Malulah Karena Kasih Sayang Allah

Inilah akhlak yang mampu menjaga moralitas umat. Akhlak yang dapat menjadikan individu, keluarga, dan masyarakat terhindar dari kehinaan dan kebinasaan. Dengannya seseorang terhindar dari jahatnya nafsu, busuknya rayuan syahwat, dan hinanya bisikan syaithan. Hilangnya ia merupakan tanda rusaknya kalbu dan terkikisnya ia merupakan sinyal tergerusnya iman.

Malu itu adalah terkendalinya jiwa, jika ia meliputi seseorang maka seakan mustahil orang tersbut melakukan zina, mencuri, berdusta, khianat, dan maksiat lainnya. Seseorang menjadi mulia dihadapan Allah, karena ia enggan bermaksiat karena rasa malu. Seseorang terhormat di mata manusia, karena ia selalu menampilkan akhlak yang luhur karena malu. Sifat malu bagaikan denyut kehidupan yang menjadikan empunya terhindar dari dosa dan ia adalah perasaan yang hidup sehingga menjadikan jiwa tidak jatuh ke dalam kenistaan.

Jangan samakan malu dengan minder karena keduanya sungguh bertolak belakang. Minder itu didasari kebingungan akan situasi tertentu sedangkan malu didasari dari kejernihan hati dan ketundukan kepada Allah. Jika ada seseorang yang haknya dirampas lantas ia ditanya, “Kenapa engkau diam?”, lantas ia berkata “Aku malu.” Percayalah itu bukan malu namanya tetapi pengecut karena jika ia malu kepada dirinya harusnya ia berani menuntut haknya.

Nabi bersabda, “Iman mempunyai enam puluh lebih cabang dan malu adalah salah satu cabangnya”(HR. Bukhari). Lihat dan renungkanlah ternnyata salah satu bahan iman adalah malu, tanpa malu berarti iman kita tidak akan sempurna. Di lain tempat beliau bersabda, “Setiap agama mempunyai akhlak dan akhlak Islam adalah malu”. (HR. Ibnu Majah). Ini bukan berarti akhlak Islam hanya terdiri dari malu, tetapi ini mengisyaratkan bahwa malu merupakan akhlak yang terpenting dari Islam.

Tengoklah sekeliling kita, maka zaman sekarang ini rasa malu sudah mulai menjauh dari penglihatan bahkan kata malu sudah menjadi asing ditelinga kita. Lihatlah Aisyah, ketika memasuki rumahnya yang di situ terdapat makam Rasulullah dan Abu Bakar, ia melepaskan jilbabya karena mereka adalah suami dan ayahnya sendiri. Namun ketika terdapat makam Umar di samping makam Rasulullah dan Abu Bakar ia selalu mengenakan jilbabnya dan merapatkan bajunya karena malu kepada Umar. Lihatlah Aisyah malu kepada Umar yang sudah wafat, jangan heran karena Aisyah hatinya hidup dan pemalu. Berbeda dengan kebanyakan mereka yang sudah membuang rasa malunya sehingga biasa saja mempertontonkan auratnya dihadapan orang banyak.

Lihatlah Utsman bin Affan, tentangnya Nabi bersabda, “Umatku yang paling pemalu adalah Utsman”, (Hadits Syarif). Ketika Nabi sedang duduk di rumahnya dengan paha beliau terbuka sedikit lalu masuk Abu Bakar tetapi Nabi tidak mengubah posisinya, lalu masuk Umar, Nabi pun tetap dalam keadaan semula, lalu masuk Utsman dan Nabi segera menyingkap pakaiannya agar pahanya tidak lagi terlihat. Ketika ditanya oleh Aisyah kenapa ketika Abu Bakar dan Umar masuk Nabi tidak memperbaiki ppsisinya namun ketika Utsman masuk lalu Nabi mengubah posisinya dan menutup rapat auratnya. Nabi menjawab, “tidak layakkah aku malu kepada Utsman yang bahkan para malaikat pun malu terhadapnya,” (HR, Muslim). Subhanallah, adakah di zaman sekarang yang seperti Utsman?. Adakah yang memilki setengah dari malu Utsman? atau sepertiganya? Seperlimanya?. Jika ada niscaya orang itu menjadi panutan hidup kita sekarang.

Malulah karena kasih sayang Allah

Setelah penjelasan di atas, apakah kita masih tidak mau menumbuhkan rasa malu kita? Terutama malu untuk bermaksiat kepada Allah. Lihatlah kasih sayang Allah kepada para hambanya, lihatlah kelembutan-Nya dan perhatian-Nya kepada kita. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman. “Aku yang menciptakan tetapi selain-Ku yang disembah. Aku yang memberi rizki tetapi selain-Ku yang disyukuri. Kebaikan-Ku turun kepada hamba, sementara keburukan mereka naik kepada-Ku. Aku berbaik hati kepada mereka dengan memberi berbagai nikmat padahal Aku tidak butuh kepada mereka. Tetapi mereka justru memperlihatkan kebenciannya kepada-Ku padahal mereka makhluk yang paling butuh terhadap-Ku. Orang yang berdzikir mengingat-Ku adalah teman duduk-Ku. Siapa yang ingin menjadi teman duduk-Ku hendaknya ia berdzikir mengingat-Ku. Orang yang taat kpada-Ku adalah pecinta-Ku. Sementara orang yang bermaksiat kepada-Ku tidak Kubuat mereka putus asa dari rahmat-Ku. Jika mereka bertaubat kepada-Ku niscaya Aku menjadi kekasih mereka. Jika menolak, maka aku yang akan mengobati mereka. Kuuji mereka dengan berbagai musibah agar mereka suci dari noda. Siapapun yang datang bertaubat kepada-Ku, Kusambut dari jauh. Siapa yang menantang-Ku Kupanggil dari dekat. Aku akan bertanya kepadanya, ‘Ke mana engkau hendak pergi? Apakah engkau mempunyai Tuhan selain-Ku?’. Kebaikan di sisi-Ku dibalas dengan sepuluh kali lipat dan bisa Kutambah. Sementara kejahatan di sisi-Ku dibalas semisalnya dan bisa Kuampuni. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, seandainya mereka meminta ampunan kepada-Ku pasti Kuampuni.”

Percayalah, jika kalbu kita suci, bersih, dan hidup pasti kita akan menangis mendengar pernyataan Allah tersebut.

Apakah sesudah Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kita masih saja suka menipu, berbangga dengan dosa, memakan makanan yang haram, melihat yang haram, bertindak semena-mena, rajin menggibah, mengkhinati amanat, tidak menutup aurat, malas menuntut lmu, lalai dari shalat, dan enggan membaca Al-Quran?

Masihkah kita rela menggunakan rahmat Allah untuk bermaksiat kepadanya?. Andai saja Allah memperlakukan kita dengan adil niscaya manusia sudah binasa karena kedurhakaannya. Tetapi Dialah Dzat Yang Maha Pengasih, Dialah Maha Penyayang sehingga rahmat-Nya tidak pernah terputus kepada kita dan kasih sayang-Nya selalu meliputi alam semesta ini.

Sekarang, setelah hati kita menjadi tentram dan perasaan menjadi indah, berjanjilah kepada diri kita sendiri untuk tidak berbuat maksiat kepada Allah, minimal berjanjilah dan berusahalah untuk mengurangi tingkah laku buruk kita, terus meminimalisir maksiat, dan memperbanyak istighfar. Bukankah kita malu kepada Allah? Bukan begitu?!

Yaa Allah, berikanlah kemampuan pada kami dalam meningkatkan kebaikan dan mengurangi keburukan yang ada pada diri ini. Aminn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s