Jomblo karena Saleh atau Saleh karena Jomblo?

Apa kabar teman-teman? Baikkah? Suntukkah? Masih jomblo kah? Atau baru diputusin kah? Ups…

Oke kali ini biarkan saya yang culun-payah ini mengajukan tesis mengenai “Kejombloan seorang insan”. Ngomong-ngomong, umur saya adalah umur ketika Rasulullah menikahi Khadijah, jadi harap maklum kalau pembahasan mengenai pasang-pasangan dua sejoli sudah menjadi tema sentral. Pusat gravitasi, baik ketika nongkrong di warkop atau diskusi di warung kopi. Cerdas.

Sejujurnya, saya sering kali terusik dengan orang yang kalau ditanya, “Udah punya pacar?” lalu mereka menjawab, “Ngapain, pacaran cuma banyak-banyakin dosa”. Lantas kenapa saya jadi terusik? Padahal jawabannya tidaklah salah, sejuta persen benar! Namun, ada seonggok keraguan di hati saya, apakah mereka yang menjawab demikian itu tulus? Atau jangan-jangan itu hanyalah kamuflase dari takdir pahit yang enggan memihak cinta mereka?

Entah kenapa, firasat saya lebih condong pada yang kedua. Yap, itu hanyalah kamuflase. Sandiwara yang diselubungi dan dibebat oleh spiritualitas artifisial. Dosa dijadikan kambing hitam agar kejombloannya terasa berwibawa di depan orang-orang. Padahal di kamarnya, ketika tak ada siapapun melihat, dia termehek-mehek meratapi si doi yang sudah kadung digebet orang lain. Atau bisa juga, prinsip menjomblo yang lahir akibat putus asa, depresi karena tertolak berkali-kali di masa lalu. Jomblo pasca trauma. Atau cukup masuk akal jika dibilang, prinsip emoh pacaran hadir sebagai benteng suci ketika seseorang minder untuk memodusi sang idaman. Jomblo ciut nyali.

Ketika cinta tak tersampaikan maka jomblo lah konsekuensinya. Ketika jomblo menjadi nasib, menjadi saleh adalah solusinya.

Kondisi inilah yang saya sebut saleh karena jomblo, dikala kesalehan dijadikan ajang pelarian dari statusnya yang kesepian. Mungkin saya terkesan mendeskreditkan yang jomblo, padahal tidak. Bahkan saya mendukung gerakan jomblo-isme, mengingat betapa potensi pacaran itu bisa sangat reduktif dan kontraproduktif. Tetapi, menjomblolah dengan dalih-dalih yang jujur. Berilah alasan ilmiah, logis, dan apa adanya, kalau bisa ndak usah bawa dalil-dalil agama, toh kalau Anda bohong, setan akan terpingkal-pingkal melihat betapa konyolnya Anda, alim di bibir tapi remuk di hati.

Terakhir, saya harus minta maaf untuk para jomblowan dan jomblowati sejagad, baik yang kronis maupun yang separuh kronis. Mungkin tulisan ini bisa menyinggung harga diri dan muru’ah kaum jomblo.  Apalagi mereka yang jomblonya benar-benar didasari anjuran agama. Maafkan jika tesis saya ini termasuk tesis acakadut, wajar kalau kesimpulannya pun acakadut.

Kiranya saya cukupkan saja tulisan ini mengingat teman saya 90% jomblo. Walaupun tulisan ini hanya teruntuk para penganut jomblo-isme radikal dengan alasan religius-imitatif, tapi bisa jadi jomblo-jomblo abangan pun tersungging dengan tulisan ini. Apalah jadinya jika mereka marah kepada saya, lalu melakukan aksi demo di depan rumah saya. Saya yakin demo buruh masih kalah telak dibanding demo jomblo. Sudah ya mblo, salam damai.

Jika menjomblo menjadi harga mati, menjomblolah yang benar. Jadilah jomblo yang professional atau tidak sama sekali

“Mereka menjomblo maka mereka ada”

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s