Curahan Hati si Pemalas

Halo, kenalkan nama saya Jaka. Sekarang izinkan saya untuk mencurahkan sekucrit uneg-uneg batin saya. Saya ini baru saja menginjak umur ke-25, itu artinya seperempat abad sudah saya menjelajahi kehidupan dunia ini, walaupun kata jelajah sebenarnya tidak cocok untuk saya karena wilayah terjauh yang pernah saya jangkau hanyalah Bandung.

Ngomong-ngomong, 25 tahun, di saat pria lain sedang menggenjot kesuksesan karirnya di kantor, di saat akhi-akhi lain sedang pontang-panting mencari gedung pernikahannya, di saat cowo-cowo yang berahi akan petualangan sedang mengubek-ubek gunung, demi foto-foto di puncaknya, di saat lelaki lain sedang saling jotos untuk memburu LPDP, demi kesuksesan di masa depan dan ketenaran di masa sekarangnya. Singkatnya, ketika dunia laki-laki sebaya saya sedang dalam klimaks pembuktian eksistensi diri, saya dengan culun-payahnya malah menampilkan grafik anomali.

Bayangkan saja, saat ini hari-hari saya hanya diisi oleh tidur dan menonton. Privat dan membaca saya jadikan pekerjaan sempalan. Menulis? Hanya ketika hati saya sudah menjerit menyadari betapa produktivitas saya sudah bergerak ke ambang bangkrut. Intinya, kehidupan hina-dina saya ini sudah menantang sunnah zaman, menabrak arus utama, dan pelanggaran akan ortodoksi maskulinitas.

Bagaimana dengan masalah akhirat? Tak usalah ditanya. Di saat yang profan saya abaikan, begipula yang sakral. Keshalehan dan religiositas menjadi langka akibat erosi terus menerus dari badai hawa nafsu. Sudahlah, saya malu kalau bahas yang ini.

Menyesalkah saya? Untuk masalah ukhrawi, ‘Ya’. Untuk masalah duniawi, tergantung perspektif. Kadang “Ya” dan kadang “Tidak”. Maklumlah, masalah ‘Benar’ dan ‘Salah’ adalah masalah sudut pandang yang dibatasi oleh bingkai yang kondisional, temporal, dan lokal. Setujulah saya dengan mazhab yang menyatakan bahwa realitas akhir itu tidak pernah eksis, yang ada hanyalah realitas pada sudut pandang tertentu.

Aiihh…sudahlah saya pusing dengan pembahasan yang rumit-rumit, walaupun lebih pusing lagi memikirkan bagaimana caranya menikahkan si eneng, di saat inflasi tarif resepsi meruncing tajam.

Sudah dulu ya teman-teman, saya mulai mengantuk.

“Aku tidur maka aku ada”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s