‘Keterkejutan Ruang’, Masa Transisi yang Mengkhawatirkan

Pernah ndak temen-temen punya kenalan yang biasanya pendiem, pemalu, bahkan terlihat cupu terus berubah 180 derajat ketika dia masuk organisasi kampus? Yang tadinya plegmatis dan kecutan tiba-tiba jadi idealis, kritis, dan nyolotin. Yang tadinya pemalu dan kalem tau-tau suka intervensi pas rapat, gigih dengan argumen, dan suka gamau kalah. Itu tandanya dia lagi ngalamin apa yang disebut ‘keterkejutan’ ruang.

Atau mungkin punya temen jebolan pesantren yang tadinya alim banget tiba-tiba jadi anak bandel yang pergaulannya lebih bebas dari anak-anak jebolan SMA sekuler. Mereka juga termasuk yang linglung akibat ‘kaget’ ruang. Ruang budaya. Kondisi sosial dan akademik pesantren yang serba disiplin, homogen, dan ketat tiba-tiba berubah menjadi kehidupan kota yang hedonis, heterogen, dan bebas.

Lalu yang terakhir adalah orang yang tadinya cuek dengan agama lalu beralih menjadi orang yang fanatik dalam beragama. Nah, ini juga fenomena ‘keterkejutan’ ruang. Masa-masa apatis agama mengalami transisi religius ke arah mencari keshalehan. Inilah yang menyebabkan banyak sekali pemuda-pemudi puber agama sangat militan. Yang tahlilan bid’ah, yang tawassulan syirik, yang Syiah sesat dan semacamnya.

Adakan teman kalian yang seperti itu? kalau ada ya maklumkan saja, dia sedang mengalami transisi yang paradox-diametral sehingga bisa berubah drastis baik sikap maupun perbuatan. Itulah ‘keterkejutan’ ruang di mana orang-orang yang melihatnya juga pasti akan ‘terkejut’ dengan perubahan si empunya ruang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s