Sejarah Bangsa Arab (Bab 18-Kehidupan Masyarakat Pada Masa Dinasti Abbasiyah)

Sistem kesukuan primitif yang menjadi pola organisasi sosial Arab paling mendasar runtuh pada masa Abbasiyah. Bahkan, para khalifah tidak menjadikan darah keturunan Arab sebagai patokan. Di antara keluarga Abbasiyah, hanya tiga khalifah yang terlahir dari ibu yang merdeka.

Untuk memperlancar proses pembaruan antara orang Arab dengan rakyat taklukan, lembaga poligami, selir, dan perdagangan budak terbukti efektif. Ketika unsur Arab murni surut, orang non-Arab, orang peranakan, dan anak-anak dari perempuan yang dimemerdekakan mulai menggantikan posisi mereka. aristokrasi Arab mulai digantikan oleh hirarki pejabat yang mewakili berbagai bangsa, yang pada awalnya didominasi Persia, dan kemudian oleh Turki.

Kehidupan Keluarga dan Gaya Hidup Masyarakat

Pada awal Dinasti Abbasiyah, kaum wanita cenderung menikmati tingkat kebebasan yang sama dengan kaum pria. Tapi menjelang abad ke-10, pada masa Dinasti Buwayhi, sistem pemingitan ketat perempuan sudah menjadi fenomena umum. Pada masa kemundurannya, yang ditanadai perseliran yang berlebihan, merosotnya moralitas seksual, dan berpoya-poya dalam kemewahan, posisi perempuan menukik tajam seperti yang disebutkan dalam kisah seribu satu malam. Di mana perempuan dianggap sebagai perwujudan dari sikap licik dan khianat, serta wadah dari bagi semua perilaku tercela dan pemikiran tidak berguna.

Pernikahan dipandang sebagai kewajiban yang positif, yang meniscayakan hukukan keras bagi siapa yang mengabaikannya. Tugas wanita ialah, melayani suaminya, memelihara anaknya, serta mengatur urusan rumah tangga, sementara waktu luang biasanya dipakai untuk memintal dan menenun.

Di rumah-rumah orang berada, nampan-nampan terbuat dari perak, meja kayu yang dilapisi eboni, dan kulit kerang mutiara. Lalu memuaskan selera makan mereka dengan menu-menu dari negri-negri peradaban tinggi. Orang yang berbudaya adalah orang yang memiliki prilaku sopan, menjaga wibawa, berprilaku elegan, tidak senang bergurau, bersahabat dengan orang yang tepat, memiliki intergritas tinggi, menepati janji, memelihara kerahasiaan, tidak memakai pakaian kotor dan bertambal, lalu ketika makan, tidak menyuap makanan secara berlebihan, sedikit bicara dan tertawa, mengunyah makanan dengan pelan, tidak menjilati jarinya, menghindari bawang, dan tidak menggunakan siwak saat di kamar kecil, ruang pertemuan, dan jalanan.

Minuman beralkohol sering dikonsumsi bersama ataupun sendiri-sendiri. Hukum Islam tentang keharaman arak tidak berlaku lagi. Bahkan para khalifah, wazir, putra mahkota, dan para hakim tidak lagi peduli akan hukum agama. Para sarjana, penyair, musisi, dan penyanyi sering berkumpul bersama. Khamr, yang dibuat dari kurma merupakan minuman favorit. Ibn Khaldum berargumen bahwa tokoh seperti al-Rasyid dan al-Ma’mun hanya meminum nabidz-perasaan anggur atau kurma yang mengalami fermentasi alami- yang dianggap itu halal oleh mazhab Hanafi.

Salah satu gaya hidup masyarakat pada saat itu adalah berendam di tempat pemandian umum. Baghdad, pada masa al-Muqtadir (908-932) memiliki sekitar 27 ribu tempat pemandian umum. Seperti sekarang, pemandian itu terdiri atas beberapa kamar dengan lantai bermotif mozaik dan bagian dalam dinding yang terbuat dari marmer yang mengelilingi ruang utama yang luas.
Permainan catur dan dadu menjadi permainan dikala waktu luang. Olahraga luar ruangan yang juga populer adalah panahan, polo, bola dan pemukul-sejenis kriket, lepar lembing, lomba berkuda, dan berburu. Pada masa belakangan, al-Mustanjid (1160-1170) merupakan khalifah yang mengadakan pesta berburu.

Kedudukan Budak dan Mantan Budak

Para pembantu ini hampir semuanya yang direkrut secara paksa dari kalangan non-muslim, baik yang ditawan pada masa perang atau yang dibeli pada masa damai. Beberapa diantaranya adalah negro, dan sebagian kulit putih-Yunani, Armenia, Slavia, dan Berber dan Turki. Budak-budak yang bekerja di keputren adalah laki-laki yang dikebiri. Gadis-gadis muda dalam kelompok budak biasanya menjadi penyanyi, penari,dan selir. Beberapa diantara mereka menjadi cukup berpengaruh besar terhadap khalifah yang menjadi tuan mereka.

Gagasan tentang maraknya praktik perbudakan bisa dilihat dari tingginya jumlah budak yang diwakili dari kalangan keluarga kerajaan. Diriwayatkan bahwa al-Muqtadir (908-932) memiliki 11 ribu laki-laki Yunani dan Sudan yang dikebiri. Al-Mutawakkil diriwayatkan memiliki 4.000 orang selir yang semuanya diajak tidur menemaninya. Pada satu kesempatan, al-Mutawakkil menerima hadiah sebanyak seratus budak dari seorang jendralnya. Telah menjadi tradisi bagi para gubernur dan jendral untuk mengirim hadiah, termasuk di dalamnya para gadis yang direkrut secara sukarela atau paksa dari para penduduk, kepada khalifah atau wazir, tidak memberik hadiah dinilai sebagai pemberontakan.

Perdagangan dan Industri

Masyarakat kelas atas yang berada di bawah para aristokrat terdiri atas penulis sastra, orang terpelajar, seniman, pengusaha, pengrajin, dan pekerja profesional, sementara, petani, pengembala, penduduk sipil, dan penduduk asli yang berstatus ahli dzimmi merupakan masyarakat kelas bawah.

Kekuasaan kerajaan yang semakin meluas dan tingkat peradaban yang cukup tinggi dicapai dengan melibatkan jaringan perdagangan internasional yang luas. Pelabuhan seperti Baghdad, Bashrah, Siraf, Kairo, dan Iskandariyahh segera berkembang menjadi pusat-pusat perdagangan jalur darat dan laut yang aktif.

Di sebelah Timur, para pedagang Islam telah mencapai Cina. Yang menjadi tulang punggung perdagangan ini adalah sutera. Maka itu, jalur yang menyusuri Samarkan dan Turkistan Cina sering disebut sebagai jalur setera. Di sebelah Barat, pedagang Islam telah mencapai Maroko dan Spanyol. Seribu tahun sebelem de lesseps, khalifah Harun telah mengemukakan gagasan tentang menggali kanal di sepanjang Istmus di Suez.

Tingkat aktivitas perdagangan yang tinggi itu hanya bisa dicapai jika didukung oleh pengembangan industri rumah tangga yang maju. Daerah Asia Barat menjadi pusar industri karpet, sutera, kapas, kain wol, satin, brokat, sofa, dan kain pembungkus bantal, juga perlengkapan dapur lainnya.

Seni mengolah perhiasan juga mengalami kejayaannya. Mutiara, safir, rubi, emeralds, dan permata sangat disukai para bangsawan. Sedangkan batu zamrud yang berwarna biru kehijauan, baru carnelius yang kemerahan, dan onyx yang berwarna putih, coklat, atau hitam disukai oleh kalangan bawah. Salah satu batu paling berharga ialah sebuah rubi besar yang pernah dimiliki oleh beberapa Raja Persia, yang di atasnya diukirkan nama Harun, ketika ia memperolehnya dengan harga 40 ribu dinar.

Perkembangan Bidang Pertanian

Bidang pertanian maju pesat pada masa Abbasiyah karena pusat pemerintahannya sendiri berada di daerah yang sangat subur, di tepian sungai yang biasa dikenal dengan nama Sawad. Karena mengetahui potensinya yang besar, lahan-lahan pertanian yang terlantar dibangun kembali secara bertahap. Daerah rendah di daerah Tigris-Eufrat, yang merupakan daerah terkaya setelah Mesir, dan dipandang sebagai surga Aden, mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat.

Tanaman asli Irak terdiri atas gandum, padi, kurma, wijen, kapas, dan rami. Daerah sangat subur di tepian sungai Sawad menumbuhkan sayuran dan beragam buah. Kacang, jeruk, terong, tebu, dan beragam bunga seperi mawar dan violet juga tumbuh subur. Di antara Samarkhand dan Bukhara terbentang lembah Sogdiana. Di situ tumbuh subur beragam sayuran dan buah. Kurma, apel, aprikot, persik, prem, lemon, jeruk, anggur, zaitun, almond, delima, terung, lobak, mentimun, mawar, dan kemangi. Semangka diperkenalkan dari Khawarizm. Pohon jeruk berasal dari Melayu. Kemudian tebu dan gula yang berasal dari Suriah diperkenalkan oleh tentara salib ke benua Eropa.

Hortikultura tidak hanya terbatas pada buah-buahan dan sayuran. Bunga juga dibudidayakan, bukan hanya di pekarangan rumah, tetapi juga dalam skala besar untuk diperjualbelikan. Pabrik pembuatan parfum atau sari mawar, air bunga lili, jeruk, violet, dan yang sejenisnya menjamur di Damaskus, Syaraz, Jur, dan kota-kota lainnya. Diantara semuanya, parfum dan perasan bunga violet adalah yang paling populer di dunia Islam dan mawar merupakan bunga paling disukai di antara semua bunga.

Warga Non-muslim di Kekhalifahan Islam

Orang Arab menganggap dirinya terlalu mulia untuk terjun dalam aktivitas pertanian. Maka, kelompok petani dimasukkan ke dalam golongan dzimmi, seperti halnya Yahudi, Nasrani, Zoroaster, Sabiin, dan Harran. Di kota maupun di desa, para zimmi memegang teguh budaya dan memelihara bahasa asli mereka. bahasa Aram dan Suriah di Suriah dan Irak, budaya dan bahasa Iran di Persia, serta budaya Koptik di Mesir. Kebanyakan dari mereka yang masuk Islam pindah ke kota.

Bahkan di kota sekalipun, Nasrani dan Yahudi banyak menduduki jabatan penting, seperti pada bagian keuangan, administrasi, dan jabatan profesional lainnya. Aturan yang sangat keras atas kalangan dzimmi memuncak pada masa al-Mutawakil, yang pada 850 dan 854 menetapkan bahwa orang Yahudi dan Kristen harus menempelkan simbol setan dari kayu rumah mereka, meratakan kuburan mereka dengan tanah, menggunakan busana berwarna kuning, hanya menunggang keledai berpelana kayu, yang ditandai dengan bola berbentuk delima di belakangnya. Meski demikian, orang Kristen pada kekhalifahan Islam pada umumnya menikmati kebebasan beragama yang relatif besar.

Sebagian besar penduduk Kristen pada masa Dinasti Abbasiyah adalah pengikut Gereja Suriah, dan biasa disebut sebagai sekte Yakobus dan Nestor yang kebanyakan tinggal di Irak. Orang Koptik Mesir juga pengikut sekte Yakobus. Salah satu ciri agama Kristen pada masa Abbasiyah yang paling menonjol adalah semangat yang cukup tinggi, sehingga gereja yang agresif mampu mengirimkan misionarisnya ke India maupun Cina.

Kelompok non-muslim lainnya yang berjumlah cukup besar dan termasuk aman adalah Yahudi. Sebagai dzimmi, orang Yahudi lebih baik posisinya ketimbang Kristen karena jumlah mereka yang lebih sedikit tidak memunculkan persoalan bagi kerajaan. Pada masa pemerintahan al-Mu’tadhid (892-902) kita menemukan lebih dari satu orang Yahudi yang menduduki jabatan penting.

Kelompok non-muslim lainnya adalah orang Sabiin atau juga orang-orang Mandea. Mereka merupakan pengikut sekte Yahudi-Kristen yang menyebut diri mereka sebagai pengikut Santo Yahya. Komunitas ini masih bertahan dengan jumlah sebesar lima ribu orang di tanah-tanah rawa dekat Bashrah. Tinggal di kawasan sungai seperti itu jelas menjadi keniscayaan jika bergantung dengan aliran sungai. Pada kenyataannya, merupakan ciri paling penting, dan paling khas, dari praktik keagamaan (ritual) mereka.

Selain orang Sabiin Babilonia ada juga orang Sabiin Haran yang merupakan pemuja bintang. Tidak diragukan lagi bahwa peran intelektual dan karya-karya ilmiah dari anggota sekti itu membuat mereka memperoleh perlindungan dari orang Islam.

Lalu, orang Zoroaster, yang hanya disebutkan sekali dalam al-Quran juga pada masa ini dipandang sebagai ahli kitab. Akhirnya, sebagian besar orang Iran di masukkan sebagai golongan Dzimmi. Setelah masa penaklukan, Zoroaster, yang merupakan agama negara tetap hidup, bahkan kuil apinya tetap dipelihara, tidak hanya di semua provinsi di Iran, tapi juga di Irak, India, dan di berbagai tempat di Timur Persia.

Orang Manikea, yang pada awalnya dipandang sebagai orang yang Kristen dan Zoroaster oleh orang Islam, akhirnya dimasukkan ke dalam komunitas yang mendapatkan kebebasan beragama. Umat Islam tampaknya memberikan perhatian khusus kepada ajaran Manni dari Persia dan para pengikutnya. Mereka sering diskreditkan, bahkan ada lembaga inkuisisi di Baghdad untuk menghukum mereka. namun, banyak penganut Manikaenisme, bahkan pengikut komunis Mazdak yang masih bertahan. Karena dipandang tidak terlalu menartik perhatian publik, sementara paganisme di India juga dibiarkan karena tidak mungkin melenyapkannya.

Islamisasi Kerajaan

Pada kenyataannya, penaklukan berbagai daerah yang dimulai dari pemerintahan Umayyah kini memasuki tahap baru pada zaman Abbasiyah, yaitu tahap kemenangan Islam sebagai agama. Kebijakan hukum yang tidak toleran dari Khalifah al-Rasyid dan al-Mutawakkil, tak pelak lagi, telah menghasilkan sejumlah besar pemeluk baru (muallaf).

Penduduk Persia baru berpindah agama pada abad ketiga setalah wilayah itu dikuasai Islam. Di daerah ini tercatat ada 9000 Zoroaster. Penduduk Irak Utara pada awal abad ke-10 adalah orang-orang Islam yang perilakunya masih seperti Kristen. Konversi orang-orang Berber dan Afrika Utara ke agama Islam telah melahirkan tokoh Kristen ortodoks. Upaya konversi itu, dilakukan pada abad berikutnya dengan pola baru berupaya memasukkan orang Berber ke dalam pasukan Islam dan melunakkan hatinya dengan rampasan perang.

Tahap ketiga dari rangkaian penaklukan ini adalah penaklukan bahasa,. Kemenangan Bahasa Arab atas bahasa penduduk asli yang ditaklukan. Penaklukan ini merupakan bagian yang paling akhir dan paling lambat. Di medan perjuangan inilah, berbagai suku bangsa yang ditaklukan memberikan perlawanan sengit. Mereka lebih siap menyerahkan loyalitas politik dan keagamaan daripada loyalitas bahasa. Kemenangan bahasa Arab baru tercapai pada akhir pemerintahan Abbasiyah.

Perlu dicatat bahwa, bahasa Arab telah mendominasi bahasa pengetahuan sebelum menjadi bahasa percakapan sehari-hari. Pada bab sebelumnya, kita telah melihat bagaimana sebuah aliran pemikiran Byzantium, Persia, dan India menghasilkan konsentrasi baru di Baghdad, Bashrah, dan Kuffah pada 800 M, yang hanya bisa ditandingi oleh budaya Iskandariyah pada masa sebelumnya, dan menjadikan bahasa Arab yang belum pernah digunakan sebagai bahasa pengetahuan, sebagai peranti peradaban Islam. Kini, kita akan menelusuri lebih jauh gerakan budaya tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s