Mau Share Berita? Belajar Kritis dulu dari Ulama Hadits!

Entah sudah berapa lamanya sosok media sosial menjadi momok yang meresahkan di tengah-tengah kita. Media sosial yang fitrahnya adalah sarana praktis tercapainya komunikasi dan silaturrahim malah identik dengan ‘mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat’. Namun kini lebih kacau lagi, media sosial mengalami penyimpangan terburuknya, yaitu ketika dia dijadikan media penebar fitnah, teknik pencitraan dan alat provokasi.

Sebetulnya tidak semua media sosial seperti itu, mungkin dunia Instagram dan Path hanya berisi foto dedek-dedek emesh dan petunjuk si dedek-dedek emesh sedang berada di mana dan lagi ngapain. Media sosial yang saya tekankan di sini adalah Facebook. Ya Facebook, lapak di mana ribuan link bertebaran di dalamnya, baik yang shahih, hasan, dhaif, maupun palsu. Dan ironisnya, kita lebih sering terjebak pada berita-berita dusta.

Terjebaknya kita di lumpur isu-isu bohong tersebut tentu dikarenakan beragam faktor, tapi faktor terbesarnya adalah kurangnya sikap kritis! Untungnya, bagi kita yang Muslim sepertinya ulama-ulama pendahulu kita sudah meninggalkan ilmu yang amat berharga dan bisa kita ambil pelajaran. Metode agar kita tidak semena-mena menyampaikan dan menyebarluaskan berita yang sampai kepada kita , namanya ilmu kritik hadits.

Sepanjang abad ke-3 dan ke-4 Hijriyah, bisa dikatakan adalah era keemasan bagi ilmu Hadits. Dikarenakan pada saat itu sudah bisa dipastikan 99 persen semua hadits Nabi telah dikumpulkan dan dikodifikasi. Pada era itu jugalah lahir enam kitab kanonik hadits; Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan Turmudzi, Sunan an-Nasa’i. Dua pertama, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menjadi rujukan utama, bahkan Shahih Bukhari mencapai status semi sakral dengan gelar kitab shahih setelah al-Quran.

Level kitab-kitab hadits yang begitu tinggi ini tentu berbanding lurus dengan kemampuan penulisnya dalam meneliti keshahihan hadits. Makin ketat dan berlapis metode kritik haditsnya maka makin tinggi kualitas kitabnya. Agar pembaca lebih paham, saya berikan sedikit gambaran bagaimana cara ulama-ulama hadits menyaring sebuah hadits.

Dikarenakan hadits merupakan sumber kedua hukum Islam, maka banyak sekali oknum yang memanfaatkannya. Tentu banyak sekali faktor yang membelakangi timbulnya hadits-hadits hoax tersebut, dari tujuan politik-kekuasaan, mencemarkan nama baik musuh, melariskan dagangan, sampai pada alasan yang agamis. Untuk itu pertama kali seorang ahli hadits melihat atau mendengar sebuah hadits, maka yang terbersit di benaknya adalah, ‘Apakah hadits ini shahih atau tidak?’

Dalam sebuah hadits terdapat dua elemen pembangun, yaitu sanad dan matan. Mudahnya, sanad adalah mata rantai para perawi hadits dan matan adalah berita yang terkandung di dalam hadits. Sebelum melihat apa isi haditsnya, para ahli hadits haruslah mengkritisi jalur sanad hadits tersebut. Ambillah contoh satu hadits dengan sanad; Rasulullah–>Sahabat–>A–>B–>C–>Imam Bukhori. Setelah mengetahui jalur sanad ini, maka Imam Bukhori tidak akan seenaknya menilai hadits tersebut shahih dan menaruhnya di dalam kitab shahihnya. Pertama-tama beliau harus mengecek kebenaran transmisi hadits tersebut dengan kaidah ringkas sebagai berikut: Ketersambungan-kepribadian-intelektual.

Ketersambungan. Yap inilah cara pertama dalam langkah validasi sebuah hadits. Apa Benar semua perawi dalam hadits ini berjumpa? Jangan-jangan si A wafat lebih dahulu dari kelahiran si B. Jangan-jangan tempat tinggal B sangat jauh dari C dan diketahui si B tidak pernah berkelana ke tempat C. Jika diketahui salah satu jalur dari mereka terputus maka hadits ini akan tertolak! Untuk alasan inilah para ahli hadits menulis kitab mengenai Rijaalul Hadits, kitab mengenai biografi para perawi hadits. Langkah selanjutnya adalah…

Kepribadian. Dalam hal penyebaran hadits, muruah (integritas) seorang perawi amat menentukan. Apakah ia orang alim dan berakhlak baik? pernahkah ia berbuat dosa besar? apakah ia bebas dari tuduhan pendusta? Bagaimana pandangan ahli-ahli hadits terhadap kepribadiannya? Andai saja si perawi mempunyai satu saja cacat yang tersebut di atas maka hadits yang disampaikan olehnya akan tertolak. Terakhir adalah…

Intelektual. Ukuran intelegensi pada saat itu adalah kemampuan menghapal. Apakah ingatannya bagus sehingga redaksi hadits tidak berubah sedikit pun atau minimal esensi haditsnya tidak menyimpang? Apakah ia dikenal sebagai penghapal banyak hadits? jika ternyata terdapat indikasi ia memiliki ingatan lemah maka haditsnya akan tertolak. Ilmu Jarh wa Ta’dil dalam salah satu ilmu hadits lahir untuk keperluan ini, mengecek kecacatan atau muru’ah seoarang perawi.

Jika ketiga faktor (ketersambungan-intergritas-intelektual) diatas berkumpul maka barulah hadits itu lolos uji. Tentu masih banyak lagi perincian syaratnya yang sulit saya paparkan di halaman sekecil ini apalagi untuk sekelas Imam Bukhori. Lalu, jika beliau sudah yakin akan keshahihan sebuah hadits, beliau akan shalat dua rakaat kemudian barulah beliau menuliskan hadits tersebut dalam kitab shahihnya.

Bayangkan betapa sulitnya sebuah hadits untuk lolos dari mekanisme penyaringan ini. Bayangkan  betapa kritisnya mereka sehingga menciptakan metode pertahanan grendel untuk menseleksi sebuah hadits. Lalu bagaimana dengan kita? Pasti susah bahkan mustahil untuk mencontoh seperti mereka, tapi toh kita bisa belajar banyak bukan? Kita bisa lebih hati-hati untuk tak percaya begitu saja informasi dari sebuah link apalagi menyebarluaskannya. Apalagi informasi itu dari situs-situs berbau radikal atau situs yang hanya ingin meraup keuntungan iklan. Kalau mau percaya silakan simpan saja sendiri di benak jangan terbawa nafsu untuk me-shareLah kalau itu berita fitnah lalu kita menyebar seenaknya maka kita berdosa bukan? Apalagi jika itu isu-isu sensitif semacam kejadian Tolikara, asal-asalan kita menebar berita dusta sejatinya kita sedang menebar benih-benih kebencian dan perselisihan.

Semestinya, kisa bisa mengambil hikmah bahwa kebodohan kita dalam menyaring isu dan berita yang bergentayangan di facebook sudah banyak menelan korban. Sosok sekaliber Quraish Shihab tertikam dengan isu Syiah, fitnah merk GAP yang disalahartikan sebagai Gay and Proud berhubung  pada saat itu isu LGBT yang sedang hangat, para penggagas Islam Nusantara yang tervonis kaum liberal, bahkan lucunya penulisan kata ‘Insya Allah’ yang sudah tujuh turunan menjadi kalimat baku hampir terganti dengan kata ‘in-shaa Allah’ yang tanpa makna. Konon ide dicetuskan oleh DR. Zakir Naik, untung pihak official resmi DR. Zakir Naik membantah isu tersebut. Lihatlah betapa polosnya kita, semangat berdakwah tapi gegabah, agamis tapi bodoh

Terakhir, tolonglah untuk lebih bijaksana dalam merespon isu-isu yang beredar. Di saat link-link penebar kebencian dan provokatif sedang tumbuh subur bak jerawat di musim kacang maka bertindak pasif dan menahan diri untuk menekan tombol ‘share ‘adalah cara terbaik. Kritisi dulu beritanya, pahami dulu kadaannya, kuasai dulu ilmunya sebelum jempol anda diadili dan divonis bersalah di Yaumul Hisab karena menekan tombol ‘bagikan’ seenak udel kalian. Mudah-mudahan, kita makin dewasa, bijak, dan cerdas ya kawan.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s