12 Menit yang Berharga, Ngeruk Berkah dari Pak Quraish Shihab

Jadi, hari Selasa tanggal 3 November 2015 jam 10.00 pagi saya ditelpon seseorang. Di ujung telpon mbak-mbak itu bilang, “Pak Jaka, hari ini jam 12.00 Bapak bisa diwawancarai. Jangan telat ya Pak, kalo bisa setengah 12 sudah datang”. Awalnya saya rada bingung, maklum saya bangun karena hape saya bunyi dan setengah sadar saat menerima telepon. Lalu si Mbak penelpon itu bilang lagi, “Pak, tau PSQ kan? Depan kampus II UIN, Kedokteran”. Saya baru sadar, ‘Bapak’ yang dimaksud adalah Quraish Shihab. Setelah lama saya tunggu akhirnya kesempatannya datang juga. Saya kaget luar binasa. Langsung saja saya jawab, “Oke Mbak, setengah 12 saya sampe di sana. Makasih banyak!!”

Sesampainya di sana, saya dipersilahkan menunggu di perpustakaan karena Pak Quraish masih ngajar. Di perpus, saya langsung ambil kertas kecil, konsentrasi buat corat-coret apa aja yang saya mau tanyakan nanti. Walaupun sebelumnya pertanyaan sudah siap tapi saya pikir apa salahnya buat mengganti atau menambah beberapa pertanyaan. Setelah siap, saya coba menghapalkan urutan pertanyaan dan saya simpan catatan kecil itu di kantong. Tidak lama si Mbak resepsionis mendatangi saya dan memberi tahu bahwa Pak Quraisy sudah menunggu di kantornya.

Setelah dipersilahkan, saya masuk ke ruangan beliau. Allah karim…sosok yang biasanya cuma saya liat di acara TV atau di acara tabligh akbar yang ngeliatnya dari jarak jauh sekarang ada di depan mata saya!! Dengan lembut beliau mempersilahkan saya duduk dan langsung saya sambar tangannya, niat banget buat cium tangannya tapi apa daya, ulama-ulama besar punya kebiasaan menarik tangannya dengan cepat sebagai tanda kerendahan hati.  Beliau bertanya, “Ini buat tesis ya? Apa judulnya”. Ya saya bilang deh bahwa wawancara saya untuk keperluan skripsi. Sebelum wawancara saya izin buat ngatur napas, lumayan grogi beradapan sama orang sekelas beliau. Senang campur malu. Senang karena bertemu langsung idola tapi malu banget, takutnya Bapaknya kasyaf…arrrgh matilah saya yang dosanya bejibun ini T.T.

Selama wawancara berlangsung, kesalutan saya terhadap beliau mengganda berlipat-lipat. Kebetulan judul skripsi saya adalah, “Pemikiran Pendidikan Quraish Shihab dalam Buku Membumikan al-Quran”. Semua pertanyaan wawancara saya berkisar tentang wacana pendidikan di buku itu dan yang saya heran, Pak Quraish seakan masih hapal benar isi bukunya, yang beliau katakan sama persis dengan isi bukunya, padahal beliau menulis itu barangkali 20 tahun yang lalu. Inilah ulama yang sebenarnya, ingatannya langgeng walaupun Pak Quraish sendiri sudah cukup berumur.

Dalam wawancara, sedikit saya singgung permasalahan yang akhir-akhir ini amat meresahkan saya. Pemikiran radikal dan gaya keislaman militan yang sedang gandrung di medsos. Saya bertanya apa kiranya materi yang harus diberikan untuk meminimalisir pemikiran suram semacam itu. Beliau sedikit berpikir lalu menjawab, “Hmm menurut saya materi yang harus diberikan adalah pengajaran bahwa Islam itu moderat. Islam itu sangat toleran. Islam itu bisa menerima berbagai pendapat. Saya kira itu, ya toh, sehingga tidak ada lagi yang gampang menyesatkan atau mengkafirkan.” Duh Bapak, andai ulama dan kyai pemikiranya kaya Bapak semua…hehe

Sekitar 12 menit akhirnya selesai juga pertanyaan saya. Sebetulnya saya sempat mau mengabadikan momen itu dengan foto, tapi Pak Quraish menolak secara halus. Duh, rada sedih sih, apalagi momen seperti ini bakal sulit terulang. Tapi ya saya mah apah atuh dihadapan beliau ya nurut aja ga bisa maksa T.T. Sebelum pamit pulang tak lupa saya minta doa restu dari beliau, ya walau skripsi saya gak akan bagus-bagus amat tapi saya mengharap berkahnya. Sambil tersenyum beliau bilang, “Mudah-mudahan cepet selesai ya’’. Akhirnya saya pun pamit, saliman sekali lagi buat ngalap berkah dan meninggalkan ruangan beliau.

Ya segitu aja curhatnya, buat yang baca tulisan ini saya mohon doanya buat Pak Quraish. Mohonlah agar Allah selalu jaga kesehatan beliau, sehingga beliau selalu bisa menyebarkan ilmunya yang sarat dengan kedamaian di tengah gelombang besar konservatisme yang tengah membanjiri pikiran umat Islam Indonesia saat ini. Sehat sehat terus ya Prof! saya tunggu kajian al-Misbahnya Romadhan tahun depan!!

“Seseorang itu bersama orang yang ia cintai”. (HR. Bukhari)

3 thoughts on “12 Menit yang Berharga, Ngeruk Berkah dari Pak Quraish Shihab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s