Bab 14-(Part 2-Warisan Peradaban Dinasti Umayyah dan Akhir Kekuasaannya)

Perkembangan Arsitektur

Teknik arsitektur kelas atas yang diperlihatkan muslim pada masa ini tidak diperoleh dari budaya Arab sendiri tetapi diadopsi dari Mesir dan Suriah-Yunani. Sebagai seni paling awal dan permanen, arsitektur selalu menjadi reprsentasi utama seni bangunan. Sejauh mengenai orang Arab Islam, keesenian menemukan ekspresinya yang tertinggi dalam arsitektur bangunan tempat ibadah. Arsitektur masjid juga merupakan contoh yang melukiskan antara perpaduan budaya antara Islam dan budaya daerah sekitarnya.

Masjid Muhammad (Nabawi) yang sederhana di Madinah telah menjadi prototipe umum masjid-masjid besar pada abad pertama Islam. Masjid ini mempunyai pelataran terbuka yang dikelilingi oleh dinding dari tanah liat yang dijemur. Nabi kemudian menambahkan atap untuk menutup ruang yang terbuka. Setelah berhasil mengusai Asia Barat dan Afrika Utara dan berhasil pula menguasai puing-puing bangunan ber-arsitektur tinggi dan keterampilan teknis yang dimiliki oleh bangsa taklukan, masjid Nabawi direnovasi dan dimodifikasi. Sesuai dengan kondisi masing-masing teknik, maka terciptalah gaya yang khas dengan perpaduan kesenian Saracen, Arab, dan Islam.

Dalam bidang arsitektur, selain tempat-tempat ibadah. Dinasti Umayyah hanya meninggalkan beberapa monumen arsitektur. Bangunan paling penting diantaranya adalah istana-istana padang pasir yang didirikan oleh putra mahkota keluarga kerajaan

Perkembangan Senirupa dan Musik

Kebanyakan teolog Islam menyatakan bahwa melukiskan manusia dan hewan merupakan hak prerogatif Tuhan, dan menganggap orang yang melanggar batasan itu sebagai penghina agama. Karenanya tidak ada satu gambar manusia yang ditemukan dalam masjid, tetapi dalam berbagai kesempatan kita bisa menemukannya di dalam istana dan di beberapa karya tulis. Hampir semua motif hiasan dalam kesenian Islam menggunakan motif tanaman dan garis-garis geometris. Apa yang kita sebut sebagai senirupa Islam merupakan unsur gabungan dari berbagai motif dan gaya yang kebanyakan merupakan hasil kejeniusan artistik masyarakat taklukan yang berkembang di kawasan Islam.

Mengenai perkembangan lagu dan nyanyian, bisa dikatakan bahwa pada masa pra-Islam, orang Arab memiliki lagu: kemenangan, perang, keagamaan, dan cinta. Masyarakat Hijaz pra-Islam sudah mengenal tambur segi empat, seruling, dan suling rumput. Pada masa Nabi, alat musik dari luar mulai mewarnai perkembangan musik HIjaz, seperti gambus dan seruling kayu yang diperkenalkan dari Persia.

Kecaman Nabi terhadap para penyair muncul karena mereka menjadi condong pada penyembahan berhala. Nabi pun mendeskreditkan musik, juga karena musik diasosiasikan dengan ritual ibadah kaum pagan. Kebanyakan ahli hukum dan teolog menentang musik meski dengan kadar yang berbeda-beda. Pada perkembangan berikutnya, setelah Nabi wafat, muncul apresiasi masyarakat terhadap musik dalam Islam. Khususnya pada masa Utsman, nyanyian elegan dan artistik semakin diterima di Hijaz.

Dengan demikian, pada masa Dinasti Umayyah, Makkah lebih khusus lagi Madinah merupakan tempat yang kondusif bagi perkembangan lagu dan musik. Kedua kota itu terus memunculkan generas-generasi biduan baru yang terus meningkat dan meneruskan karier di ibukaota kerajaa Islamn, Damaskus. Upaya protes dari kalangan ulama konservatif dengan menggunakan hadits Nabi menjadi sarana paling efektif dalam melarang alunan musik dan lagu. Namun ternyata pengaruh musik tak mampu diredam, terlebih lagi adanya perbedaan diantara ulama yang melarang dan membolehkan musik. Terlebih lagi,  tradisi musik didukung oleh para khalifah kerajaan.

Kemunduran dan Akhir Dinasti Umayyah

Kelemahan klasik dan khas dari kehidupan sosial orang Arab, yang terlalu menekankan individualisme, semangat kesukuan, dan pertikaian kembali menampakkan wujudnya. Konflik muncul akibat kecemburuan yang terjadi antara pihak Arab Utara yang diwakili oleh suku Qays terhadap orang-orang Arab Selatan yang diwakili oleh salah satu suku di Yaman yang bernama Kalb. Muawiyah, pendiri Dinasti Umayyah membangun kekuasaan di Suriah di atas pundak orang Yaman. Yazid, penerusnya dilahirkan dari seorang ibu dari suku Kalb. Suku Qays yang merasa iri tidak mau mengangkat penerusnya, Muawiyyah II, dan mengangkat khalifah baru, Ibn Zubayr.

Akhirnya polarisasi dualisme Arab ini mencapai bentuknya yang sempurna. Perpecahan mendahului kajatuhan dinasti ini dan dampaknya sudah mulai dirasakan pada tahun berikutnya di tempat –tempat yang berbeda. Di berbagai provinsi terjadi pertumpahan darah hanya karena persoalan sepele. Contoh kasus adalah, pertempuran yang terjadi hanya dikarenakan adanya pencurian-oleh suku Ma’ad-sebutir semangka dari kebun seorang Yaman

Selain perpecahan antar suku dan konflik diantara anggota keluarga kerajaan, faktor lain yang menjadi sebab utama jatuhnya kekhalifahan Umayyah adalah munculnya berbagai kelompok yang memberontak dan merongrong kekuasaan mereka. kelompok Syiah yang dari awal sudah merasa direbut kekuasaannya kini semakin aktif melakukan pemberontakan ditambah dengan dukungan publik di sekeliling mereka, yaitu orang-orang yang merasa tidak puas, baik dari sisi politik, ekonomi, maupun sosial terhadap Dinasti Umayah.

Selain kedua kelompok di atas, kekuatan destruktif lainnya mulai bergerak aktif. Keluarga Abbas, para keturunan paman Nabi, al-Abbas bin Abdul Muthalib mulai menegaskan tuntutan mereka untuk menduduki pemerintahan. Dengan cerdik mereka bergabung dengan pendukung Ali (Syiah) dengan alasan kedekatan kekeluargaan di antara mereka.Dengan memanfaatkan kekecewaan publik dan menampilkan sebagai pembela sejati agama Islam, para keturunan Abbas segera menjadi pemimpin gerakan anti Umayyah.

Pemerintahan Umayah yang Arab sentris memunculkan kekecewaan dari berbagai kelompok masyarakat yang merasa dianak tirikan oleh penguasa. Orang Islam non-Arab pada umumnya dan khususnya orang Persia, memiliki alasan yang kuat untuk kecewa. Selain karena tidak memperoleh kesetaraan ekonomi dan sosial yang sama dengan Arab Islam, mereka diperlakukan secara umum sebagai maula (mantan budak). Terlebih, meningkatnya kesadaran bahwa mereka memiliki kebudayaan dan khazanah intelektual lebih tinggi ketimbang orang Arab. Di tengah-tengah massa yang kecewa itulah, Abbas-Siah menemukan lahan yang cocok untuk melaksanakan propagandanya.

Kejatuhan Dinasti Umayah semakin dekat ketika terbentuk koalisi antara kekuatan Syiah, Khurasan, dan Abbasiyah yang dimanfaatkan oleh kelompok terakhir untuk kepentingan sendiri. Di bawah kepemimpinannya, Islam revolusioner bangkit menentang tatanan yang ada dan menawarkan gagasan teokrasi dan janji untuk kembali pada tatanan ortodoksi. Pemberontakan dimulai, di mana-mana pasukan bendera putih Umayah berhadapan dengan pasukan bendera hitam, Abbasiyah. Kemenangan berada pada pihak oposisi, satu demi satu wilayah basis Dinasti Umayyah jatuh.

Setelah jatuhnya ibukota Khurasan, Marw (749) kemudian diikuti oleh jatuhnya ibukota Irak, Kufah yang menyerah tanpa perlawanan berarti. Pada hari Kamis, 30 Oktober 749, pangakuan publik diberikan di masjid kepada Abu al-Abbas sebagai khalifah. Dengan demikian, khalifah pertama Dinasti Abbasiyah telah diangkat.

Orang Abbasiyah kini berencana memusnahkan keluarga Dinasti Umayah. Sebanyak 80 orang dari keluarga kerajaan Umayah diundang ke istana untuk menghadiri jamuan makan dan ditengah proses jamuan itu, kesemuanya dibantai. Saking bencinya dengan Dinasti Umayyah, jasad-jasad khalifah Umayah terdahulu digali dan dibongkar, hanya makan Umar bin Abdul Aziz-karena keshalehan dan kezuhudannya- yang selamat dari nasib serupa. Namun, tidak semua keluarga dari Dinasti Umayyah berhasil dibunuh, Abd al-Rahman bin Muawiyah bin Hisyam berhasil lari ke spanyol yang pada akhirnya ia akan mendirikan kerajaan Umayah versi Spanyol.

Dengan jatuhnya Dinasti Umayyah, kejayaan dan hegemoni Suriah telah berakhir. Periode Arab murni dalam sejarah Islam telah berakhir dan era kerajaan Arab murni kini sedang bergerak cepat menuju titik akhir. Era baru tengah bergulir, orang Irak telah terbebas dari orang Suriah, dendam Syiah telah terbalaskan, orang Khurasan menjadi pasukan pengawal khalifah, dan orang-orang Persia kini menduduki jabatan penting dalam pemerintahan. Arabisme telah runtuh, namun kekuasaan Islam terus berlanjut, dan di bawah berndera internasional, Iranisme mulai melangkah penuh kemenangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s