Kisah sesendok madu

Alkisah ada seorang Raja yang ingin menguji kesetiaan rakyat kepadanya. Maka pada suatu hari diperintahkanlah semua rakyatnya untuk membawa sesendok madu dan menuangkannya pada sebuah kendi besar yang sudah dipersiapkan oleh kerajaan. Sang Raja memberikan waktu satu hari kepada seluruh rakyatnya untuk mengumpulkan madu tersebut. Ketika hari pengumpulan madu tiba ada salah satu rakyatnya yang mempunyai pikiran buruk, dia berkata di dalam hatinya “Andai saya memasukan sesendok air maka itu tidak akan berpengaruh, toh kendi itu cukup besar untuk menampung madu dari orang-orang selain saya jadi sesendok air tidak akan terlihat bedanya dengan madu”. Segera orang itu memasukan sesendok air ke kendi pada malam hari agar tak seorang pun melihatnya melakukan tindakan curang tersebut.

Keesokan harinya sang Raja mengundang seluruh rakyatnya untuk melihat hasil pengumpulan madu mereka dan setelah kendi itu dibuka, ternyata semua yang menyaksikan terperanjat kaget!! Kenapa sebabnya? Karena seluruh isi kendi itu berisikan air.  Ternyata yang mempunyai pikiran buruk tidak hanya satu orang tetapi mereka semua berpikiran sama. Sang Raja pun marah dan akhirnya menghukum semua rakyatnya dengan pukulan cemeti karena ketidaksetiaannya kepada Raja.

Inilah sekilas kisah yang esensinya begitu terasa dalam kehidupan kita sehari-hari. Begitu sering  kita mempunyai pikiran-pikiran rendah seperti contoh di atas. Niat awal yang buruk dan keculasan diri kita yang sering membuat masalah besar dan mengakar pada realita kehidupan.

Berapa banyak organisasi yang jika mengadakan rapat tidak pernah mengalami ke-ngaret-an? berapa banyak orang yang tak pernah on time jika mengadakan janji?. Kita harus menyadari dan mengakui itu semua dikarenakan keculasan diri kita yang sudah terpatri begitu dalam sehingga kita semua mempunyai motto “Paling saya doang yang ngaret ga akan masalah” tapi apa jadinya, semua orang dalam rapat tersebut ngaret!!. Malah lebih buruk lagi ketika mereka semua berpikiran “paling semuanya ngaret”, akhirnya ngaret menjadi hal mutlak yang pasti terjadi saat rapat. Ketika ini sudah menjadi kebiasaan maka akan timbul prinsip “kalau ingin mengadakan rapat jam 19.00 maka dalam pemberitahuan, rapat diadakan jam 17.00”. lihatlah betapa bobroknya akhlak kita dan betapa jahatnya kita kepada orang-orang yang memiliki keistiqomahan dalam waktu sehingga dia menelantarkan temannya selama dua jam bahkan lebih karena ternyata rapat baru dimulai jam 19.30, ngaret 30 menit setelah berbohong 2 jam!. Saya dan anda tak bisa mengelak karena inilah realita kehidupan kita.

Jika anda menelusuri jalan maka lihatlah berapa banyak sampah-sampah menghiasi jalanan, mungkin di setiap meter jalan ada saja sampah yang terlihat dari bungkus permen, botol minum, kantong kresek dll. Kita pikir hanya dengan membuang sampah yang kecil maka kebersihan jalanan tidak akan rusak, itulah imajinasi bodoh yang tertanam di benak kita semua dan apa akibatnya, lihatlah, pinggir jalanan sudah seperti tong sampah milik umum, selokan dan kali sudah menjadi tempat mengalirnya sampah bukan air, dan anehnya tempat yang bertuliskan ”dilarang membuang sampah” malah menjadi tempat favorit untuk masyarakat membuang sampah mereka. Jangan membantah, karena saya dan anda melakukannya!!.

Masih banyak lagi permasalahan-permasalahan besar dan tak kunjung sembuh ini diakibatkan dari ke-egoisan kita meremahkan hal-hal kecil dan remeh. Lihatlah efek jam karet buatan Indonesia dan banjir yang melanda itulah dampak besar yang bersumber dari pengabaian hal-hal kecil. Ingatlah pegunungan itu hanyalah kumpulan kerikil-kerikil kecil dan samudra itu berawal dari muara sungai-sungai sempit.

Mulai sekarang saya menghimbau khususnya bagi diri saya dan umumnya kepada para saudara agar turut berpartisipasi untuk membudayakan akhlak yang baik dalam segala sendi kehidupan kita. Mulailah dari diri sendiri agar tidak meremehkan hal-hal kecil, niatkan itu semua demi memperbaiki budaya buruk yang sudah mengakar pada masyarakat kita. Ini memang berat dan susah namun dengan tekad yang kuat insyaAllah kita mampu merubah ini semua, seminimal mungkin kita merubah diri kita sendiri menjadi lebih baik dan mempunyai nilai lebih di sisi Allah.

Yaa Allah berilah kami petunjuk, kuatkan tekad kami, dan kukuhkan kebersamaan kami dalam mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar. Aminn. J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s