Bab 20-Pendidikan, Kesenian, dan Arsitektur

Pendidikan Dasar, Menengah, dan Perguruan Tinggi

Pendidikan anak-anak dimulai di rumahnya masing-masing dengan pengajaran kalimat tauhid : Laa ila ha Illallah, ketika si anak mulai mampu berbicara. Pada usia enam tahun mulai diajari shalat dan dimasukkan ke dalam pendidikan formal.

Pada periode Abbasiyah, masjid difungsikan sebagai sekolah. Pengajaran baca al-Quran adalah yang pertama dilanjutkan pelajaran baca-tulis. Murid-murid terbaik biasanya akan mendapatkan kehormatan untuk mengikuti parade; menaiki unta dan diarak keliling kota. Anak perempuan mendapatkan pendidikan yang sama untuk mengetahui pendidikan agama dasar. Namun, tidak untuk melanjutkan lebih tinggi karena masih dianggap perempuan kurang memerlukannya.

Lembaga pendidikan Islam pertama untuk mengajarkan tingkatan yang lebih tinggi adalah Bait al-Hikmah yang didirikan oleh al-Ma’mun (830) di Baghdad, ibu kota negara. Selain berfungsi sebagai biro penerjemahan, lembaga ini juga dikenal sebagai pusat aktivitas kajian akademis dan perpustakaan umum, serta memiliki observatorium. Tetapi, akademi Islam yang pertama kali didirikan yang menyediakan kebutuhan fisik untuk mahasiswanya dan kemudian menjadi model pembangunan madrasah-madrasah lainnya, adalah Nizhamiyah.

Madrasah Nizhamiyah dibangun sebagai pusat kajian teologi, khususnya untuk mempelajari ajaran-ajaran mazhab Syafi’I dan teologi Asy’ariyah. Para pelajar tinggal di asrama sekolah dan banyak yang mendapatkan beasiswa. Mereka diberikan minuman penajam ingatan yang terbuat dari biji kacang mete berdosis tinggi. Kesadaran moral merupakan hal yang ditekankan pada anak didik. Nizhamiyah juga merupakan lembaga satu-satunya yang diakui oleh negara. Di akademi Nizhamiyah ini pula al-Ghazali mengajar selama empat tahun (1901-1905). Di sini ia memperkenalkan karya besarnya, Ihya Ulumuddin.

Madrasah Nizhamiyah bertahan melewati malapetaka ketika Hulagu Khan pada 1258 menyerang Baghdad juga tetap bertahan ketika bangsa Tartar menyerang Baghdad. Kemudan madrasah ini bergabung dengan sekolah yang didirikan al-Muntanshir yang dibangun pada 1234 sebagai pusat pemondokan dan studi empat mazhab fikih ortodoks.

Selain Nizhamiyah, akademi-akademi lain tersebar di wilayah Khurasan, Irak, dan Suriah. Di semua lembaga tinggi teologi itu, ilmu hadits dijadikan sebagai landasan kurikulum, dan metode pembelajarannya lebih menekankan pada hafalan. Tajamnya hafalan mereka terlacak dari riwayat bahwa al-Ghazali hafal 300. 000 hadits. Imam Ahmad ibn Hambal dikatakan hafal 1.000.000 hadits dan al-Bukhari pernah diuji untuk menghafal seratus hadits lengkap dengan rangkaian perawinya.

Perpustakaan dan Toko Buku

Selain sebagai pusat pendidikan, masjid juga menjadi tempat penyimpanan buku. Buku-buku ini didapatkan dari hadiah-hadiah yng diberikan kepada pengurus masjid atau hasil pencarian dari berbagai sumber. Salah seorang donatur buku adalah seorang sejarawan terkenal, yaitu al-Khati al-Baghdad (1002-1071) yang menyerahkan buku-bukunya sebagai wakaf. Perpustakaan-perpustakaan lainnya dibangun oleh para bangsawan atau orang kaya sebagai lembaga kajian yang terbuka untuk umum. Para pelajar dan ahli dapat mengakses buku-buku yang diinginkan dengan mudah. Beberapa perpustakaan dibangun pada abad kesepuluh, di Syiraz oleh penguasa Buwaihi, ‘Adud al-Daulah (977-982), di Bashrah yang para sarjananya diberi upah, juga di kota Rayy, di mana terdapat ‘rumah buku’ yang menyediakan ribuan manuskrip yang diangkut oleh lebih dari 400 ekor unta. Seluruh naskah-naskah itu lalu didaftar dalam sepuluh jilid katalog.

Gambaran budaya baca juta terlihat dari banyaknya toku buku. Toko buku yang berfungsi sebagai agen pendidikan muncul pertama kali sejak awal kekhalfahan Abbasiyah. Al-Ya’qubi meriwayatkan bahwa terdapat lebih dari seratus toku buku yang berderet di satu ruas jalan yang sama. Para penjual biasanya berprofresi pula sebagai penulis kaligrafi, penyalin, dan ahli sastra yang tidak hanya menjadikan toko mereka sebagai tempat jualan, tetapi juga sebagai pusat kegiatan ilmiah. Dengan begitu, mereka mendapatkan kehormatan di tengah masyarakat. Tokoh besar seperti Yaqut memulai kariernya sebagai pegawai di toko buku dan al-Nadim menjalani karirenya sebagai pustakawan dan penjual buku sebelum melahirkan karya besanya al-Fihrist.

Perkembangan Media Tulis

Hingga awal abad ke-3 HIjriyah, bahan yang umum digunakan untuk menulis adalah kain perca dan papirus. Kertas cina masuk ke Irak pada abad ke-3 Hijriyah. Segera setalah itu, industri kertas tumbuh menjamur, muncul pertama kali di Samarkhand lalu menyebar ke Irak. Beberapa tawanan Cina (751) memperkenalkan seni pembuatan kertas dari flax, linen, atau kain rami. Pabrik kertas Samarkand yang dianggap mempunyai kualitas kertas terbaik, pada abad kesebelas juga dijumpai kualitas yang sama baiknya di kota-kota Suriah dan tripoli. Memang Pada akhir abad ke-10, kertas telah menggantikan papirus dan perca di seluruh wilayah Islam.
Tingkat Peradaban Masyarakat

Memang diakui ada sekolompok elit umat Islam yang memiliki tingkat pendidikan dan kebudayaan yang tinggi, tapi sulit untuk menentukan tingkat kebudayaan masyarakat secara umum. Cerita tentang seorang pelajar yang tidak mau menjual bukunya, bahkan ketika anak perempuannya sedang sakit, terungkap dalam buku karya Yaqut. Jawaban seorang budak perempuan bernama Tawaddud yang ketika ditanya oleh seorang terpelajar dalam kisah seribu satu malam juga bisa dijadikan ukuran untuk mengetahui pengetahuan yang dicapai oleh masyarakat berbudaya setelah periode Khalifah Harun al-Rasyid.

Perkembangan Seni dan Arsitektur

Dalam bidang seni, sama halnya seperti bidang sastra, seorang Arab, atau seorang Semit, memiliki daya apresiasi yang sangat tajam terhadap berbagai hal yang partikular dan subjektif, serta memiliki rasa yang lembut untuk mengungkapkan detail suatu objek seni. Sayangnya, ia tidak memiliki kecakapan untuk mengharmonikan dan menggabungkan sejumlah detail yang berbeda itu ke dalam satu kesatuan yang besar dan menyeluruh. Karena itulah, dalam bidang arsitektur, dan secara khusus dalam bidang seni lukis orang Arab tidak mencapai tingkat kemajuan yang berarti. Kedua bidang itu tidak berkembang selamanya, sebagaimana yang terjadi pada pengetahuan setelah abad kesepuluh.

Saat ini, tidak tersisa sedikit pun jejak-jejak monumental arsitektural yang penah menghiasi kota al-Manshur dan al-Rasyid, selain dua bangunan, yaitu masjid di Damaskus dan Kubah Agung di Yerussalem. Gerbang Emas (istana khalifah), Kubah Hijau, istana Barmaki, istana Pleides, rumah pohon, rumah al-Buwaihi (al-Mu’issiyah) yang kesemuanya merupakan bangunan megah dan mengagumkan pada saat itu tak tersisa sedikitpun bangunannya pada saat ini. Seiring perjalanan waktu bangunan-bangunan itu mengalami kerusakan dan pada akhirnya semua bangunan itu hancur total ketika Hulagu Khan menyerang Baghdad pada 1258.

Perkembangan Bidang Senirupa

Larangan kalangan teolog terhadap semua bentuk representasi senirupa tidak cukup kuat untuk menghentikan perkembangan senirupa dalam sejarah Islam. Buktinya adalah, beberapa khalifah banyak menghiasai istananya dengan lukisan dan patung. Al-Amin, menghiasi istananya di Tigris dengan gambar singa, elang, dan lumba-lumba. Al-Muqtadir memiliki replika pohn dari emas dan perak juga lima belas buah patung manusia berkuda.

Naskah berbahasa Arab paling tua yang dilengkapi dengan ilustrasi adalah karya al-Shufi tentang astronomi bertanggal 1005. Sejak zaman dahulu, bangsa Persia telah membuktikan dirinya sebagai ahli dalam seni rancang warna dan dekorasi. Melalui upaya dan perjuangan mereka, industri kesenian Islam mencapai kejayaannya. Industri karpet dan porselen yang dihiasi lukisan-lukisan manusia, hewan, dan tumbuhan, serta bentuk-bntuk goemetris dan epigraf, mencapai tingkat yang tiada bandingnya dalam karya seni Islam lainnya.

Seni kaligrafi, yang mendapatkan popularitas dan tempatnya tersendiri dalam kesenian Islam, karena tujuan awalnya untuk memperindah lafal Allah muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah serta langsung menjadi primadona kesenian Islam. Seorang kaligrafer memiliki kedudukan yang terhormat dan mulia terlebih ketika banyak penguasa Muslim yang menyewa jasa mereka. selain kaligrafi, bidang senirupa yang berkembang ialah, dekorasi warna, iluminasi, penjilidan buku, dan penyepuhan emas.

Perkembanga Seni Musik

Larangan ahli fikih terhadap musik dan alat musik tidak berlaku efektif di Baghdad dibandingkan sebelumya di Damaskus. Al-Mahdi merupakan pecinta musik. Al-Rasyid di dalam istananya semarak dan menyokong serta melindungi perkembangan musik dan nyanyian. Para musisi mendapatkan gaji rutin. Festival musik diselenggarakan tiap tahun yang dihadiri tidak kurang dari dua ribu orang biduan. Pada kesempatan semacam ini, seluruh anggota istana, laki-laki dan perempuan menari hingga fajar menyingsing.

Musisi jenius akan mendapatkan tempat tersendiri di sisi khalifah. Mereka dianugrahi kemuliaan dan penghormatan yang tinggi serta diabadikan dalam bait-bait puisi terpilih dan anekdot-anekdot yang menyenangkan. Pemain lute, penyanyi, dan komposer terkenal memenuhi istana khalifah di Baghdad.

Diantara karya-karya Yunani yang diterjemahkan pada periode keemasan Abbasiyah, hanya sedikit yang mengupas teori-teori musik. Dua karya Aristoteles diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul Kitab al-Masa’il (problemata) dan Kitab fi al-Nafs (De anima). Juga karya Galen, Euclid, Aristoxenus, dan Nichomachus (anak Aristoteles) yang karyanya tentang musik banyak memberikan gagasan musik bagi para musisi Arab dan ikhwan al-Shafa.

Penulisan tentang musik setelah mazhab Yunani dipelopori oleh filosof al-Kindi. Lalu al-Farabi yang merupakan penulis terbesar dalam bidang musik sepanjang Abad Pertengahan. Sayangnya, sebagian besar kekayaan teknis itu telah hilang tak tentu rimabanya. Musik Arab, dengan notasinya dan dua elemen utamanya, yakni nizham (gaya melodis) dan iqa (gaya ritmis), ditransmisikan lewat mulut ke mulut, hingga pada akhirnya hilang ditelan zaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s