Bab 19-Kemajuan Ilmiah dan Sastra

Kajian Dalam Bidang Kedokteran

Babak penerjemahan (750-850) yang dibahas pada bab terdahulu, segera diikuti oleh babak aktivitas kreatif. Dalam proyek pembangunan budaya, orang Arab tidak hanya membaurkan kebijakan kuno Persia dan klasik Yunani, tetapi juga mengadaptasi keduanya sesuai dengan kebutuhan khusus dan pola pikir mereka.

Kontribusi mereka mengembangkan pemikiran atau penelitian orisinil yang berbahasa Arab, masuk ke daratan Eropa melalui Suriah, Spanyol, dan Sisilia, kemudian membangun dasar-dasar ilmu yang mendominasi pemikiran Eropa Abad Pertengahan. Transmisi pengetahuan ini menjadi penting seperti penemuan ilmu baru. Seandainya hasil pemikiran Aristoteles, Galen, Ptolemius hilang tanpa jejak, maka dunia menjadi miskin seolah pengetahuan tersebut tidak pernah dilahirkan.

Dalam dunia kedokteran, kajian tentang struktur anatomi mata menjadi fokus dari ilmu kedokteran. Karena cuaca yang panas di daerah Islam sering menyebabkan penyakit mata. Minat orang Arab terhadap ilmu kedokteran diilhami oleh hadits Nabi yang membagi pengetahuan ke dalam dua kelompok: teologi dan kedokteran. Dengan demikian, seorang dokter sekaligus merupakan seorang ahli metafisika, filosof, dan sufi.

Dalam hal penggunaan obat-obatan, merekalah yang membangun apotek pertama, mendirikan sekolah farmasi pertama, dan menghasilkan buku daftar obat-obatan. Saat itu, ahli kedokteran akan dibayar sangat mahal sehingga memotivasi banyak orang untuk mempelajarinya. Para ahli obat-obatan menjalani tes ujian agar mendapat sertifikat, sebanyak 860 dokter dinyatakan lulus tes di Baghad pada masa al-Ma’mun.

Para penulis utama bidang kedokteran setelah babak penerjemahan besar itu adalah orang Persia yang menulis dalam bahasa Arab: Ali at-Thabari, al-Razi, Ali ibn al-Abbas al-Majusi, dan Ibn SIna. Gambar dua orang diantara mereka, ar-Razi dan Ibn Sina, menghiasi ruang besar Fakultas Kedokteran di Universitas Paris.

Al-Razi, merupakan dokter Muslim terbesar serta penulis paling produktif dipandang sebagai penemu prinsip seton dalam operasi. Ia juga yang pertama kali menggantungkan sekerat daging di stiap-tiap tempat untuk mengetahui tempat mana yang paling sedikit mengalami pembusukan. Salah satu karya utamanya, Kitab al-Asrar (buku tentang rahasia) diterjemahkan oleh penerjemah latin terkemukan Gerard dari Cremona dan menjadi sumber utama ilmu kimia sebelum digeser oleh Jabin bin Hayyan (Geber). Juga Kitab al-Thibb al-Manshuri yang dipandang sebagai mahkota dalam literatur kodokteran Arab dengan monograf terpentingnya, yaitu risalah tentang cacar air dan bisul.

Ibn Sina merupakan nama paling terkenal setelah al-Razi (Avicenna, yang masuk ke bahasa Latin memalui bahasa Ibrani, Aven Sina (980-1037), yang disebut oleh orang Arab sebagai al-syeikh al-ra’is, ‘pemimpin’ (orang terpelajar) dan ‘pangeran’ (para pejabat). Al-Razi lebih menguasai kedokteran dibanding ibn Sina, tetapi Ibn Sina lebih menguasai filsafat ketimbang al-Razi. Dalam diri seorang dokter, filosof, dan penyair inilah ilmu pengetahuan Arab mencapai titik puncaknya dan berinkarnasi.

Diantara karya-karyanya yang paling unggul adalah Kitab al-Syifa (buku tentang penyembuhan), serta Qanun fi al-Thibb. Susunanannya yang sistematis dan penuturannya yang filosofis segera menempati buku ini di posisi penting, menggeser karya-karya Galen, al-Razi, dan Majusi. Dalam bukunya itu dijelaskan perbedaan antara mediastinum dan plurisy (pembengkakan pada paru-paru). Juha mengenali potensi penularan wabah phthisis (penyakit saluran pernafasan, terutama asma dan TBC).

Setelah mereka, banyak juga dokter-dokter terkenal seperti, Ali bin Isa yang karyanya berjudul Tadzkirrah al-Kahhalin (Catatan untuk Para Ahli Mata). Ibn Jazlah yang menulis sinopsis media yang berjudul Taqwim al-Abdan fi Tadbir al-Insan (Tabel Tubuh yang Terkait dengan Pengaturan Fisik Manusia). Lalu terakhir, Ya’kub bin AKhl Hizam, yang menulis risalah tentang perawatan kuda.

Perkembangan Filsafat Islam

Bagi orang Arab, filsafat (falsafah) merupakan pengetahuan tentang kebenaran daam arti yang sebenarnya, sejauh hal itu bisa dipahami oleh manusia. Sebagai Muslim, orang Arab percaya bahwa al-Quran dan teologi Islam merupakan rangkuman dari hukum dan pengalaman agama. Karena itu, kontribusi orisinil mereka terletak di antara filsafat dan agama di satu sisi, dan diantara filsafat dan kedokteran di sisi lain. Dari sini, lahirlah mereka yang disebut mutakallimin atau ahlu al-kalam (ahli bicara, ahli dialektika). Tokoh seperti al-Ghazali, al-Kindi, al-farabi, dan Ibn Sina merupakan nama besar dalam filsafat Islam.

Filosof pertaman al-Kindi yang merupakan keturunan orang Arab merupakan representasi pertama dan terakhir dari Aristoteles di dunia Timur yang murni Arab. Al-Kindi lebih dari sekedar filosof, ia ahli perbintangan, ahli mata, kimia, dan musik. Tidak kurang dari 361 karya telah dinisbatkan kepadanya, namun kebanyakan karya-karyanya tidak bisa ditemukan. Pemikirannya beraliran ekletisisme, namun al-Kindi menggabungkan pemikiran Plato dan Aristoteles, serta menjadikan matematika neo-pythagorean sebagai landasan semua ilmu. Risalah tentang musik juga dibuatnya sehingga memengaruhi para penulis Yunani dalam tema itu. juga karyanya tentang ilmu optik geometris, yang terjemahannya De aspectibus telah memengaruhi pemikiran Roger Bacoon.

Yang kedua adalah al-Farabi, yang sistem filsafatnya merupakan campuran dari Platonisme, Aristotelianisme, dan Mistisme, yang membuatnya dijuluki ‘guru kedua’. Al-Farabi juga menulis risalah tentang psikolog, politik, dan metafisika. Salah satu karyanya yang terbaik adalah Risalah Fushus al-Hikam (Risalah Mutiara Hikmah) dan Risalah fi Ara’ al-Madinah al-Fadhilah (Risalah tentang Pendapat Penduduk Kota Ideal).

Tulisan-tulisan al-Farabi yang lainnya menunjukkan bahwa ia adalah seorang dokter ahli dan ahli maematika yang arif, seorang pakar penyakit dalam, dan seorang musisi yang handal. Ia dipandang sebagai teoretisi terbesar yang memahami berbagai teori musik Arab. Itu dibuktikan dari karya besarnya Kitab al-Musiqi al-Kabir (Kitab Induk tentang Musik) dan juga permainan gambusnya yang memukau, bahkan mampu membuat seseorang menitikkan air mata.

Setelah al-Farabi, Ibn Sina merupakan tokoh yang menulis karya-karya paling penting dalam bahasa Arab tentang teori musik. Jua, Ibn SIna merupakan pemikir yang sanggup menyatukan berbagai kebijakan Yunani denan pemikirannya sendiri, yang dipersembahkan bagi kalangan terpelajar muslim dalam bentuk yang lebih mudah dicerna. Malalui karya-karyanya, pemikiran Yunani, khususnya Plato, dapat diselaraskan dengan ajaran Islam.

Satu fenomena lain yang perlu dikemukakan di sini, selain ketiga filosof di atas. Yang turut mewarnai gerak perkembangan filsafat dalam Islam adalah munculnya kelompok persaudaraan sufi (Ikhwan al-Shafa)-sekitar abad ke-4 Hijriyah. Ikhwan al-Shafa, yang mempunyai cabang di Baghdad, membentuk bukan saja pertalian filosofis tapi juga religius-politis dengan doktrin ultra-Syiah, kemungkinan sekte Ismailiyah. Mereka secara terang-terangan melancarkan gerakan oposisi terhadap tatanan politik saat itu, yang secara terang-terangan hendak mereka gulingkan dengan cara mendeskreditkan sistem pemikiran dan keyakinan agama yang populer.
Perkumpulan meraka cenderung samar dan bersifat rahasia. Buku mereka yang terdiri dari 52 risalah terdiri atas-bidang matematika, astronomi, geografi, musik, etika, dan filsafat. Filosof besar Islam yang cukup terpengaruh oleh tulisan-tulisan kelompok sufi ini, yaitu al-Ghazali.

Kajian Astronomi dan Matematika

Kajian perbintangan mulai dilakukan ketika penerjemahan karya India, lalu tabel bahasa Palawi, dan unsur Yunani. Terjemahan awal karya Ptolemius, Almagest. Di Baghdad, al-Ma’mun membangun observatorium yang berfungsi tidak hanya untuk mengamati dengan seksama dan sistematis berbagai gerakan benda-benda langit, tetapi juga menguji semua unsur penting dalam Almagest dan menghasilkan amatan yang sangat akurat: sudut ekliptik bumi, ketepatan lintas matahari, panjang tahun matahari. Perangkat observasi terdiri atas: busur 90 derajat, astrolob, jarum penunjuk, dan bola dunia. Para ahli perbintangan al-Ma’mu juga melakukan perhitungan paling rumit tentang luas permuakaan bumi, dan kelilingnya dengan asumsi bahwa bumi berbentuk bulat. Sebuah perhitungan yang sangat akurat, lebih panjang sekitar 2.887 kaki dari derajat lintang bumi sebenarnya.

Para pakar astronomi kala itu ialah: Musa bin Syakir, al-Khawarizm-keduanya ikut terlibat dalam proyek perhitungan luasan bumi. Lalu, Abu al-Abbas Ahmad sebagai pengawas Nilometer di Fushtat pada masa al-Mutawakkil. Abu Ja’far al-Khazin yang berhasil memecahkan persoalan Archimedes tentang akuasi kubik.

Antara 877-918, al-Battani (Albategnius) seorang penganut Sabiin dari Harran, seorang ahli astronomi tebesar pada masa Islam telah melakukan berbagai observasi di Raqqah, memperbaiki perhitungan orbit bulan juga beberapa planet, pembuktian gerhana matahari cincin, juga mengoreksi beberapa kesimpulan Ptolomeus.

Dalam bidang ilmu pengetahuan alam, al-Biruni-berpaham Syiah, cenderung Gnoostik-menyusun sebuah buku tentang rumus-rumus geometri, aritmatika, astronomi, dan astrologi. Juga mendiskusikan bahwa bumi berputar pada porosnya dan menghitung dengan akurat panjang garis lintang dan bujur bumi. Beberapa karya Islam tentang astronomi telah diterjemahkan ke bahasa Latin, terutama di Spanyol dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa Kristen.

Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780-850) adalah tokoh utama dalam jalan matematika Arab. Ia memengaruhi pemikiran dalam matematika yang hingga batas tertentu lebih besar daripada penulis Abad Pertengahan lainnya. Ia telah menyusun tabel astronomi tertua, aritmatika, dan aljabar. Ia berhasil mengenalkan Eropa pada angka-angka Arab yang disebut logaritma. Umar al-Khayyan, Leonardo Fibonaci dari Pisa (w 1240), dan Master Jacob dari florance ialah para ahli yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh al-Khawarizm.

Perkembangan Dalam Bidang Kimia

Setelah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, orang Arab memberikan kontribusi ilmiah terbesar dalam bidang kimia. Bapak kimia bangsa Arab adalah Jabir bin Hayyan (Geber) hidup di Kufah sekitar 776. Ia percaya bahwa logam biasa seperti seng, besi, dan alumuniun dapat diubah menjadi emas dengan ramuan misterius. Beberapa abad setelah kematiannya, laboratoiumnya ditemukan kembali, dan di dalamnya ditemukan sebuah mangkuk dan sebongkah emas. Karyanya, kitab al-Tajmi (Buku tentang Konsentrasi), al-Zibaq al-Syurqi (Air Raksa Timur), merupakan risalah kimia yang paling berpengaruh di Eropa maupun Asia.

Para ahli kimia belakangan mengklaim bahwa al-Hayyan merupakan guru mereka. bahkan yang terbaik di antara mereka seperti al-Thugra’i. mereka terus mencari dua utopia kimiawi: ramuan pembuat emas dan elixir yang konon mampu memperpanjang umur. Kenyataannya, tidak ada cabang ilmu murni atau fisika yang mengalami perkembangan memuaskan setalah masa Dinasti Abbasiyah. Dalam bidang kedokeran, filologi, matematika, botani, dan disiplin ilmu lainnya, titik tertingginya telah dicapai dan diikuti oleh periode stagnasi.

Kajian Geografi

Risalah geografi bahasa Arab yang pertama biasanya berbentuk buku petunjuk jalan, yang terutama menunjukkan tempat-tempat penting. Kitab Masalik al-Mamalik karya Ibn Khurdazbih dinilai sangat berharga karena topografi historisnya pada abad ke-4 muncullah para ahli geografi sistematis Arab, al-Ishthakhri, ibn Hawqal, dan al-Maqdisi. Al-Maqdisi yang telah mengunjungi seluruh negri Islam, kecuali Spanuol, Sijistan, dan India mencatat 20 tahun perjalanannya dalam sebuah karya, Ahsan al-Taqasim fi Ma’rifah al-Aqalim (Klasifikasi Ilmu Geografi yang Terbaik), yang memuat informasi yang segar dan berharga.

Beberapa ahli geografi lainnya, al-Hamdani, al-Mas’udi sang penjelajah, juga kelompok Ikhwan al-Shafa yang menguraikan teori tentang lingkar kosmik. Lalu yang terakhir, sebelum Dinasti Abbasiyah berakhir muncul ahli geografi terbesar dari Timur, Ya’qut yang karyanya Mu’jam al Buldan sering dikutip.

Karya-karya dalam bidang geografi tidak begitu memengaruhi pemikiran Eropa dikarenakan tidak diterjemahkan. Juga faktor, bahwa ahli geografi Arab tidak pernah sampai ke benua Eropa. Karya mereka mencakup geografi Timur Jauh, Afrika Timur, dan Sudan, dan daerah padang pasir Rusia.

Kajian Histiografi

Kebanyakan tulisan sejarah berbahasa Arab muncul pada masa Dinasti Abbasiyah. Tentang masa pra-Islam tercatat nama Hisyam al-Kalbi (819) dari Kufah. Karya pertama yang didasarkan atas tradisi keagamaan adalah Sirah Rasulullah, sebuah biografi Nabi Muhammad karya Ibn Ishaq. Lalu disusul oleh versi kritis Ibn Hisyam. Lalu, dua sejarawan utama yang menulis tentang penaklukan-penaklukan Islam adalah Ibn Abdul Hakam dari Mesir yang karyanya Futuh al-Misr wa Akhbaruha menjadi dokumen tertua tentang penaklukan Mesir, Spanyol, dan Afrika Utara. Serta al-Baladzuri dari Persia yang karya utamanya berjudul Futuh al-Buldan dan Anshab al-Asyraf.
Pada periode Abbasiyah ilmu sejarah telah matang untuk melahirkan karya tentang sejarah formal yang didasarkan atas legenda, tradisi, biografi, genealogi, dan narasi. Teknik untuk menjaga keakuratan juga dibentuk sehingga riwayat yang sampai dapat dipercaya dan mengungkap peristiwa sampai ke bagian detailnya.

Diantara sejarawan formal pertama adalah ibn Qutaybah yang karyanya Kitab al-Ma’arif (buku pengetahuan) buku pegangan sejarah. Al-Dinawari yang menulis buku tentang sejarah dunia. Lalu sejarawan Persia ibn Miskawayh yang juga filosof dan dokter, dua yang lainnya adalah Jarir al-Thabari dan al-Mas’udi.

Ketenaran al-Thabari karena bukunya yang sangat rinci dan akurat, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja) dan juga karena tafsir al-Qurannya. Tafsirnya menjadi tafsir yang paling luas cakupannya juga paling tebal. Karyanya yang monumental tentang sejarah dunia yang merupakan buku sejarah terlengkap menjadi rujukan para sejarawan seperti, Miskawayh, ibn Atsir, dan al-Fida. Al-Thabari merupakan penulis yang sangat produktif, kesungguhannya dan semangatnya dalam belajar bisa diperoleh dari riwayat yang n bahwa selama 40 tahun al-Thabari menulis 40 lembar setiap harinya.

Kajian Teologi

Kini kita tiba pada aktivitas-aktivitas intelektual yang muncul dari kecenderungan orang Arab sebagai orang Arab dan Muslim. Ilmu pengetahuan paling penting dari kecenderungan itu adalah, teologi, hadits, fikih, filologi, dan linguistik. Kebanyakan sarjana dari bidang ini merupakan orang Arab.

Perhatian dan minat orang Arab Islam paling awal tertuju pada cabang keilmuan yang lahir karena motif keagamaan. Kebutuhan untuk memahami dan menjelaskan al-Quran, kemudian menjadi landasan kajian teologi dan linguistik yang serius. Interaksi dengan dunia Kristen pada abad pertama Hijriyah di Damaskus telah memicu tumbuhnya pemikiran spekulatif teologis yang melahirkan pemikiran Murjiah dan Qadariyah.

Bidang kajian berikutnya adalah hadis (sunnah), yaitu perilaku, ucapan, dan ketetapan Nabi yang kemudian menjadi ajaran paling penting. Meskipun tidak setara dengan al-Quran, hadits Nabi memiliki pengaruh yang sama terhadap perkembangan pemikiran Islam. Bagi para muslim yang sholeh, ilmu hadits merupakan ilmu utama.

Selama setengah abad pertama setelah Nabi Muhammad wafat catatan tentang perilaku dan perkataannya terus bertambah. Terhadap berbagai persoalan-politik, sosial, ataupun agama-setiap kelompok mencari hadits untuk memperkuat pendapatnya. Bermulai dari konflik antara Muawiyah dan Ali, maka menjamurlah hadit-hadits palsu.

Abad ketiga HIjriyah menyaksikan penyusunan enam kitab hadits yang sejak saat itu menjadi kitab hadits standar. Ulama yang paling otoritatif dan kitab haditsnya menjadi pegangan utama adalah al-Bukhari, seorang keturunan Persia. Memilih 7.397 hadits dari 600.000 hadits yang ia peroleh dari 1000 guru dalam rentang waktu 16 tahun perjalanan. Sebelum menulis haditsnya beliau melaksanakan wudhu dan shalat. Kitabnya menjadi semi sakral, kitab shahih kedua setelah al-Quran dan memiliki pengaruh paling besar terhadap pola pemikiran umat Islam. Kitab hadits kedua setelah al-Bukhari adalah shahih Muslim. Lalu keempat yang lain adalah Abu Dawud, an-Nasa’I, at-Turmudzi, dan Ibn Majah.

Kajian Hukum dan Etika Islam

Setelah orang Romawi, orang Arab adalah satu-satunya bangsa yang pada Abad Pertengahan melahirkan hukum yurisprudensi, dan darinya berkembang menjadi sistem yang independen. Sistem yangmereka sebut fiqih pada prinsipnya berdasarkan al-Quran dan sunnah. Fiqih meliputi-praktik ibadah, muamalah, kewajiban sipil, hukum, dan hukuman. Dari 6000 ayat al-Quran, hanya 200 yang berkaitan dengan masalah hukum-kebanyakan turun di Madinah-, ditambah dengan sunnah Nabi ternyata belum cukup untuk menangani semua kasus yang terus berkembang. Oleh karena itu dibutuhkan pemikiran spekulatif yang melahirkan dua prinsip baru: qiyas, yaitu deduksi analogis, dan ijma, atau kesepakatan bersama.

Karena kondisi sosial dan latar belakang budaya dan pemikiran setiap wilayah, pemikiran hukum Islam, pada gilirannya berkembang ke dalam sejumlah mazhab pemikiran yang berbeda. Seperti, mazhab pemikiran Irak yang lebih menekankan pada penggunaan pemikiran spekulatif dalam hukum ketimbang mazhab Madinah yang bersandar pada hadits. Tokoh paling otoritatif dalam mazham ini adalah Abu Hanifah, yang hidup di Kufah dan Baghdad, dan meninggal pada 767. Ia menjadi ahli hukum pertama dan paling berpengaruh dalam Islam juga dikenal paling toleran. Hampir separuh mazhab sunni adalah penganut mazhab ini. Ia menjadi mazhab resmi di berbagai wilayah bekas kekhalifahan Utsmani, juga di India dan Asia Tengah.

Pemimpin mazhab Madinah yang lebih akrab dengan kehidupan dan pola pikir Nabi adalah Malik bin Anas (715-795). Ia merupakan lawan diskursus dari Abu Hanifah, karyanya al-Muwatha merupakan kitab hukum Islam tertua. Kitab monumental ini memuat 1700 hadis hukum, menghimpun sunnah-sunnah Nabi, membuat rumusan tentang ijma, dan menjadi kitab hukum mazhab Maliki.
Antara mazhab yang liberal dan mazhab Madinah yang konservatif, muncul mazhab lain yang mengklain telah membangun jalan tengah: menerima pemeikiran spekulatif dengan cara tertentu. Mazhab ini didirikan oleh Muhammad bin Idris as-Syafi’I, seorang keturunan Quraisy yang belajar dengan imam Malik namun medan utamanya dalah Baghdad dan Kairo. Ia meninggal pada 820 di Kairo. Doktrin Syafi’I masih mendominasi Mesir bagian bawah, Afrika sebelah Timur, Palestina, Arab bagian barat dan selatan, wilayah pantai India, dan Indonesia.

Mazhab keempat dan terakhir yang dianut oleh komunitas Islam, selain Syiah adalah mazhab Hambali, yang mengambil nama dari pendirinya, Ahmad bin Hambal. Seorang murid Syafi’I dan pengusung ketaatan mutlak terhadao hadis. Konservatisme ibn Hambal merupakan benteng ortodoksi di Baghdad terhadap berbagai bentuk inovasi kalangan Muktazilah. Meskipun pernah menjadi korban inkuisisi dan pernah diikat rantai pada masa al-Ma’mun, serta dihina dan dipenjara oleh al-Mu’tashim, Ibn Hambal tetap teguh dengan pendiriannya, dan tidak mengakui berbagai bentuk medofikasi terhadap keyakinan tradisional. Namun, kini mazhab Hambali tidak memiliki pengikut dalam jumlah besar di luar kelompok Wahabi.

Perkembangan Sastra dan Bidang Kesenian Lain

Pada masa awal kekuasaan Dinasti Abbasiyah, muncul gerakan Syu’ubiyah yang bertujuan menentang superioritas yang diklaim oleh orang Islam Arab. Gerakan ini secara umum berbentuk perlawanan sastra dan mengklaim superioritas orang non-Arab dalam bidang puisi dan sastra. Gerakan sastra non-Arab ini dipimpin oleh tokoh semacam al-Biruni dan Hamzah al-Isfahani, sementara tokoh Arab diwakili oleh orang Arab sendiri beberapa tokoh Persia, seperti al-Jahiz, Ibn Durayd, al-Baladzuri, dan Ibn Qutaybah. Dalam kaitannya dengan persoalan-persoalan kontroversi inilah muncul beberapa tulisan orisinil paling awal tetang sastra Arab.

Sastra Arab bukan sekedar menjadi sastra bagi sebuah bangsa tetapi secara keseluruhan mewakili monumen abadi sebuah peradaban. Sastra Arab dalam pengertian sempit mulai dikembangkan oleh al-Jahiz (w 868-869). Mencapai puncaknya pada abad ke-4 dan ke-5 Hijriyah melalui karya-karya Badi al-Zaman al-Hamadzani (969-1008), al-Tsa’labi, dan Naisabur (961-1038), dan al-Hariri (1054-1122).

Perkembangan sastra pada masa ini didominasi humanisme dalam kajian ilmuah dan kemunduran sastra dalam segi inteletual. Ini memicu banyaknya orang-orang proletar sastra dan munculnya bentuk baru sastra, yaitu maqamah.

Pada masa ini, tidak lama sebelum pertengahan abad ke-10, draf pertama dari sebuah karya yang kemudian dikenal dengan ALif Laylah wa Laylah (Seribu Satu Malam) disusun di Irak. Acuan utama penulisan draf ini, yang dipersiapkan oleh al-Jahsyiyari, adalah karya Persia klasik, Hazar Afsana (kisah seribu). Kisah Seribu Satu Malam diterjemahkan pertama kali ke dalam bahasa Prancis oleh Galland. Kemudian diterjemakan ke dalam bahasa negara Eropa dan Asia dan menjadi sangat populer, jauh melebihi popularitasnya di dunia Timur sendiri.

Terdapat pula tokoh dalam puisi liris, Abu Nuwas yang cerdas dan kocak yang telah menampilkan sisi semarak dari kehidupan istana. Juga sufi yang sezaman dengannya, Abu al-Athiyah (748-828) yang berprofesi sebagai pengrajin tembikar, mengungkapkan pandangan pesimistik tentang kegersangan hidup yang dialami oleh orang-orang beragama.

Penulisan puisi pada masa Abbasiyah dan penulisan sastra pada masa-masa lainnya, pada dasarnya bersifat subjektif dan teritorial, sarat dengan warna lokal, namun tidak mampu menembus batasan tempat dan waktu sehingga tidak memperoleh tempat di tengah-tengah generasi penyair dari setiap zaman dan tempat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s