Sejarah Bangsa Arab (Bab 16-Part 2-Masa Keemasan Dinasti Abbasiyah)

Kebangkitan Intelektual

Kemenangan Islam atas Byzantium pada masa al-Mahdi dan Rasyid dan kehidupan mewah para khalifah memang telah membuat tenar periode itu.  Tapi yang membuat periode Abbasiyah paling terkenal ialah gerakan intelektual dalam sejarah Islam, sehingga terkenal sebagai kebangkitan terkenal dalam seluruh sejarah dan budaya. Kebangkitan yang disebabkan oleh masuknya pengaruh asing, sebagian Indo-Persia dan Suriah, dan yang paling penting adalah pengaruh Yunani. Penerjemahan karya-karya berbahasa Persia, Sansekerta, Suriah, dan Yunani ke dalam bahasa Arab yang meliputi ilmu pengetahuan, sastra, dan filsafat.  Karena besarnya minat orang Arab akan ilmu pengetahuan, hanya dalam waktu beberapa puluh tahun para sarjana Arab telah menyerap semua ilmu dan budaya yang dikembangkan selama berabad-abad oleh orang Yunani.

Perlu kita ingat bahwa budaya ini dibawa oleh satu aliran saja, aliran yang berasal dari Mesir Kuno, Babilonia, Phonesia, dan Yahudi yang kesemuanya mengalir ke Yunani dan kini kembali lagi ke Timur dalam bentuk Hellenis. Kita akan melihat sebagaimana aliran yang sama dibelokkan kembali ke Eropa oleh orang Arab di Spanyol dan Sisilia, yang membidani lahirnya renaisans Eropa.

India juga memberikan sumbangannya, terutama dalam bidang mistisme dan astronomi. Setelah menerjemahkan salah satu naskah astronomi India dan mempelajarinya, al-Fazari menjadi antronom muslim pertama. Penelitiannya dilanjutkan oleh al-Khawarizmi, yang berhasil menggabungkan sistem astromoni Yunani dan India dan menyumbangkan pemikirannya sendiri.

Setelah India, Persia juga menyumbangkan kebudayaannya. Kesenian dan sastra Persia sangat memengaruhi orang Arab. Karya sastra paling awal yang diterjemahkan adalah Kalilah wa Dimnah yang juga merupakan terjemahan dari bahasa Sansekerta. Penerjemahnya adalah Ibn Muqaffa penganut Zoroaster yang memeluk Islam, namun kemudian dibakar hidup-hidup karena dituduh menyimpang dari paham ortodoks. Sejak itu, gaya bahasa dan sastra Arab Kuno yang singkat, tegas, dan padat mulai tergantikan dengan ala Persia yang halus dan mengguga emosi.

Lalu, harta karun tak ternilai lainnya adalah khazanah intelektual dan kebudayaan Yunani. Berbagai serangan ke ‘Romawi’ pada masa Harun al-rasyid membuka jalan bagi masuknya manuskrip-manuskrip Yunani, selain harta rampasan, terutama yang berasal dari Amorium dan Ankara. Al-Manshur merupakan khalifah yang mengirim utusan ke Konstantinopel, langsung kepada Raja Leo dari Armenia untuk mencari karya-karya Yunani. Setelah mendapatkan buku dan karya Yunani termasuk karya Euclid, gerakan penerjemahan dimulai. Bangsa Suriah menjadi jembatan penghubung paling penting antara Yunani dan Arab. Orang Suriah Nestorlah yang pertama kali menerjemahkannya ke dalam bahasa Suriah lalu dari bahasa Suriah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Titik tertinggi pengaruh Yunani ada pada masa al-Ma’mun dan para pendukungnya dari kelompok Muktazilah. Rasionalisme khalifah dan Muktazilah yang menyatakan bahwa teks-teks keagamaan harus bersesuaian dengan nalar manusia mencari pembenaran pendapat mereka di dalam karya-karya filsuf Yunani. Terlebih khusus filsafatnya Aristoteles.

Pada 830 di Baghdad, al-Ma’mun membangun Bayt al-Hikmah (rumah kebijaksanaan), perpustakaan, akademi, sekaligus biro penerjemahan, yang dalam berbagai hal merupakan lembaga pendidikan paling penting sejak berdirinya museum Iskandariyah pada paruh pertama abad ke-3 SM. Para penerjemah dari bahasa Yunani tidak tertarik menerjemahkan karya sastra Yunani, sehingga dalam bidang sastra, puisi, drama dan sejarah, Persia tetap lebih unggul. Karya Homer, Iliad hanya berhasil diterjemahkan setengahnya. Buku Ilmu kedokteran Yunani yang diwakili Gallen dan Paul dari Aegea, matematik Yunani dan gabungan ilmu pengetahuan yang diwakili oleh karya Euclid dan Ptolomius. Lalu filsafat Yunani yang berasal dari Plato dan Aristoteles.

Penerjemah pertama dari bahasa Yunani ialah Abu Yahya ibn al-Bathriq. Element-nya Euclid, Quadripartitum Hipocrates, almagest karya Ptolemius diterjemahkan dalam waktu yang sama. Penerjemah dari Kristen Nestor yang paling dominan adalah hunayn, seorang sarjana terbesar dan figur terhormat pada masanya. Hermeneutica, Categories, Physics, dan Magna Moralia karya Aristoteles, Republic karya Plato dan tujuh buku Gallen tentang kedokteran diterjemahkan olehnya. Dalam riwayat, al-Ma’mun membayarnya dengan emas seberat buku yang diterjemahkannya.

Seperti halnya al-Hunayn, Tsabit bin Qurrah merupakan barisan terdepan penerjemah yang berasal kelompok Saba (penyembah bintang) dari Harran. Mereka terkenal karena telah menerjemahkan karya Yunani tentang matematika dan astronomi termasuk karya Archimedes juga terjemahan Element karya Euclid juga mereka perbaiki.

Sebelum era penerjemahan berakhir (lebih kurang waktu penerjemahan sekitar satu abad), semua karya Aristoteles yang ada, juga yang palsu telah tersedia bagi para pembaca Arab. Semua itu merupakan fenomena yang terjadi saat bangsa Eropa hampir sama sekali tidak mengenal pemikiran dan ilmu pengetahuan Yunani. Karena ketika Harun al-Rasuid dan al-Ma’mun sibuk mempelajari filsuf Yunani dan Persia, rekanan mereka di Barat, Cherlemagne dan para bangsawannya diriwayatkan sedang sibuk dengan seni menulis nama mereka!.

Pengaruh Neo-Platonis menampakkan dirinya dalam bentuk sufisme, atau mistisme Islam. Melalui Ibn Sina (Avicena) dan Ibn Rusy (Averroes), seperti yang di bahas nanti, Platonisme dan Aritotelianisme masuk ke dunia latin dan memberikan pengaruh yang menentukan terhadap skolastisisme Eropa Abad Pertengahan.

Era penerjemahan yang panjang dan produktif pada masa awal DInasti Abbasiyah ini juga diikuti oleh penulisan karya-karya orisinal yang akan didiskusikan pada bab-bab selanjutnya. Pada Abad ke-10, bahasa Arab yang pada masa pra-Islam merupakan satu-satunya bahasa puisi dan pada masa Nabi Muhammad menjadi bahasa wahyu dan agama, telah berubah dengan cara yang sangat menakjubkan, dan tidak ada bandingnya dalam sejarah. Bahasa Arab menjadi sebuah media yang terbukti mampu menjadi sarana ekspresi pemikiran ilmiah dan menampung gagasan filosofis tingkat tinggi. Sementara itu, bahasa Arab telah memantapkan dirinya sebagai bahasa diplomasi dan bahasa percakapan di berbagai wilayah mulai dari Asia Tengah, Afrika Utara, hingga Spanyol. Sejak itu, bangsa-bangsa di Irak, Suriah Palestina, juga Mesir, Tunisia, Aljazair, dan Maroko telah mengungkapkan pemikiran terbaik mereka dalam bahasa Arab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s