Jangan Marah Dulu

Teman-teman, kiranya bagaimana perasaan anda  ketika anda melakukan hal yang benar tapi tiba-tiba disalahkan oleh orang lain?. Marah? Jengkel? Atau manegur balik? Jika anda melakukan tiga hal di samping, sah-sah saja tetapi saya sarankan hati-hati karena bisa jadi andalah yang salah dan akhirnya anda melakukan dua kali kesalahan dan berarti dua kali malu. Hhe. Seperti kasus yang terjadi pada saya sendiri…

Ketika itu saya pergi ke masjid di dekat rumah saya untuk menunaikan shalat Ashar. Kebetulan saat itu pikiran saya sedang cerah sehingga adzan berkumandang saya langsung mengenakan koko, sarung, plus peci tentunya lalu berangkat ke masjid. Maklum, biasanya saya agak malas-malasan untuk on time. Tiba di masjid, langsung saja saya shalat qabliyah Ashar dan setelah itu duduk tenang untuk menunggu iqomat. Setelah salah seorang qomat dan waktu shalat berjamaah dimulai, para jama’ah segera mengambil posisinya masing-masing. Saya mendapat tempat di shaf pertama. Di samping saya ada bapak-bapak berbadan besar, yah cukup lama saya kenal beliau, namanya juga di lingkungan sendiri.

Singkat cerita, saya memulai takbiratul ihram pastinya berbarengan dengan itu pula niat shalat di dalam hati kita lantunkan dan memang harus berkonsentrasi agar ada persesuaian antara mulut yang mengucap takbir dan hati yang mengungkap niat. Tiba-tiba, konsentrasi saya buyar, tangan besar bapak-bapak itu menabok tangan saya. Petaak!! Kaget sekali saya dengan tingkah lakunya, saya langusung membatalkan shalat saya saat itu juga. Namun hati saya mengomel, “Sialan ni orang!, bikin malu, bikin kaget! Ga jelas banget, orang lagi mau shalat malah dibatalin. Kurang kerjaan lu, mau ngelucu apa?” saya gerutu dalam hati, mungkin kalo itu orang yang sepantaran dengan saya udah saya caci maki saat di luar masjid nanti .

Pada penggalan cerita ini kita berhenti sejenak untuk merenung. Apakah saya harus marah dengan perlakuan si bapak tersebut? Mungkin ini situasinya di masjid, jadi secara psikologis saya juga menjadi lebih tenang karena jelas kita tak diperkenankan berisik di sana. Untung hanya ditabok, bagaimana jika saya ditampar? Atau itu terjadi pada anda, ketika anda ingin memberikan santunan, tiba-tiba orang bertangan kekar menampar muka anda. Bagaimana reaksi anda, kebenaran dibalas dengan kekerasan. Yah, saya tidak tahu anda akan membalas apa, tapi yang saya bisa pastikan anda akan bonyok..hhe. oke, kita lanjutkan ceritanya…

Setelah membatalkan shalat saya, saya beranikan untuk menatap wajahnya. Saya tidak akan berani marah karena si bapak tersebut termasuk sesepuh di masjid itu tapi tampang saya jelas menunjukkan keheranan kepadanya. Aneh, dia tersenyum…oh mungkin dia puas mengerjai saya, itu yang ada di pikiran saya. Tapi saya salah, dia tersenyum sambil menunjuk ke arah imam. Saya tersentak sekaligus di dalam hati saya tertawa, ternyata si imam memang belum mulai shalat!!

Jadi, siapa yang salah? Ya pastinya saya, karena seenaknya mau mendahului imam. Berarti, bapak itu yang benar karena berusaha membatalkan shalat saya yang memang salah. Sekarang saya tahu, sebetulnya ada kondisi di mana, kita merasa benar padahal kita keliru. Lantas apabila seseorang menegur kekeliruan kita dengan beragam cara, pastikan kita tidak langsung menyalahi balik orang tersebut tetapi yang terbaik adalah menyelidiki kenapa ia menegur kita.. Karena bisa jadi kebenaran yang kita yakini sebetulnya belum benar atau minimal kebenaran yang kita lakukan belumlah pada saatnya. Andai, saya mengomel pada kala itu bukankah saya akan malu dua kali?

Semoga bermanfaat 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s