Bolehkah Muslimah Menikah dengan Lelaki non-Muslim?

Alhamdulillah saya mendapat cerita unik dan penuh hikmah dari dosen saya, tepatnya di mata kuliah Masail Fiqhiyah (persoalan-persoalan dalam fikih). Ketika itu pembahasan kami tentang pernikahan beda agama dan diskusi terakhir mengenai apakah boleh jika wanita muslimah menikah dengan lelaki non-muslim baik itu ahli kitab maupun bukan.

Kesimpulan kami jelas, berdasarkan apa yang mampu kita pahami dari surat al-Mumtahanah ayat 10 bahwa haram hukumnya seorang muslimah menikahi lelaki non-muslim. Hukum Haram sudah ‘diketok palu’ di dalam kelas kami dan dosen kami pun tanpa tedeng alih-alih menyetujuinya. Namun sebelum kelas benar-benar diakhiri, dosen kami bercerita tentang pengalamannya dulu ketika menjadi siswa pasca sarjana. Kebetulan beliau saat itu sedang berada di dalam kelas yang diampu oleh pakar tafsir Indonesia yang saat itu masih menjabat rektor IAIN, Prof. Quraish Shihab.

Di kelas tersebut, Pak Quraish bercerita pengalamannya ketika beliau sedang mengisi suatu kajian ibu-ibu di Masjid Istiqlal. Dalam prosesi tanya-jawab, seorang ibu bertanya kepada Pak Quraish tentang status dirinya yang telah lama menjalin pernikahan dengan suami yang beda agama, bahkan ia sudah dikaruniai dua orang anak. Biasanya Pak Quraish langsung menjawab satu per satu pertanyaan tanpa menampungnya terlebih dahulu, tapi ketika si ibu ini sudah selesai bertanya, Pak Quraish malah bertanya kepada para jamaah apakah ada di antara mereka yang ingin bertanya. Satu orang kemudian bertanya, lalu dijawab. Dua orang bertanya, juga langsung dijawab sampai orang ketiga pun bertanya lalu dijawab dengan segera. Ibu yang pertama kali bertanya mulai jengkel, ia merasa dipermainkan oleh Pak Quraish. Pertanyaannya sedari tadi belum juga dijawab sedangkan penanya yang belakangan sudah mendapatkan jawaban.

Dengan nada kesal ia menginterupsi, “Pak, dari tadi saya bertanya tapi belum bapak jawab. Tolong pak saya butuh jawaban bapak” mendengar protes itu Pak Quraish menjawab, “Khusus untuk ibu, nanti saya jawab di ruangan saya. Sehabis pulang, ibu silakan temui saya”

Sepulang pengajian sang ibu langsung menemui Pak Quraish yang memang memiliki ruangan khusus di Masjid Istiqlal. Di depan Pak Quraish, emosi ibu itu tumpah. Mungkin  suasana yang lebih privasi membuat ibu ini merasa nyaman untuk meluapkan segala unek-uneknya.

Sambil menangis ia berkata, “Pak, saya sudah menanyakan masalah saya ini kepada para kyai dan ustadz, tapi semuanya mengutarkan jawaban yang sama yang intinya, “Pernikahan anda telah rusak, selama masih dipertahankan anda terus dalam kondisi zina. Anda harus memutuskan pernikahan itu, jika tidak anda terus berkecimpung dalam dosa besar” ibu itu meneruskan, “Mungkin ini terakhir kali saya bertanya oleh seorang pakar, kiranya Bapak punya jawaban lain”

Pak Quraish dengan gaya yang menenangkan segera menjawab, “Bu, ini hanya khusus untuk Ibu loh ya. Ingat kata-kata saya, ini hanya untuk Ibu bukan untuk yang lain” setelah mendapat anggukan setuju dari si ibu Pak Quraish meneruskan penjelasannya, “Bu, sebetulnya tidak ada dalil baik di al-Quran maupun hadits yang secara qath’I (pasti) yang mengharamkan muslimah menikah dengan lelaki non-muslim. Ayat 10 dari surat al-Mumtahanah tidak secara qath’I mengatakan demikian, pengharaman itu hanya secara zhanni (dugaan keras). Hemat saya, ini peluang untuk Ibu melanjutkan rumah tangga Ibu tanpa merasa berdosa. Tapi ingat ini berlaku khusus untuk Ibu bukan orang lain”

Si Ibu mengusap air matanya, mengucapkan banyak-banyak terimakasih karena merasa sangat puas oleh jawaban Pak Quraish. Tak lama si ibu itu pamit pulang. Pada sore harinya, tak disangka-sangka Pak Quraish kedatangan tamu yang tak lain adalah si Ibu penanya tadi, ia tidak sendirian tapi bersama suami dan dua anaknya. Dalam pertemuan itu, mereka sekeluarga tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Pak Quraish, mereka bersyukur bahwa masih ada ulama yang mempunyai jawaban alternatif bagi masalah mereka. Selama ini, mereka merasa tertekan karena satu sisi mereka masih saling mencintai namun di sisi lain banyak pihak menyuruh si wanita memutuskan ikatan pernikahan tersebut karena vonis zina dan dosa besar. Mungkin di sinilah hikmahnya, bahwa jawaban bijak sering kali menjadi katalis dalam penerimaan hidayah. Sepertinya jawaban Pak Quraish telah menyentuh kesadaram terdalam si suami bahwa Islam bukanlah agama rigid yang menafikan solusi alternatif. Di akhir kunjungannya, di hadapan Pak Quraish si suami itu memutuskan untuk memeluk agama Islam. Kini rumah tangga mereka yang sempat terancam kini utuh sempurna menjadi rumah tangga keluarga muslim.

Silakan para pembaca mengambil kesimpulan dan ibrah masing-masing dari cerita ini. Wassalam J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s