya kita bisa menerobos laut. Di kiri dan kanan, kita melihat gulungan ombak yang menjulang dan seakan berhenti, saya yakin pasti seketika itu pula keimanan kita naik sambil takjub kita berkata, “Inilah kekuasaan Allah”

Tangan Tuhan tidak selesai bekerja sampai di situ, giliran Firaun dan anak buahnya menyebrang maka lautan itu disatukan kembali seperti sedia kala. Gulungan air raksasa tumpah menimpa mereka dan binasalah Firaun dan kelompoknya. Sebetulnya, dengan peristiwa ini saja sudah bisa menyadarkan bahwa Allah ada di pihak Musa. Maka, seharusnya para pengikut Musa sudah tidak lagi ragu bahwa ajaran Musa untuk menyembah Allah Yang Esa adalah ajaran yang benar.

Setelah selamat dari kejaran, Musa meneruskan pengembaraannya. Ketika para pengikutnya merasa kehausan, di tengah-tengah gurun yang tidak ada sumber air maka sekali lagi Allah menolong mereka. Musa diperintahkan memukul tongkatnya pada sebuah batu seketika memancarlah dua belas mata air agar kedua belas suku yang menjadi pengikut Musa bisa minum darinya (lih. al-Baqarah ayat 60)

Tidak sampai disitu, ketika mereka merasa kepanasan karena teriknya kondisi gurun mereka mendapatkan naungan awan. Lalu, ketika mereka merasa lapar sekali lagi Allah sangat bermurah hati kepada mereka, kini giliran hidangan surga yang bernama manna (sejenis madu) dan salwa (sejenis daging burung puyuh)- lih al-‘Araf ayat 160. Bisa dibayangkan, jika ini terjadi pada kita, mata air yang memancar dari batu dan makanan yang turun dari langit sehingga kita bisa memakannya tanpa usaha lagi. Pasti, pada tahap ini, keyakinan kita akan kekuasaan Allah dan keharusan untuk hanya menyembah-Nya sudah ada pada titik tertinggi. Tapi kita akan lihat bahwa kebiasaan yang sudah mengakar pada sebuah komunitas akan sangat sulit dihilangkan walaupun seorang rasul yang menjadi pemeran utamanya.

Diriwatkan bahwa, para pengikut Musa tidak puas dengan hanya satu-dua makanan. Mereka memprotes musa bahwa di mesir mereka bisa memakan ikan, semangka, timun, bawang putih, bawang merah, dan kacang-kacangan tapi sekarang mereka kurus kering karena tidak ada apa-apa lagi yang bisa dimakan selain manna dan salwa. Dalam versi al-Quran dikatakan, “Hey Musa! Kami tidak tahan dengan satu makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah..” (al-Baqarah ayat 61). Rupa-rupanya, kebiasaan mereka memakan makanan bumi membuat mereka tidak suka memakan makanan yang berasal dari surga!.

Tidak hanya itu, ketika Musa meninggalkan kaumnya selama 40 hari. Mereka malah membuat patung sapi untuk disembah, ironisnya lagi ditengah-tengah mereka masih ada Nabi Harun yang walaupun tidak setuju dengan tindakan mereka tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Sepertinya, rangkaian mukjizat yang nampak di depan mata mereka belum cukup untuk menghilangkan kecenderungan mereka terhadap penyembahan berhala dan politeisme yang lazim mereka lakukan ketika di Mesir. Serentetan kejadian ini betul-betul membuktikan bahwa kebiasaan lama susah sekali dihapuskan bahkan kadang tidak bisa. Musa bisa saja mengeluarkan penduduk Israel dari Mesir, namun ia tidak bisa mengeluarkan (tradisi) Mesir dari orang-orang Israel.

Kita bisa saja mengkritik Bani Israel sebagai kaum yang benar-benar keras kepala dan tidak tahu terima kasih. Mungkin, perlakuan Bani Israel memang bisa dikatakan melampaui batas wajar, tetapi sekali lagi fenomena ini membuktikan bahwa manusia memang cenderung seperti itu. Maka itu, apabila ada adat budaya yang baik tetaplah itu dilestarikan, sebaiknya jangan mencoba-coba untuk menghapuskannya karena masyarakat yang tidak terima pastinya akan menentang balik sehingga malah besar kemungkinan terjadi keributan. Apabila kita ingin merubah tradisi buruk, sangat diperlukan kerjasama di antara orang-orang baik. Diperlukan kekompakan, tekad serta kesabaran dalam prosesnya sambil terus berdoa kepada Allah agar menjadikan msayarakat kita sebagai masyarakat madani, rukun, dan sejahtera.

Betul sekali kata Imam Feisal Abdul Rauf ,“Sering kali menunggu hilangnya sebuah generasi hingga munculnya generasi baru untuk menggantikan norma-norma atau praduga-praduga masyarakat yang telanjur berurat berakar”

Semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s