Sejarah Bangsa Arab (Bab 16-Part 1-Masa Keemasan Dinasti Abbasiyah)

Kekhalifahan Baghdad mencapai masa keemasannya antara masa khalifah ketiga, al-Mahdi dan khalifah kesembilan al-Watsiq, dan lebih khusus lagi pada masa Harun al-Rasyid dan anaknya al-Makmun. Terutama karena dua khalifah hebat ini, Abasyiah memiliki kesan baik dalam ingatan publik, dan menjadi dinasti paling terkenal dalam sejarah Islam. Setelah al-Watsiq, pemerintahan mulai menurun hingga pada masa kekhalifahan al-Mu’tashim, khalifah ke-38, dinasti tersebut mengalami kehancuran di tangan orang Mongol pada 1258. Pemahama tentang tingkat, kejayaan, kekuatan, dan kemajuan yang diraih oleh Dinasti Abbasiyah bisa diperoleh dari paparan di bawah ini.

Hubungan Internasional Dinasti Abbasiyah

Lembaran sejarah abad ke-9 diawali dengan dua nama raja yang menguasai percaturan dunia: Charlemagne di Barat dan Harun di Timur. Harun, jelas lebih berkuasa dan menampilkan kebudayaan yang lebih tinggi. Hubungan antara dua raja ini didorong oleh kepentingan pribadi. Charlemagne menjadikan Harun sekutu potensial untuk menghadapi Byzantium, sedangkan Harun menjadikan Charlemagne sekutu untuk menghadapi Dinasti Umayyah di Spanyol. Jika hubungan dengan Charlemagne berupa persahabatan, berbeda jauh dengan hubungan penguasa Abbasiyah dengan Byzantium. Perseturuan yang berusia lebih dari seabad antara kekhalifahan Islam dengan Byzantium kembali dimulai oleh khalifah ketiga Abbasiyah, al-Mahdi (775-785).

Puncak serangan terhadap Byzantium terjadi pada masa Harun al-Rasyid, serangan-serangannya berhasil menghancurkan Asia Kecil, dan mencapai puncaknya pada pendudukan Heraclea dan Tyna (806), juga pembebanan pajak, disamping upeti yang mempermalukan raja dan anggota keluarga raja. Setelahnya, hanya terjadi satu upaya serius untuk menguasai daerang di seberang Taurus, yang dilakukan oleh al-Mu’tashim (838). Tapi secara keseluruhan tidak sukses, pasukan muslim tidak berhasil mencapai Konstantinopel. Sejak itu tidak ada lagi usaha orang Arab untuk menaklukan, serang-serangan tidak penting yang biasanya dilakukan tiga kali dalam setahun hanya bertujuan untuk merampas dan memelihara kekuatan militer agar tetap siaga.

Zaman Keemasan Baghdad

Sejarah dan legenda menyebutkan bahwa pada masa Harun al-Rasyidlah, Abbasiyah mencapai puncak keemasannya. Meskipun kurang dari setengah abad, Baghdad muncul menjadi pusat dunia dengan tingkat kemakmuran dan peran internasional yang luar biasa. Saat itulah Baghdad menjadi kota ‘yang tiada tandingannya di dunia’.

Istana kerajaan dengan bangunan-bangunan tambahan untuk para harem, laki-laki yang dikebiri, pejabat-pejabat khusus menempati sepertiga ‘Kota Lingkaran’ itu. Ruang pertemuan yang dilengkapi dengan karpet, gorden, dan bantal terbai dari Timur. Gelas perak dan beragam mutiara yang biasa dipakai oleh para perempuan istana yang boros. Acara pengangkatan khalifah, pegelaran pernikahan, penyambutan duta asing, dan upaca seremonial yang begitu megah, contoh ketika pernikahan al-Makmun dengan Buran, anak perempuan wazirnya. Menghabiskan biaya yang luar biasa besar dan dianggap upacara pernikahan terbesar abad itu dan tak terlupakan. Seribu permata dalam berbagai bentuk yang ditaburkan, permadani keemasan yang dihiasi oleh batu-batu permata dan safir. 200 lilin besar sebagai penerangnya, dan hadiah lain yang diberikan kepada para petinggi istana.

Setelah para khalifah, orang yang menikmati kehidupan elite lainnya adalah anggota keluarga Dinasti Abbasiyah, para wazir, pejabat, dan orang yang dekat dengan keluarga kerajaan. Anggota suku Hasyimiyah medapatkan subsidi dalam jumlah besar yang teratur dari kas negara, sehingga praktik itu dihentikan oleh khalifah al-Mu’tashim.

Hubungan dengan berbagai negara lewat perdagangan laut sangat menguntungkan Abbasiyah, porelen, sutra, dan parfum Cina. Batu-batuan mulia, kain, dan budak dari Turki. Budak kulit putih dari Rusia dan Skandinavia. Gading, bubuk, emas, dan budak kulit hitam dari Afrika. Biji-bijian dan linen dari Mesir. Buah-buahan dari Suriah kain brokat, permata, dan senjata dari Semenanjung Arab. Sutera, parfum, dan sayuran dari Persia. Semua sarana perhubungan antara bagian timur dan barat dilayani oleh tiga jembatan ponton sepeti jembatan Baghdad saat ini.Para pedagang memainkan peran utama di tengah masyarakat Baghdad. Dokter, pengacara, guru, penulis, dan sebagainya mulai mendapatkan kedudukan penting pada masa al-Makmun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s