Sekilas tentang Syiah dan Pandangan Distortif atas Syiah di Indonesia

Kepribadian dan Sepak Terjang Ali bin Abi Thalib

Jika kita berbicara tentang Syiah, satu sosok yang tak bisa luput dari perbincangan ialah sosok Ali bin Abi Thalib, Imam pertama kaum Syiah. Sebelum membahas lebih lanjut, alangkah baiknya kita berbicara tentang kepribadian dan sepak terjang orang yang satu ini, agar pemahaman kita kenapa beliau (Ali) bisa mendapatkan dukungan yang begitu banyak, dikagumi, dan dielu-elukan hingga pada akhirnya para pengagum inilah yang menjadi benih-benih tumbuhnya Syiah.

Di saat Nabi Muhammad masih hidup, Ali sudah mempunyai banyak pengagum dan penggemar. Bagaimana tidak, dilihat dari periode keislamannya, Ali merupakan pemuda paling awal menerima Islam. Dari segi Nasab, Ali merupakan sepupu Nabi yang bahkan diasuh oleh Nabi sendiri, kedudukannya semakin tinggi ketika ia dinikahkan oleh Fatimah yang merupakan putri kesayangan Nabi. Dari akhlaknya, beliau adalah orang yang zuhud, alim, dan cerdas. Beliaulah yang sering kali menjadi utusan dalam memecahkan masalah karena kepandaiannya dan kefasihannya berargumen. Ketika perang, dialah sosok jagoan yang amat ditakuti. Dari keturunan Ali jugalah Ahlul Bait keturunan Nabi lestari sampai sekarang. Belum lagi hadits Nabi yang mengatakan bahwa “Jika Muhammad sebagai kota ilmu maka Ali adalah pintunya”

Faktor-faktor di atas cukuplah menjadikan Ali sebagai sosok fenomenal di kalangan Muslim. Terlebih Ali masih muda sehingga amat banyak pengaggum Ali juga dari kalangan muda-mudi Muslim. Faktor di atas juga tentu membuat Ali secara psikologis merasa berhak menggantikan Nabi Muhamad sebagai pemimipin umat Islam tatkala Rasulullah wafat. Jangan menganggap perasaan ini merupakan tanda Ali bangga diri dan tidak menghormati para pendahulunya seperti Abu Bakar, Umar, dan Usman. Ini jelas perasaan yang amat wajar yang tumbuh dari individu yang mempunyai banyak keutamaan.

Ketika Rasulullah wafat, seluruh Islam tergoncang. Permasalahan timbul mengenai siapa yang akan menggantikan sosok Nabi. Respon paling cepat dilakukan oleh pihak Madinah yang segera menggelar rapat di kediaman Bani Sa’idah. Pihak Madinah mengusulkan agar Saad bin Ubadah menjadi pengganti Rasul. Satu orang dari pihak Muhajirin yang tidak sengaja mendengar rapat sepihak ini segera melapor ke Abu Bakar yang kebetulan di sisi Abu Bakar ada Umar bin Khattab dan Abu Udaidah bin Jarrah. Awalnya mereka enggan untuk memenuhi ajakan si Muhajirin ini tetapi karena keputusan fraksi Madinah atas pengganti Rasul bisa menjadi permasalahan yang besar bagi umat maka Abu Bakar dkk segera datang ke kediaman Bani sa’idah untuk menginterupsi rapat. Perdebatan berlangsung sengit dan singkat cerita akhirnya pihak Madinah setuju Abu Bakar menjadi pengganti Rasul.

Sebagaimana presiden terpilih yang akan menyampaikan pidato kemenangan, Abu Bakar di Masjid Nabawi menyampaikan khutbahnya sebagai pemimpin umat Islam dan mengambil baiat semua Muslim untuk meridhoinya sabagai pengganti Rasul. Namun di sisi Ahlul Bait, Ali-Fatimah dkk-ini semua amat menyinggung hati terlebih keputusan akan mencari pemimpin baru dijalankan ketika jenazah Nabi belum dikubur ditambah tanpa adanya konsultasi bersama para keluarga terdekat Nabi. Perasaan tersinggung yang amat wajar bila kita lihat dari perspektif Ali. Namun, Ali adalah sosok tawadhu, dedikasinya kepada Islam tidak akan dikalahkan oleh perasaan sakit sesaat karena telah dilangkahi oleh Abu Bakar. Terbukti di masa Abu Bakar dan Umar, Utsman, Ali selalu menjadi penasihat utama Khalifah. Terlebih pada saat itu, umat Islam harus bersatu padu untuk menundukkan banyak pembangkang; orang yang murtad, enggan membayar zakar, dan para nabi palsu.

Di akhir-akhir kehidupan Abu Bakar, beliau memilih Umar menjadi Khalifah berikutnya. Lagi-lagi Ali terlewati dan umat Muslim mayoritas tidak ada pilihan lain selain setuju Umar menjadi pemimpin mereka. lagi-lagi Ali menunjukkan kebesaran hatinya sehingga tidak pernah mempermasalahkan jabatan kekhalifahan. Di masa Umar, Ali tetap menjadi penasihat utama, bahkan ketika Umar sedang keluar Madinah, Ali ditunjuk sebagai pemimpin sementara di Madinah.

Di masa-masa pemerintahannya, Umar tertikam dan dalam keadaan sekarat ia mencalonkan enam orang yang akan menjadi penggantinya kelak. Enam orang itu ialah, Ali, Utsman, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqash, Thalhah bin Ubaidillah, dan Abdurrahman bin Auf. Semuanya dari kalangan Muhajirin dan termasuk dari 10 orang yang Rasul jamin masuk surga. Singkat cerita, 4 orang selain Ali dan Usman mengundurkan diri dan pencalonan diperebutkan dua orang ini.

Faktor umur Usman yang jauh lebih tua menjadikan dirinya sebagai prioritas pilihan. Masyarakat menilai bahwa Ali masih muda dan bisa menjadi pemimpin di periode berikutnya namun kesempatan itu tidak berlaku bagi Usman yang sudah tua dan kelihatan bisa wafat kapan saja. Akhirnya Usman terpilih, alhasil Ali dilangkahi untuk yang ketiga kalinya. Posisikan diri anda sebagai Ali dan rasakan sakit hati Ali yang terus dilangkahi tiga kali berturut-turut maka anda akan memahami gejolak jiwa Ali atau bayangkan anda menjadi pengagumnya, idola anda yang sebenarnya amat pantas menjadi orang nomor satu harus menerima nasib beberapa kali gagal menjadi pemimpin. Namun jangan salah Ali amat tawadhu dan tidak rela bersakit hati lama-lama. Di masa Usman, Ia bersama Usman dkk berjibaku dalam perluasan Islam dan membina umat.

Akhir-akhir pemerintahan Usman, adalah awal masa-masa kelam Khulafaurrasyidin. Usman adalah sosok yang teramat baik terutama kepada para keluarganya, sayangnya posisinya sebagai khalifah dimanfaatkan oleh keluarganya yang rakus. Usman menempatkan banyak keluarganya di posisi strategis pemerintahan. Masyarakat yang tidak puas mencap Usman telah melakukan nepotisme, aksi demo dari berbagai penjuru mengalir ke Madinah, kediaman Usman. Masyarakat menuntut agar Usman memecat para keluarganya dari posisi gubernur atau Usman harus mundur dari kursi kepemimpinan.

Lalu, di mana Ali dan sahabat-sahabat besar ketika kondisi sulit sedang menimpa Usman. Sejujurnya, para sahabat besar juga merasa ngeri dengan para demonstran ini. Kedudukan mereka yang mulia tidak memberikan pengaruh yang berarti untuk menenangkan masa. Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah mencegah masa untuk tidak menerobos rumah Usman dan menyuruh anak-anak mereka untuk memberikan Usman air dan makanan karena untuk waktu yang lama Usman tidak bisa keluar rumah akibat massa yang memblokade rumah beliau. Namun, massa yang habis kesabarannya tidak bisa terbendung, penjagaan gerbang Usman yang dijaga oleh Hasan, Husein dan para pemuda yang lain berhasil diterobos. Massa yang marah membanjiri rumah Usman, setelah kepulan debu huru-hara mengendap terlihat Usman telah tewas tergorok tanpa tahu siapa pembunuhnya.

Prahara ini menjadikan Ali sebagai satu-satunya kandidat yang pantas menggantikan Usman. Sepeninggal Usman, Ali langsung dibaiat sebagai khalifah, ironisnya yang membaiat adalah para pemberontak Usman. Dengan perasaan enggan Ali akhirnya menerima jabatan itu dan menjadi pemimpin Islam. Lihat lagi perasaan Ali kali ini, ketika dalam keadaan normal ia telah dilangkahi tiga kali, kali ini ia akhirnya menjadi khalifah tapi semuanya telah berubah. Islam sedang menuju ke arah kerusuhan internal.

Belum lama Ali menjadi khalifah, fraksi Aisyah, Thalhah, dan Zubair menuntut Ali menemukan dalang pembunuhan Usman. Ketika perang hampir terjadi, kedua belah pihak menyetujui damai dan akan bersama-sama menemukan siapa pembunuh dari Usman. Tentu saja tekad baik ini bisa terealisasi karena eratnya persahabatan di antara mereka, sebetulnya mereka enggan berperang satu sama lain. Sangat di luar batas kewajaran ketika orang-orang terdekat yang di masa Nabi berjuang bersama-sama dalam dakwah Islam kini diperhadapkan untuk saling tikam satu sama lain. Namun sayangnya, baik di pihak Ali atau di pihak aisyah terdapat para pemberontak Usman. Teorinya sederhana, jika Ali dan Aisyah berdamai dan mencari pihak-pihak yang membunuh Usman maka semua orang-orang yang terlibat dalam aksi pemberontakan itu adalah pembunuh Usman, dengan itu maka hukum Islam mengharuskan mereka untuk diqishas.

Daripada menerima kepastian qishas yang berarti hukuman mati alangkah lebih masuk akal jika peperangan antara Ali dan Aisyah diprovokasi kembali. Dengan perang setidaknya kemungkinan hidup-mati adalah 50:50 dibanding dengan qishas di mana kematian menjadi satu hal yang pasti. Akhirnya beberapa pemberontak yang bergabung dalam fraksi Aisyah memilih untuk menyerang tanpa sepengetahuan Aisyah sendiri. Pasukan Ali yang terkejut menanggapi hal ini sebagai pengkhianatan fraksi Aisyah dan merespon dengan serang balik. Peperangan tidak terlelakkan, para sahabat terlibat saling bunuh, darah tertumpah dan pada akirnya pihak Ali menjadi pemenang. Kemenangan yang menyedihkan, karena Thalhan dan Zubair yang merupakan salah satu sahabat terbaik Ali harus gugur. Aisyah diamankan oleh Ali dan dikembalikan ke Madinah dengan cara terhormat. Perang Jamal telah usai namun penderitaan Ali akan terus berlanjut.

Di Suriah, Muawiyah sedang memprovokasi dan mengumpulkan massa. Sebagai orator ulung dia dengan mudah mengobarkan api emosi masyarakat untuk segera menuntut Ali menemukan siapa pembunuh Usman. Kini Ali dihadapkan dua pilihan yang amat dilematis, Ali harus mencari pembunuh Usman atau Ali harus menjadi orang yang bertanggung jawab atas kematian Usman dan ia harus copot jabatan. Di dataran Shiffin yang membara, Lagi-lagi dua pasukan Islam bertemu dan dengan enggan harus bersiap-siap untuk berperang. Lagi-lagi keengganan berperang dikarenakan kedua belah pihak notabennya adalah para sahabat Nabi. Betapa miris jika ada dua sahabat atau ayah dan anak yang harus saling tikam dikarenakan berada di pihak yang saling bersebrangan?

Namun lagi-lagi upaya negosiasi tidak berhasil. Peperangan harus dilancarkan, dengan gagah berani kedua pihak saling mengayunkan pedang, saling tebas satu sama lain. Di kala pihak Ali lebih unggul dan pihak Muawiyah telah terdesak, Muawiyah meminta jalan damai berupa arbitrase. Usulan ini disetujui Ali agar tidak ada lagi darah Muslim yang tumpah sia-sia. Dalam peristiwa tahkim sebetulnya kedua belah pihak harus mencopot jabatannya, baik Ali dari jabatan khalifahnya maupun Muawiyah dari jabatan khalifah imajinernya. Kedua pihak setuju untuk mencalonkan Abdullah bin Umar sebagai pemimpin baru mereka. Namun intrik politik pihak Muawiyah di luar dugaan Ali dkk. Secara sepihak Amr bin Ash dari perwakilan Muawiyah mengukuhkan Muawiyah sebagai khalifah baru setelah sebelumnya Abu Musa al-Asyari dari pihak Ali menyatakan pencopotan Ali sebagai pemimpin.

Sumpah telah dikukuhkan, secara resmi-walaupun licik-Muawiyah menjadi pemimpin Muslim. Banyak para pembela Ali berbalik membenci Ali, mereka keluar dari pihak Ali dengan dendam yang membara. Merekalah yang pada saatnya dikenal sebagai sekte Khawarij. Khawarij menjadi gerakan ektrem dengan menunjuk tiga target utama untuk dibunuh, Ali, Muawiyah, dan Amr bin Ash. Dua terakhir gagal dibunuh, target tercapai hanya kepada Ali yang berhasil ditikam di masjid ketika shalat Shubuh. Sekali lagi, pikirkan dalam-dalam bagaimana perasaan keluarga Ali. Ali menjabat saat internal Islam sedang kacau, ia dihadapkan pada peperangan sesama sahabat, lalu dilengserkan dengan cara yang licik. Lalu dibunuh oleh orang yang dulunya pengagum Ali sendiri. Sakit hati yang teramat dalam tentunya!! Dan itu pulalah perasaan para pendukung Ali dan ahlul bayt.

Penindasan terhadap Ahlul Bayt dan Konsekuensinya

Sepeninggal Ali, para pendukung Ali beralih kepada Hasan. Hasan yang cinta damai menginginkan kestabilan umat terjadi. Dengan itu ia rela menerima kenyataan Muawaiyah sebagai khalifah dengan syarat pada waktu pemindahan kekuasaan Muawiyah dilarang menunjuk anaknya atau keluarganya sebagai pengganti, biarlah urusan kepemimpinan menjadi musyawarah umat Islam. Dan awalnya Muawaiyah menyetujui ini.

Singkat cerita Hasan mati diracun dan Muawiyah di masa sakit kerasnya menunjuk anaknya, Yazid sebagai pengganti. Muawiyah mengkhianati janjinya kepada Hasan. Ketika Yazid naik ke tampuk kepemimpinan maka pada saat itulah Dinasti Bani Umayah dimulai. Bagi pendukung Ahlul Bayt, kamatian Hasan membuat Husein menjadi pemimpin baru mereka. Di sisi Yazid, ia merasa bahwa satu-satunya batu ganjalan yang dapat membuat kepemimpinannya goyah ialah Husein. Berarti jalan satu-satunya adalah menghapuskan Husein dan keluarganya dari muka bumi!

Puluhan ribu prajurit telah disiapkan Yazid untuk membunuh Husein. Di Madinah, tempat Husein berada, ia menerima kabar burung akan aksi Yazid. Para sahabat mendesak Husein agar tetap di Madinah karena di Madinah para sahabat Nabi yang lain masih mungkin untuk membela dan melindungi Husein. Husein menolak, ia lebih memilih untuk menghadapi pasukan itu. walaupun sudah mengetahui bahwa Ia akan kalah, ia lebih memilih mati tinimbang menerima Yazid yang zalim itu sebagai pemimpin.

Di siang yang terik di daerah Karbala, bertemulah pasukan Yazid yang berjumlah puluhan ribu dengan gerombolan keluarga Husein yang sekitar 70 orang. Jumlah ini makin berkurang karena tidak semua dari keluarga Husein dalam kondisi siap tempur karena banyak dari mereka adalah anak-anak, perempuan, dan manula. Peperangan terjadi, bukan peperangan tepatnya tetapi pembantaian. Husein yang syahid di padang Karbala, kepalanya di potong, diarak, dan disuguhkan di nampan makanan kepada Yazid.

Di sisi ini, Yazid telah melakukan kesalahan besar. Awalnya, pembunuhan Husein bertujuan melanggengkan eksistensi Bani Umayah tapi dengan peristiwa Karbala, Yazid telah memantik api yang kobarannya tak akan pernah padam sampai hari ini. Yazid lupa bahwa Ali beserta para keluarganya mempunyai banyak pengikut dan pengagum, Husein berhasil dibunuh tetapi semangat Husein yang berada di dalam pengikutnya tidak pernah padam. Peristiwa Karbala telah melahirkan rasa jijik yang mengakar dari pengikut ahlul bayt terhadap peemrintahan Umayah. Lebih dari itu, mereka yang awalnya bukan pengagum ataupun pengikut ahlul bayt merasa berempati atas duka mendalam yang dialami para keluarga Nabi ditambah mereka amat membenci gaya pemerintahan Umayah yang suka berfoya-foya dan sekuler. Faktor psikologis menjadi penentu, perasaan suka-duka Ali, kematian Hasan, pembantaian ahlul bayt di Karbala menjadi perasaan trauma yang terakumulasi. Kebencian yang teramat dalam ini akhirnya mengkristal di kalangan pengikut Ahlul Bayt yang pada akhirnya melahirkan gerakan oposisi politik yang massif yang kita kenal dengan Syiah.

Syiah di Masa kekhalifahan Umayah

Tidak semua Ahlul Bayt mati di Karbala, salah satunya adalah Ali Zainal Aidin anak dari Husein. Saat peristiwa Karbala terjadi ia masih bayi dan selamat atas perlindungan Ahlul Bayt yang lain. Ketika Syiah telah menjadi gerakan yang konkret, maka dibutuhkan Imam dan seperti tradisi yang sudah berlangsung gelar Imam akan dipidah-tangankan dari bapak ke anaknya. Walaupun Ali Zaenal Abidin masih kecil, dia dijadikan Imam berikutnya. Imam ke empat Syiah.

Tidak seperti pihak oposisi di masa sekarang, yang bisa bebas mengkritik kebijakan pemerintahan yang berlangsung pada zaman Bani Umayah berkuasa lawan politik akan direspon secara brutal demi langgengnya kekuasaan. Penindasan-penindasan itulah yang dialami oleh kaum Syiah. Demi selamat dari tangan besi penguasa pada saat itu, Syiah menjadi sebuah gerakan bawah tanah.

Rasa benci di antara kedua belah pihak, Syiah dan Umayah yang berlatar belakang Sunni memang telah mengakar amat dalam. Umayah di satu sisi mempunyai kekuatan militer jauh lebih hebat, Syiah yang masih minoritas jelas tidak punya kekuatan untuk menang dari segi militer. Lalu, lewat media apakah pihak Syiah meluapkan kekesalannya? Jawabannya adalah perang kata-kata.

Pada mulanya Syiah adalah gerakan yang murni bersifat politik, tidak lebih! Mereka berlandaskan doktrin bahwa Ali lah yang paling berhak menjadi pengganti seusai Nabi wafat bukan Abu Bakar, Umar, atau Usman. Sedangkan ulama-ulama Sunni mengakui keabsahan Abu Bakar, Umar, Usman, juga Ali. Maka dari itu, kebencian yang mendalam kepada pihak Umayah yang mewakili Sunni dan ketidakmampuan Syiah terhadap perang terbuka melawan Umayah diimplementasikan dalam bentuk pencacian terhadap sahabat Nabi dan khalifah-khalifah Bani Umayah. Perlakuan ini segera direspon balik oleh para khalifah Umayah, mereka juga mencaci para Imam dan ulama Syiah. Dalam mimbar Jumat, lontaran caci-maki ini akan berlangsung baik dari syiah maupun Sunni. Pada nantinya, caci makian di atas mimbar ini akan dihapus oleh para pemimpin Syiah maupun Sunni, dari pihak syiah, Imam Zaid dan dari pihak Sunni Umar bin Abdul Aziz.

Lalu kenapa Syiah yang awalnya gerakan politis menjadi gerakan keagamaan?? Ini dikarenakan kondisi dan situasi pada saat itu ti dak memungkinkan tumbuh suburnya ideologi politik jika tidak diiringi oleh ideologi keagamaan. Jika Islam Syiah ingin mendapatkan lebih banyak pengikut maka Syiah harus membangun ciri khas keagamaannya sendiri yang jelas berbeda dengan Islam Sunni. Momentum ini diperoleh ketika mujtahid besar Syiah sekaligus Imam Syiah ke-6, Imam Ja’far Shadiq merampungkan fiqih ala Syiah. Setelah itu seterusnya ulama-ulama Syiah akan menggarap tafsir, tasawuf, hadits, sejarah dan semua elemen keagamaan dalam versi Syiahnya sendiri. Mulai dari situ, Syiah mulai berkembang, tidak hanya sebagai gerakan politik tetapi juga gerakan agamis.

Lantas kenapa Syiah menjadi bermacam-macam? Seperti halnya ideologi keagamaan lainnya, faktor-faktor semacam, perbedaan interpretasi, kultus individual, dan fanatisme sempit juga menjangkiti Syiah. Faktor-faktor ini saling bercampur dengan beragam porsinya dan hasilnya adalah sebuah permutasi, Syiah terpecah menjadi ragam sekte.

Ada dua macam Syiah yang diterima oleh Ulama Sunni. Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah 12 belas Imam adalah Syiah dengan jumlah pengikut terbanyak. Inilah Syiah mayoritas, Syiah yang terbentuk pertama kali. Kedua adalah Syiah Zaidiyah. Syiah Zaidiyah dipimpin oleh Imam mereka yang bernama Zaid, ketika pemimpin-pemimpin Syiah Itsna Asyariyah lebih memilih jalan damai dalam menghadapi penguasa Umayah, Zaid menolaknya dan membuat Syiahnya sendiri yang lebih menyutujui bahwa konfrontasi adalah cara terbaik untuk melawan penguasa. Uniknya, secara ibadah Syiah Zaidiyah lebih mirip kepada Sunni tinimbang Syiah pada umumnya dan Zaid jugalah yang menerima kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Usman dan melarang pengikutnya untuk mencaci maki para sahabat.

Permutasi ini menghasilkan banyak varian Syiah, dan sayangnya Syiah versi ekstrim dan bahkan dianggap sesat oleh Syiah mayoritas itu sendiri tumbuh lebih subur daripada Syiah yang ‘lurus’ meskipun pengikutnya minim dan mungkin sekarang 90% atau lebih dari mereka telah ditumpas habis. Syiah ghulat (ekstrim) selalu mempunyai doktrin kultus yang amat berlebihan kepada Ali. Ada yang menganggap Ali adalah titisan Tuhan. Ada pula yang meyakini bahwa Jibril salah menyampaikan wahyu, bukan kepada Muhammad tetapi harusnya kepada Ali. Bahkan yang lebih ekstrim lagi ada yang menyatakan bahwa Ali itu Allah. Syiah yang seperti ini jangankan oleh Sunni, oleh Syiah Itsna asyariyah, Zaidiyah, dan Ismailiyyah juga dianggap sesat!

Inilah sekilas tentang sejarah asal-muasal Syiah. Selanjutnya Syiah bersama Persia dan Abbasiyah akan memainkan peran dalam penggulingan Bani Umayah. Lalu kembali menjadi korban kekerasan Abbasiyah. Berjaya kembali di saat Bani Fatimiyyah menduduki Mesir dan daulah ini pula yang mendirikan Al-Azhar Kairo yang sampai sekarang menjadi Universitas Islam tertua dan menjadi rujukan pokok para pelajar yang ingin memelajari khazanah keislaman. Pada saat ini Syiah banyak dianut di Negara-negara Timur Tengah seperti Iran, Irak, Suriah dll.

Konflik Suriah dan Pencitraan Negatif atas Syiah Suriah oleh Media

kali ini kita merentang jauh ke masa depan, ke abad 20. Ketika banyak masyarakat yang masih awam belum banyak tahu mengenai Syiah dan isu Syiah belum menjadi topik hangat di kalangan media sosial. Namun sepanjang tahun 2013 sebuah konflik di Suriah membuat suasana tidak hanya di Suriah memanas. Perang senjata ada di Suriah dan perang opini terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Lebih jauh, kita akan melihat betapa kombinasi dari kekosongan sejarah masa lalu dengan pencitraan negatif masa kini membuat orang awam hanya mempunyai satu sudut pandang dan tanpa pandang bulu mendistorsi kebenaran sejarah.

Isu Syiah dipicu oleh video-video yang menampilkan para prajurit Bashar al-Assad, Presiden Suriah sedang menembaki, membunuhi, dan menganiaya para prajurit dari pihak oposisi. Pembantaian yang diiringi teriakan ‘’Laa ila ha illa Bashar (Tiada Tuhan selain Bashar al-Assad)” berkumandang di video itu dan secara singkat membuat para penontonnya berkesimpulan. Assad sedang melakukan pembantaian atas nama Syiah atau semacam konversi paksa dari Sunni ke Syiah. Video itu tersebar begitu cepat dan menimbulkan reaksi kekesalan terhadap Syiah. Orang-orang yang tidak tahu apapun tentang Syiah langsung mencap bahwa Syiah adalah Islam garis keras, ekstrim, dan berbahaya. Dan sayangnya, mereka yang termakan provokasi video itu adalah para pemuda-pemuda atau mahasiswa yang mempunyai semangat keagamaan yang menggebu-gebu namun di sisi yang lain tidak tahu menahu tentang Syiah dan Perang Suriah.

Saya sengaja menyinggung Perang Suriah di sini karena konflik yang ada di Suriah memegang peranan penting dalam pencitraan Syiah di Indonesia. Pencitraan yang disponsori oleh media-media mainstream dan disebarkan melalui link di facebook maupun twitter dan menjadi kosumsi masyarakat di Indonesia. Dan dalam tulisan mengenai perang Suriah saya akan banyak mengambil dari buku “Prahara Suriah, membongkar Persekongkolan Multinasional” karya Dina Y. Sulaeman.

Untuk meluruskan-ini akan menjadi sangat penting-bahwa rezim Assad bukanlah rezim berdasarkan mazhab, rezimnya berlandaskan pemerintahan sekuler pada umumnya. Namun, memang ada sebagian pihak yang dekat dengan Assad memanfaatkan kekuasaan Assad untuk memperkuat kaum Alawy (Syiah). Jika kita hanya melihat pada satu titik, maka yang akan kita lihat dari prahara yang ada di Suriah adalah, konflik antara pemerintahan yang berlandaskan Syiah versus gerakan oposisi yang bernafaskan Sunni. Tapi ingat itu hanyalah pandangan sempit.

Jika kita melebarkan pandangan, membuka mata lebih jauh kita akan melihat tangan-tangan siluman yang mengompor-ngompori perang di Suriah. Kita akan melihat adanya konspirasi kompleks dari Negara-negara adidaya, AS, Inggris, Prancis dan Negara-negara Timur Tengah seperti Turki, Qatar, dan Arab Saudi. Dan semua ini dikendalikan dari jauh oleh zionis Israel!!

Sebetulnya isu Sunni versus Syiah hanyalah sebuah pemicu. Pemicu tanpa pemantik tidak akan meledak, ya negara-negara yang telah disebutkan merupakan pemantiknya. Mereka rela bekerja sama demi ambisi-ambisi pribadi.

Biang keladi dari kasus ini jelaslah Israel dengan The Oded Yinons Plannya. Pihak yang paling bertanggung jawab atas perang Suriah dengan mengendalikan Negara adidaya dari balik layar. Israel punya agenda utama yaitu pemecahan Negara-negara Timur Tengah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Pemecahanan berdasarkan sektaranianisme atau Mazhab sehingga suatu saat nanti Israel bisa menjadi Negara paling Berjaya di Timur Tengah. Jelas agendanya ini tidak akan bisa direalisasikan jika tanpa dukungan Negara-negara adidaya terutama AS.

Perebutan gas Suriah menjadi ambisi bagi AS. Suriah yang terdapat di cekungan Mediterania mengandung cadangan gas terbesar di dunia itulah sebabnya memiliki posisi penting. Suriah adalah satu-satunya Negara produsen minyak dan gas di antara Negara-negara di pesisir laut Mediterania. Gas adalah primadona energi di abad-21 kerana relatif bebas polusi dan lebih murah. Di saat yang sama Eropa dan As tengah dilada krisis ekonomi sehingga kontrol energi menjadi kunci utama bila mereka ingin bertahan menjadi penguasa dunia.

Masalahnya Suriah tidak bisa dikontrol Barat, bahkan Suriah telah menandatangani perjanjian dengan Irak dan Iran untuk membangun pipa gas dari kedua Negara itu, melewati Suriah (Mediterania) dan terus ke pasar Eropa. Pendukung jalur ini adalah Rusia dan China. Jalur ini jelas mengancam pipa gas Nobucco yang dikontrol Barat-yang menyalurkan gas dari Timur Tengah dan Laut Kaspia, melewati Turki hingga pasar Eropa.

Ambisi Turki, yaitu menjadi pemain utama di Timur Tengah dan pelopor serta pelayan bagi Timur Tengah sedangkan ambisi Prancis dilatarbelakangi oleh sejarah pendudukan Prancis atas Suriah. Kini setelah Suriah merdeka Prancis ingin kembali memegang kendali atas Suriah dengan cara penggulingan rezim Assad.

Untungnya Suriah mempunyai partner yang juga sangat kuat. yaitu Rusia, China, dan Iran. Di saat pemberontak Suriah mendapatkan suplai dana dan senjata dari Negara adidaya Barat dan monarki Arab, di pihak pemerintah ada negara-negara kuat semacam Rusia, China, dan Iran. China dan Rusia dengan hak vetonya sebagai Dewan Keamanan PBB berusaha keras menghalangi intervensi militer NATO masuk ke Suriah karena tidak mau pengaruh Barat di Timur Tengah semakin meluas. Sementara itu Iran mengancam menggunakan kekuatan geopolitiknya seandainya Barat berani melakukan intervensi militer ke Suriah. Selain itu, Assad adalah ‘benteng’ penting Iran dalam menghadapi ancaman Israel karena kebijakan luar negri antara Iran dan Suriah sama-sama tegas terhadap Israel. Iran memiliki kekuatan geopolitik, yaitu kemampuan menutup Selat Hormuz. Bila selat ini ditutup dipastikan perekonomian Barat akan koleps. Karena adanya resistensi dari tiga Negara kuat itulah, Barat hingga kini belum mengirimkan pasukannya ke Suriah.

Terakhir, para pebisnis yang mendukung perang Suriah didominasi oleh perusahan minyak dan lembaga pemikir (think-tank) AS. Pendanaan terhadap para pemberontak dan lembaga-lembaga yang ‘katanya’ ingin membantu Suriah bebas dari rezim penindasan Assad tak lain adalah businessman Zionis yang menguasai ExxonMobil dan Conoco Phillips (dua dari perusahaan minyak raksasa yang lazim disebut Big Oil).

Lihatlah, betapa kompleks kasus ini!! sedangkan apa yang banyak orang tahu adalah berita yang amat tidak akurat. Media-media mainstream memang sengaja menampilkan konten yang simpang siur, bahkan di Timur Tengah kanal-kanal al-Jazeera dan al-Arabiya, membantu mereka dengan menyebarkan kebohongan bahwa para ulama berpihak kepada demostran anti-Assad. Lalu media massa internasional memberitakan dengan sangat massif bahwa aksi demo di Daraa dihadapi dengan sangat brutal oleh Rezim Assad. Sejak itulah stigma bahwa rezim Assad bertindak brutal kepada demonstran damai di Suriah.

Lalu kenapa Arab Saudi juga bekerja sama? Jelaslah Arab Saudi dengan doktrin Wahabinya amat membenci Syiah bahkan dalam kondisi tertentu mereka juga membenci Sunni. Konflik Sunni-Syiah merupakan ladang subur bagi Wahabi untuk mengeliminasi pengaruh Syiah juga Sunni. Pertanyaan terbesar mengenai konflik Suriah adalah mengapa ulama besar Sunni semacam Syeikh Dr. Ramadhan al-Buty tidak pernah setuju dengan tindakan oposisi yang notabennya berlatar belakang Sunni. Kenapa jika ada kekerasan pihak Syiah atas Sunni lalu ia malah membela pemerintahan yang katanya berlandaskan Syiah? Dan keanehan ini terjawab ketika suatu hari ia tewas tertembak ketika sedang mengisi pengajian di Masjid. Siapa pembunuhnya? Jelaslah bukan dari pihak pemerintah yang jelas-jelas pro dengan al-Buty juga bukan dari pihak oposisi Sunni yang pastinya mereka sangat menghormati ulamanya sendiri apalagi sekelas al-Buty. Lalu siapa pembunuhnya? Paling memungkinkan ialah salah pemberontak yang berideologi Wahabi!! Al-Buty dengan buku-bukunya sudah lama membuat para ulama Wahabi gerah. Tulisan-tulisannya amat tajam dalam memblokir doktrin Wahabi dan bukunya mempunyai pengaruh yang luar biasa di Negara-negara Muslim atau mayoritas Muslim seperti Indonesia.

Pintar dalam Memfilter dan Bijak dalam Berpendapat

Maap jika pemaparan saya terlalu panjang dan membuat pembaca bosan. Namun, dua masalah besar itulah yang benar-benar ada di pikiran saya, ketidaktahuan akan asal-usul Syiah dan Perang Surian yang membuat citra Syiah menjadi layaknya monster yang harus dijauhi. Dengan semangat dan yakinnya mereka menggeneralisasi Syiah menjadi sekte sesat. Ini jugalah yang membuat perang opini di beragam media sosial, khususnya di facebook. Sayangnya, pembaca kita sering kali mudah terprovokasi dengan berita-berita tautan tersebut tanpa tahu siapa yang menyebar dan tujuan apa yang melatar belakanginya.

Pada umumnya dalam debat, masing-masing pihak berpegang pada apa yang di bacanya di internet. Mereka hanya memercayai informasi dari pihak yang memang sejalan dengan kerangka pikiran mereka. Walaupun selintas terlihat sepele tapi perang opini ini menjadi perang yang amat penting. Perang dalam public leading opinion, dan sesungguhnya Barat amat mengandalkan ini.

Siapa yang rugi dalam debat kusir seperti ini? kita sendiri!! Seringkali hubungan baik-baik menjadi rusak karena keegoisan kita memertahankan pendapat! Ironisnya jika pendapat yang kita bela mati-matian suatu saat terbukti salah. Ini akan sangat memalukan. Lalu siapa yang untung? Jelaslah para musuh-musuh Islam. Perpecahan antara sesama Islam adalah kondisi terbaik bagi musuh-musuh Islam. Konflik Sunni-Syiah menjadi kabar baik bagi Wahabi yang tidak mau melihat keduanya bersatu. Konflik segitiga, Sunni-Syiah-Wahabi juga menjadi kabar baik bagi para musuh Islam yang tidak mau Islam bersatu.

Memang persatuan Islam seakan menjadi visi yang mustahil untuk dicapai di masa sekarang. Namun, menjaga keharmonisan di antara kita tidaklah sulit. Cukup mengetahui lebih dalam lawan bicara kita sembari waspada akan musuh-musuh Islam yang siap mengadu domba.

Balik lagi ke masalah Syiah, di dalam buku Quraish Shihab yang berjudul, “Sunni Syiah Bergandegan Tangan, Mungkinkah?” di situ tertulis bahwa konsensus ulama sedunia yang terkumpul dari ulama besar Sunni-Syiah telah menyetujui kesepakatan bahwa penyebaran doktrin Syiah terlarang dilakukan di tempat-tempat mayoritas Sunni begitupun sebaliknya. Ya, sangat wajar, proses pengalihan dari Sunni ke Syiah atau sebaliknya jelas-jelas akan menggoncang kestabilan umum. Jangankan peralihan dari Sunni ke Syiah, teori-teori Islam kiri yang dibawa orang-orang liberal saja sudah sangat meresahkan masyarakat kita.

Terkait isu Prof. Quraish Shihab itu Syiah memang sudah lama beredar bahkan sebelum bukunya tentang Syiah itu ditulis. Menurut saya, jangan menuduh bila belum membaca semua bukunya. Sepanjang saya membaca tulisan beliau, tak ada indikasi Syiah sedikit pun malahan yang benar-benar nampak adalah usaha untuk menjembatani antara Sunni dan Syiah. Sebuah usaha yang harus kita apresiasi malah menjadi titik acuan untuk menuduh. Sungguh amat disayangkan bukan?

Terakhir, saya berpesan kepada kawan-kawan untuk selalu berpikiran terbuka, selalu mencari kebenaran walaupun harus menghilangkan semua pandangan lama yang telah melekat erat di benak kita. Kita harus cerdas dalam menanggapi dan menyikapi segala perbedaan terutama yang berpotensi memicu sebuah konflik. Semoga rahmat Allah melimpah kepada kita.

Wallahu ‘alam

Maaf jika tidak menyertakan footnote. Tulisan ini adalah kombinasi campur aduk dari berbagai buku mungkin suatu hari saya bisa merevisi ini beserta sumbernya.

Sumber: “Abu Bakar, Umar, Utsman” ketiganya karya Muhammad Husein Haikal, “Fiqh Sirah” karya Dr Ramadhan al-Buty, “Sunni-Syiah Bergandengan Tangan”, karya Quraish Shihab, “Dari Puncak Baghdad” karya Tamim Anshary, dan “Praha Suriah” Karya Dina Y. Suleiman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s