Mental Anak Kecil

Teman, kadang saya berpikir bahwa hidup dalam masa kanak-kanak merupakan masa terbaik dan terindah. Hidup tanpa beban, masalah, maupun kegalauan. Anak kecil begitu bebas berekspresi, melakukan segalanya dengan penuh canda, tawa, dan kesenangan. Dibandingkan ketika dewasa, kehidupan kecil kita begitu terasa lepas dan bebas, apalagi jika berkumpul dengan teman sebaya pasti itu saat-saat terbaik yang enggan kita lepaskan rasanya. Namun, ternyata bukan itu saja yang membuat masa kanak-kanak kita begitu istimewa, ada satu nilai penting yang perlu orang dewasa belajar dari seorang bocah, yaitu kekuatan mental!

Anda pasti masih ingat ketika kita dulu sedang belajar naik sepeda, kita jatuh bangun dalam prosesnya. Baru menggenjot beberapa putaran, kita kehilangan keseimbangan dan kita jatuh. lecet sana lecet sini kadang juga ditertawakan teman, belum lagi kalau sedang apes dan sepeda kita tercebur selokan. Tapi, anehnya kita dulu sangat resisten dengan semua rintangan itu, jatuh hanyalah kecelakaan kecil yang mesti dilalui. Kita tetap bersemangat untuk bisa bersepeda, satu dua luka hanyalah sepele, tidak peduli apapun yang penting bisa naik sepeda roda dua! Dan akhirnya kita pun bisa.

Bukan hanya itu, anak kecil juga sangat cepat belajar. Pasti kita semua mengakui bahwa kebanyakan skill yang kita miliki sekarang adalah berkat kemampuan kita di masa lalu. Inilah kekuatan spontanitas yang sangat mengagumkan dari anak-anak, andai tidak pernah kecil saya ragu saya akan bisa bermain bola, bulu tangkis, playstation, dan bahkan layang-layang. Saya yakin anda pun setuju dengan saya.

Sifat pantang menyerah dan tidak kenal gengsi juga sifat alamiah anak-anak. Sepertinya, dulu kita bersemangat sekali untuk mengikuti lomba ini dan itu. Tidak peduli dengan kekalahan, yang terpenting kita mampu menunjukkan eksistensi kita. Saya juga sering sekali kalah, tapi anehnya saya tetap semangat mengikuti lomba seakan saya pasti menjadi juaranya walaupun akhirnya sih kalah-kalah juga.

Ohiya, saya teringat sekali, saya begitu konyolnya dulu tanpa ragu dan malu ketika kelas 6 MI, pernah ‘menembak’ seorang cewek kelas sebelah. Lebih anehnya lagi, saya belum pernah kenalan dengannya, dia pun tidak mengetahui nama saya dan pastinya sangat terkejut ketika saya memberikan cokelat sambil menawari apa dia mau menjadi pacar saya. Mungkin, pembaca sudah tau lanjutan ceritanya, yap saya ditolak mentah-mentah!!

Anda boleh tertawa mengenai ini karena saya sampai sekarang juga tertawa kalau mengingat momen yang saya anggap paling terkonyol. Tapi, ada pelajaran sangat berharga yang bisa dipetik dari sini, betapa saya sangat optimis dan berani dalam bertindak, padahal jika dipikir oleh logika dewasa, saya melakukan hal yang sangat tidak masuk akal. Namun, itu semua tidak ada dalam perhitungan saya dulu, yang ada hanyalah harapan akan terbukanya celah  dan kesempatan untuk mendekatinya.

Oke, agar seru saya lanjutkan cerita saya ini. Jadi semenjak ditolak, alih-alih Jaka kecil menangis dan mundur, dengan keberanian dan tekad yang kuat ia malah melakukan pendekatan yang cukup intens dengan bocah perempuan itu. Tanpa kenal kata menyerah, ia menggunakan beragam cara demi ambisinya mengambil hati anak tersebut. Akhirnya, dengan kesabaran berbulan-bulan, semangat pantang menyerah terbayar juga. Kali ini, saya berhasil meraih tujuan saya dengan finishing touch yang cukup romantis bagi bocah ingusan kelas enam MI. Oke, untuk cerita ini saya cukupkan sampai sini agar tulisan saya tetap pada koridor tujuannya hhe.

Betapa saya telah kehilangan sikap keberanian dan pantang menyerah ini. Rasanya, saya sekarang kalah profesional dengan saya yang dulu. Kegilaan dan kenekatan yang kadang memang diperlukan sewaktu-waktu dalam hidup, entah rasanya saya sulit sekali mendapatkannya kembali di masa sekarang.

Satu lagi, keistimewaan kita dulu adalah, kejujuran yang tiada duanya! Permainan ABC yang menyebutkan nama-nama negara, buah, binatang, iklan, dan semacamnya pasti kebanyakan dari kita mengenalnya. Padahal permainan semacam ini jika dimainkan oleh orang dewasa pasti menyisipkan banyak celah untuk melakukan kebohongan. Karena permainannya adalah para peserta harus menyebutkan satu-satu nama yang diminta maka apabila salah seorang pemain sebetulnya tidak menjawab maka bisa saja ia menyebutkan nama yang sama dengan salah satu pemain yang lain. toh, cukup lumayan dengan bohong seperti itu ia menjadi dapat 50 poin karena biasanya nilai tertinggi adalah 100 dengan syarat nama yang kita jawab tidak dijawab juga oleh yang lain. Tapi, anak kecil dengan kepolosannya ia akan mengatakan yang sebenarnya. Walaupun tetap kesal jika kalah, tetapi itu tidak membuatnya kehilangan kejujuran. lihatlah betapa mengagumkanya ini.

Oke, sekarang kita refleksikan kita yang dulu dengan kita yang sekarang. Sepertinya, hanya badan kita saja yang membengkak tapi tanpa disadari nilai-nilai kebaikan kita dahulu semakin tersisih dan semakin langka. Umur kita saja yang bertambah tua, tapi sepertinya kita yang sekarang mudah sekali menyerah, keberanian kita semakin menyiut, hambatan sedikit saja kadang sudah membuat kita pupus dalan usaha. Kita yang sekarang juga sering kali menonjolkan gengsi, padahal dalam hal-hal positif sehingga itu malah membuat kita stagnan dan tidak maju-maju. Semakin dewasa, sayangnya kita malah semakin pintar memanipulasi kejujuran, bahkan dalam bercanda saja kita sering berbohong.

Alangkah baiknya jika kita mulai sekarang membangkitkan lagi keistimewaan kita yang dulu. Sepertinya, kita butuh mental anak-anak kembali, mental yang selalu optimis, ceria, dan pantang menyerah dalam menjalani hidup. Dengan akal dan pemikiran kita yang sudah semakin dewasa, logis, dan cerdas maka jika dikombinasikan dengan mental yang sehat pastinya kita bisa menjadi pribadi yang mengagumkan, tidak hanya bagi diri sendiri tapi saya yakin kita bisa menjadi individu yang penuh manfaat bagi kehidupan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s