Perdebatan Paling Sia-sia dan Sial

Saya awali tulisan saya dari secuil teori, yakni sebatu-batunya orang biasanya didasari oleh kombinasi antara fanatisme dan kedangkalan ilmu. titik. lalu teori selanjutnya, jika anda berdebat dengan otak macem gini, itu adalah perdebatan paling sia-sia. Titik (lagi).

Alasan saya menulis ini adalah ketika saya sedang mendiskusikan tentang Syiah. Duh Syiah lagi Syiah lagi, miris sebenernya kalo ngomongin mazhab Islam yang sering digeneralisasi sesat sama sebagian muslim sendiri. Kayaknya gak kelar-kelar kalau ngomongin Syiah, sama persis kayak para jones yang ngomongin gebetannya. Diskusi yang gak ada bedanya ama debat kusir ini bermulai di saat seorang kawan saya bilang, “…yang harus kita waspadai itu Syiah, mereka musuh Islam soalnya”. Dalam hati saya bilang, “Damn! Lagi-lagi kaya gini” langsung saya coba klarifikasi statetment berbahaya itu dan berlangsunglah adu bacot diantara kita.

Si fulan yang tidak terima klarifikasi dari saya bahwa tidak semua Syiah itu sesat langsung tancap gas dengan pertanyaan-pertanyaan sensitif seputar Syiah, yaitu, pencaci-makian sahabat, nikah mut’ah dan shalat tiga waktu. Ini pertanyaan yang butuh jawaban super panjang, bayangkan betapa nelangsanya jari saya ketika harus mengetikkan ini di whatsapp. Saya ingat betul kick off diskusi jam tiga sore, menjelang buka puasa  istirahat turun minum, lalu lanjut lagi jam sepuluh malam. Karena panjangnya debat kusir ini, tepat jam dua belas kami mengistirahatkan mata serta jari yang mulai keram. Diskusi kloter dua berlangsung dari jam tiga pagi sampai jam 7.

Oke biar keliatan sedikit ilmiah, maka saya berikan jawaban atas tiga pertanyaan si fulan.

Masalah caci maki sahabat Nabi, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Usman sebetulnya didasari sebuah klaim Imamah, bahwa Ali lah yang berhak menguasai dunia politik dan Spiritual Islam, intinya pewaris sah atas kedudukan Rasulullah. Selanjutnya caci maki ini meluas kepada para penguasa Bani Umayyah. Tapi marilah kita tengok fenomena sosial-politik pada saat itu, di mana Syiah adalah  kelompok oposisi pemerintahan Bani Umayah, terlebih mereka adalah minoritas dan tertindas. Konfrontasi fisik bukanlah ide bagus, Syiah ibarat kutu yang mudah mejret oleh tindasan jempol Umayyah. Lalu apa yang bisa mereka perbuat? Senjata paling aman dan  katarsis paling memungkinkan bagi Syiah tak lain adalah perang kata-kata. Berlangsunglah caci-maki kepada orang-orang yang mereka rasa telah merebut tahta Ali bin Abi Thalib, yang belakangan akan terposisikan sebagai Sunni. Tapi jangan sangka hanya Syiah yang mencela, di mimbar-mimbar jumat Bani Umayah, mereka juga mencaci ulama-ulama dan imam-imam Syiah. Patut dibold, mereka saling mencela! Kabar baiknya ialah, orang-orang yang tercerahkan berinisiatif untuk menghentikan kebiasaan destruktif ini. Di kalangan Sunni, Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan di kalangan Syiah, Imam Zaid lah orangnya. Lalu, perbedaan pendapat antara Imam Zaid dan Imam Syiah mayoritas membuat Imam Zaid membentuk Syiahnya sendiri, Syiah Zaidiyah dan inilah Syiah yang lebih mirip Sunni ketimbang Syiah.

Selanjutnya masalah nikah mut’ah, dalam buku-buku mashail fiqhiyah masalah ini banyak sekali dibahas dan buku-buku ini berserakan di mana-mana, jadi amat mudah untuk mencari tahu lebih dalam. Sekedar mukadimah, nikah mut’ah pada awalnya dihalalkan oleh Rasulullah namun selanjutnya diharamkan oleh beliau. Jadi hadits yang menghalalkan sudah dinasakh oleh hadits yang mengharamkan, itulah keyakinan sebagian besar ulama Sunni. Sebagian besar loh ya, jadi sebetulnya minoritas ulama Sunni membolehkan nikah mut’ah terutama dalam kondisi kepepet. Nah, uniknya gak semua Syiah menghalalkan nikah mut’ah, Syiah Zaidiyah mengharamkan ini. Harus diketahui bahwa rukun nikah mut’ah hampir sama dengan nikah langgeng, dan nikah mut’ah juga boleh diperpanjang bahkan tanpa batasan waktu. Kalau ada yang nanya kenapa mereka gak pake hadits yang mengharamkan nikah mut’ah padahal hadits itu shahih. Dalam bukunya “Sunni-Syiah Bergandengan Tangan” Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Syiah pada masa Umayyah dan Abbasiyah diharuskan membuat versi Islamnya sendiri, saat itu ideologi politik tanpa ideologi keagamaan tak akan mendapat dukungan dari akar rumput. Karena itulah, dalam perkara hadits mereka punya ahlinya sendiri dan tak akan menerima hadits-hadits jika mukharrijnya adalah ulama Sunni macem Imam Bukhari, Muslim dsb. Ingat, kita gak bisa mengkafirkan pihak yang menolak hadits shahih, karena bagaimanapun shahihnya itu hadits, levelnya hanyalah zhan (dugaan keras) bukan qath’I (pasti). Menolak yang zhan tidaklah mengakibatkan seseorang keluar dari koridor Islam. Jadi betapapun kita gak setujunya dengan kawin kontrak–ya saya juga ga setuju karena banyakan mudhorotnya–tapi jangan cap mereka sesat, kafir, dan ahli neraka.

Untuk masalah shalat tiga waktu, anda saya sarankan membaca buku-buku fiqih muqarrin (perbandingan). Buku-buku perbandingan mazhab juga banyak di toko-toko buku. Boleh kitab Bidayatul Mujtahid atau yang semacamnya, yang jelas mengandung unsur Mazhab Ja’fari. Permasalahan ini akan anda temukan di  bab shalat jamak. Lagi-lagi titik tekannya adalah konstruksi keislaman versi Syiah. Sebetulnya mereka shalat lima waktu hanya saja mereka menjamak (shubuh, zuhur+ashar, maghrib+isya) sehingga hanya shalat di tiga bagian waktu. Dalil yang mereka gunakan adalah surat al-Israa ayat 78, “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” Dari sinilah mereka membangun falsafah shalat tiga waktunya, berbeda dengan Sunni yang shalat lima waktu secara terpisah dan konsep jamak hanya diperuntukkan dalam kondisi tertentu.

Tiga jawaban itulah yang saya berikan kepada si fulan dan orang-orang yang tipikal dengannya. Sesudah jawaban saya gelontorkan sebetulnya tidak ada counter argument dari pihak penuntut, jelas sudah secara kaidah keilmuan saya lebih unggul. Diakhir diskusi saya memberikan hidangan penutup, “Janganlah menggeneralisasi semua Syiah sesat. Sesama muslim hendaknya jangan melulu mencari perbedaan, apalagi sampai mengkafirkan dan menuduh sesat. Andai ada setitik saja indikasi kemusliman dari seseorang toh anggaplah mereka muslim.”

Tapi saya terlalu naif, saya salah kaprah telah berhusnuzhan dengan orang seperti ini. Walaupun jempol saya berkarat dan otak saya pusing memikirkan jawaban ini ternyata semua jawaban saya mentah, tak diterima sama sekali. Alih-alih melihat jawaban saya dari kacamata akademik si fulan malah memandang argument saya dengan mata fanatismenya, hasilnya close statement dia adalah, “Gue gak bilang Syiah itu sesat, gue bilang Syiah itu musuh Islam”. OMAYGAATT!! Diskusi berjam-jam ternyata gak berarti apa-apa chooooy, dua jempol saya yang hampir mati syahid mengetik beribu-ribu kata sama sekali tertolak, apa malah jangan-jangan gak dibaca, terus langsung di delete. Oh tidaaak!!

Coba anda baca kalimat itu tiga kali, saya jamin anda akan menemukan logika yang sulit diterima dari susunan kalimatnya. Tapi kalau anda setipe dengan si fulan atau menggunakan logika abad pertengahan, ya lain lagi ceritanya. He he he

Yaudah, segitu aja curhatnya. Saya nulis beginian bukan untuk menyudutkan si fulan, lagipula si fulan teman saya, dan pertemanan gak bakalan rusak hanya karena perihal remeh temeh begini. Saya menulis ini dengan tujuan pembelajaran bagi kita semua bahwa betapa budaya baca dan berpikir kritis kita masih sangat kurang. Fanatik buta lahir karena kurangnya wawasan. Di saat kita sedikit baca, sedikit berguru, dan sedikit ilmu maka bersiap-siaplah kita begitu mencengkram erat sebuah doktrin tanpa pertimbangan, penelaahan, dan penalaran kritis. Pada akhirnya menyerang semua gagasan yang bersebrangan dengan kita.

Hendaknya, bagi semua muslim, khususnya muda-mudi yang birahi keingintahuannya masih bergejolak agar lebih melebarkan pandangan dan memperluas wawasan. Budayakan penyelidikan lebih lanjut setiap gagasan yang kita terima. Bukalah pemikiran kita dengan ide-ide lain sehingga kita bisa lebih selow dan bijak dalam mengambil kesimpulan.

“Iqra bismi rabbikalladzi khalaq”

“Bacalah, kajilah, pelajarilah, dalamilah, dan himpunlah, lakukan itu semua atas nama Tuhan mu Yang Menciptakan

Wallahua’lam. Semoga manfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s