Cinta Mereka Kepada Rasulullah

Dalam pribadi yang agung ini, tersimpan khazanah keluhuran yang dengannya beliau diagungkan dan dihormati oleh setiap makhluk di jagad raya. Pancaran kasih sayangnya menyebar ke segenap penjuru dan merembes kepada setiap individu, baik dari jenis manusia, binatang, tumbuhan, dan mineral lainnya sehingga mereka pun menyayangi Nabi melebihi diri mereka sendiri. Pengutusannya sebagai rahmat bagi alam semesta membuat beliau dirahmati oleh setiap insan sampai di titik di mana mereka tidak memikirkan dirinya sendiri dan lebih memikirkan keadaan Nabi.

Dalam tulisan singkat ini, akan diceritakan sedikit tentang betapa cintanya para sahabat, binatang, sampai dengan tumbuhan kepada Rasulullah. Kadar cinta yang menunjukkan betapa tingginya kedudukan beliau dan betapa pentingnya kehadiran beliau di dunia ini, dan betapa cinta Allah kepadanya menuntut makhluk langit sampai bumi, dari yang terbesar sampai yang terkecil, dan dari yang teremeh hingga tervital juga mencintainya dengan sepenuh hati.

Cinta Abu Bakar

Saat Fathu Makkah, Abu Quhafa, ayah Abu Bakar belum masuk Islam. Ia masuk Islam dalam usia sangat lanjut. Ia sudah buta. Abu Bakar membawanya ke hadapan Nabi untuk menyatakan keislamannya sealigus berbaiat kepadanya. Nabi SAW berkata padanya, “Wahai Abu Bakar, mengapa tidak kau biarkan orang tua ini berada di rumah dan kita yang mendatanginya?”. Abu Bakar menjawab, “Engkau lebih pantas untuk didatangi, ya Rasulullah.”. selanjutnya Abu Quhafah masuk Islam. Saat itulah Abu Bakar menangis. Orang-orang menegurnya, “ini hari bahagia, ayahmu masuk Islam dan selamat dari api neraka. Kenapa engkau malah menangis?”. (HR. Imam Ahmad 6249, 250)

Coba bayangkan!. Apa kitra-kira jawaban Abu Bakar?. Ia menjawab, “Karena aku mengimpikan orang yang berbaiat kepada Nabi saat ini bukanlah ayahku, tetapi Abu Thalib.

Lihatlah sikap Abu Bakar yang lebih mementingkan kebahagiaan Rasulullah, karena paman Nabi yang bernama Abu Thalib-orang yang selalu membela dan melindunginya- meninggal dalam keadaan belum masuk Islam.

Cinta Sawad ibn Ghaziyah

Di saat perang Uhud, Sawad ibn Ghaziyah berdiri di tengah-tengah pasukan. Posturnya agak gemuk. Nabi saw, kemudian berkata kepada pasukan, “Lurus….lurus!”. Nabi melihat Sawad dalam kondisi tidak lurus. Nabi saw berkata, “Lurus wahai Sawad!”. Sawad menjawa, “Ya wahai Rasulullah.” Ia berdiri namun tetap tidak lurus. Selanjutnya Nabi menghampiri Sawad dengan membawa siwak dan menusuk perut Sawad (ini terjadi di saat perang) seraya berkata, “Lurus wahai Sawad.” Sawad menjawab, “Sakit wahai Rasulullah. Demi zat yangmengutusmu membawa kebenaran, berikan kesempatan padaku membalasmu!.” Maka Nabi saw membuka baju sehingga perutnya yang mulia terlihat. Lalu beliau berkata, “Silahkan menuntut balas, wahai Sawad!” segera saja Sawad mendekap perut Nabi saw dan menciuminya.

Ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang kulihat (perang) telah tiba dan bisa saja aku terbunuh. Maka di saat akhir perjumpaanku denganmu aku ingin kulitku bersentuhan dengan kulitmu.” Mendengar hal tersebut lalu Rasulullah mendoakan kebaikan untuknya.

Subhanallah, ini merupakan cita-cita yang begitu luhur, pada detik-detik terakhir bukan harta ataupun keluarga yang dipikirkan tetapi keinginan yang begitu dalam untuk bersentuhan dengan kulit Rasulullah SAW.

Kisah sebatang kurma

Sebelum mimbar dibangun, Nabi berkhutbah di masjid di samping sebatang pohon agar sahabat bisa melihat. Beliau berdiri dengan memegang batang pohon tersebut. Ketika mimbar telah dibangun, Nabi meninggalkan batang pohon tadi dan berdiri di atas mimbar itu. (ini adalah salah satu dari sedikit hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat karena mereka semua mendengarnya). Mereka berkata,

“kami mendengar suara rintihan batang pohon tersebut karena sedih ditinggalkan Nabi saw. Lalu kami lihat beliau turun dari mimbar dan kembali ke batang pohon itu. Beliau mengusapnya, seraya berkata. ‘Apakah engkau tidak rela dikubur di sini bersamaku di surga?’”. Maka batang pohon itu pun menjadi tenang. (HR. Ibn Majah no 1445).

Bayangkan!, batang pohon yang tidak punya perasaan pun menangis ketika ditinggal Rasulullah. Jadi apakah kita lebih tidak punya hati ketimbang batang kurma tersebut karena tidak ingin mengetahui sedikit pun sejarah Rasulullah?

Ketika Perang Uhud

Imam Buhkari meriwayatkan bahwa ketika Perang Uhud meletus, beberapa orang sahabat melindungi Rasulullah Saw. Dengan tubuh mereka sendiri. Abu Thalhah melindungi bagian depan Rasulullah dengan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai. Sebuah perisai kulit yang ia kenakan di pinggangnya. Abu Thalhal adalah pemanah yang sangat hebat. Setiap kali Abu Thalhah melepaskan anak panah, Rasulullah berusaha melongokkan kepala beliau untuk melihat ke arah banyak orang. Pada saat itu Abu Thalhah berkata, “Demi ayah dan ibuku, janganlah engkau melongokan kepalamu, karena engkau akan terkena panah yang mereka lepaskan. Biarlah kugunakan tubuhku untuk melindungi tubumu.” (HR. Bukhari, 5/23)

Aksi Heroik Abu Ubaidah bin Jarrah

Ketika umat Muslim sedang dalam kondisi terdesak dalam perang Uhud, Rasulullah pun mendapatkan serangan serangan hebat sampai-sampai dua keping lingkaran rantai topi besi yang menutupi wajahnya telah menusuk dan menembus pipinya. Ketika itu kepingan besi yang tertancap tidak bisa dicabut oleh tangan. Dengan kecintaan dan kerelaannya kepada Rasulullah, Abu Ubaidah bin Jarrah dengan cepat menghampiri Nabi lalu ia melakukan tindakan heroik dengan mencabut kepingan tersebut dengan giginya. Dengan aksinya itu, kepingan besi yang tertancap berhasil dicabut bersamaan dengan tercabutnya gigi geraham Rasulullah dan dua gigi depan Abu Ubaidah.

Betapa mengagumkannya kecintaan mereka kepada Nabinya, mereka lebih senang melihat Rasulullah senang ketimbang diri mereka sendiri, mereka ingin sekali bersetuhan dengan kulit beliau, tanaman bersedih karena berpisah dengan beliau, dan para sahabatnya rela mengorbankan diri mereka sendiri demi keselamatan beliau.

Itulah mereka, cinta orang-orang yang hidup bersama Rasululah. Bagi kita, yang tidak berjumpa dengan beliau di dunia in, apakah tidak ingin melihat paras beliau? Apakah tidak ingin berjabat tangan dengan beliau? Atau enggankah kita bercakap-cakap dengan beliau di surga nanti? Jika itu yang kita inginkan maka bukankah mulai dari sekarang kita harus lebih berusaha mencintai Rasulullah, mulai mencari tahu sejarah kehidupan beliau, lebih rajin lagi untuk bershalawat kepadanya dan mulai melatih diri untuk membiasakan dengan sunnahnya?  Semoga Allah memberikan kita hidayah dan taufiknya kepada kita.

Yaa Allah jadikanlah kami sebagai pecinta Rasulullah, pecinta sunnah beliau dan pertmukan kami dengan Rasulullah di surga-Mu. amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s