Sejarah Bangsa Arab (Bab 15-Berdirinya Dinasti Abbasiyah)

Al-Manshur Pendiri Sejati Dinasti Abbasiyah

Babak ketiga dalam drama besar politik Islam telah dibuka dengan perang penting yang dimainkan oleh khalifah al-Abbas (750-754). Dengan menjuluki dirinya sebagai al-saffah (penumpah darah), ia menjadi pendiri dinasti Arab ketiga dalam Islam, setelah Khulafa’urrasyidin dan Dinasti Umayyah. Dinasti Abbasiyah mengklaim bahwa pemerintahannya berkonsep teokrasi menggantikan Umayyah yang sekuler. Gagasan awal Dinasti Abbasiyah adalah kekuasaan harus selama-lamanya dipegang oleh Abbasiyah hingga akhirnya diserahkan kepada Isa sang juru selamat. Belakangan mereka berteori bahwa apabila Abbasiyah runtuh maka seluruh dunia akan kacau. Kenyataannya, perubahan keagamaan tampak lebih nyata, meskipun khalifah Baghdad ternyata sama sekulernya dengan khalifah Damaskus yang mereka gulingkan. Perbedaan yang sangat mendasar adalah, Dinasti Umayyah terdiri atas orang Arab, sementara Dinasti Abbasiyah lebih bersifat internasional. Abbasiyah merupakan kerajaan Islam yang terdiri dari beragam bangsa tidak hanya Arab.

Perbedaan lainnya adalah, untuk pertama kalinya dalam sejarah, kekhalifahan tidak diidentikan dengan Islam. Spanyol, Afrika Utara, Oman, Sind, dan bahkah Khurasan tidak mengakui khalifah baru itu. Juga Syiah yang mulai menyadari bahwa keluarga Abbas ternyata bukan bertempur untuk mereka tetapi demi kepentingannya sendiri.

Setelah al-Abbas meninggal (754), ia digantikan oleh saudaranya yang mendapat julukan al-Manshur. Al-Manshur merupakan khalifah terbesar Dinasti Abbasiyah, walaupun tidak shaleh tetapi dialah yang benar-benar membangun dinasti baru itu. Dibawahnya pula sebagian besar kerajaan Islam kembali disatukan-semuanya melalui cara kekerasan dan pembantaian-, kecuali Afrika Utara, yang hanya berhasil dikuasai khalifah hingga Kairawan, dan Spanyol yang berada di bawah kekuasaan Abd al-Rahman dari keluarga Umayyah. Setelah kondisi dalam negri berhasil diamankan, serangan kepada Byzantium kembali dilancarkan dengan menyerang benteng-benteng perbatasan. Bahkan mereka berhasil mencapai sumber-sember mata air di Baku sehingga pungutan pajak diberlakukan kepada mereka.

Pada 762 M, al-Manshur meletakkan pembangunan ibukota baru yaitu, Baghdad, tempat lahirnya kisah legendaris oleh Syahrazad, “Seribu Satu Malam”. Untuk membangun kotanya al-Manshur menghabiskan biaya sebanyak 4.883.000 dirham dan mempekerjakan sebanyak seribu arsitek, pengrajin, dan buruh yang berasal dari Suriah. Madinah al-Salam (kota kedamaian) menjadi nama resmi kota al-Manshur atau sering disebut juga kota lingkaran karena bentuknya yang melingkar.

Ilmu perbintangan yang menjadi acuan al-Manshur untuk menentukan letak markas militer, keluarga, dan pasukan pengawalnya sepenuhnya mengandalkan ramalan nasib para astrolog istana. Dalam beberapa tahun, kota tersebut menjadi sebuah pusat perdaganan dan politik skala internasional. Baghdad pada saat itu berhasil mencapai kejayaan dan kemegahan yang tidak ada tandingannya pada Abad Pertengahan, kecuali mungkin oleh Konstantinopel.

Begitu banyaknya pemerintahan Abbasuyah mengadopsi gaya Sasaniyah, Islam Arab jatuh ke dalam pengaruh Persia, kekhalifahan cenderung melestarikan sistem despotisme Iran dibanding sistem kesukuan Arab. Secara bertahap, gagasan dan pemikiran ala Persia mendominasi kehidupan masyarakat. Pengaruh Persia yang memperhalus sisi-sisi kasar kehidupan primitif Arab telah membukakan jalan bagi era baru yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kepelajaran. Orang Arab Islam hanya berhasil mempertahankan Islam yang menjadi agama resmi negara dan bahasa Arab yang menjadi bahasa resmi administrasi negara.

Keluarga Wazir Persia

Di bawah kepemimpinan al-Manshur sistem wazir yang berasal dari ketatanegaraan Persia diterapkan dalam pertama kalinya dalam pemerintahan Islam. Khalid bin Barmak adalah orang yang pertama memegang jabatan tinggi tersebut. Pada 7 Oktober 775, al-Manshur meninggal di dekat Makkah. Seratus kuburan digali demi menyamarkan kuburan asli dari musuh-musuhnya. Penggantinya, al-Mahdi (775-785) memercayakan pendidikan anaknya Harun kepada putra Khalid, Yahya. Dengan meneladani pemerintahan singkat saudaranya yang bernama al-Hadi (785-789), Harun mengangkat seorang keturunan Barmak menjadi wazir. Keluarga Barmak hidup dalam kemewahan, mereka mendirikan istana di sebelah Timur Baghdad. Istana Ja’fari menjadi kediaman utama dari sejumlah istana yang diangun. Tidak hanya dikenal kaya, tetapi keluarga Barmak juga dipuji karena kedermawanannya.

Sejumlah kanal, masjid, dan bangunan publik lainnya juga dibangun atas usulan keluarga Barmak. Ja’far  terkenal dengan kefasihan, kemampuan sastra, dan kemampuan menulis indahnya. Dengan jasanya itu, para sejarawan Arab menganggap keluarga Barmak menjadi cikal bakal kelas masyarakat yang disebut ‘masyarakat penulis’. Kedekatan Ja’far dengan khalifah Harun tidak menyenangkan bagi ayahnya, yahya, karena curiga hubungan mereka melenceng dari tatanan moral.

Karena terlau memberikan pengaruh dan berjaya, kini tiba masanya bagi seorang khalifah untuk menyingkirkan orang Persia. Barmak yang menganut Syiah menjadi terlalu berkuasa bagi khalifah Harun yang berkemauan keras (786-809) yang tidak mau ada dua matahari dalam pemerintahannya. Tindakan penyingkiran pun mulai dilancarkan, karena alasan tertentu Ja’far dibunuh, kepadanya ditancapkan pada salah satu jembatan di Baghdad, badannya yang terbelah dua digantung di jembatan yang berbeda. Yahya, dan anaknya yang terkenal Fadh beserta dua anaknya yang lain dipenjarakan dan akhirnya meninggal dalam penjara. Semua harta benda keluarga Barmak yang mencapai 30.676.000 dinar, belum termasuk ladang, istana, dan perabotan rumah tangga dirampas. Jadi, keluarga terkenal yang dibangun oleh Khalid al-Barmaki telah berakir dan tidak pernah bisa bangkit kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s