Bocoran Tanggal Awal Ramadhan dan Lebaran, Akankah Kita Berbeda (Lagi)?

Mukaddimah

Lagi-lagi tulisan ini dilatarbelakangi oleh diskusi dan penjelasan dari dosen saya dalam mata kuliah Perbandingan Mazhab. Kali ini pembahasan kami seputar perbedaan para ulama mazhab seputar batas aurat dalam shalat, membaca sami’allah (tasmi) bagi makmum, zakat fitrah dan zakat profesi, dan penentuan awal Ramadhan. Namun, yang akan saya tulis di sini hanya terkait masalah penentuan awal Ramadhan dan lebaran karena menurut saya permasalahan ini lebih nge-hits dibanding tiga permasalahan yang lain. Lagipula kebetulan saat tiga permasalahan awal didiskusikan saya sedang tertidur pulas, maklum habis nonton Barca vs Munchen dan saya cukup senang saat Barca berhasil membantai Munchen. Messi you are incredible!!

Oke, sebelum saya salah fokus mari saya bahas masalah pokok kita seputar perbedaan penentuan tanggal, baik awal Ramadhan maupun lebaran. Oh iya, inti dari tulisan saya ini hanyalah hasil copy-paste apa yang dosen saya paparkan, tanpa tambahan apa pun dari saya sendiri. Jadi karena ilmu ini bersumber dari beliau maka itu jangan sungkan untuk mendoakan beliau jika kalian merasa mendapatkan ilmu dari tulisan ini. Beliau bernama Aminudin Ya’kub, bergelar doktor dalam fiqih dan aktif dalam komisaris fatwa MUI. Jadi secara keilmuan, omongan beliau sangat bisa dipertanggungjawabkan.

Perbedaan Syar’i dan yang Bukan Syar’i

Sebagai landasan awal, saya akan menjelaskan bahwa perbedaan akan penentuan tanggal ini ada dua macam, yaitu perbedaan yang syar’i dan yang tidak syar’i. Lebih baik saya awali dengan perbedaan yang tidak syar’i deh ya. Perbedaan ini disebabkan bukan berdasarkan dalil-dalil yang shahih tetapi dari alasan-alasan lain yang lebih konyol. Ciri khas penentuan tanggal yang tidak syar’i juga amat mudah diidentifikasi. Jika perbedaan tanggal biasanya hanya berselisih sehari, pihak yang tidak syar’i akan memiliki selisih tanggal beberapa hari bahkan bisa sampai seminggu. Itu karena metode perhitungan yang mereka pakai menyalahi aturan. Alih-alih memakai metode ru’yat atau hisab ada kelompok yang menentukan awal Ramadhan di saat air laut surut, atau munculnya ikan tertentu dari laut. Pernah dengar kelompok Naqsabandi di Padang? Mereka nyaris memakai metode syar’i, metode hisabnya berasal dari sebuah kitab turun temurun dari guru besar aliran tersebut. Namun sayang, kitab mereka sudah out of date, makanya sudah tidak relevan dan selisih mereka dengan kita bisa sampai berhari-hari. Yang patut diketahui ialah mereka hanya kelompok minor dengan beranggotakan sedikit orang. Hanya saja, mereka dipromosikan oleh media jadi seakan-akan mereka kelompok besar dan kuat. Jadi kalau ada orang yang bilang kepada kalian kalau awal Ramadhan itu ditentukan oleh surutnya air kali Ciliwung atau munculnya ikan paus biru dari danau UI, kalian jangan percaya! Baiklah, mari tinggalkan kelompok ecek-ecek itu dan fokus kepada yang mayor.

Lalu seperti apakah perbedaan yang syar’i? itu adalah perbedaan yang berdasarkan nash keagamaan yang absah. Seperti hadits berikut, “Puasalah kamu bila melihatnya (hilal Ramadhan) dan berbukalah kamu jika melihatnya (hilal Syawal), jika kamu terhalang oleh awan untuk dapat melihat (hilal), maka sempurnakanlah jumlah Sya’ban menjadi tiga puluh hari” (HR. Bukhari). Ulama-ulama zaman dahulu mempunyai dua metode dalam penentuan tanggal, pertama dengan cara ru’yatul hilal (melihat bulan) dan jika bulan tidak terlihat maka metode selanjutnya adalah penggenapan bulan menjadi tiga puluh hari. Namun, seiring berkembangnya ilmu astronomi dalam Islam ada satu metode lagi yang digunakan, yaitu metode hisab. Dari artinya, hisab berarti perhitungan, eitss tapi bukan perhitungan sederhana, perhitungan itu memiliki banyak komponen yang dari namanya saja membingungkan dan saya tak akan membahasnya di sini, karena saya pun tak begitu paham caranya. Yang jelas, perhitungan ini lebih sulit ketimbang mengerjakan UAS Kalkulus dan Alin nya anak teknik!.

Sebelum saya mendapat penjelasan dari dosen, saya masih mengira bahwa perbedaan tanggal yang sering terjadi antara Pemerintah dan Muhammadiyah dikarenakan karena metode Muhammadiyah yang menggunakan hisab dan Pemerintah yang menggunakan ru’yatul hilal tapi ternyata bukan itu penyebabnya. Sebelumnya, saya harus katakan bahwa setiap ormas Islam, seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dll itu memiliki tim tersendiri masalah ru’yat dan hilal. Jadi, semua ormas Islam di Indonesia ternyata menggunakan metode hisab (bukan hanya Muhammadiyah dan Yusuf Mansur).Namun perbedaan yang sering terjadi membuat Kementrian Agama mengumpulkan mereka semua dalam satu wadah yakni Badan Hisab dan Ru’yat Kementrian Agama. Tidak hanya itu, para ahli falak ini juga berkolaborasi dengan para pakar astronomi dari LAPAN dalam menentukan perhitungannya. Nah, karena mereka menjadi satu tim, maka permasalahan terkait dengan metode hisab tidak akan ada masalah. Mereka telah bertemu di satu titik dan sepakat akan keputusan kolektif mereka.

Lalu di mana letak perbedaan itu muncul? Nah, setelah mereka sepakat akan perhitungan astronomisnya timbullah dua macam metode yang menjadi kunci perbedaan, yaitu ru’yatul hilal bil fi’li (melihat hilal) dan wujudul hilal (keberadaan hilal). Yang pertama digunakan oleh NU, Persis dkk dan yang kedua diwakili oleh Muhammadiyah sebagai bintang utamanya. Perbedaan antara metode ‘melihat hilal’ dengan ‘keberadaan hilal’ tidaklah jauh-jauh amat, mungkin ibarat saya dengan Messi ups. Dalam metode melihat hilal, penentuan awal Ramadhan jatuh jika seseorang telah melihat dengan matanya sendiri kemunculan bulan (dengan bantuan teropong tentunya). Jadi Badan Hisab-Ru’yat Kemenag akan menyebarkan titik-titik teropong dari Sabang hingga Marouke. Nanti para saksi akan disumpah mengenai lihat atau tidaknya mereka akan penampakan bulan. Satu saja dari mereka yang melihat hilal maka seluruh masyarakat yang mengikuti Pemerintah akan bergembira karena daging semur yang mereka masak untuk sahur tidak akan sia-sia

Sedangkan metode wujudul hilal, tidaklah serumit ini. mereka tidak perlu menyebarkan pasukan intel mereka ke segala penjuru Indonesia karena keberadaan hilal bisa diketahui hanya dari hasil hisab. Jika dari perhitungan astronomis dikatakan hilal telah melewati ufuk maka secara otomatis keberadaan hilal telah terpenuhi dan tanpa di ru’yat maka orang-orang Muhammadiyah dari jauh-jauh hari sudah dapat menentukan kapan jatuhnya awal Ramadhan dan Syawwal.

Dari penjelasan di atas mungkin terlintas sebuah pertanyaan di kepala pembaca? Yaitu, apa persamaan saya dengan Messi? Oh sorry lagi-lagi salah fokus. Oke lanjutkan, pertanyaannya adalah, buat apa perhitungan astronomis yang disepakati jika pada akhirnya Pemerintah harus menyebarkan saksi demi melihat hilal? Jawabannya ialah, karena ingin memprioritaskan apa yang tertera di hadits Nabi. Jadi, walaupun dalam hisab sudah dinyatakan bahwa hilal sudah melewati ufuk–dalam ketinggian sudut tertentu–tetapi jika belum dilihat oleh mata manusia maka belum dapat dipastikan awal Ramadhan atau Syawwal. Dalam Muhammadiyah, melewati ufuk berarti keberadaan hilal sudah terpenuhi tetapi bagi pihak ru’yatul hilal keberadaan hilal belum tentu memenuhi terlihatnya hilal. Dalam hal ini faktor cuaca bisa menghalangi pandangan dan akhirnya pihak ru’yatul hilal harus menggenapkan bulan menjadi tiga puluh hari dan kecewa karena ayam mereka yang diniatkan untuk sahur harus dihangatkan agar tak basi.

Tanggal Awal Ramadhan dan Syawwal Tahun 2015

Dosen saya menjelaskan bahwa perhitungan astronomis Badan Hisab-Ru’yat Kemenag telah memutuskan bahwa pada malam tanggal 16 Juni 2015, posisi bulan belumlah mencapai ufuk. Sebetulnya kata-katanya tidaklah sesederhana itu, tetapi intinya demikian. Nah, karena belum mencapai ufuk maka kondisi ini mengharuskan pihak ru’yatul hilal menggenapkan bilangan menjadi tiga puluh karena kalau belum mencapai ufuk jelas-jelas bulan tak akan terlihat. Bagi pihak wujudul hilal juga demikian, di bawah ufuk berarti keberadaan hilal belumlah terpenuhi itu berarti mereka juga harus menggenapkan bilangan menjadi tiga puluh hari. Jadi kita simpulkan bahwa awal Ramadhan akan terjadi kesepakatan antara Pemerintah dan Muhammadiyah yaitu pada tanggal 18 Juni 2015. Jadi tenang saja, jika dalam satu keluarga ada yang pro Pemerintah dan ada yang pro Muhammadiyah maka mereka bisa sahur bersama dan tidak akan ada sarden yang terbuang percuma.

Tetapi, untuk awal Syawwal atau hari lebaran dosen saya bilang dalam perhitungan itu mencapai kesimpulan bahwa pada tanggal 16 Juli 2015, hilal sudah melewati batas ufuk. Nah, keadaan inilah yang bisa membuat perbedaan karena pada jauh-jauh hari orang-orang Muhammadiyah sudah bisa menentukan bahwa tanggal 17 Juli mereka sudah bisa shalat Ied memakai koko barunya sedangkan untuk yang mengikuti pemerintah harus bersabar terlebih dahulu, tunggu sampai ada mata yang diberkahi melihat hilal. Jika laporan saksi dari Marauke sampai Banda Aceh tak melihat penampakan itu, maka mau tak mau memakai baju barunya ditunda.

Ada aksioma dari teori ru’yatul hilal, yaitu apabila ketinggian hilal di bawah 2 derajat dari ufuk maka hilal tidak mungkin bisa dilihat atau 99,9 % hilal tidak mungkin tampak. Itulah kondisi titik rawan hilal yang lagi-lagi sering memicu perbedaan. Namun kemungkinan kita lebaran di hari yang sama masih terbuka lebar karena dosen saya melanjutkan bahwa ketinggian hilal dari batas ufuk pada tanggal 16 Juli mencapai 2-3 derajat. Dengan begitu kita berharap saksi-saksi Kemenag dapat melihat bulan ‘cantik’ tanda berbuka. Karena pasti kita lebih bergembira jika lebaran nanti jatuh pada tanggal 17 Juli sehingga semua umat Islam di Indonesia dapat shalat Ied secara berbarengan dan tidak berlaku lagi pribahasa “Karena hilal setitik rusak opor sebelangga”.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s